Secercah Cahaya Di kampus Hijau

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 9 August 2015

Berawal dari sebuah mimpi. Masih terukir jelas di benakku. Saat itu pekan tenang pra ujian nasional tingkat SMA. Masa-masa sulit bagiku saat itu, berhadapan dengan soal-soal ujian ketika pusara Bunda masih basah. Tapi, itulah realita hidup yang harus dijalani. Sebuah hikmah besar yang kudapatkan dari musibah itu, ia membuatku jauh lebih tegar, berusaha untuk menjadi lebih dewasa, mejadi anak sekaligus Ibu di keluarga kecilku.

Dan hal itu pula yang menyadarkanku akan kehidupan yang abadi setelah kematian. Dan di sinilah mimpi itu muncul. Ingin menjadi muslimah yang kaffah. Aku bosan dengan hidupku yang biasa-biasa saja. Meski terlahir dari orangtua muslim, namun belum sepenuhnya bisa menjalankan kewajiban agamaku. Salat hanya sekedar menggugurkan kewajiban tanpa ada ruhnya, salat tapi masih pacaran, muslimah tapi hanya memakai jilbab jika bepergian jauh.

Ada niat tulus untuk berubah, tapi aku pun tidak tahu harus memulai dari mana. Ah, coba aku bisa sekolah di pesantren atau perguruan tinggi islam. Bisa lanjut kuliah sambil belajar agama. Mungkin di kota Makassar banyak universitas islam. Aku bisa lanjut kuliah di sana. Aku masih bimbang. Belum tentu diberi izin. Aku yang tinggal di pelosok desa di provinsi Sulawesi barat, bisa tidak beradaptasi dengan kota besar? Bertubi-tubi pertanyaan muncul di benakku.

Berbekal handphone merk china yang kumiliki, aku mulai browsing di internet mengenai perguruan tinggi Islam yang ada di kota Makassar. Beberapa mulai muncul, dari yang negeri sampai yang swasta. Aku mulai berpikir saat itu. Mungkinkah aku bisa melanjutkan studiku di salah satu universitas tersebut?

Karena, hanya untuk melangkahkan kaki saja keluar rumah, banyak kekangan dari keluarga. Dan ternyata Allah telah menyiapkan skenario indah untukku, yang tak pernah kuduga sebelumnya.
Tiba saat pengumuman. Dan Alhamdulillah, aku masuk ketiga besar di sekolahku. Kota Makassar mulai terbayang-bayang di pelupuk mataku. Ya Allah, jika kau menghendaki perubahan dalam diriku, maka izinkan aku belajar di Kota Makassar.

Aku memberanikan diri berbicara pada Ayah. Memang, aku tidak terlalu akrab dengan beliau. Mungkin karena kami sama-sama pendiam, sehingga tidak ada yang bisa mencairkan suasana. Jadilah rasa segan dan takut tidak diberi izin mendominasi pikiranku. Dan siapa sangka beliau luluh hatinya ketika kujelaskan pentingnya sebuah pendidikan, dan mudah mencari pekerjaan jika telah sarjana, itu alasanku kepada beliau.

Qadarullah. Manusia mampu berencana, tapi Allah yang Maha menentukan. Pada saat pendaftaran SMPTN dibuka, Ayah sakit keras dan harus dibawa pulang ke kampung halaman orangtuanya, di Sulawesi selatan. Apa boleh buat. Aku pun harus ikut menemani beliau. Sejenak SMPTN terlupakan.
Hingga masa pendaftaran SMPTN ditutup, aku masih di kampung halaman Nenek. Dan itulah salah satu skenario Allah.

Siapa sangka, kota Makassar yang hanya ada dalam khayalanku, kini aku berpijak di buminya. Bukan hanya itu. Universitas yang ku mimpikan ada di depan mataku. Meski tidak bisa masuk di PTN tidak mengapa, asalkan di sana aku bisa belajar ilmu agama. Ya Allah, Engkau terlalu baik kepada hamba yang hina ini.

Kini aku menjadi seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Islam. Kampus tersebut dijuluki Kampus Hijau. Entah karena gedungnya yang memang serba hijau ataukah karena banyaknya pepohonan di sekitar area kampus hingga disebut demikian? Tapi bukan itu yang penting. Melainkan, cahaya yang menyorotiku dari dekat sejak aku masuk di dalamnya.

Cahaya yang selama ini kunanti-nanti. Bermula dari seseorang yang tak kukenal. Namun, begitu dekat. Senyumnya tulus dan menjabat tanganku dengan erat. Namun penampilan yang aneh menurutku. Ia tak seperti kebanyakan mahasiswi yang ada di kampus ini. Jilbabnya menjuntai dan berwarna gelap. Namun, begitu anggun terlihat. Hatiku sejuk dibuatnya. Aku bergumam dalam hati “Ya Allah, bisakah aku seperti dia?”

Pertemuan kami hanya sampai di situ. Dan hingga saat ini, aku sudah tidak mengingat wajahnya yang teduh. Aktifitas kampus mulai menyibukkanku. Tapi beruntunglah aku di sini. Tidak ada istilah ospek dan pembulian untuk mahasiswa baru. Ospek tersebut diganti dengan kegiatan yang bermanfaat yaitu pesantren kilat selama 3 hari. Hmmm, aku betul-betul terkesan berada di sini. Suasana yang islami. Penuh persaudaraan.

Pada saat pendaftaran masuk di PTS tersebut, aku numpang di rumah salah seorang saudara Almarhumah Bunda. Karena, rumahnya cukup jauh dari kampus, aku berniat mencari tempat tinggal yang dekat dengan kampusku. Lewat salah seorang teman seangkatanku, aku mendapatkan nomor handphone seorang senior yang ada di kampus.

Aku akan meminta bantuan padanya. Ternyata dari sinilah secercah cahaya itu muncul. Bagiku dia sangat baik, suka mengunjungiku di kos, sering menasihatiku. Aku merasa telah memilki kakak perempuan. Namanya kak Raihana. Tempat tinggalnya dekat dengan kos-anku. Awalnya aku mengira itu rumah pribadinya, ternyata bukan.

Rumah tersebut adalah rumah dakwah, sekretariat muslimah Lembaga Dakwah di Kampus, biasa hanya disingkat Sekret. Satu lagi, orang-orang yang tinggal di dalamnya mempunyai julukan aneh dan asing di telingaku, akhwat.

Tarbiyah. Masih samar-samar tentangnya. Pertama kali kudengar pada saat SMA. Dari salah seorang teman SMPku yang melanjutkan sekolahnya di Kota. Mungkin sejenis ta’liman atau pengajian, begitu pikirku.

Dan suatu waktu kak Raihana mengunjungiku. Aku mulai mendesaknya, kapan aku bisa belajar agama? Aku sudah tidak sabar. Dan Kak Raihana hanya menjawab “InsyaAllah besok ada Daurah, ikut di situ dulu yah” Ya Allah, apalagi itu Daurah. Aku ingin belajar, bukan ingin yang lain.

Kini, aku telah mengerti semuanya. Akhwat, Daurah, tarbiyah dan dakwah. Sekitar 3 bulan telah kulalui. Aku mulai gelisah dengan keadaanku. Belum ada perubahan yang signifikan. Dari segi ibadah mungkin meningkat pesat, namun di sisi lain, aku masih memakai jilbab yang tipis dan transparan, celana jeans dan kemeja ketat. Aku harus berubah.

Hingga suatu ketika, aku mengisolasi pakaian yang tidak pantas itu. Aku mulai belajar memakai rok, jilbab menutupi dada dan memakai kaus kaki. Beberapa pekan berlalu dengan penampilan seperti itu. Berbekal buku-buku islam yang kupinjam dari akhwat dan dari banyaknya pertanyaanku mengenai jilbab, sedikit-sedikit aku telah mengetahui jilbab syar’i yang sesungguhnya. Ya Allah, ilmu-Mu telah sampai kepadaku. Kapan aku bisa benar-benar hijrah.

Pagi itu, aku dan Kak Raihana pergi mencari jilbab. Aku sudah membulatkan tekad untuk segera berhijrah. Aku mengumpulkan uang tabunganku. Mudah-mudahan cukup, untuk satu barang dua jilbab. Kak Raihana yang memilihkannya untukku. Aku membawa pulang dua buah jilbab dengan hati diliputi syukur.

Jilbabku masih tergantung di lemari. Aku masih bimbang. Karena, tidak lama lagi libur semester akan datang. Dan itu berarti aku harus pulang ke kampung. Apakah aku harus berhijrah dulu kemudian pulang kampung? Atau…

Aku masih takut memperlihatkan identitasku kepada Ayah dan keluargaku yang lain. Ya Allah, mohon petunjuk-Mu.

Beberapa malam berturut-turut aku bermimpi tentang jilbab. Ada apa ini? Aku mulai berpikir untuk memakainya sebelum pulang. Aku takut, jika aku terus menunda-nunda. Jika saja kematian itu datang kepadaku, apa yang harus ku pertanggungjawabkan di hadapan Allah, sementara ilmu-Nya telah sampai kepadaku. Tiada yang tahu kapan kita kembali pada-Nya. Kematian serasa begitu dekat. Dan aku memutuskan untuk memakainya besok pagi.

Pagi begitu dingin, sejuk terasa di hatiku. Entah mengapa pagi ini beda dari pagi yang sebelum-sebelumnya, sangat indah. Aku terus melangkah. Ya Rabb, saksikanlah hamba-Mu ini yang sekarang berpijak di Bumi-Mu, telah melaksanakan perintah-Mu dengan segenap jiwa dan raganya.

Secercah cahaya itu telah kuraih. Hatiku berbunga-bunga. Tiba di depan pintu Sekret, hatiku canggung dan deg-degan. Apa yah kata akhwat? Perlahan pintu kuketuk dibarengi salam. Seseorang membukanya dari dalam. Dari raut wajahnya ia begitu kaget sekaligus bahagia. Ia menyuruhku masuk. Dan memanggil seseorang yang ada di lantai dua. “Raihana, lihat ini, siapa yang datang?”.

Kak Raihana melongoh di depan tangga. Ia pura-pura tidak mengenaliku. Ia turun menyambut dan memelukku. Doa pun teriring dari bibirnya “Barakkalahu fiik, semoga diistiqomahkan dik.”

Hidayah itu tidak mudah. Butuh kesungguhan untuk meraihnya. Butuh pengorbanan untuk mendapatkannya. Namun, ada yang lebih sulit dari hidayah itu sendiri. Istiqomah. Konsistensi kita untuk menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.

Sebuah nasihat untukmu wanita-wanita saleha. Jadilah muslimah-muslimah pilihan, jadilah wanita-wanita dambaan ummat, jadilah muslimah-muslimah yang luar biasa, wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, wanita yang takut kepada Rabb Penciptanya, wanita yang senantiasa mengokohkan dan menolong agama-Nya. Semoga kita adalah muslimah yang mengukir indah sejarah islam, yang senantiasa teguh di atas sunnah, dan pengikut jejak para salaful saleh. Aamiin.

TAMAT

Cerpen Karangan: Afyifah Chairunnisa
Blog: Afyifahchairunnisa13blogspot.com

Cerpen Secercah Cahaya Di kampus Hijau merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masalah Sharmay

Oleh:
Matanya menjelajahi seisi rumah itu. Asri banget, pikir gadis yang tengah menunggu si empunya rumah. Ini pertama kali bagi Sharmay -anak kampung baru merantau ke kota- menduduki sofa empuk

Perjalanan Waktu

Oleh:
Hari-hari tetap seperti biasanya. Matahari masih terbit di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat. Semilir angin masih menghiasi hiruk pikuk dunia yang semakin tua ini. Kicauan burung tiada

Takdir yang Baik

Oleh:
“Ambu dan Uwa, sayang pada kau, Leh.” ucap Ambu memulai percakapan. Aku bergeming, mendengar penuh bakti dan merasakan begitu tulusnya mereka menyayangiku. Tak dapat dipungkiri, Uwa memang sangat perhatian

Mimpi Buruk

Oleh:
Hari ini, tepatnya beberapa hari sebelum menginjak bulan puasa. Aku bangun dari tidurku dengan alunan alami yang ada dalam tubuhku, tidak dengan alaram ataupun jam. Hari ini terasa berbeda

Seleksi Alam

Oleh:
Gue adalah salah satu santri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Asy’ariyyah. Sebelum ke Wonosobo gue pernah mondok di salah satu pondok Salafiyah di Banyumas selama 3 tahun SMP. Di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *