Salam Untuk Dunia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 1 September 2017

“Seseorang yang menjadi budak dari hawa nafsunya tidak dapat mengisi hatinya dengan ingat kepada Allah, maka dengan segera dia kehilangan kebijaksanaan. Al-Qur’an merujuk orang-orang seperti ini sebagai orang-orang yang kehilangan kebijaksanaan. (Al-Hasyr: 14)”

2010
Rey tertidur di sofa rumah neneknya. Sudah tiga hari terakhir dia kabur dari rumah. Menggunakan pakaian seadanya dan wajah pucat, kondisi Rey sangat memprihatinkan. Tubuhnya lemas, dan panasnya tidak turun-turun. Nenek bahkan sudah memberikan kompres dan minuman herbal untuk menurunkan panasnya.

Rey terlahir dengan kondisi keluarga yang harmonis dengan Ibu yang sangat menyayanginya. Namun, keharmonisan itu cepat berubah ketika Ibunya meninggal. Seminggu Rey tidak mau keluar kamar dan sekolah. Seminggu pula Ayahnya mengurung diri di kamar mandi. Dan tiba dua bulan setelahnya, Ayah menikahi seorang perempuan yang amat cantik. Perempuan dimana dia tak pernah menyukai Rey.

“Rey, kamu sudah sadar.” Nenek membantu Rey untuk duduk. Rey mengangguk, wajahnya masih pucat dan tubuhnya masih lemas.
Nenek mengusap kening Rey. Panasnya belum juga turun. “Rey, kita ke dokter saja, ya. Nenek takut kalau panasnya tidak turun.”
Nenek menyibak tirai jendela, membuat cahaya matahari menembus melalui kisi-kisi jendela. Mata Rey menyipit, silau. Rey menggeleng jika harus pergi ke dokter. Dia tidak ingin merepotkan neneknya yang sudah bersedia menjadi tempat pelarian dari kedua orangtuanya. Nenek menghela napas. Mencoba untuk membujuk Rey.
“Mungkin kamu berpikir jika nenek bawa ke rumah sakit akan merepotkan Nenek, ya?” Nenek tersenyum, membelai rambut Rey.
“Kamu laki-laki yang tangguh, Rey. Tapi, jika kamu sakit begini, nenek tidak akan bisa bahagia.”
Rey menatap wajah nenek. Wajah dengan keriput yang menghiasi itu sangat tulus menyayanginya. Sempat dia berpikir, bahwa dirinya bukan anak dari kedua orangtuanya. Tapi urung dia ungkapkan.
“Tidak usah, nek. Mungkin Rey bisa cepat sembuh jika nenek mau membuatkan Rey bubur jagung.” Rey tertawa getir. Tangannya mengepal, walau bergetar. Nenek balas tersenyum.
“Iya. Nenek buatkan. Tapi cepat sembuh, ya.” Nenek beranjak menuju dapur.

Rey menghela napas keras. Tiga hari yang lalu Ibunya melempar Rey menggunakan gelas. Beruntung lemparan itu meleset mengenai pintu. Rey paham jika Ibunya tidak menyukai Rey. Sebab dia hanyalah anak kandung dari Ayah dan istri pertamanya, bukan Ibu yang sekarang. Berhari-hari Rey mencoba untuk tidak melawan Ibunya dan terus berbakti. Tapi apa dayanya. Dia seorang manusia dimana tempat kesalahan berada. Rey malah mendorong Ibunya dan kabur menuju rumah nenek.

Pagi ini, kondisi Rey sudah agak membaik ketimbang dua hari yang lalu. Walaupun dia masih pucat, tubuh lemas dan panas, setidaknya Rey sudah bisa duduk dan berjalan untuk mandi. Nenek telah menghidangkan bubur jagung hangat di meja makan. Setelah Rey mandi, dia bisa langsung makan tanpa disuapi untu pertama kalinya dalam tiga hari terakhir.
“Aromanya enak, nek.” Rey duduk di sebelah nenek. Dia mulai bersemangat.
Nenek tersenyum. “Ayo dimakan, Rey. Inah, Ambar, Sarman ayo makanlah bersama kami. Aku membuat bubur jagung banyak hari ini.”
Rey menatap Nenek. “Siapa mereka?”
“Mereka pekerja di sini. Kenapa, Rey? Kamu mau nenek kenalkan dengan mereka?” Nenek mencubit ringan lengan Rey. Rey tersenyum. Tubuhnya sudah mulai membaik sekarang.

“Rey, ini Inah. Dia pintar membersihkan rumah dan membantu nenek. Yang ini Ambar, anaknya Inah. Dia sekolah di SMA. Terus yang laki-laki itu Sarman. Dia adalah sopir terbaik bagi nenek.” Nenek tersenyum sambil menunjuk satu-satu di antara mereka. Rey mengangguk.
“Saya, Rey.” Rey mengulurkan tangan pada ketiganya. Mereka tersenyum dan menyambut uluran tangan Rey.

Selesai memakan bubur jagung, Rey beranjak dari duduk. Dengan perut kenyang dan keadaan hati yang sudah membaik, dia akan kembali pulang ke rumah. Bertemu kembali dengan Ibunya. Rey menghela napas. Bayang-bayang Ibunya yang kejam mengiang dalam pikiran Rey. Mendadak kepalanya kembali pusing. Tangan Rey kembali mengepal.
“Rey, kamu ingin pulang?” Nenek menghentikan minumnya. Rey menoleh, mengangguk cepat. Kemudian melanjutkan berjalan.
“Biar diantar Sarman saja.” Nenek beranjak dari duduk.
Rey berpikir sejenak. “Baiklah nenek. Terima kasih.” Rey memeluk nenek. Nenek tersenyum bahagia. Air mukanya mulai bersemangat.
“Sama-sama. Nanti kalau kamu ada masalah, kamu ke sini saja, Rey. Nenek tidak tega kamu di sana.” Nenek mengusap lembut rembut Rey. Rey mengangguk lantas pergi menuju garasi.

Sarman gesit menyusul hingga garasi. Lantas masuk ke mobil dan mengeluarkannya. Rey langsung masuk ke dalam mobil dan sesaat melambaikan tangan kepada nenek. Nenek di seberang membalas lambaian tangannya. Tersenyum lebar penuh kebahagiaan. Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah nenek. Rey termangu di kursi mobil sambil sesekali menatap jalanan. Sarman bingung melihat kelakuan Rey.
“Ada apa, Rey? Kamu masih sakit?” Sarman tersenyum.
Rey gelagapan mendengar ucapan Sarman. “Eh, enggak kok, Pak.”
Mendengarnya Sarman menggeleng-gelengkan kepala. Rey tersenyum menanggapi. Matanya yang teduh kembali melihat jalanan. Dia tidak mungkin untuk membela diri di depan ayahnya. Setiap kali dia kembali, Rey hanya akan mendapat bentakan dari ayah. Rey menghela napas keras. Tidak ada gunanya memikirkan hal yang tentu akan terjadi.

Mobil sedan tua itu menikung masuk ke dalam halaman rumah Rey. Rumah itu nampak kotor dari biasanya. Halaman rumah yang selalu bersih menjadi kotor dengan daun-daun kering yang berserakan. Rey mulai memaki dirinya.
“Rey, mau turun di mana?” Sarman menoleh ke arah Rey.
“Sini saja, Pak. Terima kasih Pak Sarman.” Rey keluar dari mobil. Dia sedikit menggigit bibir ketika menapaki jalan setapak menuju pintu rumahnya. Sarman memutar mobil dengan gesit seperti biasa, lalu menghilang dari balik belokan.
Rey pelan mendorong pintu rumah. Tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin bercucuran. Sebersit ketakutan mulai menggenangi hati dan pikirannya. Dia celingukan ke beberapa arah. Sepi. Tidak ada tanda-tanda siapapun dalam rumah ini. Rey menghembuskan napas lega. Dia berlari menuju kamarnya yang berada di lantai atas.

“Mau ke mana, Rey?” sebuah suara menggema di langit-langit. Tubuh Rey yang sudah membaik terasa begitu sakit kembali. Wajahnya pucat pasi. Itu seharusnya adalah suara yang harus dihindari.
“Rey.. ma.. mau ke kamar, Bu,” kata Rey dengan suara bergetar.
Mendengar jawaban Rey, Ibunya mendelik kasar. Wajah itu memang harus diakui jika cantik. Tapi, jangan mudah akui sesuatu dari luar karena hanya kulitnya. Hati itu sebusuk bangkai. Tidak muncul sedikit cahaya pun dari dalam sana.
“Kemari kamu!” Ibu membentak kasar Rey. Rey pasrah dengan keadaan ini. Dia mendekat dengan keadaan buruk sekali.
Dan sepersekian detik kemudian, Rey tersungkur dengan keadaan pipi yang lebam. Barusan Ibu menampar Rey sangat keras dan kasar.

“Ibu, ingat Allah, Bu. Rey mohon.” Rey mulai bangkit. Dia tidak peduli dengan sakit di pipinya. Mendengar perkataan Rey, Ibu berteriak kalap. Ibu melempari benda apapun yang berada di dekatnya. Tangannya teracung-acung ke arah Rey.
“Tau apa kamu tentang agama, ha! Jangan sebut nama Tuhan jika kamu sendiri pun tidak tahu apapun!” Ibu melempar Rey dengan vas bunga.
“Ibu, sadar. Biarpun Rey tidak tahu banyak tentang agama, setidaknya Rey paham jika itu adalah kewajiban Rey untuk mengingatkan Ibu terhadap Zat yang telah menciptakan Ibu!” Rey memeluk Ibu erat. Dengan sisa tenaga, Ibu berontak dari Rey. Berusaha melepaskan pelukan yang erat itu. Percuma, Rey bukan lagi anak-anak yang suka dipeluk. Dia adalah seorang lelaki tangguh yang tengah memasuki masa remaja.

Lima menit berlalu, Rey melepaskan pelukannya dari Ibu. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rey. Dia mengucap istighfar berkali-kali dengan mulut bergetar. Ibu mendesis lantas pergi menuju kamarnya. Rey kembali tersungkur. Kini dia tidak kuat lagi untuk berdiri.
“Bunda, Rey lelah.”

Rey mangucek kedua matanya. Silau sekali cahaya di sini. Dia menatap ke sekeliling. Ini kamarnya. Rey menghela napas keras. Dia pasti pingsan kemarin akibat bertengkar dengan Ibu. Jam besar di dinding berdentang. Suaranya mampu masuk ke dalam kamar Rey. Pukul lima pagi. Waktunya salat Shubuh.
“Semoga kemarin adalah hari terakhirku bertengkar dengan Ibu. Bukakanlah pintu hatinya, Ya Allah.” Rey mengakhiri do’a nya.

Rey berjalan menuju meja belajar. Diambilnya sebuah buku berwarna merah terang. Kumpulan puisi Rey. Rey tersenyum membacanya. Dia meraih bolpoin dan menulis sebuah puisi pada halaman terakhir.

Bunda
Terakhir aku mengenalmu, saat kau mengabur dalam dunia
Kemudian sebersit rasa membuatmu rindu pada Sang Khaliq
Meninggalkan kepedihan luka, namun membuat jiwa tetap terikat
Tibalah, Ibu
Aku tak tahu, mengapa kau mengeyahkanku?
Aku benci hidup kian merana, aku ingin hidup bahagia!
Dari nun jauh sabda ratu, apakah itu yang kau inginkan?
Perbedaan itu menyelinap diantara setiap peluh mereka
Menghantarkan jiwa tandu dalam api
Tapi, bukan berarti aku memihak di antara mereka!
Karena mereka adalah ciptaan Allah yang terindah bagi manusia beruntung sepertiku.

Rey menutup bukunya. Kali ini dia harus kembali menabung untuk membeli buku baru. Buku harian miliknya sudah habis. Rey turun ke bawah untuk masak. Walaupun Rey seorang laki-laki, dia tidak bisa merasakan anak laki-laki yang selalu makan dengan masakan Ibu. Dia tidak bisa. Dia harus masak sendiri, semua ia lakukan sendiri.

Ibu menatap sekilas Rey yang sedang memasak. Dengan wajah masam dia duduk di meja makan. Menanti makanan dari Rey.
“Ibu, dapat telepon dari ayah?” Rey menaruh sepiring nasi goreng di hadapan Ibu.
“Nggak! Sudah cepat pergi!” Ibu membentak Rey dengan tatapan galak. Rey buru-buru meninggalkan Ibunya sebelum berteriak kalap seperti kemarin.

Suara pintu terbuka kasar dari depan. Karena kaget, Rey bergegas menuju pintu. Mata Rey membulat atas apa yang ia lihat. Ibu menyusul dari belakang. Lantas berteriak histeris dengan pemandangan itu. Rey tak kuasa berdiri, air mata mengucur deras. Tubuh ayah telah terbujur kaku. Rey tertunduk. Mencoba menguatkan diri jika semua ini hanyalah mimpi-mimpi buruknya. Tapi tidak. Ini adalah kenyataan.

“Rey, kamu harus tabah, nak. Kamu tidak boleh lemah. Memang sudah ditakdirkan dari dulu jika seseorang ingin hidup, dia juga harus siap untuk mati. Ayo bangun.” Nenek merangkul Rey setelah ayahnya dikuburkan.
“Tapi, ini tidak adil nek. Dulu bunda, sekarang ayah” kata Rey. Suaranya bergetar, membuat peristiwa itu sangatlah menyedihkan. Ibu duduk diam sedari tadi. Wajahnya sembab tak beraturan. Dia berkali-kali menatap tajam ke arah Rey.
Nenek mendekati Ibu. “Gunakanlah kebijaksanaanmu, nak. Jangan menjadi budak dari hawa nafsu. Ingatlah terus Allah yang telah Menciptakanmu. Akan kukatakan sesuatu. Jika kau memang tidak menyukai Rey, apa salahnya jika kau mencoba sedikit saja untuk mengerti perasaan suamimu? Kau jangan terlalu dibutakan oleh sesuatu. Suamimu sangat menyayangi Rey. Tapi, juga tak bisa menolak kemauan istrinya. Seseorang dengan sendirinya akan mengetahui sebuah hati jika dia mau mencoba untuk mengindahkan orang lain.”
Ibu menatap nenek acuh. Dia tidak peduli dengan perkataan itu. Menurutnya kata-kata nenek hanyalah omong kosong yang tidak memberikan dampak apapun. Tapi, dia salah. Mungkin jika Ibu mau melakukan nasehat nenek, Rey tidak akan merasa kesakitan lagi.

Kesedihan akan kepergian ayah telah berlalu. Rey kembali masuk sekolah seperti biasa. Nenek juga sering berkunjung ke rumah untuk menemui Rey. Ibu masih acuh dengan mereka. Dia juga tetap memperlakukan Rey dengan kasar. Bahkan setelah kepergian ayah, tindakan kasar ibu kepada Rey kian hari kian menjadi. Rey berkali-kali mengingatkan ibu kepada Allah yang menciptakannya.
“Bu, istighfar. Rey tahu sebenarnya ibu adalah orang yang mulia. Maka janganlah menjadi budak dari hawa nafsu agar ibu tidak kehilangan kebijaksanaan.”
“Dasar! Mulai sok pintar kamu, ya!”

Rey mulai muak dengan semua keadaan itu. Dia jatuh sakit. Sakit yang tak kunjung sembuh selama seminggu terakhir. Tubuhnya lemas dan berat untuk digerakkan. Akhir-akhir ini Rey mengalami penurunan berat badan tanpa alasan. Dia juga sering muntah-muntah dan kejang. Saat melihat perilaku Rey yang mulai berubah, Ibu tak peduli. Dia tetap meminta Rey untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa.

Nenek pagi ini berkunjung ke rumah. Saat itu, Rey tengah tertidur meringkuk sambil memegangi kepalanya. Dia demam tinggi. Tubuhnya juga bergetar. Sesekali Rey muntah yang mengakibatkan lantai menjadi kotor.
“Astagfirullah, Rey. Kamu kenapa, nak? Sarman kita bawa Rey ke dokter!” Nenek berteriak kemudian mencoba Rey untuk duduk.
Sarman gesit menghampiri nenek dan Rey lantas menggendongnya masuk ke dalam mobil. Tangis nenek pecah seketika saat melihat Rey yang memeluk foto ibu kandungnya. Nenek mengusap lembut rambut Rey.

Tiba di rumah sakit, Rey langsung dibawa masuk. Alhasil setelah lama menunggu pemeriksaan, Rey divonis menderita kanker otak stadium tiga dan harus menjalankan kemoterapi. Air muka nenek langsung berubah mendengar vonis dokter.
“Kemoterapi, dok?” Nenek menatap lama dokter. Dokter mengangguk.
“Ini untuk membunuh sel-sel kanker yang sangat cepat membelah diri agar tidak berlanjut ke stadium berikutnya. Namun, disamping keunggulannya, kemoterapi juga memiliki efek samping yang tidak sedikit. Jangan khawatir, efek samping ini akan hilang setelah pengobatan selesai.” Dokter tersenyum. Nenek menghela napas lega.
“Dimulai kapan, dok?”
“Secepatnya.”
Nenek mengangguk. Itu memang keputusan yang tepat. Rey masih tertidur lemas akibat obat penenang yang diberikan. Anak itu, memang malang sekali nasibnya. Seharusnya dalam keadaan seperti ini, Rey membutuhkan penyemangat agar dia kuat melawan kanker. Bukan malah dia yang jadi penyemangat hidup seorang.

Dan memang benar perkataan dokter tentang efek samping kemoterapi. Perut Rey terasa mulas sekali. Nafsu makannya juga berkurang. Kulit Rey terlihat kering. Dia nampak menggigit bibir menahan rasa sakit. Nenek mendekati Rey lantas mengusap lembut rambutnya. Rey tersenyum walau getir.
“Kamu akan sembuh, Rey. Semua biaya kemoterapi akan ditanggung nenek.”
Senyum Rey terhenti. “Kenapa harus nenek lagi. Aku selalu merepotkan semua orang yang dekat denganku. Aku minta maaf, nenek.”
“Tidak, Rey.” tangis nenek kembali pecah seketika.

Setelah melakukan kemoterapi, nenek mengantar pulang Rey. Perut Rey sudah tidak terasa mual seperti tadi saat kemoterapi. Mobil menikung ke dalam halaman rumah. Ibu nampak duduk di ayunan depan taman. Sesaat melihat Rey dengan nenek. Lalu membuang muka ke arah lain.
Sarman menidurkan Rey di kamarnya. Nenek tersenyum dan meminta Rey agar beristirahat. Sedang nanti pekerjaan rumah akan diselesaikan oleh Inah dan Ambar. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Rey. Melihat Rey yang akan bersiap tidur, nenek meninggalkan kamarnya.

“Aku tak bisa tidur Ya Allah. Aku belum bisa istirahat.” Rey bangun dari tidur. Matanya melihat sekeliling dan berhenti pada sebuah kertas pada meja belajar.
Dia menghampiri meja belajarnya dan mengambil kertas itu. Sejenak Rey menatap langit-langit untuk mencari ide. Lantas meraih bolpoin dan mulai menuliskan sesuatu. Rey mengendap keluar kamar menuju kamar ibu. Digenggamnya surat itu lalu diletakkan di bawah bantal.
“Alhamdulillah. Semoga ibu membaca.”

Sebulan berlalu. Rey kian hari tak kunjung membaik. Lusa kemarin dokter kembali memvonis dirinya sudah masuk kanker otak stadium empat atau akhir. Kemungkinan hidup seseorang pada titik ini sangatlah sedikit. Rey menjadi semakin murung tiap harinya. Dia sudah lama tidak menulis puisi. Kepalanya botak akibat kemoterapi, sungguh menyedihkan sekali kondisinya.
“Rey, ayo makan.” nenek membantu Rey untuk berjalan. Teratatih.
“Nenek, ibu di mana? Ajak dia makan bersama.” Rey tersenyum. Nenek menggeleng-gelengkan kepala. Seorang anak lelaki tiri yang selalu disakiti ibunya, masih berpikir apakah ibunya mau diajak makan bersama? Nenek menitikan air mata. Rey sangat baik dengan hati tulus itu pasti diturunkan dari bundanya.
“Ibu sudah makan, Rey.” Nenek tersenyum.
Rey mengangguk. Di luar mendung mengisi langit sore ini. Kilat mendadak menampakan diri, disusul petir yang menyambar keras. Disaat bersamaan pula, darah muncul dari hidung Rey. Dia limbung seketika. Nenek berteriak-teriak memanggil Sarman agar membawa ke rumah sakit. Ibu sempat melihat tubuh Rey yang dibawa ke mobil. Sebersit rasa timbul dalam hatinya.

Ibu berjalan masuk ke dalam kamar. Ibu mengambil bantal yang sudah berdebu. Begitu terkejutnya Ibu atas apa yang ia lihat. Sebuah surat berwarna hijau terang-warna kesukaannya. Dibukanya isi dari dalam surat itu. Surat itu berisi:

“Jika ibu membaca surat ini, semoga keadaan ibu baik dan mulai menyayangi diriku. Aku hanya ingin katakan terima kasih pada ibu karena bisa membuat ayah bahagia setelah kepergian bunda, hingga ayah ikut menyusul bunda. Satu lagi, bu. Seseorang yang menjadi budak dari hawa nafsunya tidak dapat mengisi hatinya dengan ingat kepada Allah, maka dengan segera dia kehilangan kebijaksanaan. Al-Qur’an merujuk orang-orang seperti ini sebagai orang-orang yang kehilangan kebijaksanaan.(Al-Hasyr:14). Ingat ya, bu.”

Tangis ibu sempurna pecah di kamar. Segera ibu beranjak dari kamar dan berlari menuju garasi berniat untuk menyusul Rey. Dalam hati ibu menyesal sekali atas perbuatannya selama ini. Rey tak pernah menyukainya hanya karena cuma-cuma, dia tulus setulus angin yang berhembus menyegarkan.

“Rey!!” Ibu berteriak masuk ke dalam ruangan dimana Rey sedang diperiksa.
Melihatnya nenek mencegah. “Tunggu, Aida. Kau takkan aku biarkan mengganggu Rey di sini.”
“Tidak, ibu. Aku ingin bertemu putraku. Aku ingin memeluknya seperti putraku sendiri. Lepaskan ibu!” Ibu melepaskan pegangan kuat nenek, lantas mendorong pintu ruangan itu. Lihatlah, Rey. Dia menatap sambil tersenyum ke arah ibu.
“Sayang, kamu harus sembuh. Aku sadar, Rey. Aku akan menyayangimu.” Ibu memeluk Rey.
“Terima kasih sudah memelukku ibu. Aku memang menginginkannya dari dulu semenjak saat kita pertama bertemu. Aku ingin mengucapkan permintaanku. Tolong ucapkan salamku pada dunia untuk yang terakhir kali di ibukota. Ucapkan ‘Salam Untuk Dunia dari Rey’. Bunda, Rey sudah membuat ibu menyanyangiku. Rey, su..dah.. le-lah.. bun..da.” sempurna mata teduh itu menutup.
“Rey, Rey!! Ya Allah, mengapa penyesalan selalu datang terakhir!!” Ibu mengguncang-guncangkan tubuh Rey. Percuma, dia telah pergi menyusul bunda tercintanya.

2016
Wanita itu berteriak keras di atas Monumen Nasional. Meneriaki janjinya pada seseorang yang teramat ia cintai.
“Salam Untuk Dunia dari Rey!”

SELESAI

Cerpen Karangan: Attina Sabilla Arinda Azka
Facebook: Attina Sabilla Arinda
Namaku Attina Sabilla Arinda Azka. Biasa dipanggil Attina. Jika ingin berkenalan lebih jauh silahkan add Facebook Attina Sabilla Arinda, email attinasabillaarinda[-at-]yahoo.com, atau dm ke instagram @attinasaa

Cerpen Salam Untuk Dunia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hikmah Dalam Hidupku

Oleh:
Sempat aku merasa hidup ini tak adil untukku, aku selalu bertanya dalam hatiku, kenapa aku tidak bisa merasakan kebahagiaan yang orang-orang rasakan? memiliki keluarga yang sempurna, mendapatkan kasih sayang

Bukan Aku

Oleh:
Suasana ketegangan, hati yang cemas dan gelisah serta perasaan takut seolah-olah sedang bersatu untuk menghantuinya. Bahkan semua pasang mata yang ada di ruangan itu tertuju pada gadis kecil usia

Sesal

Oleh:
Kami sudah bersahabat sejak menginjak bangku kanak-kanak. Bahkan kami selalu satu sekolah hingga kami berdua berada di sebuah universitas. Lyra, gadis berkacamata itu adalah sahabatku. Kami melalui jalan yang

Penyesalan (Part 1)

Oleh:
BUKANLAH hidup, kalau tidak berlika-liku. Bukan hidup, kalau tidak ada hambatan. Memang hidup penuh dengan rintangan. Dengan segala keluh-kesah menggugah asa. Berkutik tangan kian kemari menggapai harapan. Kemari, kesana,

Bawalah Terbang Ikan Ini

Oleh:
Aku mulai menjalani kehidupanku sebagai siswa SMA. Banyak kenangan indah yang telah kulalui bersama teman-temanku sewaktu masih di SMP, dan itu semua masih kuingat. Ya tentu saja, baru sebulan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *