Sebuah Tetesan Perjuangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 12 December 2015

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (QS. 17:19)

Teriknya matahari dan panasnya udara kian terasa menambah penderitaan. Keringat bercucuran dengan deras membasahi sekujur tubuh dan membuat kering tenggorokan. Haus dan lapar harus mampu aku tahan, itu yang ada di benakku saat ini. Saat dimana hari pertama bulan suci umat Islam berada dan matahari tepat berada di atas ubun-ubunku, membakar sekujur tubuh dengan suhu yang kian hari semakin bertambah tinggi, “Global Warming.” Semua itu akibat kita, akibat manusia yang seenaknya menebangi pepohonan, menebarkan polusi dan berkehendak sesuka hati tanpa memikirkan lingkungan sekitarnya.

Aku berjalan dengan langkah santai satu-satu. Tak peduli betapa banyaknya waktu yang telah aku buang hanya untuk berjalan kaki, anak-anak berlarian saling berkejaran dengan pekik suara yang riang gembira, semuanya berlarian menyusul langkah kakiku yang berat. Hanya beberapa menit saja suara pekik mereka sudah tak terdengar ditelan belokan gang di depan mata. Gang berkelok-kelok sehingga membingungkan para tamu yang baru pertama kalinya menginjakkan kaki di tempat ini.

Anak-anak itu sepertinya telah berada jauh di depanku, terasa jauh, entah itu jauh dari jarak di mana tempatku berada atau jauh dari waktu dalam memori ingatanku. Dalam pikiranku terlintas keindahan saat aku masih berumur sekitar 6 tahunan, berlarian dengan bebas tanpa ada beban di jiwa, semuanya memang sungguh terasa jauh. Ingin rasanya kembali ke masa kanak-kanak berlari kesana-kemari dan bermain sepuasnya.

Aku pun tersadar, yang aku bisa saat ini hanyalah berangan-angan, memang begitu mudah untuk berangan-angan. Pada kenyataannya, hidup ini harus ditempuh dengan usaha. Tergantung usaha apa yang kita lakukan dengan waktu terbatas yang tak akan mungkin untuk diulang. Banyak jalan yang aku dapat tempuh untuk mencapai suatu tujuan yang ingin aku capai. Hidup ini sama seperti jalan yang aku lalui, penuh gang yang berliku dengan segala halang rintangannya. Untuk mencapai suatu tujuan ada banyak gang dan jalan yang dapat dipijak. Tuhan tidak akan merubah semuanya apabila kita tidak berjalan untuk merubah semua itu. Tergantung apa yang akan aku lalui, jalan yang baik atau jalan yang buruk, jalan menurun atau jalan yang menanjak, semua itu butuh gerakan langkah baik besar ataupun kecil yang sering kita sebut dengan “usaha.”

Aku menjalani hidup ini, semuanya memang selalu butuh perjuangan. Kadang tujuan yang aku inginkan tak dapat aku raih. Kadang aku pun mengeluh, namun aku sadar Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi makhluk-Nya, kita semua dituntut untuk berusaha dan bekerja keras untuk mencapai kebahagiaan yang kita inginkan. Selalu ada keindahan dalam setiap tetesan keringat yang kita cucurkan untuk mencapai maksud yang ingin kita raih. Begitulah hidup, seperti lagu yang mengalir indah dengan ritme dan irama yang kadang naik dan turun. Tak perduli apa dan bagimanapun, hidup seperti alunan lagu yang terlahir untuk dinikmati.

Aku merasa diriku bukanlah apa-apa. Aku merasa iri kepada seekor lalat yang beterbangan di jalanan gang penuh sampah ini, gang penuh sampah yang setiap sudutnya terpampang tulisan “buanglah sampah pada tempatnya.” Lalat dan semua mahkluk yang kadang sering kita anggap tak berguna, semuanya pun bekerja keras secara mandiri untuk dapat hidup. Betapa luar biasanya perjuangan makhluk kecil itu.

Begitu lalat lahir untuk pertama kalinya ke dunia, ia mampu untuk tidak hidup bergantung lagi kepada orangtua mereka, lalat mampu hidup mandiri semenjak pertama kalinya lahir ke dunia, sedangkan aku? Aku adalah seorang manusia yang mempunyai akal dan pikiran, namun kadang aku tak dapat menemukan tempatku melangkah, dimanakah aku? dimanakah manusia? dimanakah kita menempatkan diri di muka bumi ini? kita semua khalifah dan perusak alam nomor 1 di muka bumi. Ya itulah aku, itulah tempatku saat ini. Manusia yang jadi benalu, dan seharusnya aku malu.

Langkah yang masih berat dan lesu. Aku berjalan menuju rumah Ibuku, rumah peninggalan almarhum Ayah, yakni tempat tinggalku. Aku masih menjadi tanggungan seorang Ibu yang rambutnya sudah memutih. Betapa tak berharganya diriku ini. Bukannya aku tak mau berusaha untuk mencari pekerjaan, namun sudah beratus-ratus kali aku melamar pekerjaan. Namun semua itu nihil, tak ada seorang pun yang mau memperkerjakan manusia sepertiku. Di sudut jalan, seorang pengemis tunanetra menggenggam sebuah mangkuk berisikan uang recehan, aku terdiam sebentar menambahkan recehan ke dalam mangkuknya. Sambil tersenyum dan berkata di dalam hati, “Tidak aku tidak ingin seperti mereka, aku manusia yang diberikan kesehatan, aku masih bisa berjalan, aku tidak cacat!”

Dengan kepala setengah menunduk dan bercucuran keringat bersama angan-angan yang menyatu dalam semangat yang hampir layu. Pandanganku masih menunduk ke jalanan yang kotor dan berdebu, tak sengaja mataku memandang ke arah genangan air bersama dompet merah di genangannya. Dompet merah! Seketika tanganku bergerak memungut benda merah tersebut, ku lihat sekitar ternyata tidak ada orang yang melihat sama sekali, tak peduli lagi Tuhan selalu melihat aku. Aku membuka dompet tersebut dan terbelalak ketika melihat isinya.

Subhanallah, banyak sekali uangnya. Ku lihat seluruh lipatan isi dalam dompet itu, di dalamnya ada kartu Kredit, ATM, SIM, dan surat berharga lainnya termasuk KTP, serta foto-foto si pemilik. Seorang wanita berparas cantik, di sana tertulis “Siti Habsah, Alamat Perum Indah Permai nomor 8A.” Bulan suci, tapi tampaknya pikiranku berkata untuk memiliki benda merah yang berkilap bersama dunia yang semu di dalamnya, merah menyegarkan jika dimiliki untuk diri yang haus ini. Aku tahu hatiku kotor, akan tetapi pikiranku masih jernih, aku tak mampu menahan nafsu dan angan-angan, ini keberuntunganku pikirku. Aku berhak untuk memilikinya.

Hari ke-20 bulan Ramadhan. Stasiun Kereta Api Kota Bandung, pukul 08.00 WIB kereta ekonomi Bandung-Yogyakarta. Dompet merah itu masih ku simpan dan ku rahasiakan bersama merah darah di jiwa yang diliputi hitamnya nafsu. Menemani seorang teman dekat sekaligus tetanggaku, Waluyo yang tengah mudik. Kami bersama harapan dalam gerbong sesak kereta melaju dari Bandung menuju Yogyakarta, sebuah perjalanan ditemani suara peluit panjang keberangkatan.

Hempasan benturan roda baja dengan rel kereta yang kadang berirama sesuai dengan detakan jantung ini. Semuanya, angan-angan dan nafsu yang kian memburu menyelimuti jiwa di bulan yang suci. Lapar dan dahaga telah berhasil aku tahan, akan tetapi nafsu buruk ini tidak mampu aku bendung. Semuanya menyatu, menyatu dalam kecamuk perasaan bersalah dan bahagia tak tentu arah. Meski kereta melaju dengan arah yang pasti menuju Yogyakarta, hatiku ternyata berada dalam ketidakpastian, imanku tak lagi aku bawa pergi dan tertinggal jauh dalam lubuk hati kecil yang paling dalam.

Yogyakarta, Pukul 13.15 WIB. Bersama Waluyo dan Sopir taksi, kami melaju menuju Malioboro, di sanalah keluarga Waluyo tinggal. Dan di sanalah juga tempat tujuan aku yang sebenarnya. Tempat dimana aku akan membangun sebuah toko kelontongan kecil-kecilan. Bermodalkan uang yang ku temukan dari dompet merah yang ku temukan. Pemandanganku dipenuhi perumahan yang megah berdiri kokoh di sepanjang jalan. Ingin rasanya memiliki satu di antara sekian rumah-rumah megah tersebut.

“Kawasan perumahan ini megah-megah yah pak Sopir.”
“Oh, iya mas, ini perumahan Indah Permai, tempatnya para elit bercokol.”
Perumahan Indah Permai, sepertinya nama itu tak asing bagiku. Ku ingat-ingat lagi, lalu perlahan tanpa sepengetahuan Waluyo dan Sopir taksi aku membuka dompet merah dan mengambil Kartu identitas pemilik asli di dalamnya. “Siti Habsah Alamat Perum Indah Permai nomor 8 A, Yogyakarta 70124.” seketika jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya. Yogyakarta, mengapa tidak sejak awal aku membaca tulisan itu.

Kenangan itu, kenangan ketika masa kecilku saat aku berlarian dengan riangnya memenuhi pikiran saat itu. Tidak! Aku harus bertanggung jawab. Secepat detakan jantung dan secepat itu pula diriku tersadar akan kesalahan ini.
“Stop! Stop Pak Sopir!”
“Ada apa mas?”
“Tolong kembali berputar, ini tujuan kita sekarang!”

Aku sodorkan alamat yang tertera di kartu Identitas pemilik dompet merah kepada Sopir itu. Sopir dengan tulisan Suryatno di dada kanannya memutar haluan kendaraan yang kita tumpangi. Waluyo hanya memandangku dengan wajah heran. Tak lama taksi pun berhenti.
“Ini tempatnya Mas.”
“Terima kasih pak Sopir, saya turun di sini.”
Waluyo yang seumur hidupnya tidak mengenal huruf alphabet masih bingung menepis pundakku.
“Loh, ini sama sekali bukan kampung halamanku. Kenapa malah ke tempat ini?”

Aku hanya terdiam memandangi rumah yang berdiri megah, No. 8A dihalangi pagar yang tinggi, halaman yang hijau dan luas, kolam renang di sisi kanan, dan sebuah garasi dengan 3 buah mobil serta 1 buah sepeda motor. Mobil Sport, Honda Jazz dan Jip antik tahun 70an berwarna Merah. Jip Merah! mengapa Jip itu sepertinya sudah pernah ada dalam memori ingatanku? Di pojok paling kiri garasi ku lihat sepeda motor Harley Davidson dengan warna mengkilap berdiri, ditemani 2 anjing penjaga yang terlihat kurang bersahabat dengan orang asing.

“Ayo kita masuk dan temui pemiliknya.”
“Maksudmu Dan?”
“Sudahlah ikuti aku saja Yo…”
Aku berjalan kearah satpam rumah tersebut dengan langkah yang berat.

“Permisi pak…”
“Maaf Mas, Tuan suka marah kalau ada pengemis yang datang ke mari, sebaiknya anda pergi sebelum Tuan menyuruh saya mengusir anda, akhir-akhir ini Tuan jadi sensitif.”
Astagfirullah, apa maksud dia mengatakan aku pengemis.
“Maaf pak, saya bukan pengemis, saya kemari ingin bertemu dengan Siti..”
“Oh non Siti, maaf mas. Tapi Tuan jadi sering marah-marah kalau waktunya terganggu. Semenjak meninggal anak bungsunya yang masih kecil sebulan yang lalu tuan jadi begitu.”

Aku, Syakur Ramdhani yang biasa dipanggil Dan, bersama Waluyo mendekati pintu rumah berwarna cokelat kayu alami dengan gagang pintu keemasan yang megah. Mataku menatap kosong Jip berwarna Merah yang sepertinya pernah aku lihat sebelumnya. Seketika pikiranku menerawang ke masa silam, saat aku berlari dengan riang gembira bermain bola kaki dengan teman-teman SD dahulu.

“Dan, ambil bolanya, tuh dia terlempar ke seberang jalan!!”
Aku pun beranjak dari lapangan rumput hijau, berlari menyeberangi jalan raya untuk memungut bola yang terlempar akibat tendangan kaki-kaki mungil. Hanya ada kami, sekumpulan anak-anak kecil yang asyik bermain bola dan aku tidak ingat lagi apa yang terjadi.

“Siapa yang berani mengganggu jam istirahat saya!!”
“Maaf Tuan, mereka ingin bertemu non Siti.”
“Siti sedang mengajar, usir mereka dari hadapan saya!!”
Aku pun menghampiri tuan yang memarahi satpam tersebut sambil terburu-buru menyodorkan dompet merah mengkilap lengkap dengan isi di dalamnya yang sudah berkurang beberapa ratus ribu, Sambil meminta maaf. “Saya hanya ingin mengembalikkan dompet ini, sesuai dengan alamat yang tertera di sini, mungkin ini milik non Siti pak.”

Tuan dengan perut buncit itu mengerutkan dahinya, seketika wajah merah padamnya meredam menyimpulkan sudut bibir yang tersenyum malu.
“Oh, maafkan kelakuan saya barusan. Saya hanya sedang tidak ingin diganggu, anak lelaki saya satu-satunya baru saja pergi meninggalkan saya, sebuah kendaraan dengan sopir tak bertanggung jawab menabrak dia ketika berlari di pinggir jalan raya. Sopir yang menabraknya berhasil kabur dan saat ini masih buron.”

“Tidak apa-apa, maafkan kami yang menganggu bapak, kami turut berduka cita.”
“Silahkan masuk nak, siapa nama anda? Biar Mas Satpam yang membantu anda berjalan.”
“Syakur Ramdani Pak, tidak apa-apa saya bisa berjalan sendiri. Dahulu sewaktu kecil saya begitu mudahnya berlari, namun kini dengan keadaan seperti ini kehilangan kaki kiri, berjalan saja kadang susah. Semenjak umur 8 tahun dokter mengamputasi kaki kiri saya. Semua itu sama seperti yang dialami putra Bapak, tapi saya masih beruntung, masih diberi kesempatan untuk hidup.
Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya atas apa yang menimpa putra Bapak.”

Bapak berkumis lebat dengan rambut putih berkacamata di depan kami mengerutkan dahinya dalam-dalam, tampak kesedihan dan kecemasan dalam raut mukanya. Lama ia menerawang. 5 menit kami mematung dan Tuan perut buncit itu akhirnya telah selesai dari lamunannya.
“Kalian pasti lelah jauh-jauh datang ke sini, ngomong-ngomong di mana kalian tinggal?”
“Kami berdua dari Bandung pak.”
Tuan yang tampak berwibawa berambut putih itu tiba-tiba tersungkur di hadapanku. Berlutut, dan dari matanya ke luar isak tangis diliputi penyesalan. Dari mulut basahnya ke luar kata-kata yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

“Maafkan saya nak, sepertinya 25 tahun yang silam saya telah melakukan kesalahan besar. Mobil Jip yang Saya kendarai pernah menabrak seorang bocah tak berdosa di dekat lapangan bola di pinggiran Bandung. Waktu itu saya sangat panik dan tidak berpikir jernih. Saya malah kabur karena merasa tak ada yang melihat kecuali bocah-bocah yang belum mengerti apa-apa berhamburan dari lapangan bola menghampiri bocah yang saya tabrak. Saya benar-benar menyesal nak, maafkan saya…”

“Tidak pak, saya yang bersalah. Saya telah memakai uang di dalam dompet merah itu.”
“Demi Allah nak, saat ini saya tidak memikirkan lagi harta benda, semua itu tidak ada harganya dibandingkan sebuah nyawa, andai waktu bisa terulang kembali, mungkin saya bisa lebih memperhatikan anak-anak daripada pekerjaan saya..”

Cucuran keringat tak mampu melampaui linangan air mata saat itu, meluap bersama penyesalan yang mendalam. Ternyata Tuan perut buncit di hadapan inilah k*parat yang telah menabrak aku ketika masih kecil dulu. “Saya memaafkan anda pak, saya pun akan berusaha membayar uang yang telah saya pakai dari dompet ini, namun saya tidak mempunyai harta untuk menggantinya, mungkin saya dapat melakukan pekerjaan untuk bapak, saya tidak ingin semuanya berakhir tanpa usaha.”
“Kiranya kamu mau memaafkan saya tentulah saya sudah sangat memaafkan kamu nak, jika itu yang kamu inginkan apapun pekerjaan yang kamu lakukan akan saya hargai dan terima..”

Uang yang telah ku pakai Rp 120.000,-. Kini telah lunas bersama keringat yang deras saat itu, aku membayarnya dengan berlari sepanjang 5 Km tanpa kaki kiri, hanya sekedar mengantarkan buku dan beberapa catatan Siti ke tempat dia mengajar yang tidak dapat dicapai dengan kendaraan. Dengan pekik “Allahhu akbar.” di bulan yang suci, aku mampu mematahkan anggapan kebanyakan mereka, bahwa aku bisa. Tubuhku cacat, namun jiwaku tidak, aku kini merasakan hidup yang sesungguhnya. Hidup bahagia memang membutuhkan keberuntungan, tapi mustahil sebuah keberuntungan tercipta tanpa adanya usaha, kalaupun iya, hidup dengan usaha lebih indah daripada hidup dengan keberuntungan.

“Mas Ramdhan! sudah bedug dari tadi jangan melamun saja, ayo kopinya diminum entar keburu dingin…”

Istriku yang rupawan dengan senyuman manisnya selalu menenteramkan hati dan jiwa, lebih manis dari kopi buatannya. Sama seperti arti bulan Ramadhan bagiku, “Syakur Ramdhani.” tak salah kedua orangtuaku memberikan nama tersebut bagiku, nama ini telah menjadi doa dari mereka berdua. Ya Allah ampunilah hamba dan kedua orangtua hamba dari dosa yang terasa maupun tidak terasa. “Ya Siti! terima kasih, kamu memang istriku yang cantik dan saleha. Aku beruntung telah memilikimu…”

Cerpen Karangan: Yoga P. Wijaya
Blog: http://www.yogapermanawijaya.wordpress.com
Facebook: https://www.facebook.com/yoga.permana.wijaya
Yoga Permana Wijaya, lahir di Cianjur 1989. Mulai aktif menulis dari tahun 2007, karya-karyanya tersebar dalam buku antologi cerpen dan puisi.

Cerpen Sebuah Tetesan Perjuangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ketika Kebaikan Mendatangkan Ujian

Oleh:
“Kesabaran adalah senjata seorang muslim dalam menghadapi setiap cobaan dan musibah.” Kata-kata bijak Kakak masih terbayang begitu jelas di telinga ini. Kakak selalu menasihatiku dengan kata-kata bijaknya ketika aku

Membersihkan Dosa dengan Deterjen

Oleh:
Sore hari dibalut dengan cahaya kuning. Kata orang desaku senja kala. Dimana langit berwarna jingga. Masih terasa dingin karena hujan menyisakkan rintik. Aku turun dari bis. Air mata yang

Kamulah Surgaku

Oleh:
Matahari bersinar cukup terik pagi itu, meskipun sejam sebelumnya sempat diguyur hujan deras. Aku melaju di jalanan beraspal menuju sekolah yang berjarak kurang lebih 20 KM dari rumah. Aku

Kesalahan Masa Lalu

Oleh:
Alam telah basah terguyur derasnya hujan hingga saat ini, namun kaki ini masih terpaut akan kewajiban, langkah demi langkah terlewati dengan teduhan payung di atas kepala ini, “tin… tin…”

Perjalanan Menakutkan

Oleh:
Suatu sore, aku naik kereta dengan destinasi yang cukup jauh. Entah apa nama tujuan yang akan aku singgahi, aku mengikuti jalur rel tanpa ditemani siapapun. Di dalam sebuah gerbong

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

0 responses to “Sebuah Tetesan Perjuangan”

  1. andy says:

    Cerpennya keren, ada haru-harunya gitu deh. dan endingnya itu loh nendang sekali.. sukses buat penulis

  2. Abdan Syakur Rabbani says:

    Sangat bagus, suka.

  3. Ega Permana says:

    Suka.. Sukses kang, terus berkarya. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *