Sang Pemanggil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 12 August 2016

Boleh jadi kalian anggap aku hanyalah benda mati. Tak apa, asalkan aku dapat memberi manfaat bagi kalian. Sebuah manfaat hikmah dari kisahku ini bersama sang sorban.

Aku bagai anak kecil yang girang sungguh dikala pagi menjelang subuh, tatkala jemari tangan kanan yang sudah keriput seorang bapak tua meraihku dan menggendongnya di bahu. Ini artinya aku dan sang sorban akan diajak berjalan-jalan oleh Pak Tua menuju masjid.

“Hai, assalamu’alaykum.” Sang sorban menyapaku saat aku sudah berada di bahu Pak Tua. Sang sorban sudah meliputi leher Pak Tua, melindungi Pak Tua dari hawa dingin jelang subuh yang menyelusup.

“Wa’alaykumussalam.” jawabku dihiasi senyum kepada sang sorban. Dalam balutan sang sorban, Pak Tua terlihat begitu qona’ah. Mengapa? Sebab sang sorban itu sudah lebih lama dariku menemani hari-hari Pak Tua. Sang sorban terlihat tetap bersih meski sudah berumur.

“Semoga salat berjama’ah subuh kali ini banyak dihadiri oleh warga sekitar masjid, ya.” Aku berkata kepada sang sorban saat Pak Tua sedang melangkahkan kakinya menuju masjid.

“Ya, semoga. Aamiin.” Sang sorban menanggapi singkat.

Sudah lebih dari sepuluh tahun Pak Tua “memanggil” warga untuk datang ke masjid setiap lima waktu dalam sehari. Mulai dari tempat itu belum disebut masjid, hingga tempat itu menjadi masjid megah bertingkat satu. Tak jemu Pak Tua melakukannya.

Aku yang masih menggelendot di bahu Pak Tua dan sang sorban, menjadi begitu sejuk saat Pak Tua mengumandangkan lafaz-lafaz panggilan. Bersama udara lafaz-lafaz syahdu itu menghampiri dan membangunkan warga yang telinga hatinya memang terpaut dengan masjid. Satu persatu warga berdatangan masuk ke masjid saat dan setelah Pak Tua mengumandangkan lafaz-lafaz agung. Dua puluh menit kemudian, salat Subuh pun didirikan dengan iqomah dari Pak Tua.

“Alhamdulillaah, shaaf bertambah satu.” Aku bergumam sesaat sebelum Pak Tua ber-takbiratul ihram. Kami semua lalu berusaha menghadirkan khusyuk hati selama salat.

Tapi, sudah beberapa hari ini sang sorban bersedih, ia tergantung di gantungan pakaian yang menempel di dinding. Aku juga bersedih dan hanya bisa menatapnya dari ujung tempat tidur Pak Tua biasa meletakkan aku.

Kami bersedih sebab tak lagi menjadi penyaksi bagi Pak Tua. Tahukah kalian semua? Bahwa tiap-tiap satu amalan kalian selalu ada penyaksinya. Dan, sungguh, kami berdua rela menjadi penyaksi atas ketulusan Pak Tua selama puluhan tahun “memanggil” warga sekitar masjid dengan suaranya.

Dalam kesedihan kami, tersisip doa untuk kesembuhan Pak Tua yang kini sedang diuji dengan penyakit di masa tuanya.

“Semoga Allah rida atas engkau, yaa Pak Tua.”

Cerpen Karangan: Andriyana
Blog: http://www.storial.co/book/kumpulan-cerita-pendek-yong/8

Cerpen Sang Pemanggil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyuman Untuk Aku

Oleh:
Hari beranjak siang, tapi aku masih terpekur sendiri di dalam kamar sempit dan sedikit pengap. Aku ingin sendiri saat ini, berkali-kali mama memanggilku untuk makan, tapi tak aku gubris

Temanku Hidayah Mu

Oleh:
Pagi cerah menghiasi alam semesta dengan indahnya, burung-burung berkicauan riang, angin sepoi-sepoi hangat datang dari segala penjuru arah. “Kringgggggg…” “Kringgggggg…” “Kringgggggg…” Suara dering telepon kos-kosan berdendang dengan keras tapi

Hijab

Oleh:
“Kenapa cewek itu harus berhijab?” Tanya Syifa pada seorang pemuda yang duduk di bangku di depannya. Cowok itu tidak menoleh, hanya cukup mendengar. Sepasang kedua matanya yang teduh menerawang

Jejak Kaki Bapak

Oleh:
Adzan Shubuh telah berkumandang. Merdu sekali suaranya. Membuat para kaum muslimin menikmati merdunya suara dari Masjid. Ya, Masjid. Masjid adalah tempat beribadah kaum muslim. Termasuk aku. Aku mengikuti langkah

Kado Kecil Untuk Rima

Oleh:
Hari ini adalah hari ulang tahun keenam untuk Rima, seorang gadis kecil yang tak pernah bisa memilih dilahirkan oleh sepasang pemulung, yaitu pak Yanto dan bu Yati. Seperti di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *