Sayap Bidadari (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Mengharukan
Lolos moderasi pada: 22 April 2017

Malam pun tiba. Hawa dingin semakin menyelimuti siapapun yang tengah tertidur nyenyak. Semilir angin berhembus sepoi-sepoi, menemani udara malam. Burung-burung malam mulai berkicau, suara jangkrik mulai terdengar lebih keras meskipun tersembunyi di balik semak belukar. Tiada yang mendengar suara-suara ramai itu, karena mereka telah terlelap bersama mimpi indah mereka. Sukma mereka tengah asyik menikmati alam mimpi yang tak pernah terwujud nyata.
Namun, tidak bagi Gita. cerita bunda telah menjelma dalam mimpi Gita. bidadari cantik itu hadir dalam mimpinya. Ia bermimpi berada di sebuah tempat yang sangat indah, yang tak pernah ia temui di dunia. Entah tempat apakah itu. Gita sangat betah di tempat itu, namun sayangnya tidak ada siapa-siapa di sana. hanya burung-burung pipit yang terbang ke sana-sini menemaninya, sungai susu yang mengalir dengan deras dan tenang. Bunga-bunga cantik yang berada di sekitarnya layaknya berada di tengah taman terindah di dunia. Gita sangat menikmati pemandangan tampat itu. Lalu tiba-tiba datang seorang bidadari cantik memakai gaun berwarna putih layaknya seorang pengantin. Namun, wajah bidadari terasa sangat akrab dengannya. Ia merasa sangat mengenal wajah bidadari itu.

“Bunda?”
“Iya sayang, ini bunda”
“Bunda cantik sekali. Bunda kok punya sayap? bunda jadi bidadari ya?”
“Iya sayang, sekarang kamu sedang di surga. Bunda ingin mengajak kamu terbang keliling surga. Kamu mau?”
“Mau banget. Gita ingin terbang sama bunda”
“Tapi, maaf sayang. Kamu belum saatnya bisa terbang seperti bunda. karena masih ada ayah. Kamu harus menemani ayah”
Bunda lalu terbang jauh dan semakin jauh. meninggalkan dirinya sendiri. Gita berusaha berteriak memanggil bunda untuk kembali. Tapi tetap saja bunda terus terbang dengan sayapnya.
“Bunda, aku ingin ikut bunda terbang. Bunda jangan tinggalin Gita. Bunda, bunda” seketika semua itu samar lalu berubah menjadi gelap. Dan Gita pun tersadar. Ternyata semua itu hanya mimpi. Terasa ada yang aneh dengan mimpinya. Mimpi itu seperti cerita bunda. apa arti dari semua ini?

Sementara hawa dingin semakin menusuk tubuh. Suara burung terdengar tak henti berkicau semakin keras. Namun, ada yang berbeda dengan suara burung itu. Tak seperti biasanya. Ternyata suara itu bukan dari burung hantu. Melainkan seekor burung berwarna gelap yang tengah berkicau serak dan bertengger di ranting pohon di dekat rumah.
Tepat pukul 12.00, bunda tiba-tiba terbangun karena sesak nafas. Mata bunda semakin cekung ke dalam. Semua yang bunda lihat terasa kabur. Entah kenapa tiba-tiba bunda ingin ke kamar mandi padahal bunda tak merasa ingin buang air. Perlahan bunda beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan terseok-seok sambil berpegang pada dinding. Ternyata bunda mengambil air wudhu, lalu mengambil mukena. Bunda tiba-tiba ingin sholat sebelum pada akhirnya bunda tak mampu lagi menunaikan sholat untuk selamanya. Perlahan bunda mengenakan mukena itu lalu segera berbaring kembali di tempat tidur. Bunda sholat saat itu juga, lalu mengangkat tangan untuk takbir dan merapatkan kedua tangannya di atas dada. Dan ketika sampai di doa iftitah “Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamiinnnn”, bunda tak lagi meneruskan bacaan itu. Mata bunda telah tertutup rapat. Hanya tinggal nafas terakhir. Tak lagi terdengar jantung yang berdetak, karena nyawa bunda telah berpisah dari jasadnya. Dan telah kembali pada sang kuasa.

Gita tak sabar ingin menceritakan mimpinya semalam pada sang bunda. ingin mengetahui reaksi bunda ketika mendengarnya. pasti bunda sangat senang. Seperti kebiasaannya. Gita selalu menceritakan mimpi tidurnya pada Bunda. Dan ketika sampai di kamar bunda. Gita terkejut setengah mati ketika melihat bunda tertidur dengan memakai mukena. Bunda terlihat sangat cantik dengan seulas senyum tipis di bibirnya. Gita tak mengerti apa yang terjadi pada bunda. tetap saja Gita bercerita panjang lebar tentang mimpinya semalam meski Gita tak pernah tahu bahwa bunda tak lagi mendengar ceritanya.
“Hmmm.. bunda masih tidur ya? Kok pakai mukena. Oh mungkin tadi malam bunda sholat jadi karena capek jadi bunda males melepas mukenanya. Ya sudah deh Gita cerita ya Bun, biar bunda bisa langsung bangun waktu mendengar cerita Gita” Gita sibuk berceloteh sendiri seperti kebiasaannya saat bunda masih koma di rumah sakit. Meski bunda tak sadar waktu itu, tetap saja Gita bercerita karena ia yakin bunda tetap mendengarnya.

“Bun, aku tadi malam mimpi bidadari seperti yang bunda ceritakan loh? Ajaib kan bun? Tapi bidadari itu mirip bunda, mirip banget. Cantik sekali. Jadi Gita mengira bahwa bidadari itu adalah bunda. eh ternyata bukan bun, Gita sudah teriak-teriak memanggilnya tetap saja bidadari itu tak mendengar. Akhirnya Gita sadar bahwa bidadari itu bukan bunda. karena ternyata bunda masih ada di sini” Gita merasa girang setelah menceritakan mimpinya itu. Perlahan, Gita genggam jemari bunda yang telah lemah tak berkekuatan lagi. Gita tak pernah tahu, Tubuh bunda terbaring tanpa nyawa. Tubuh itu telah kosong tak berpenghuni, karena jiwa bunda telah melayang tinggi ke langit. Menembus arasy.

Tiba-tiba ayah datang pula ke kamar bunda dengan muka berseri-seri. Berencana mengajak bunda dan Gita ke pemakaman nenek Gita, Eyang Aminah. Yang terletak sekitar 100 meter dari rumah dengan tujuan untuk berwasilah dan meminta doa untuk kesembuhan bunda. dengan pakaian putih-putih dan minyak wangi yang semerbak, ayah telah terlihat sangat rapi.
“Eh, sayang. Ayo dong mandi. Kan ayah kemarin sudah bilang mau ajak Gita sama bunda ke pemakaman Eyang. Ayo cepet ganti” perintah ayah pada Gita.
“hehehe oh iya Gita lupa yah. Oke siapp boss” Gita cengengesan tanpa dosa. Lalu langsung lari dari kamar bunda untuk berganti.

Kini tinggal ayah yang menemani bunda. terasa ada yang berbeda dengan bunda hari ini. tak seperti biasanya tidur dengan mengenakan mukena seperti ini.
“Bun, ayo bangun. Kita berangkat yuk, Gita sudah mandi lho” ujar ayah. Tapi tetap saja bunda tak bereaksi. Ayah mencoba mengulanginya hingga tiga kali. Tapi tetap saja bunda hanya terdiam tak segera bangun. Ayah mulai panik. Apa yang terjadi pada bunda? ayah lalu mendekat mencoba memegang pergelangan tangan bunda. Dan…
“Innalilahi wainna ilaihi rojiun” seketika air mata itu menetes dari pelupuk mata ayah. Semakin deras dan semakin deras. Ayah masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Rasanya tak mungkin, rasanya terlalu cepat jika bunda harus pergi mendahuluinya. Semua yang telah terkira sejak dulu, kini telah benar-benar terjadi. bahwa usia bunda tidak lama lagi. ayah langsung terkulai lemah, terduduk tak berdaya. Melihat bunda yang tinggal tubuh tanpa nyawa. Ayah menangis sejadi-jadinya di sana. ayah tak mengerti apa yang harus ayah katakan pada Gita. Sanggupkah Gita menerima semua kenyataan ini? Sanggupkah Gita harus kehilangan sosok sangat berharga dikala usianya masih dini seperti ini?

Ternyata Gita telah berdiri di ambang pintu kamar bunda. mengamati ayah yang tengah menangis di samping bunda yang terbaring tak bernyawa. Ternyata Gita telah mengetahui semuanya. Gita telah mendengar ucapan ayah tadi. “Innalilahi wainna ilaihi rojiun”. Gita faham bahwa kalimat itu ditujukan untuk orang yang meninggal atau terkena musibah. Air mata Gita tak berhenti berjatuhan, melainkan terus mengalir bak air hujan yang tak kunjung reda. Gita langsung berlari. Lalu memeluk ayah dari belakang.
“Yah, apakah bunda sudah pergi yah? Yah, jawab jujur pertanyaan Gita yah?”
Ayah hanya terdiam. Bingung apa yang harus dikata ketika hati telah hancur karena tak mampu menerima kenyataan yang telah berada didepan mata. Kenyataan ini terlalu pahit bagi ayah. Ada rasa menyesal dalam hati ayah. Mengapa dulu harus memilih pergi jauh mencari harta dari pada bersama istri yang telah ia tahu menderita penyakit ganas? Mengapa ayah tak memilih merawat bunda sebelum penyakit itu menjalar semakin kronis? Dan mengapa ayah membiarkan bunda hidup seorang diri bersama penyakitnya? Hari ini, hati ayah benar-benar terpukul. Tapi, apa daya waktu tak dapat diputar kembali. Semuanya telah terlanjur menjadi garis takdir Tuhan yang tidak dapat dielak lagi.
“Kenapa ayah diam yah? Jika tidak mengapa ayah menangis? Yah, bunda akan semakin tersiksa jika ayah seperti ini. seakan ayah tak menerima kepergian bunda. Yah, bunda telah menjadi bidadari cantik di sana seperti pada mimpi Gita” tetap saja isak tangis itu terdengar dari mulut Gita. seakan Gita telah merasa akan semua sikap bunda akhir-akhir ini adalah detik-detik kepergian bunda untuk selamanya.

Butiran air mata Gita tetap saja terjatuh dan tak terbendung meskipun dalam hatinya telah mengikhlaskan kepergian bunda. bagaimana bisa Gita setulus itu ketika ditinggal sosok bunda yang sangat berarti dalam hidupnya? Dikala usianya yang masih dini yang masih sangat butuh bimbingan dari sang bunda? ia tidak meraung-raung bahkan menjerit ketika bunda telah pergi meninggalkannya. Ayah tak menyangka jika Gita akan setegar itu.

Ayah berusaha menyeka air mata yang telah membanjiri wajahnya. Dan langsung memeluk balik Gita dengan penuh kasih sayang. Karena hanya Gita harta berharganya yang masih tersisa.
“Maafin ayah sayang. Ayah belum bisa menerima kenyataan ini. Ayah belum sanggup melepas kepergian bunda. maafin ayah sayang”
“Gita juga berusaha ikhlas kok yah. Karena bunda pernah cerita bahwa ketika ada ibu yang meninggal maka dia akan menjadi bidadari yang menemaninya tidur setiap malam. Bahkan mengajaknya terbang bersamanya. Dan semalam Gita mimpi bidadari itu adalah bunda. Gita mengira bahkan dia Cuma mirip bunda. tapi tenyata bidadari cantik itu beneran bunda. buktinya sekarang bunda telah diambil bunda untuk pulang ke surga”
Subhanallah. Hanya itu yang mampu ayah katakan. Hingga tak terasa baju putih Gita telah basah oleh air mata ayah. Dan hari itu tak ada yang tahu, tentang rencana ayah ke pemakaman Eyang Gita yang ternyata berganti mengantar sang bunda pada tempat pembaringan bunda yang terakhir. Tentang cerita bunda tentang bidadari itu, telah menjadi cerita bunda terakhir yang tak akan pernah Gita dengar lagi untuk selamanya. Dan tentang mimpi Gita malam itu, cukup menjadi tanda bahwa bundalah yang akan menjadi bidadari cantik seperti dalam cerita bunda.

Semua itu telah menjadi tanda yang telah diberikan Tuhan, ketika seseorang telah hampir menjemput ajalnya. Tanda-tanda itu memang samar, namun menyimpan misteri yang suatu saat akan terungkap ketika telah benar-benar terjadi. Kehidupan memang mengalir seperti air, ia hanya akan mengikuti kemana arus akan membawa, hingga suatu saat akan sampai pada muara laut yang tak terbatas.

Cerpen Karangan: Nuriah Muyassaroh

Cerpen Sayap Bidadari (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Untuk Ibu

Oleh:
Pagi berembun pengingat masa kecilku. Ketika ibu bercerita bahwa sebelum diinjak oleh orang lain ibu berusaha membangunkanku untuk berjalan di air embun pagi itu. Kasih sayang ibu tak terbalas

Dulu Aku Berbeda

Oleh:
Terkadang aku harus menangis meninggalkan apa yang harus kutinggal. Namun aku tak menyalahkan siapapun, apalagi tuhan. Suatu kehormatan bagiku untuk mengatasi hidup sendiri di rantau orang. Ahh tak asik

Matahariku Telah Pergi

Oleh:
Bulan tersenyum padaku, bintang menari-nari di atas awan, terlihat sangat bahagia. Waktu berlalu begitu cepat, tanpa ku sadari saat ini aku telah berusia 16 tahun lebih, ya sebentar lagi

Sketsa Lembayung Jingga

Oleh:
Telah ku lewati separuh jalan kehidupan. Aku tersesat di tengah tandusnya gurun pasir. Semakin jauh, semakin ku tak mengerti. Mataku seolah kehilangan fokusnya, samar-samar pemandangan ku tangkap. Fatamorgana yang

Aku Andro

Oleh:
Namaku Andro, usiaku kini 18 tahun. Keluargaku orang berkecukupan. Semua yang aku inginkan selalu dipenuhi orangtuaku. Hal inilah yang membuatku menjadi anak yang tak tau aturan. Semua hal yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *