Secuil Rindu Dan Doa Untuk Bunda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 27 December 2015

Malam ini rasanya aku rindu sekali dengan orang-orang di rumah, terutama Ayah dan Bunda. Yaa wajar saja, karena aku sedang merantau untuk melanjutkan studiku. Apalagi bunda sedang diutus untuk pergi ke luar kota. Namaku Laras. Sebut saja begitu. Aku anak sulung dari dua bersaudara, adikku laki-laki. Menjadi anak sulung itu banyak senang dan susahnya loh. Senangnya karena aku punya bunda yang sangat hebat! (eh gak nyambung ya, maaf hehe)

Gimana gak senang kalau punya bunda yang super hebat? Beliau yang selalu mensupport semua kegiatan -positif- ku. Beliau yang telah mengandung, melahirkan, menyusui serta mendidikku sejak dulu hingga sekarang. Dan gak mungkin kejadian yang sama dialami oleh orang lain, termasuk ayah. Ya kan? Hehe. Ya iyalah, setiap orang kan berbeda dan pasti melewati peristiwa yang berbeda juga. Ya, meskipun aku sudah sering membuat bunda kecewa, membuat beliau sedih. Namun bunda tetap sudi dan bahkan selalu tulus menyayangi juga menasihati ketika aku berulang kali melakukan hal keliru. Maafkan aku, bunda.

Hei, hei. Kebahagiaanku gak terhenti di situ. Sebentar lagi liburan semester ganjil, jadi aku bisa pulang ke rumah dan bertemu bunda juga ayah. Yeye Untuk mempersiapkan UAS (Ujian Akhir Semester) besok pagi, aku pamit tidur bentar ya teman-teman. Liburan semester ganjil tiba. Pagi itu aku sedang mengemas barang dan benda yang akan ku bawa pulang. Sembari bersantai dan mendengarkan alunan musik dan menunggu waktu sarapan. Maklumlah belum terasa lapar.

Sengaja aku pergi ke terminal siang nanti, karena aku tidak ingin tergesa-gesa untuk bertemu orang tercinta di rumah. Ada hadits yang menjelaskan bahwa Tergesa-gesa adalah sebagian dari syaitan. (eh jadi ngedalil gini). Sesampainya di terminal, aku menunggu bus di tempat biasa. Cukup lama. Suasana ramai, hiruk pikuk mahasiswa yang juga ingin pulang ke kampung halaman, serta penumpang lainnya yang hendak berpergian.

Dari kejauhan, nampak bus putih menuju ke arah tempat aku menunggu. Bus bertuliskan nama tempat tinggalku ini berhenti tepat di depan di mana aku berdiri. Kernet bus membuka pintu, dengan sigap aku memasuki bus yang belum ada penumpang di dalamnya. Seperti biasa, bahkan sudah menjadi kebiasaan aku mempati kursi paling depan di samping supir. Karena hal tersebut tidak membuatku jenuh, apalagi untuk perjalanan yang cukup jauh. Aku suka melihat pemandangan dari depan kaca mobil. Sejak dulu, ketika berpergian dengan bunda. Ya, ingatan itu membuatku semakin rindu. Oh ya, aku harus segera mengabari orang rumah kalau aku akan pulang sore ini.

“Assalamualaikum, Bunda sore ini aku pulang. Sekarang aku sudah dalam bus. Tunggu aku di rumah yaa. Love you.” Pesan singkatku.
Selang beberapa menit. “Iya, hati-hati di jalan. Jaga diri.” Balasan dari nomor yang bertuliskan -Nama- Bundaku. Lega rasanya. Ku sandarkan kepalaku ke sofa bus. Dan 30 menit kemudian, aku tertidur.

Nampaknya aku kelelahan. Aku terbangun 60 menit setelah ku pejamkan mata. Ku lihat ke belakang, bus sudah terisi penuh dengan penumpang. Di sebelahku sudah ada wanita paruh baya, dengan ramah ku lontarkan senyuman. Ia membalasnya. Kami bercakap-cakap seputar tempat tinggal dan tujuan perjalanan. Ternyata ia pulang dari menjenguk anaknya yang juga ber-tholabul ilm di kota Tapis Berseri. Dua jam berlalu. Penumpang mulai berkurang. Satu per satu turun dari bus, termasuk wanita yang tadinya duduk di sebelahku. Ahh, sekitar 45 menit lagi aku akan sampai di rumah. Aku mengamati apa yang ku lihat. Jalanan, awan, juga langit yang mulai memerah. Sebentar lagi adzan Maghrib dikumandangkan. Ku lihat handphone yang bersembunyi dalam tas. 2 panggilan tak terjawab, dari “Bundaku.”

“Ada apa ya? Apa sudah tidak sabar bertemu? Ahh sudahlah. Nanti saja, toh sebentar lagi aku sampai.” pikirku.
Tak terasa bus sudah memasuki kawasan pedesaan di mana keluargaku tinggal.
“Turun di sini ya?” Tanya supir tua yang sudah hafal denganku.
“Oh iya pak. Terima kasih.” Sahutku.

Aku turun dari bus pelan-pelan. Kemudian ku lanjutkan perjalanan. Sekitar 50 meter dari jalan raya, rumah kecil itu berdiri kokoh. Jalanan nampak sepi, wajarlah di desa kalau hari sudah gelap jarang ada orang yang ke luar rumah. Aku mengambil langkah panjang, namun tidak terlalu cepat dan tidak lambat. Sampai di perempatan rumah, aku tertegun pada keramaian di rumah bercat biru. Langkah kaki semakin ku percepat. Ada apa? Kenapa? Banyak pertanyaan yang muncul di pikiranku. Astaga! Bendera kuning? Apa ini? Siapa? Di mana Ayah? Di mana Bunda? Aku belum melihat keduanya.

Dari kejauhan terdengar isak tangis, juga suara yang memanggilku. Suasana menjadi pecah. Beberapa orang menghampiriku. Perempuan yang tidak asing bagiku. Ya, mereka adalah bukdeku, kakak dari ibuku. Mengajakku untuk sejenak dan memberiku segelas air minum. Lalu menceritakan hal apa yang telah terjadi. Ternyata 2 panggilan tak terjawab tadi adalah panggilan untuk memberiku kabar bahwa bunda sedang dibawa ke Rumah Sakit terdekat. Bunda cedera karena terjatuh di kamar mandi dan sekarang masih di perjalanan dari RS menuju rumah. Ya Allah, kenapa seperti ini? Aku pulang untuk bertemu bunda, bukan untuk melihat jasadnya saja. Aku masih belum bisa mempercayainya.

Sejenak aku mengingat semua hal tentang bunda. Kenangan bersama bunda. Bunda yang selalu menjadi motivasiku, penyemangatku. Bunda sosok tauladan yang sangat baik. Dikenal banyak orang dan disukai oleh anak-anak. Batinku berteriak. “Aku tidak mau kehilangan Bunda! Tolong Ya Allah.” napasku tersengal. Jantungku berdebar cepat tak beraturan. Aku membuka mata dan melirik ke arah jam. Tepat pukul 00:30 WIB.

Astaghfirullahaladziim! Kenapa aku bermimpi seperti ini? Apa karena rasa rinduku yang sudah menggunung? Argh. Tapi tak apa, Alhamdulillah hanya mimpi. Ku lihat lagi, ada panggilan tak terjawab dari Ayah. Lima menit kemudian ayah menelepon.
“Assalamualaikum, ada apa yah?” tanyaku.
“Waalaikumsalam. Dari tadi sore Ayah berulang kali menelepon nomor Bunda, tapi nomornya tidak aktif. Kenapa ya?” tanya ayah. “Coba kamu telepon, kalau sudah bisa, hubungi Ayah lagi.”
“Baiklah yah, akan aku coba.” Jawabku. Panggilan diakhiri.

Dengan cepat ku ketikkan nomor bunda dengan benar. Ku dengar sahutan suara perempuan dari ujung telepon “Nomor yang anda tuju Salah, silahkan periksa kembali.” Sontak aku kaget.
Ku ulang kembali hingga 2 kali. Dan jawaban tetap sama. Pikiranku menjadi kalut. Bingung, takut mencampur jadi satu. Namun, aku tidak kehabisan akal. Aku coba membuka akun sosmed (Facebook) milik bunda. Ku intip profil rekan bunda yang mendampingi bunda ke luar kota. Status terakhirnya: “Selamat tinggal kota Bali nan elok.” 6 jam yang lalu.

Aku coba menghubungi nomor bunda lagi, dan Alhamdulillah tersambung namun tak ada jawaban. Oh, syukurlah. Setidaknya aku tahu kalau bunda sedang di perjalanan menuju Jakarta lalu kembali Lampung. Ku hubungi ayah, dan ku ceritakan -memberi penjelasan. Setelah itu, aku bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka agar tidak mengantuk, lalu berwudu. Berdoa memohon keselamatan dan hal terbaik untuk bunda. Kemudian ku lanjutkan untuk belajar, karena pagi nanti akan menghadapi UAS.

Selesai

Cerpen Karangan: Lyra Azzla
Facebook: Lyra Azzla Layla

Cerpen Secuil Rindu Dan Doa Untuk Bunda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Penyesalan Terdalam Kak Setya

Oleh:
Matahari mulai menyingsing di ufuk barat. Tanda sore telah usai. Gadis kecil itu hanya diam terpaku sambil menekuk lututnya di atas tempat tidur dalam kamar yang cukup nyaman itu.

Sederhana Saja

Oleh:
Sekarang aku disini, menimba ilmu di kota sendiri. Gagal menjadi anak rantau seperti kebanyakan teman-temanku. Gagal menjadi anak yang bisa lebih mandiri tanpa bergantung pada orangtua dan keluarga. Berkali-kali

Dialetika Seorang Gus

Oleh:
“Gus, aku ingin bercerita tentang bangsa yang dulu pernah disebut sebagai bangsa yang santun dan ramah dalam figur macan Asia” ungkapku sambil membungkukkan badan. “Silakan, Nak. Dengan senang hati

Lukisan Di sudut Ruang Tengah

Oleh:
“ayah, ini wajah ibuku ya?” aku memandang dengan teliti sebuah gambar wajah ibuku di dinding sudut ruang tengah rumah kami. Lukisan ini mungkin sudah berusia 24 tahunan bisa lebih,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *