Sayap Pelindung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 March 2016

Udara dingin berhembus sepoi-sepoi memberikan kedinginan yang menusuk jantungku. Kabut tebal masih setia menyelimuti bumi. Aku bangkit dari dunia mimpi. Ku tatap lekat-lekat jam dinding yang masih setia selama tiga tahun di Pesantren Al Ikhlas. Ku kucek-kucek kedua mataku yang masih buram. Jarum menunjuk angka tiga dan dua belas. Ku paksakan tubuh yang masih lemas untuk berjalan mengambil air suci. Segar dan dingin bercampur menjadi satu di kala air suci itu menyentuh permukaan kulit ini. Ku langkahkan kaki untuk mengambil mukena yang tertata rapi di almari. Aku berjalan menuju musala yang berada di lantai atas. Ada semilir angin yang memasuki relung hatiku ketika ku langkahkan kaki ini ke dalam musala. Ku menangis dalam sujud panjangku dan aku terbuai dalam kehangatan cinta-Mu.

“Ya Allah.. Kenapa kau memberikanku cobaan berat seperti ini. Aku lelah Tuhan.”
“Assalamualaikum Li,” Ku hapus air mataku dan ku cari asal suara itu. Ku temukan sosokmu, sahabatku Rahma.
“Waalaikumsalam.”

Aku yang tengah berada dalam kegelapan dan kegundahan hati. Rahma mendekatiku dan mencoba untuk menenangkanku. “Sabarlah, dunia ini memang penuh dengan cobaan. Tak seharusnya kau lari dari cobaan tersebut. Tapi kau harus menghadapinya dengan berani. Memang hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Hasrat dan keinginan itu buta jika tidak disertai pengetahuan. Dan pengetahuan itu tidak mudah diraih. Banyak cobaan dan pengorbanan. Dan inilah pengorbanan kita, percayalah! Semua akan indah pada waktunya, jangan menyerah.” ucapnya padaku.

Sejak dokter mendiagnosa aku terkena leukimia dan penyakit ini menyebabkan kematian, hidupku tidak bersemangat lagi. Pikiran pikiran buruk itu terus saja menghantuiku, keputusasaan kerap sekali menyapaku. Aku tak menyangka akan mendapat ujian hidup yang sangat berat. Kehidupan yang semula begitu menyenangkan, tiba-tiba menjadi suram, direnggut oleh penyakit, aku sangat terpukul mendengarnya. Apalagi saat secara bertahap fungsi-fungsi organ vitalnya mulai terganggu.

“Tuhan, tolong ambil nyawaku. Aku tak tahan lagi.. Kenapa Engkau berikan ujian seberat ini padaku?” ucapku marah kepada Tuhan. “Tuhan kenapa memilihku untuk mengalami cobaan seperti ini? Kenapa harus aku? Kenapa bukan orang lain yang selama ini sudah cukup kenyang mendapat keberuntungan dalam hidupnya? Aku merasa Tuhan tidak adil padaku.” aku menangis terisak isak dengan keadaanku yang seperti ini.

“Li, nggak terasa ya tiga tahun sudah kita di sini. Rasanya baru kemarin deh aku ngisi formulir pendaftaran dan nangis karena kangen rumah. Sekarang kita udah punya adik kelas.” tuturnya. “Iya,” jawabku singkat. Aku berusaha menyeka air mataku. Entah dari mana dia datang, seolah membuntutiku saja. “Kamu kenapa Lili?” ucapnya sambil memandang wajahku yang basah terkena tetesan air mata.
“Bosan hidup,” jawabku cuek.
“Jangan begitu, khusnudzon aja Li.. Sakit itu tanda kasih sayang dari Allah.” ucap Rahma dengan lembut.
“Kasih sayang apa hah? Dengan kasih penyakit menurutmu? Kamu salah! Allah gak sayang sama aku!” emosiku kian memuncak. “Bu..bukan begitu.. Allah ngasih kamu sakit karena Allah rindu padamu Dia ingin kau selalu menyebut-nyebutnya. Ketahuilah Allah akan menghapus dosa-dosamu dengan caraNya.”

Aku diam mencermati kata yang terucap yang mengalir indah dari bibir mungilnya itu. Rahma tersenyum kemudian melanjutkan ucapannya lagi. “Nabi Ayyub aja dia tetap sabar dikasih cobaan yang beratnya masya Allah gitu. Kamu harus begitu dong..”cetolehnya memberikan nasihat untukku.
“Tapi kan dia nabi jelas aja dia sabar, bedalah sama aku!” jawabku ketus.
“Apa salahnya jika kita meniru nabi? Lagian juga Allah akan mengangkat derajat orang yang sabar jika di kasih penyakit.. Bukan begitu?” sambil menatapku kemudian melanjutkan ucapannya lagi.

“Sakit itu jembatan untuk menuju kemuliaan asal orang yang sakit itu ikhlas. Bagaimana orang itu bisa ikhlas? Yang terutama, orang harus berprasangka baik kepada Allah, bersyukur, introspeksi diri dan pasrah. Udah ah jangan putus asa gitu.. Allah gak suka loh. Mulai sekarang kamu harus semangat oke?” Rahma tersenyum kepadaku sambil mengacungkan jari kelingkingnya sebagai bukti perjanjian kita. “Hmm.. Janji..” aku tersenyum kemudian menempelkan jari kelingkingku untuk membalasnya.
“Kamu juga janji ya untuk jadi sahabatku selamanya Rahma,”
“Oke baiklah.”

“Rahma..” aku berteriak memanggilnya yang sedang melamun di aula. Dia menoleh kemudian berlari meninggalkanku. Larinya sangat cepat hingga aku kesusahan untuk mengejarnya dan berhasil, tangannya berhasil aku raihnya.
“Rahma.. Tunggu!” aku berhentikan langkahku sambil mengatur napasku yang tidak teratur, ngos-ngosan setelah berlari. “Lepaskan! Jangan sentuh aku!” Rahma terkejut mendapati tangannya dipegang olehku kemudian dia berlari sambil menangis. Entah kenapa Rahma berubah menjauh dariku semenjak kepulangannya dari rumah seolah dia ingin menjauhiku. Semua terasa semu aku seperti berdiri di atas tumpukkan duri beracun. Tak mampu berlari ke tempat yang lantang. Hanya mampu menanti suatu keajaiban tentang apa yang tengah terjadi, ya apa terjadi pada sahabatku ini.

“Li.. Lili pernah denger cerita tentang sayap pelindung gak?” ucap Rahma padaku.
“Enggak.” jawabku singkat.
“Sayap pelindung itu adalah orang yang selalu ada untuk kita, orang yang selalu berusaha melindungi kita, pokoknya orang yang sayang banget sama kita, kayak orangtua, sahabat, gitu Li.”
“Ohh…”
“Nah kamu punya gak sayap pelindung? Selain orangtua ya.”
“Gak ada.”

“Kalau gitu, aku akan jadi sayap pelindung untukmu gimana?”
“Lili… Hei,” aku kaget Naya membuyarkan lamunanku.
“Sedang apa dari tadi? Kok gak dengar dipanggil-panggil?” tanya suara itu.
Aku hanya tersenyum lalu membalas pertanyaannya.
“Aku ingin sendiri, tenggelam dalam lamunanku.”
“Oke baiklah aku tak akan mengganggumu.” ucapnya sambil pergi meninggalkanku.

“Mana janjimu Rahma ..yang akan menjadi sayap pelindung untukku, mengajarkanku arti semangat hidup. Tapi apa? Kau justru malah mengkhianatiku seperti ini?” tangisku mulai menjadi-jadi. Santri al-ikhlas hanya memandangku lalu mengacuhkannya. Tak ada yang peduli denganku! Kenapa kau meninggalkanku sendiri? Kau bukan lagi sahabatku! Arrrgghh.. Tiba-tiba saja kepalaku mulai pusing, cairan darah segar menetes empuk mengenai bibirku dan gelap.

Aku bangun pukul setengah tiga entah kenapa aku sekarang ada di kamar, aku sama sekali lupa untuk mengingatnya. Aku turun ke bawah dan mandi. Dingin pagi itu ku rasa berbeda. Ada keseraman tersendiri malam itu. Tiba-tiba perasaan gelisah menyelinap masuk ke dalam hatiku. Aku pun teringat mimpiku. Aku melihat dalam mimpiku, Rahma berjalan mendekatiku dan memelukku. Rahma menangis dalam dekapanku. Saat Rahma telah tenang dan bisa tersenyum padaku, aku pun berusaha menanyainya. Tapi sebelum aku mengeluarkan satu kata pun, dia telah lenyap bagai debu yang terbang mengikuti arah angin. Perasaan khawatir tentangnya muncul dalam benakku. Ku percepat mandiku dan ku berlari menuju kamar Rahma yang terletak di depan kamar mandi. Bagaimanapun juga aku masih menyayanginya! Dugaanku semakin terlihat nyata, ketika aku tahu di kamarnya banyak teman-teman berkumpul. Aku terjang keberadaan mereka. Hari itu juga adalah di mana Al-Ikhlas banjir air mata.

“Rahmaaaa….” Aku tak bisa melihat orang yang aku sayangi menderita. Wajahnya membiru. Rahma segera dilarikan ke rumah sakit oleh Ustadz Huda dan Seksi Kesehatan. Aku menunggu di sini penuh harap semoga tak terjadi apa-apa pada dirimu. Aku menunggu dan terus menunggu hingga waktu itu datang. Seksi Kesehatan menelepon ke Al-Ikhlas dan mengabarkan bahwa Rahma telah tiada. Aku menangis meraung raung saat itu aku sungguh tak percaya. Kau telah pergi dari Al-Ikhlas. Semua santri Al-Ikhlas tidak masuk sekolah. Kami semua pergi menuju mesjid pesantren dalam keadaan yang berlinang air mata. Semua mata sembab. Tangisan membahana mengiringi doa yang dibaca oleh Ustadz Huda. Sejenak aku bagai raga tanpa nyawa. Setelah itu juga kami pergi ke rumah Rahma. Ibu Rahma yang melihat jenazah anak semata wayangnya itu tak kuasa untuk meluapkan tangisnya.

“Ya Allah.. Anakku.. hiks.. hiks..”
“ibu, katakan apa yang terjadi pada Rahma Bu..” aku terus saja menangis penasaran apa yang sebenarnya terjadi.
“Rahma.. Terkena hepatitis B Nak,”
“Apa.. Kenapa bisa seperti itu Bu? hiks..”

“Sebenarnya dia izin pulang pondok untuk memeriksakan kesehatannya, dokter memvonis terkena hepatitis B. penyakit menular berbahaya Nak. Siapa saja bisa terlular lewat keringat, udara, air liurnya. Karenanya dia mulai menjauh dari orang-orang yang disayangnya, dia tak mau orang yang disayang merasakan sakit yang sama dengannya.” ibu Ani menyeka air matanya. Ku tak tahan mendengar deraian tangis dari keluarganya.
“Maafkan aku Rahma.. Aku justru yang mengkhianatimu.. Maafkan aku.. Aku selama ini telah berburuk sangka padamu.”

Kami juga pergi mengiringimu ke tempat peristirahatan terakhirmu. Tak semenit pun namamu akan lepas dari ingatan kepalaku. Namamu akan terus terukir dalam sejarah hidupku. Kaulah gadis pertama yang ku kenal di Al-Ikhlas. Walaupun sekarang kau telah pergi tapi kau dan aku tetaplah sahabat. Aku bersandar pada nisan di mana namamu terukir jelas. Sekarang aku harus menjalani hari-hariku di Al-Ikhlas tanpa ada dirimu lagi. Aku akan semangat untuk menjalani sisa hidupku. Aku harus semangat, seperti yang kau ajarkan padaku bukan?

Mungkin ini sudah menjadi suratan takdir. Aku tak akan pernah lagi melihatmu karena kau telah pergi. Kau tak akan pernah kembali dalam hidupku. Tapi kau tetaplah sahabatku, sahabat yang telah menjadi bagian hidupku. Aku akan berjuang demi bagianmu juga. Selamat tinggal sahabat. Selamat jalan sahabat, kenanganmu akan selalu terukir dalam hatiku yang paling dalam. Di hati kami semua, santri Al-Ikhlas. Tak akan pernah kami lupakan semua kebaikan yang telah kau berikan. Kami pun akan berusaha mangikhlaskan kepergianmu. Selamat tinggal sahabat, semoga kau bahagia di sisi-Nya untuk selamanya.

Cerpen Karangan: Nikmun Fathilah
Facebook: www.facebook.com/nikmun.zamzamzm
Namaku Nikmun Fathilah aku adalah dream catcher aku gak takut untuk bermimpi karena ada kedua orangtuaku yang selalu mendukungku. Aku yakin aku pasti bisa!

Cerpen Sayap Pelindung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ini Untukmu, Sahabat

Oleh:
Ku lihat gundukan tanah itu sekali lagi. Gundukan tanah yang berbeda dengan yang lainnya. Gundukan tanah yang membuatku tegar dan semangat menjalani hidup. Gundukan tanah yang membuatku berbeda dari

Tuhan Sayang Kita, Kok

Oleh:
Sinar mentari telah menerobos ruangan di mana Lina tidur semalam. Itu tandanya pagi telah menyapanya. Babak baru dalam kehidupan akan segera dimulai. Pukul 06.05. “Lin, bangun ini sudah siang.

Arti Sebuah Persahabatan

Oleh:
Aku yang selalu ceria setiap harinya karena ada sahabat yang selalu menemani hari-hariku. Namaku adalah Etia aku mempunyai sahabat yang saling pengertian satu sama lainnya yaitu Fitria dan Sevia.

Relationships Goal

Oleh:
Hai, Namaku adalah Adelia Stevany (Adel), oh iya.. aku memiliki dua sahabat loh, kita sudah berteman sejak kecil. Yang pertama namanya adalah Pamella Fransiska (Pamella), dia orangnya cantik dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *