Seiring Waktu Berlalu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 5 February 2016

Seiring waktu berlalu
Aku akan terus mencintaimu
Seiring waktu berlalu
Kau adalah sinar di tiap pagi
Temani aku selamanya
Sampai kulihat rambut indahmu memutih
Temani aku sampai akhirat
Sampai kulihat engkau di surga
Aku merindukanmu, Sakina

Rumah tangga kami berada di ujung tanduk, kami mempunyai dua anak yang masih sekolah tapi aku sekarang tidak lagi bekerja. Tiap hari makanan dan uang yang kami dapat adalah hasil dari aku meminjam dari satu orang ke orang lain. Ini sudah pukul 10 malam, aku sama sekali belum dapat uang dan pekerjaan. Apakah anak-anak harus bolos sekolah? Butiran air yang sudah lama aku tahan akhirnya ke luar, aku tak sanggup menahan perih ini.

Aku sudah gagal sebagai kepala keluarga. Tubuhku roboh di jalanan yang sepi ini, hanya ada suara nyamuk yang menemani. “Oh Tuhan, jika hamba ini masih mempunyai kebaikan yang bisa membawanya ke surga kelak, hamba minta setengahnya berikan untuk kehidupan hamba di dunia ini,” ucapku. Aku hanya bisa berdoa, aku tak punya apa-apa selain Allah tempatku bergantung. Pandangan mataku mulai kabur karena air mata dan lampu jalan yang meremang.

Secercah cahaya di bawah sana memancar, menyilaukan. Apakah aku berada di alam mimpi? Ah tidak! Aku masih sadar dari tadi. Aku tidak percaya, ini emas? Ada empat batang emas! Aku pun mengambilnya dan menengok ke kanan ke kiri tapi tak ada orang sama sekali. Aku berlari segera ingin menemui istri dan anakku di rumah. Dia membuka pintu, rambutnya tampak kusut karena habis tidur. Aku menciumi pipi bakpao putih yang mulus itu, aku memeluknya dengan bahagia. “Ada apa sih, A?” tanya istriku. “Ini Dinda, cintaku, istriku tercinta haha,” kataku lebay menunjukkan emas yang ku bawa.

Matanya melotot dengan jari-jari menutupi mulutnya, dia lalu menatapku berkerut dahi. Aku pun mengajaknya ke kamar untuk menceritakan semua kejadian tadi. Dia duduk di tepi ranjang mendengarkan semua penjelasanku dengan seksama. Sakina, istriku menghela napas. Membuang wajahnya setelah aku selesai menceritakan semuanya. “Kembalikanlah semuanya A,” katanya kemudian. “Tapi, sayangku. Kita tak punya uang buat besok.” Dia menepuk tangan mungil miliknya ke sampingnya, isyarat untukku duduk di sana.

“Tak ada suami yang mulia, penuh kasih sayang sepertimu sampai kau lebih memilih mengorbankan akhiratmu untuk kami..” katanya terisak sambil memegang tanganku, “aku lebih suka hidup miskin daripada aku tak bisa bersamamu di surga nanti.” Kata-katanya itu membuat hatiku terasa meleleh, aku tak sanggup berkata-kata. Aku juga sama ingin bersamanya bahkan sampai nanti kalau memang aku di surga. “Baiklah sayang, lalu bagaimana dengan anak-anak?” tanyaku. “Kalau Tania, tadi Teh Nani main ke sini dan ngasih Tania uang jajan buat besok, tapi Fadli sepertinya dia libur saja dulu,” jawab istriku.

Tania adalah anak kedua kami yang masih kelas 6 SD, dia gadis yang manis seperti ibunya dan Fadli, anak pertama kami yang sekarang kelas 2 SMK. Fadli Ardiansyah anak pertama kami adalah anak yang cerdas bahkan masuk SMK ternama di daerah kami, dia jadi pendiam sekarang semenjak aku dan ibunya sering bertengkar masalah finansial. Aku takut dengan perkembangan psikologi anak itu apalagi masa remaja adalah masa mencari jati diri.

Kepribadian Fadli memang bertolak belakang dengan adiknya Tania yang ceria dan suka curhat, Tania sangat dekat dengan Teh Nani, kakak dari istriku. Seperti anaknya sendiri Teh Nani suka memberi uang jajan dan kadang menyuruh Tania menginap di rumahnya. “Baiklah, Dinda tidurlah..” kataku sembari membelai rambut istriku, menempelkan tanganku pada pipinya. “aku akan berdoa kepada Allah kembali.” Dia menganggukkan kepalanya.

“Aku berangkat Pak..” Tania berlari menghampiriku dan mencium tanganku, “assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Aku pun berjalan ke kamar Fadli, “Fadli! Udah bangun kamu?”
“Iya?” Aku membuka pintu kamarnya, dia sudah terduduk, kedua tangannya kini sedang menggosok matanya yang masih penuh belek. “Bapak mau ngomong sama kamu,” kataku sambil duduk di sampingnya, menepuk pahanya dengan seulas senyum. “Tidak masalah Pak, aku berangkat tak bawa ongkos juga. Aku bisa nebeng temen,” belum sempat aku bicara dia sudah tahu.

Apa anak aku yang satu ini punya indera ketujuh ya? Dia sedikit tersenyum mungkin karena melihat raut wajahku yang terkejut. “Semalam Fadli gak bisa tidur dan gak sengaja denger omongan Bapak sama Ibu..” katanya memberi alasan. “jadi Bapak gak usah khawatir, aku mau sekolah. Tapi ada sesuatu juga yang mau aku bicarakan.”
“Apa itu, Fad?” tanyaku. “Bentar lagi Fadli bakal ada PRAKERIN. Dulu namanya PKL Praktek Kerja Langsung. Ya tempat PRAKERIN di luar kota jadi butuh biaya, ya kira-kira satu juta setengah Pak. Karena PKL 3 bulan jadi bisa, lima ratus ribu sebulan cukup buat Fadli.” tuturnya.
“Iya, pasti akan Bapak usahakan. Sekarang kamu mandi sana.” Satu juta setengah? Aku hanya bisa menghela napas.

Dunia seperti bukan dunia lagi semenjak aku berhenti jadi aparat desa, masyarakat yang mudah terprovokasi. Memang benar kata teman lamaku, aku terlalu polos untuk bekerja di tempat seperti itu. Hidup dalam lingkup pemerintahan memang sangat erat dengan persaingan kekuasaan dan uang. Aku harus menata hidupku kembali mencoba berpijak di tempat yang bijak. Hutang yang kian menumpuk, kalau saja aku bicara mendengar ucapan Tuhan secara langsung dan Dia menjawab pertanyaanku, apa yang harus aku lakukan? “Inna maal usri yusra, sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Istriku memperhatikanku yang kini terduduk di kursi, “itu Al Insyirah ayat enam…” katanya, “kamu jangan melamun terus.”

Aku hanya terdiam, dia begitu tabah sekarang padahal sebelum-sebelumnya kami sering bertengkar. “A, aku ke Saudi saja. Boleh?” ucapnya lagi. Dia masih saja bersikeras ingin menjadi TKI di Arab sana, tentu saja aku tidak mengizinkan hal tersebut. Aku hanya menggeleng lemas, “nanti anak-anak gimana?”
“Fadli udah dewasa A, aku juga akan minta bantu Teh Nani buat mengawasi Tania.”
“Tidak bisa. Ini sama saja kita tidak menjalankan kewajiban kita sebagai suami-istri, itu dosa.”
“Tapi mungkin jalan rezeki kita dari sini A, kalau memang Allah memberikan jalan lewat hal ini kenapa tak kita ambil? Kita tak bisa membiarkan anak kita terus begini. Apa Aa tak mikirin masa depan Fadli? Dia anak cerdas tapi Fadli itu lemah dia tak akan bisa kerja yang keras-keras kalau nanti sekolahnya tidak bisa lanjut?!”

Aku benar-benar berdiri di ujung jurang, tubuh Sakina bergetar dan sebentar lagi dia pasti menangis. Aku berjalan cepat meraih gagang pintu dan ke luar sebelum semuanya semakin memanas. Istriku hanyalah lulusan SD, umurnya sekarang masih 30 tahunan. Masih bisa bekerja di luar negeri, tapi khawatir apalagi banyak berita-berita miring soal bekerja di negeri orang seperti itu. Kalau kita perhatikan rumah-rumah di tempat ini. Hanya orang-orang yang bekerja sebagai TKI mempunyai cat rumah yang bagus dan tampak baru. Mungkin karena melihat itu membuat istriku ingin sekali kerja ke luar negeri seperti mereka.

Pernah sekitar satu bulan yang lalu, aku tak menemukan istriku di rumah. Aku tak menyangka istriku yang patuh dan selalu bisa membuatku tenang berani pergi tanpa izinku. Aku bertanya ke Fadli dan Tania mereka juga tidak tahu ibunya ke mana? Aku pun pergi ke rumah ibu mertuaku yang rumahnya tak jauh dari sini, aku dan istriku asli dari desa ini membuat kami mudah mengunjungi mertua masing-masing. Setelah aku sampai dan menanyakan perihal istriku, ibu mertua hanya diam dan menggeleng. Sampai ketika aku pulang dari sana, aku berpapasan dengan teman istriku dan dia memberitahu jika istriku dibawa Reni akan naik kendaraan mirip bus kecil sambil menunjuk ke arah jalan raya. Reni adalah teman SD istriku dan dia bekerja menjadi penyalur TKI. Aku melihat istriku membawa tas besar, menatap bus yang ada di jalanan itu. Dia melangkahkan kakinya hendak masuk pintu bus tersebut.

“Sakina!” aku berlari sambil berteriak padanya.

Dia terperanjat mendengar teriakan dariku, “apa yang kamu lakukan, Sakina?” Aku menarik tas besar yang dibawanya dan melemparkannya ke tanah, aku tak ingin bicara dengannya dan langsung masuk menemui Reni. Aku pun memarahi Reni, ini termasuk tindakan kriminal. Setiap istri yang akan menjadi TKI tentu saja harus punya surat izin dari suami atau orangtuanya dulu. Sejak saat aku tak berbicara dengan istriku beberapa hari, aku semakin pusing dan merasa tertekan. Aku melangkahkan kaki ini menuju Musala, mengambil air untuk berwudu dan bergegas melaksanakan salat dhuha.

Selesai salat aku langsung berdoa, “Apa memang ini jalan darimu, ya Allah. Apa karena hamba terlalu mencintai istri sehingga engkau ingin menjauhkan kami berdua? Sungguh engkau maha melihat lagi maha mengetahui, jadikanlah iman hamba ini semakin kuat dan bertawakal. Maafkanlah segala kekhilafan hamba dan jadikanlah hamba sebagai orang-orang yang bersabar.” Tidak ada jalan lain, aku harus membiarkan bidadari yang selalu bersamaku pergi untuk sementara. Beberapa hari berlalu, aku meminjam uang kepada kerabat untuk keberangkatan istriku ke Saudi. Sakina akan mengikuti pelatihan selama tiga bulan sebelum berangkat menjadi Tenaga Kerja Indonesia di negeri orang.

Sudah satu tahun berlalu, kami hanya bisa berkomunikasi lewat handphone itu pun sebulan satu kali karena biaya telepon ke luar negeri sangatlah mahal. Fadli sudah selesai PKL dan beberapa bulan lagi dia akan mengikuti Ujian Nasional. Sementara Tania sekarang sudah SMP kelas satu. Sebulan sekali istriku mengirimkan uang kepada kami, aku memanfaatkan uang tersebut membuka warung mie ayam. Alhamdulillah, semua kembali lancar. Inna maal usri yusra..

“A, aku kangen,” kata istriku di telepon. Sudah tua juga tapi sifatnya selalu membuatku geli, aku hanya bisa tertawa kecil. “Ya neng Nah, buruan pulang coba,” balasku. “Hihi, sudah lama sekali rasanya Aa manggil nama itu.”
“Itu artinya Aa juga kangen.” Ya seperti itulah kami ketika mengobrol di telepon. Aku selalu merindukannya. Bidadari yang selalu ada ketika aku terbangun, sekarang jauh di sana. Seiring waktu berlalu, aku tak bisa berhenti mencintainya. Walau kisah cinta kami sederhana tapi ini cinta yang tulus. Aku akan menunggu.

Cerpen Karangan: Rinasya Permana
Blog: rypermana.blogspot.com

Cerpen Seiring Waktu Berlalu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Buruh Cuci

Oleh:
Pagi itu sinar mentari hangat menerpa bumi. Kicauan burung seakan turut mewarnai pagi. Kubuka tirai jendela yang menghalangi pandangan untuk melihat keadaan di luar. Rupanya belum banyak kendaraan yang

Supercake

Oleh:
Lelah. Hanya itu yang dapat ku ungkapkan selama sehari penuh. Noda bekas cream cake, air, mentega, tepung, tumpahan telur, dan berbagai karya seni hari ini yang dapat ku buat

Ketika Ibu Menangis

Oleh:
Aku adalah anak terakhir dari 5 bersaudara, keempat kakak ku semuanya sudah menikah dan bekerja di luar kota. Kini rumah terasa begitu sepi semenjak kepergiaan Ayah 2 tahun silam.

Bidadari Penyelamat

Oleh:
Wajah mungil dan polos. Begitulah aku melihat seorang anak perempuan yang tengah tertidur lelap di depan pandanganku. Wajah putih belum ternoda hitamnya dosa, sungguh pemandangan yang tenangkan jiwa. Meski

Kasih Sayang Seorang Ayah

Oleh:
Hai namaku Aisyah, aku hidup bersama ayahku. Ibu ku sudah meninggal saat ibuku melahirkanku. Aku tak sempat untuk melihat wajahnya. Tapi foto-foto ibulah yang membuat ku menjadi semangat. Ayah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *