Secarik Doa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 21 November 2014

Lama-lama aku bosan dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Mimi menerangkan dengan sangat baik, menarik dan mudah dipahami. Akan tetapi pada akhir pelajaran selalu saja ada kalimat-kalimat motivasi yang kebanyakan diambil dari hadis dan alqur’an meluncur dari mulutnya yang cerdas namun kalem. Dua pedang sakti yang digemari para petua di masjid depan rumahku itu selalu saja membuatku jengkel. Huh, pembohong! Sebaik itukah agama nenek moyangku? Mana buktinya? Semua orang meramaikan jalan raya dengan polusi. Semua orang berlomba-lomba meninggikan bangunan. Semua orang memamerkan tubuh mereka dengan berlenggak-lenggok di mall dan cafe. Semua orang membeli parfum dan memakainya secara berlebihan hingga baunya tercium lima meter sebelum mereka lewat di depanku. Semua orang menutup telinga mereka saat mendengar satu-dua adzan yang meronta seperti orang yang sedang minta tolong. Semua, semua yang diajarkan di dalam islam dan semua yang bu Mimi terangkan di akhir pelajaran itu salah besar dan tidak dapat dilogika.

Bel istirahat sudah tujuh menit yang lalu berbunyi. Kutarik nafasku dan aku kembali melihat Rico dan Cika berciuman di sudut kelas. Aku bergidik risih dan sekaligus kaget, Alex si bocah yang sok akrab denganku sudah mendekatkan wajahnya di depan mukaku. Seperti biasa, ku tampar ia sekeras-kerasnya. Aku tak pernah bosan melakukan hal ini kepadanya. Semua itu demi kehormatanku. Ya, aku menghargai kehormatanku sebagai seorang wanita, aku tak mau bila harus bernasib sama seperti ibuku dua tahun silam. Keluargaku syok berat dan sebagian besar menderita penyakit stroke yang tak bisa disembuhkan hanya karena berita yang tidak diinginkan itu terjadi. Ah, jangan kau paksa aku bercerita sekarang ya? Nanti saja kalau aku sudah siap mental.

“Kay, mau ice cream?”, Kevin berlagak cool di depanku sambil membawa semangkuk walls di tangan kanannya.
“nggak, makasih,” jawabku apa adanya.
“bener? Enak nihh, rasa baru,”
“so? Aku harus suka gitu?”
“ya iya dong, harus! Apalagi sama yang punya ice creamnya. hehehe,”
“well, but i very busy now. I must do my task for miss Mimi’s learn right now. So, don’t be here, please!”
“ah, gaya banget sih my sweety pake bahasa planet gitu. Berarti, kamu pinter dong cayangku?”
Plakkk!!
Lebih tepatnya bukan untuk menampar orang yang kurangajar di depanku ini, melainkan untuk menggenapkan jumlah rutinitasku itu sebanyak enam kali hari ini. Pagi tadi aku sudah dapat mangsa yaitu bang Faqih, tetanggaku yang sok alim tapi cuma cassingnya saja. Si Ruby yang gayanya selangit lantaran ayahnya seorang pengusaha. Si Alex yang kegantengan karena merasa beruntung bisa sekelas sama aku tiga tahun berturut-turut. Dodo Sang kakak kelas yang sok romantis bawain bunga mawar setiap tiga hari sekali dan mencegatku di pertigaan antara jalan ke kantin, koridor menuju kantor guru dan teras menuju ke kelasku. Dan terakhir si Kevin yang sok ramah dan cool. Aku heran, apa sih menariknya diriku buat mereka? Cantik juga enggak, kaya juga enggak, pinter-pinter banget juga enggak, agamis apalagi. Tapi kenapa setiap hari mereka menggodaku? Aku bosan! Apalagi kalau si resek Cika dan kedua cecenguknya itu menjadikan aku mangsa mereka di kantin dengan mengaitkanku dengan almarhumah ibuku. Cuiihh!! Liat dulu tuh diri kamu sendiri!!

Tak lama kemudian aku tenggelam ke dalam bukuku. Bahasa Indonesia, sebuah pelajaran konyol yang tak lebih penting dibanding English. Apa sih gunanya bahasa Indonesia yang baik dan benar? Kalau semua orang hampir tak pernah menggunakannya kecuali hanya kalau ada orang yang berminat menjadi tangan kirinya negara. Haha, lucunya negara ini! Hukuman saja bisa dibeli, dan bahasa adalah alatnya. So, masa bodoh buat aku! Apa urusannya? Toh kalau aku gede nanti, negara ini juga bakal tambah ancur. Aku sih tinggal lewat saja. Abis itu mati deh! Gantian idup sama anak-anakku kelak. What? Anak? Sejak kapan aku berpikir bakal punya anak? Anak hanya akan memperburuk keadaan. Kasian mereka kalau harus hidup di era-era yang akan datang. Cukup aku saja sebagai generasi terakhir anak haram di bumi pertiwi ini. Cukup aku.

Brakkk
Terdengar suara mengerikan daun pintu yang kedengarannya dari kamar kedua orangtuaku. Kuletakkan buku dari tanganku dan bergegas melesat ke sumber suara. Betapa kagetnya aku, ibu sudah luka-luka saat aku tiba di sana. Bapak menggeram keras dan terus memukuli punggung ibu. Aku menjerit dan berusaha menyetop bapak. Tapi semua usahaku gagal, bahkan menyisakan luka berat di dahi kiriku. Dahiku berdarah dan aku tak ingat apa-apa kecuali sesosok laki-laki asing yang tiba-tiba keluar dari dalam kamar dan terlihat ingin menusuk ayahku dengan sebuah benda. Semua menjadi gelap sesaat setelah aku menyadari hal buruk itu.

“Non Kayla, sudah sadar non?”
“cucuku Kayla?” samar-samar suara nenek terdengar parau.
Putih. Warna hampa yang sangat aku benci itu menyilaukan mataku. Membuka mataku, aku justru melihat semua keluargaku yaitu kakek, nenek, tante Rika, dan om Danar serta mbak Mela mengenakan warna yang berkebalikan, hitam. Kaget, ingin sekali aku berteriak keras-keras tapi dahiku berasa sangat sakit dan tenggorokanku seperti keadaan selokan di belakang rumahku, tersumbat batu. Aku hanya bisa bertanya lirih seolah tanpa suara kepada Bi Lina yang juga berada di situ.
“ayah dan ibuku mana bi?”
Tak menjawab, mereka justru menunduk dan saling bertatapan. Aku penasaran sekali. Kusibak selimutku yang akan tetapi ditahan mereka semua. Aku meronta dan terus meronta walau dengan susah payah kutahan perih di dahi.

Kalau aku sehat nanti, aku berjanji akan membunuh laki-laki itu. Apalagi kalau melihat keadaan kakek, nenek dan om Danar yang duduk di atas kursi roda sejak kematian kedua orangtuaku. Ayah dan ibu yang tak pernah memperdulikan aku dan tak pernah mendidikku itu kini telah meninggalkan aku dalam keadaan kesepian dan kesusahpayahan menahan cacat di dahi kiriku. Hanya karena sebuah perselingkuhan? Oh no! Just not it! Ayahku sedang mabuk waktu kejadian itu. Dan pelaku pembunuhan itu menjadi buron setelah sebelumnya menghipnotis kakek-nenekku, melukai kaki kakek-nenekku dan mengambil semua uang, barang-barang dan perhiasan di rumahku. Raib, hanya ada aku dan luka di dahiku.

Satu bulan kemudian kakek dan nenek kembali mengguncangkan dadaku, meremukkan jantungku dan membuatku menguras air mata. Mereka memang sudah sangat tua, nenek berusia 68 dan kakek 74 tahun. Mereka meninggal dalam keadaan sedang tertidur di atas sofa dengan bekas pisau tertancap di perut mereka. Tante Rika menderita HIV AIDS sama seperti suaminya. Mbak Mela, anak mereka, mengambil semua uang dan pergi meninggalkan mereka begitu saja ke Bali menyusul pacarnya yang entah siapa namanya dan aku pun tak tau menau tentang kehidupan individualis saudariku satu-satunya itu. Selang beberapa minggu, tante dan omku itu menyusul keluargaku yang lain ke alam baka. Mereka mengalami kecelakaan yang cukup tragis karena kesalahan menyetir mereka sendiri waktu perjalanan ke suatu tempat favorit mereka. Cerita yang singkat bukan? Ya, sangat singkat seakan tak pernah terjadi. Satu hal yang lagi-lagi tersisa, aku dan luka di dahiku. Sebatang kara.

Bu Mimi masuk kelas dengan senyum khasnya yang tenang dan memulai pelajaran dengan salam yang sangat kuno: “Assalamualaikum” kami semua menjawabnya dengan sedikit terbata-bata dan ada juga yang sekeras-kerasnya. Mungkin karena ia merasa paling hafal di antara teman-teman yang lain. Aku heran, kenapa sih harus selalu memakai penutup kepala itu? Tidakkah beliau merasa gerah dan takut dicurigai sebagai anggota teroris?

Tak kuperhatikan presentasi materi idiom-nya. Aku hanya perlu bertanya di akhir pelajaran nanti. Lebih tepatnya untuk bertanya apakah benar islam itu indah? Dan pertanyaan itu selalu kulontarkan pada beliau dengan hati-hati. Karena di antara guru-guru yang lain, bu Mimi adalah guru yang paling kalem namun professional. Bu Mimi adalah idola semua orang di sekolahku.

Aku adalah satu-satunya murid yang lupa membawa kamus bahasa Indonesia tapi bu Mimi meminjamiku dan menyuruhku sekalian membawa pulang. Di pojok sana si Cika, Gyna dan Oliv mencibir dan mengejek keras-keras “duuuhh, so sweet”. Kalau saja bu Mimi tidak menahan tanganku, maka mungkin sudah remuk meja di depanku.
Sesuai dugaanku, Bu Mimi memberi bekal kalimat pada akhir pelajaran.
“Innallaha ma’ashobirin. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”

Kuputar handle pintu rumah dan masuk dengan membawa KBBI di tangan. Uuuh, berat sekali rasanya. Bunda pulang lebih sore daripada aku seperti biasanya. Ayah belum pulang dari kantor LSM-nya dan mas Rifki juga belum kelihatan sampai di rumah. Kakakku itu, hmmm andai saja dia orang lain, sudah tentu kugaet dia! Mahasiswa terkenal di kampusnya. Sederhana, nggak sok cool dan pinter. Cakep deh dia! Tapi sayangnya satu, dia sama saja seperti bunda dan ayahnya, religius. Terlalu mementingkan agama di dalam kehidupannya.

Setelah minum dan menghabiskan sekaleng Sprite dari kulkas, aku menuju kamar dan menaruh KBBI di depan tempat aku berbaring. Baru kusadari ada secarik kertas terlihat menonjol di antara lembaran kamus berwarna agak kuning itu.

Tuhan, aku bosan dengan dunia ini
Aku bosan dengan keramaian akan dosa-dosa
Aku bosan dengan murid-muridku yang jauh dari cahaya-Mu
Tuhan, andai dunia ini sedikit lebih tenang daripada saat ini…
Akan tetapi Tuhan,
Mengapakah agamaMu diacuhkan semua orang?
Bahkan anakku sendiri?
Sungguh aku sakit hati melihatnya tak mau shalat
Tuhan, hanya doa di sepertiga malam yang mampu membuatku tenang
Tuhan, aku ingin segera bertemu denganMu lagi
Tunggu aku di surgaMu Tuhan
Ya Rahman,
Aku mencintaiMu, keluargaku, anak-anakku…
Aku mencintai semuanya
Tapi tolong cabutlah nyawaku di saat semua kewajibanku selesai
Setelah semua keluarga dan saudaraku menanamkan islamMu di dada mereka
Setelah imamku mengecup keningku dengan doa-doa
Setelah anak laki-lakiku membangunkanku dengan alqur’annya
Setelah anak perempuanku mau mengakui dan menjalankan keislamannya…

Aku terbangun dengan peluh menderas di kening. Dan aku masih saja menggenggam kertas itu di tangan kananku. Aku menangis sejadi-jadinya. Tapi masih kalah dengan suara bacaan alqur’an mas Rifki di kamarnya. Pelan, kulangkahkan kaki ke kamar mandi. Baru kali ini aku berwudhu, sama seperti yang diajarkan ayah tempo hari. Tenang rasanya. Damai sekali di hati. Kupejamkan mata dan melangkah kembali ke kamar. Melewati ruang sembahyang keluargaku, justru aku menghentikan langkah. Aku sangat ingin menyusul mereka. Tapi aku tak kuasa, aku tak bisa apa-apa dan tak mudeng apa-apa tentang gerakan mereka itu. Aku selalu menolak jika bunda mengajari dan mengajakku shalat. Aku mengambil posisi di atas sofa di depan TV yang berseberangan dengan ruang sembahyang. Kupandang gerakan-gerakan lembut mereka dengan tatapan haru. Mereka bersujud. Lamaaa sekali sampai aku tak henti-hentinya bertanya di dalam hati apakah shalat dengan sujud terakhir harus selama itu?

Jam lima pagi, suara adzan mbah Bari membuncah di udara. Tapi keluarga angkatku belum juga bangun dari sujud mereka. Padahal biasanya bunda selalu membangunkanku tepat pada jam lima. Aku memberanikan diri setelah sekian lama terpaku di tempat dudukku.
“Bunda, Ayah, mas Rifki? Sudah jam lima lhooo”
Tak ada jawaban. Lalu kugoyahkan tubuh bunda yang ternyata langsung oleng ke kanan itu. Bunda tersenyum dengan damai ke arahku. Aku membalas guyonannya. Tapi bunda terpejam seakan-akan tak menyadari aku ada di hadapannya. Hal itu terjadi juga pada ayah Angga dan mas Rifki. Ya Tuhaaannn!!!

Aku berteriak sekencang-kencangnya hingga semua tetangga berkumpul di rumahku dan melihat keadaaan yang sebenarnya.
Tuhan, maafin Kayla, Kayla gak pernah bersyukur selama ini. Kayla gak pernah mendengarkan nasehat keluarga baruku yang sudah dua tahun ini berusaha mendidikku dengan cahayaMu. Sekarang, aku sendirilah yang harus mendidik diriku sendiri. Tuhan, terimakasih untuk pelajaranMu yang paling berharga ini. Terimakasih telah menorehkan luka kehilangan keluarga untuk yang kedua kalinya. Terimakasih untuk cinta yang telah Kau selipkan dan Kau ajarkan dari keluargaku yang telah sangat menyayangiku ini.

Kini aku benar-benar sendiri. Secarik doa itu ternyata adalah pesan terakhir dari Bunda Mimi untukku.

Cerpen Karangan: Mipmip
Facebook: Mipmip Phirmana MasiOptim

Cerpen Secarik Doa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ikhlasku Karena Allah

Oleh:
Bagiku ikhlas itu tidak mudah dan tak semua orang bisa melakukannya. aku sendiri tidak tau ikhlas yang sebenarnya itu apa dan bagaimana hingga pada suatu hari aku tersadar melalui

The Light

Oleh:
– Cahaya negeri ini adalah kita – “Peringatan HUT RI yang ke-70 tahun ini kenapa begitu sepi? Tidak meriah seperti tahun lalu.” “Pada sibuk mungkin.” “Sibuk? Tapi setiap tanggal

Hijabmu Mahkotamu

Oleh:
Rinai hujan yang memusimkan di bulan November seakan akan awan menangis dan langit pun menyelimuti Zaman kini telah berbeda, dimana masa yang banyak dipengaruhi oleh budaya asing. Seolah-olah manusia

Cinta Itu Butuh Pengertian

Oleh:
Hujan yg berintik itu terus turun. Walau hampir reda, hujan itu tetap meninggalkan jejaknya. Jalanan menjadi basah dan licin membuat para pengendara kendaraan berhati-hati memilih jalan dan mengatur laju

Mansobaro Zhafira

Oleh:
Mentari bersinar lebih terang hari ini, seakan akan mendukung keberangkatan silma ke pondok barunya, dengan ihlas dia menuruti keinginan orangtuanya itu. Satu persatu ia datangi kerabatnya, untuk sekedar perpisahan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Secarik Doa”

  1. Muhammad Aldino says:

    salut sama ceritanya kak…!!

  2. Yunita says:

    <3 banget, cool 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *