Sayap Bidadari (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 22 April 2017

Tangan mungil itu menggenggam sang bunda dengan erat. Seakan berada dalam detik-detik perpisahan yang membuatnya kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Seakan ia akan kehilangan sentuhan lembut yang selalu membuatnya nyaman setiap saat. Seakan ia tak akan lagi mendengar nyanyian yang selalu membuatnya tenang dan terlelap ketika beranjak tidur.

Butiran Mutiara kecil mulai menetes membasahi pipinya yang putih dan lucu. Air mata yang tak pernah bunda Fisha izinkan untuk mengalir. Karena Bunda fisha hanya mengajarkannya untuk tersenyum dalam keadaan apapun. Namun, tak ada yang menahan air mata itu, dan tak ada tangan lembut yang mengusapnya. karena tangan itu kini telah lemah, tak memiliki kekuatan untuk melakukan itu.

Hampir 3 hari, Gita yang masih berusia 8 tahun itu harus menunggu sendiri di kamar rumah sakit sang bunda yang penuh dengan aroma obat. Esok lusa, sang ayah baru bisa datang dari luar negeri. Ia rela meninggalkan sekolahnya demi sang bunda. Melakukan apapun yang bisa ia lakukan untuk bunda. Jika memang dengan di sampingnya yang bunda inginkan, maka ia akan sanggup menanti sekalipun mata bunda masih terpejam rapat dan tak mampu mengatakan itu.

Tak ada yang merawat gadis kecil itu. Rambutnya yana terurai kering berantakan, mukanya yang kusut karena selalu basah oleh air mata, dan pakaiannya yang tak pernah ganti semenjak bunda Fisha dirawat di rumah sakit. Tak ada sanak saudara yang menjenguk, karena memang ia tak mampu mengoperasikan handphone milik bunda sekalipun tergeletak tak terurus. Dan untuk ayah, itu pun ketika secara kebetulan ayah menghubungi bunda kemarin, ketika bunda telah tak sadarkan diri di rumah sakit dan Gita yang mengangkatnya.

“Bunda, sadar dong. Gita kangen sama bunda. Gita sendirian Bun nggak punya temen” keluh Gita sambil menggenggam tangan bunda yang lemah. Gita tak pernah mengerti kenapa bundanya tiba-tiba masuk rumah sakit. Yang ia tahu, sebelum itu bunda memang sakit sehingga bunda izin untuk tidak mengajar sekolah selama 2 hari. Dan ketika itu ia baru pulang dari sekolah dan langsung terkejut ketika mendapati sang bunda tergeletak lemah tak sadarkan diri di kamar tidur. Gita langsung berteriak histeris dan memanggil tetangga untuk membantunya.

Gita memandang lekat penuh iba pada sang bunda yang terbaring lemah di atas ranjang. Tak terlihat lagi sebuah senyum yang tersungging dari bibirnya. Karena kini bibir bunda telah tertutup dan terbungkam oleh mimpi yang belum mengizinkannya untuk kembali memandang dunia nyata. Sukma bunda yang melayang tanpa arah entah kemana. Mungkin sementara ini bunda masih duduk di sebuah kursi mewah surga atau mungkin masih asyik bermain ayunan di sana, namun, tetap saja bunda masih tak ingin abadi di sana karena bunda masih harus kembali tuk melihat senyum Gita agar tak pernah pudar. Wajah sendu itu, membuat Gita selalu teringat potongan-potongan kenangan yang belum sempat ia susun. Kenangan-kenangan itu masih terpisah dan mungkin suatu saat akan menyatu utuh dalam ingatan Gita. Namun, Gita masih tak ingin hal itu terjadi. karena ia masih ingin merangkai kembali hari-hari indah bersama bunda. Ia tak ingin saat-saat bersama bunda akan berubah menjadi sebuah kenangan yang hanya akan indah dalam imajinasinya tapi tidak dalam kenyataannya. Ia masih belum siap menghadapi itu.

Pikiran Gita melayang tanpa arah. Menembus langit tak berujung hingga alam keabadian. Namun, sekejap semuanya pudar. Lamunan Gita tiba-tiba hilang dan dikaburkan oleh kedatangan sang ayah dari negeri seberang. Setelah beberapa bulan tak lagi menginjakkan kaki di tanah tempat tinggalnya, selama beberapa bulan ia harus rela meninggalkan istri dan putri tercintanya, dan saat ini ia harus kembali bersama rindu yang telah lama ia pendam.

Ayah langsung memasuki kamar ruang bunda dirawat dengan tergesa-gesa. Perasaannya bercampur aduk antara khawatir, takut, gelisah. Ayah yang biasanya kembali dengan sambutan hangat dan senyum rindu dari bunda, kini semua itu tak ada lagi. di sana telah duduk di samping bunda, buah hatinya, Gita.

“Sayang” panggil ayah pada Gita. Seketika itu senyum Gita mengembang. Sebuah kebahagiaan tak terduga yang terselimut diantara kesusahan.
“Ayah” Gita langsung menghampiri ayah dan memeluknya erat dan sangat erat.
“Gita rindu ayah. Gita nggak ingin ayah pergi lagi. Gita ingin ayah di sini menemani bunda” rengek Gita manja. Ayah hanya mampu tersenyum setiap mendengar permintaan putrinya yang belum mampu ia penuhi.
Lalu ayah menghampiri bunda yang tengah terbaring lemah tak berdaya. Wajah pucat yang telah merubah wajah manis bunda. Namun, tetap saja, bunda tetap cantik kata Gita. Perlahan ayah menggenggam tangan lembut bunda dengan erat. Lalu duduk di sampingnya sembari menatap bunda dengan sendu.

“Pak permisi, apakah bapak suami dari ibu Fisha?” sapa dokter Linda yang tiba-tiba berdiri tegap di belakang ayah.
Ayah langsung beranjak dan memutar badannya menghadap dokter Linda.
“Iya bu. Saya suaminya. Istri saya sakit apa bu?” tanya ayah tak sabaran.
“Eeemm.. begini pak. Istri anda mengidap penyakit kanker Rahim stadium 4. Apakah sebelumnya memang memiliki penyakit ini pak?”
Ayah sangat terkejut mendengarnya. Yah, memang bunda dulu pernah mengidap penyakit itu semenjak setelah melahirkan Gita. Bunda selalu keguguran ketika hamil lagi. namun, sepertinya bunda selalu mengabaikan penyakit serius itu.
“iya dok memang. Dulu masih kanker Rahim stadium pertama. Katanya bisa diobati. Istri saya sudah saya suruh ke klinik untuk pengobatan alternatif setiap minggu dok”
“Tapi apakah benar istri anda telah melakukan pengobatan?”
“Masalah itu saya tidak bisa memastikan dok. Karena saya kerja di luar negeri. saya hanya mengontrol lewat telepon setiap seminggu sekali. Dan istri saya selalu mengatakan sudah check up”
Dokter itu lalu terdiam beberapa saat. Lalu mengatakan sesuatu yang membuat harapan ayah untuk kesembuhan bunda pupus.
“Pak, karena ini sudah stadium 4 jadi kemungkinan kecil kami bisa menyelamatkan Istri anda dari penyakit ini. karena ini sudah sangat kronis pak. Bapak berdoa saja mungkin ada keajaiban untuk kesembuhan istri bapak”
Mendengar itu, ayah langsung tertunduk lesu. Rasanya ayah belum bisa merelakan bunda untuk pergi. Ayah tak mengerti apa yang harus ia perbuat. Perlahan ayah melirik Gita yang sedari tadi menyimak pembicaraan ayah dengan dokter Linda. Meskipun Gita sama sekali tak mengerti topik pembicaraan mereka tapi melihat reaksi ayah yang tiba-tiba tertunduk lesu, Gita jadi ikut takut dan khawatir.

“Ayah, apa yang terjadi pada bunda?” tanya Gita polos.
Ayah bingung apa yang harus ia katakan pada putri tercintanya. Ayah tak ingin melihat Gita sedih dan terpukul ketika mendengar kenyataan bahwa masa hidup bunda tidak lama lagi. ayah tak mampu membayangkan apa yang terjadi pada Gita jika itu memang benar-benar terjadi. sosok yang selalu ada di sampingnya setiap saat, sosok yang selalu mengajarkannya tuk tetap tersenyum, dan sosok yang selalu menjadi pelipur lara dikala hatinya tengah dirundung pilu. Bundalah yang menjadi pelita bagi Gita. Dan sosok itu harus menginggalkan Gita tanpa kata selamat tinggal.
“Bunda tidak apa-apa sayang, bunda kecapekan. Jadi bunda butuh istirahat yang lama”
“kapan bunda bangun ayah?”
Ayah kembali terdiam sesaat. Bagai sebuah batu besar yang membentur pada kepala ayah. Ayah kembali bingung, berusaha mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan putrinya.
“Ayah juga nggak tahu sayang. Seperti kita waktu tidur, kan nggak ada yang tahu kapan kita akan bangun. Selain diri kita yang akan bangun dengan sendirinya. Begitu juga bunda. Jadi kita berdoa saja ya supaya bunda cepet bangun”
Gita termenung. Pikirannya mulai melayang tanpa arah. Ia sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan sang ayah. Jika memang bunda tertidur kenapa sampai berhari-hari? Kan kalau bunda biasanya tidur nggak sampai seharian, paling cuma beberapa jam. Malah biasanya lebih lama dirinya. Begitulah hati Gita berbisik.

Ketika adzan subuh berkumandang. Ditengah semua insan terlelap bersama mimpi. Saat itulah bunda tiba-tiba sadar dari koma-nya. Suara seruan tuhan itu menyelinap perlahan ke dalam telinganya hingga mengetuk pintu hati bunda yang telah lama tak mendengar suara itu. Sukma bunda seketika terbangun dan tak lagi menari-nari di alam mimpi. Berlari dari ajakan sang abah untuk pergi dari dunia nyata dan terbang ke alam keabadian.
Jemari bunda perlahan mulai bergerak. Meraba sesuatu yang berada di genggamannya. sebuah tangan mungil yang tengah tertidur pulas karena letih. Bunda perlahan mulai membuka kedua matanya. Samar-samar hanya terlihat dinding putih dengan aroma obat yang menyengat. Lalu bola mata bunda berputar dan segera menangkap sosok lelaki yang tengah bersimpu dalam sujudnya, bermunajah pada Tuhan sang penggenggam jiwa. Bunda tahu bahwa lelaki itu tangah menyelipkan dirinya dalam doa. Dan sosok gadis kecil yang tertidur dengan kepala menyandar di kasurnya.

“Ayah?” seru bunda lemah.
Ayah seketika terkejut mendengarnya. sebuah keajaiban tuhan. Tuhan telah mendengar semua doa-doanya. Subhanallah. Ayah segera beranjak dari sajadah dan menghampiri bunda.
“Bunda? Alhamdulillah ya Allah. Bunda sudah sadar. Ayah nggak tahu harus berbuat apa selain berdoa. Maaf ayah terlambat bun” ayah langsung mencengkram tangan bunda erat. Serasa tak ingin suatu perpisahan terjadi antara mereka.
“Bunda senang ayah akhirnya bisa menemani bunda. Ayah, bunda ingin pulang” tetap saja senyum itu tak pernah pudar dari wajah bunda yang pucat.
“Tapi bunda belum dapat izin pulang? Keadaan bunda masih belum stabil”
“Bunda sudah sehat yah, bunda harus pulang”
Terpaksa ayah tak mampu berkutik. Ayah harus menuruti keinginan bunda untuk pulang. Sekalipun dokter masih meragukan kesehatan bunda.
“Ya sudah pak, bu Fisha boleh pulang. Tapi jika terjadi apa-apa segera bawa ke rumah sakit ya pak. Jangan sampai telat”
Ayah mengangguk faham.

Sore itu, bunda pulang dari rumah sakit. Gita sangat bahagia. Akhirnya bunda bisa sembuh kata Gita. Meskipun ia tak pernah tahu apa yang terjadi dibalik itu. Di taman belakang rumah, bersama semburat cahaya mentari di senja hari. Mereka bertiga bermain bersama. Semua terasa kembali seperti sediakala. Kehidupan rumah tangga harmoni yang telah lama tak lagi dirajut oleh mereka. Salah satu faktornya adalah kepergian ayah merantau. Membuat keluarga kecil itu tak lagi utuh. Inilah yang dirindukan bunda selama bertahun-tahun. Senyum bahagia bersama saat kasih sayang itu kembali terangkul menjadi satu. Terasa beban penderitaan bunda sesaat hilang terlarut bersama kebahagiaan.

Dua hari bunda di rumah. Dan keadaan bunda semakin hari semakin memburuk. Terasa tak terlihat lagi cahaya dari mata bunda. Tubuh bunda semakin lemah tak berdaya. Namun, tetap saja senyum itu tak pernah pudar dari wajah bunda. Bunda harus tetap terlihat riang di hadapan kedua orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Sekalipun sebenarnya bunda telah benar-benar rapuh dan kekuatannya telah habis termakan penyakit. Bunda tak ingin goresan senyum itu kembali keriput ketika melihat bunda harus menderita karena penyakit yang diidapnya.

“Sayang?” sapa bunda pada Gita yang sedang asyik bermain boneka disampingnya.
“Iya bun. Ada apa? bunda mau minta apa? es jeruk, nasi goreng, bakso atau apa? nanti Gita belikan kok Bun?”
“nggak sayang. Bunda nggak butuh semua itu. Bunda Cuma ingin kamu sama ayah sayang. Oh ya bunda punya cerita sayang. Mau dengar nggak?”
Dengan girang Gita beralih posisi menghadap bunda. Telah lama ia tak lagi mendengar cerita bunda sebelum tidur.
“iya iya bun. Ayo cerita. Gita kangen cerita bunda” ujar Gita dengan senyum lebar dan menepuk-nepuk kedua tangannya.
Hati bunda seketika perih mendengarnya. bagaimana jika hari ini adalah cerita terakhir dari bunda untuk Gita? Dan setelah itu Gita tidak akan lagi mendengar cerita itu? Rasa takut itu mulai menjalar di tubuh bunda. Memang tak ada yang tahu sampai kapan usia seseorang akan ditutup oleh Tuhan. Karena Dialah sang penggenggam jiwa setiap manusia. Namun, tetap saja tanda-tanda itu mulai terlihat hari demi hari kian jelas. Bahwa daun yang tertulis namanya telah jatuh di Lauh mahfudz.

“Begini sayang. Ada seorang ibu yang sedang sakit keras. Ibu itu sangat menyayangi putrinya sehingga ibu itu tidak ingin putrinya mengetahui tentang penyakitnya. Dan suatu hari tiba-tiba ibu itu meninggal sayang, tentu gadis itu sangat sedih. Dan tiada henti menangis. Hingga suatu malam ketika gadis itu sedang tidur, ada seorang bidadari yang tiba-tiba berada di sampingnya, menemani mimpi-mimpi indahnya. Lalu membawa gadis itu terbang berkeliling angkasa dengan sayapnya, menikmati indahnya malam, kerlap-kerlip bintang yang bersinar. Dan ketika ia sadar ia baru tahu ternyata bidadari itu ibunya yang turun dari surga sayang”
Gita sangat terkesima mendengarnya. Terasa ada yang aneh dengan cerita itu, tapi tetap saja Gita tak pernah menyadarinya. Gita hanya menikmati indahnya cerita yang mengalun bagai denting piano yang sedang berirama bersama syair lagu. Yang gita tahu cerita itu sangat menarik, dan tanpa sadar cerita itu menyimpan misteri suatu saat akan menjadi nyata.

“Bunda, aku ingin bisa melihat bidadari. Dan terbang jauh bersamanya. Pasti bidadari itu cantik sekali seperti bunda”
Bunda hanya tersenyum mendengar celoteh Gita. ditengah indahnya bercengkrama bersama sang putri, tiba-tiba tubuh bunda menggigil, bunda batuk-batuk keras hingga keluar darah dari mulut bunda. Wajah bunda semakin pucat pasi. Gita sangat panik. Ayah segera menghampiri dan berusaha membawanya ke rumah sakit tapi bunda menolak.
“Bunda harus ke rumah sakit”
“Tidak yah, bunda masih ingin di sini sama Gita. bunda nggak apa-apa kok yah. Sebentar lagi juga sembuh”
“Tapi bun, ini bahaya…” Ayah semakin panik.
“Yah, percaya sama bunda. bunda tidak apa-apa yah”
Hati ayah tak tenang. Perasaan ayah bercampur aduk. Rasa takut itu semakin menghantui pikiran ayah. Ia tak ingin terjadi apa-apa dengan bunda. ayah tidak ingin ditinggal bunda. karena ayah sangat mencintai bunda.

Cerpen Karangan: Nuriah Muyassaroh

Cerpen Sayap Bidadari (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tetap Bercahaya, Lilinku

Oleh:
Hujan yang turun di sore itu membuat Aditya termenung. Sambil menatap alam sekitar yang dibasahi hujan, Adit pun memanggil “ma..ma, pa..pa” dengan suara yang kedengarannya tak tahan rindu. Mendengar

Papa, Aku Ingin Seperti Dahulu

Oleh:
Jam telah menunjukkan jarumnya tepat di angka 03.00 pagi, seperti biasa aku tidak pernah bisa untuk tidur lebih cepat. Entah mengapa mata ini malas sekali untuk terpejam. Sudah kubiasakan

Aku Ingin Sekolah

Oleh:
“Ibu, Mila ingin sekali bisa sekolah kaya temen temen Mila yang lain” keluh Mila kepada Ibu nya. “iya Mila, ibu tau kamu mau sekolah. tapi mau diapain lagi, ibu

Ibu Ku Baik

Oleh:
Matahari mulai terbenam dan malam mulai beranjak anak itu tetap berada di dalam kamarnya semenjak ia pulang sekolah siang tadi. Hampir setiap hari ia seperti itu, mengurung diri. Ia

Cerita Kepindahan Ku

Oleh:
“Dre, bangun Dre udah siang, kita kan akan segera pindah dari rumah ini,” ucap ibuku. Aku pun segera bangun dari tidurku, dan langsung ke dapur untuk mengambil minum setelah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *