Sahabat Sejati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 2 March 2016

Di sebuah gang yang tampak kumuh. Abi yang dikenal sebagai anak yang bermoral bejat dan durhaka sedang asyik-asyikan berpesta mir*s bersama dua kawannya, Iwan dan Danu. Botol-botol besar berisi cairan memabukkan yang diharamkan agama itu mereka teguk dengan penuh kenikmatan disertai tawa kegirangan. Obrolan ngawur mereka terdengar keras sampai ke area masjid. Angga yang dulu adalah teman satu SD Abi pun merasa geram dan perlu untuk menasihati teman masa kecilnya itu. Meski ia tahu pasti akan seperti dulu dulu.

Ya. Pernah suatu ketika Angga menasihati Abi karena melemparkan botol bekas mir*s ke teras masjid saat salat jum’at. Hasilnya, Abi menghajar Angga habis-habisan meski sebenarnya, Angga masih bisa menjaga dirinya. Kejadian seperti itu memang acapkali terjadi. Namun kali ini Angga memberanikan diri untuk menegur dan menasihati Abi. Ditemani Fauzan, Rahmat, dan Gio. Mereka berjalan menuju tempat di mana Abi dan dua teman hura-huranya itu berdiam.

“Assalamualaikum!” sapa Angga membuat Abi dan dua temannya menatap sinis.
“Ngapain lo ke sini, hah? Mau ceramah lo?” tanya Abi dengan nada sempoyongan. Angga beserta tiga rekannya itu saling menggelengkan kepala begitu melihat setumpuk botol-botol mir*s di dekat mereka. Bau alkohol yang menyengat membuat Angga beserta rekannya mual.
“Abi! Maaf sebelumnya, tolong jangan terlalu bising karena di masjid sedang ada pengajian Desa,” ujar Angga membuat tensi darah Abi naik seketika.

“Terus masalah hah? Terserah gue mau ngapain, bukan urusan lo. Lo jangan sok-sok-an nasihatin gue. Lo nantang gue, hah?!” bentak Abi di hadapan wajah Angga. Raut muka Abi memerah.
“Bukan gitu, Bi! Tapi setidaknya kamu hargai yang lagi di masjid… Mereka kan lagi…”
“Alahh… Berisik lo,” sahut Abi memotong perkataan Angga. Sambil mendorong badan Angga, Abi dan dua temannya itu seperti hendak menghajar Angga. Tapi mereka melihat tiga rekan Angga yang tak kalah beraninya. Hanya saja Angga selalu berhasil meredam nafsu amarah tiga rekannya itu. Karena muak ditambah sebal, Abi dan dua temannya pun pergi entah ke mana dengan jalan sempoyongan sambil membawa beberapa botol miras yang masih utuh.

Adzan maghrib pun berkumandang. Mengundang umat-Nya untuk segera melaksanakan salat tiga rakaat itu. Selepas salat, Angga lalu berpamitan pulang kepada Pak Ustadz Solihin dan tiga rekannya yakni Rahmat, Gio, dan Fauzan. Di tengah perjalanan pulang. Angga merasakan seperti ada yang mengawasinya. Namun ia selalu menggubris prasangka buruknya itu. Tiba-tiba, saat di jalanan dekat persawahan. Angga diserang oleh Abi dan teman-temannya habis-habisan. Angga sempat melawan, namun apa daya. Satu orang diserang tiga orang yang sedang dalam emosi yang membludak, pastinya akan kewalahan. Setelah puas menghajar Angga, Abi dan teman temannya pun pergi berlari sebelum ada yang melihat mereka setelah melakukan tindakan yang tercela itu.

“Kak. Bu, Ibu… Kak Angga udah bangun,” teriak Syifa adik perempuan Angga yang masih duduk di bangku kelas 12 itu. Lalu Ibu pun masuk ke kamar anak sulungnya itu sambil membawa secangkir teh hangat yang dibuat dengan penuh kasih sayang. “Alhamdulillah… Angga! Ibu bantu kamu bangun ya, ayo!” ucap Ibunya penuh dengan rasa syukur. Angga pun kini tengah duduk di atas ranjang tuanya itu. Luka-luka di wajah dan tangannya masih terlihat melebam dan sebagian terdapat sisa-sisa bercak darah. Syifa lalu memeluk Kakak semata wayangnya itu dengan rasa penuh kasih sayang. “Syukur deh Kakak udah sadar. Syifa bantu bersihin sisa-sisa lukanya ya,” ujar Syifa lalu mengambil air hangat dengan lap handuk kecil. Angga tersenyum bangga pada adik perempuannya itu. Ia lagi-lagi bersyukur kepada Sang Khalik yang telah mengaruniakan adik yang bagai berlian baginya.

“Abi kan yang bikin kamu begini?” tanya Ibu Angga sembari tangan tua yang mulai berkeriputnya itu mengelus bahu anaknya itu. “Iya Bu!” seru Angga disertai anggukan kecil. Bukan perkara yang rumit bagi Ibu Angga untuk menebak siapa pelaku yang tega melukai putra kebanggaannya itu. Karena Ibunya sudah tahu betul, pastilah Abi yang acapkali bertindak seperti ini. Bukan Soudzon, tapi memang kenyataannya seperti ini. Pengalaman semacam ini sudah Angga terima sejak dulu. Jadi Ibunya sudah paham dan tahu kalau anaknya babak belur seperti sekarang ini pelakunya pasti orang sama.

“Ya sudah. Kamu harus maafin dia ya. Ibu percaya suatu saat nanti, Abi bakal denger nasihat kamu. Inget! Abi sudah yatim piatu. Dia cuma seorang diri. Kasihan dia. Ajak dan bawa dia ke sini. Ubah semua sifat buruknya. Ibu yakin kamu bisa,” ucap Ibu menasihati sekaligus memompa semangat putranya itu.
“Iya Bu! Insya Allah, Angga bakal ajak Abi ke jalan yang benar. Doa Ibu kan mujarab. Angga jadi tambah semangat. Terus doain Angga ya Bu. Karena Angga sayang sama Abi. Bagaimanapun dia tetap sahabat Angga,” ujar Angga penuh keyakinan. Tekadnya yang mulia ingin mengubah sifat Abi memang selalu membuat Ibu dan adiknya itu bangga.

Malam itu Angga pulang berdua selepas mengaji di mesjid bersama Rahmat. Di perjalanan pulang, mereka mengobrol dengan santai diselingi tawa sumringah yang menandakan bahwa mereka adalah sepasang sahabat yang baik. “Assalamualaikum! Hati-hati Ga!” pamit Rahmat karena sudah tiba di depan rumahnya yang dikelilingi pagar kayu.
“Waalaikumussalam! Iya Mat,” jawab Angga dengan senyum manisnya yang meneduhkan. Dengan masih mengenakan sarung yang terlilit di pinggangnya menutupi kaki, baju koko putih, serta kopiah hitamnya yang terpasang rapi di atas kepalanya. Angga berjalan santai sambil melihat-lihat keadaan sekitar kampungnya yang tampak asri itu.

Tiba-tiba. Angga mendengar suara jeritan perempuan di area kebun singkong dekat warung Bu Inar. Dengan sigap, Angga berlari menuju ke sana.
“Astaghfirullah! Hey! Hentikan!” bentak Angga kala melihat Abi yang hendak melakukan pelecehan kepada Ratih, teman sebaya Syifa adiknya.
“Heh! Lo ganggu lagi, hah? Gak kapok lo gue bonyokin? Nantang lo ya,” ujar Abi kemudian ia hendak menyerang Angga. Karena Angga geram, ia beranikan untuk meladeni aksi gulat Abi. Pertempuran dua laki-laki itu pun berlangsung sengit. Ratih yang masih dalam tangisannya bersembunyi di balik pohon pisang yang cukup besar.

“Abi! Kamu sadar Bi! Istighfar! Seharusnya kamu berubah lebih baik. Tobat Bi, kembali ke jalan dan ridho Allah. Jangan terus-terusan begini, Bi!” ucap Angga setengah berteriak di hadapan muka Abi yang tampak lelah. Laga sengit itu rupanya dimenangkan Angga dengan susah payah dan perasaan berat. Angga lalu membopong Ratih berjalan karena ia tahu, pasti Ratih sangat syok dan trauma.
“Kamu baik baik aja kan? Ayo kakak antar pulang,” tanya Angga. Ratih hanya menjawab singkat.
“Nggak Kak. Makasih,” kemudian Angga pun mengantarkan Ratih pulang ke rumahnya dan membiarkan Abi tergeletak lemah di tanah kebun singkong itu.

Pagi buta. Angga yang baru saja selesai salat subuh bersama Syifa adiknya dikejutkan dengan suara gemuruh warga di dekat rumahnya. Karena penasaran, Angga dan Syifa pun ke luar rumah dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Bonyokin aja lah,”
“Pukul, pukul,”
“Bakar sekalian, bakar!”

Teriakan warga memecah heningnya pagi di kampung yang biasanya damai kala pagi buta itu. Angga terperanjat kala melihat sosok Abi yang sedang menjadi bulan-bulanan warga. “Stop Pak, Bu! Hentikan…” teriak Angga dengan nada tinggi membuat warga warga perlahan menghentikan jotosannya itu. “Pak, Bu! Angga mohon jangan main hakim sendiri gini. Kita kan ada hukum, seharusnya diselesaikan dengan baik baik. Bukan dengan cara kekerasan seperti ini,” ujar Angga mencoba menasihati kerumunan warga yang murka.

“Percuma Nak Angga, orang kayak Abi ini pantes diginiin sama kita semua. Biar dia kapok… Huuhhh…” sahut seorang warga dengan geramnya sambil memukul Abi yang terduduk lemah.
“Udah Bu, udah! Cukup! Sekarang Angga minta kesadaran dan ketenangannya Bapak Ibu semua. Masalah ini harus diselesaikan secara hukum, bukan dengan cara kasar dan main tangan sembarangan seperti ini! Sudah, Angga mohon sama semuanya! Mohon dengan sangat!” kembali Angga meminta ketenangan warga. Akhirnya warga yang kesal pun mulai menuruti nasihat Angga. Pak Abdul selaku ketua RW menghubungi pihak kepolisian untuk mengusut kasus Abi yang rupanya kepergok mencuri motor milik Haji Ghani. Angga memboyong Abi sebelum polisi datang ke teras rumahnya. Ibu Angga lalu dengan sigap membuatkan teh manis hangat dan memberi Abi beberapa buah roti.

“Bi! Aku udah sering nasihatin kamu, Bi! Tapi kamu gak mau denger. Ternyata murka Allah telah tiba dan membuat kamu begini. Ini teguran Bi! Kamu harus sadar,” bisik Angga kepada Abi yang terkulai lemah di dekapannya seraya mencoba membersihkan Abi dari sisa-sisa lukanya dengan kompresan air hangat. Ibu Angga beserta adiknya juga turut menasihati dan bahkan sampai menangisi Abi. Beberapa saat kemudian, polisi datang dan langsung membekuk Abi lalu memasukannya ke dalam mobil hitam bertuliskan Polisi dengan lampu khas yang bertengger di kap atas mobil itu. Warga kemudian menyoraki mobil itu dimana Abi berada di dalamnya. Seiring kepergian tiga mobil kepolisian itu, sorakan warga tak henti-hentinya karena kesal dan geram akan sosok Abi yang dianggap sangat meresahkan dan bahkan tak berguna. Angga menghela napasnya. Usapan halus tangan Ibunya menenangkan hatinya yang tengah sedih itu.

“Semoga ini langkah awal yang Allah berikan buat Abi, Bu. Mudah-mudahan Abi mau bertaubat dan kembali ke jalan-Nya,” ucap Angga sembari mengelus-elus lengan Ibunya.
“Amiin. Sudahlah. Ayo kita masuk ke rumah dulu. Syifa, bereskan semua ini ya. Nanti sore kita ke kepolisian tempat Abi dihukum. Semoga Abi cuma kena hukuman ringan. Tenangin dulu dirimu Angga,” ajak sang Ibu dengan suara selembut sinar mentari. Syifa lalu membereskan barang-barang yang berserakan. Kemudian mereka pun masuk ke rumah dengan niat menenangkan diri, sebelum menuju Abi di rumah tahanan.

Sore hari menjelang malam. Sekitar pukul 4.45. Angga bersama Ibu dan adiknya datang ke rumah tahanan tempat Abi diringkuk. Di kejauhan, sorot tatapan Angga memandang seorang Abi yang tengah duduk sambil memeluk lututnya di balik sel-sel besi tahanan. Abi hanya seorang diri di sana.
“Assalamualaikum!” sapa Angga bersamaan dengan Ibu dan Syifa adiknya. Abi lalu menoleh.
“Abi! Kamu yang sabar Nak, Ibu dan Angga Insya Allah akan berusaha keluarin kamu dari sini,” sahut Ibu dengan suara lemah lembutnya.
“Iya Bi, kamu jangan khawatir. Nanti Pak Haji Ghani bakal kesini buat nyatain kalau kamu bisa bebas,” sambung Angga mencoba menenangkan Abi yang mulai berurai air mata.
“Kenapa lo masih peduliin gue Ga? Kenapa? Padahal gue udah banyak salah dan dosa sama lo. Sama Ibu lo sama semua orang. Gue gak pantes diurusin lagi Ga! Gue orang yang kotor dan gak guna Ga,” ujar Abi sambil menangis.

“Eh Abi… Gak boleh ngomong kayak gitu Nak. Istighfar. Kamu masih manusia kan? Kamu masih punya hak yang setara dengan semua manusia di muka bumi ini,” seru Ibu.
“Bi, karena aku, Ibu sama Syifa sayang sama kamu. Pengen kamu berubah jadi lebih baik. Jadi Abi yang dulu yang waktu kecil pintar mengaji, bisa juara lomba adzan. Bisa ajarin aku main gitar dan tertawa bareng. Ngaji bareng, salat bareng. Kita pengen kamu jadi Abi yang saleh,” ucap Angga sambil memegang erat kedua tangan Abi lewat jeruji besi. “Tapi aku udah kufur, kafir, dan kotor Ga. Allah pasti gak mau maafin aku. Aku cuma sampah yang gak berguna,” pekik Abi sambil menangis. Syifa tersenyum kecil kala mendengar perubahan kata-kata yang dilontarkan Abi.

“Kamu lihat! Rahmat sama Gio. Mereka dulunya preman dan suka malak orang bahkan sempat di zamah nark*ba. Tapi sekarang? Mereka sudah taubat dan kembali ke jalan yang diridhoi Allah karena mereka punya tekad yang kuat buat berubah. Terus. Fauzan. Dulu dia anggota geng motor kampung sebelah yang sangat meresahkan sampai-sampai dia mengotori kesucian Adik perempuannya sendiri. Tapi sekarang? Dia juga sama, mengikuti apa yang dilakukan Rahmat dan Gio,”
“Bi! Allah itu Maha Pengasih dan Pengampun. kalau kamu bertekad bulat buat taubat dan berubah. Insya Allah, Allah bakal kasih ampunan-Nya. Sekarang berdoa. Semoga kamu dibebasin dari sini. Kita pulang,” ucap Angga dengan senyuman. Abi merasakan keteduhan di balik senyum dan sikap mulia teman masa kecilnya itu.

Akhirnya, Pak Haji Ghani dengan sikap pemaafnya membebaskan Abi. Raut kesedihan bercampur kebahagiaan terpancar dari wajah Abi. Ia lalu bersujud di hadapan Ibu Angga juga Angga dan Pak Haji Ghani. Segera Angga menarik tubuh Abi ke posisi berdiri. “Udah, udah! Kita semua maafin kamu Bi! Sekarang ayo pulang!” ajak Angga.
“Pulang ke mana Ga? Aku gak punya siapa-siapa? Rumah gak ada, aku juga takut warga gak mau nerima aku Ga,” ujar Abi khawatir. “Rumah Ibu terbuka buat kamu Abi. Tinggalah bersama kami. Kamu sudah Ibu anggap sebagai anak Ibu,” ucap Ibu sembari tangan tua nan lembutnya itu mengelus-elus rambut Abi.
“Makasih Bu, Angga! Syifa! Aku gak tahu harus gimana. Aku banyak salah sama kalian,” lagi-lagi Abi menyesali.
“Udah Kak. Kami udah maafin Kakak kok. Ya udah sekarang yuk, kita pulang,” seru Syifa membuat Ibu dan Angga tersenyum.

Seminggu kemudian. Seorang laki-laki ke luar dari dalam mesjid bersama Angga, Rahmat, Gio, dan Fauzan. Laki-laki itu terlihat sangat berbeda dari yang sebelumnya. Rambut gondrongnya yang dulu berantakan, kini ia potong dengan rapi dan ditutupi peci putih yang berkilauan. Pakaiannya yang dulu amburadul, kini sudah rapi dibalut baju koko dan sarung batik yang menutupi sekitaran kakinya. Wajahnya. Yang dulu tampak kusam dan suram. Kini seolah memancarkan cahaya yang berkilauan. Dialah Abi. Si anak durhaka dan bermoral bejat. Tapi itu dulu. Sekarang, Dialah Abi yang sudah benar-benar kembali ke jalan Allah yang penuh dengan ridho-Nya.

“Wahh… Subhanallah. Suara adzanmu, Bi! Bikin merinding,” puji Gio.
“Iya, rasanya adem ayem dengernya,” sambung Fauzan dengan Al-Qur’an di dekapannya.
“Ah… Biasa aja. Aku masih bukan apa-apa,” sangkal Abi kala Ia dipuji karena suara adzannya yang merdu.
“Ya sudah. Ayo kita salat Isya dulu. Disambung nanti kita tadarusan. Mat! Kamu imamnya,” seru Angga.
“Oke,”

Mereka pun lalu melaksanakan salat Isya secara berjamaah di dalam mesjid tua yang luasnya cukup. Selepas salat Isya, mereka lanjutkan dengan bertadarus bersama-sama. Abi masih terlihat canggung. Rupanya Ia telah lupa sebagian tata cara membaca Al-Qur’an. Namun Angga beserta rekan-rekannya dengan tulus dan semangat selalu bersedia membimbing Abi dalam membaca Al-Qur’an. Abi bersyukur. Sangat bersyukur. Di lubuk hatinya ia bergumam. “Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah atas semua ampunan dan karunia-Mu. Engkau telah menciptakan sosok Angga. Sahabat sejatiku yang sesungguhnya. Beserta semua orang-orang baik ini. Hamba sujud syukur padamu Ya Rabb. Muliakanlah mereka semua dengan Kuasa Mu. Amiin.”

Cerpen Karangan: Fauzi Maulana
Facebook: Fauzi We Lah

Cerpen Sahabat Sejati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Acara Perpisahan Itu

Oleh:
“Dayu!!! My bag oh….” kata Gusti Ayu sambil nangis dan mengejar malaikat nakal Dayu Dyah, The Boyband sedang nyanyi-nyanyi di pojok ruangan. Gung Mita dan Sonnya rebutin Dayu Sita,

Penyanyi Cilik

Oleh:
Nina adalah gadis kecil berumur 9 tahun yang kini duduk di kelas 5 SD. Ia suka sekali bernyanyi. Lagu apa saja telah ia nyanyikan. Mulai dari lagu anak anak,

Jodoh Rahasia (Part 2)

Oleh:
“Aku nggak mau kalian berdua nanti menyesal gara-gara ini. Kalian teman, masa hanya karena seorang gadis, persahabatan kalian rusak begini? Saling menjatuhkan, aku minta kalian hentikan ini, gadis yang

Kisah Kelam Di Pondok

Oleh:
Di teras rumahnya, Ahzam merenung di tengah hujan lebat yang mengguyur kota malam ini. Dia mengingat ingat, apa yang menimpanya sehingga dia menjadi seperti sekarang ini. Kejadian yang sangat

Peci Kakek

Oleh:
Bukan apa-apa, tapi kakek tua itu memang sudah pikun. Perawakannya yang kurus dan selalu memakai peci usang warna putih. Entah dari mana ia mendapatkan peci itu. Mungkin, ia membelinya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *