Semua Karena Nayla (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 17 January 2017

Mas Amran berubah. Itulah sebuah kesimpulan pendek setelah seminggu ini kuperhatikan ada banyak perubahan dari diri suamiku. Sikapnya menjadi pendiam dan berbagai kejanggalan muncul disetiap gerak-geriknya. Sosok Mas Amran yang dulu sudah tak kutemukan lagi.
Baiklah, tak jadi masalah jika ia melampiaskannya hanya padaku karena mungkin segudang masalah tengah menghampirinya. Tetapi kali ini anak semata wayangku –Nayla juga ikut merasakannya. Tak ada lagi edisi saling sapa, bercerita antara kita bertiga, edisi curhatan sebelum tidur bahkan solat berjama’ah pun seminggu ini off.

Lima hari yang lalu, saat kami bertiga sedang sarapan pagi. Kulirik sekilas wajah Mas Amran, matanya tetap fokus menelusuri butir-butir nasi di piring dengan mulut mengunyah pelan tanpa diselingi sedikit kalimat pun yang keluar. Sampai ketika Nayla bertanya …

“Ayah, sore ini Nayla mau ke rumah Mitha. Mitha ulang tahun. Jadi mungkin Nayla pulang sore. Ayah jemput Nayla di rumah Mitha, ya…,” pinta gadis kecil berbando merah muda itu dengan manja.
Hening. Mas Amran diam. Sama sekali tak merespon permintaan Nayla. Aku mengernyitkan dahi, melirik ke arah Mas Amran dan Nayla bergantian. Gadis Sembilan tahun itu menoleh ke samping sambil menepuk lengan kiri Ayahnya.
“Ayah kok diam,” keluh Nayla.
Mas Amran gelagapan.“Oh, i…iya, aku bersedia kok.”
Aku terkejut. “Aku?”
Bola mata Mas Amran melirikku sekilas, seperti ada aura was-was di balik tatapan itu. Lalu mencoba tersenyum lebar ke arah Nayla.
“Iya, maksudnya Insya Allah kalo Ayah tidak ada halangan, Ayah pasti jemput. Nanti pulangnya mampir juga ke kedai kebab turki kesukaanmu. Ok?”
Nayla tersenyum mengangguk.

Bagaimanapun juga salah satu kunci dalam berumah tangga ialah harus selalu ada kejujuran serta keterbukaan antara kedua belah pihak. Aku harus tahu mengapa Mas Amran beberapa hari ini berbeda.
“Mas, sebenarnya ada apa sih? Kok mas jadi pendiam gitu?” tanyaku bernada khawatir setelah mengecup punggung tangannya. Sebelum ia beranjak memasuki mobil.
“Nggak, nggak ada apa-apa kok. Cuma…”
“Cuma?”
“E, sedikit nggak enak badan.”
“Masya allah, Mas Amran sakit?” tanyaku semakin khawatir sambil kusentuh kening dan lehernya.
“Nggak panas.”
Mas Amran tersenyum.
“Nanti malam Mas cerita, ya. Sekecil apapun masalahnya kita buka bersama dan mencari solusi bersama.”
Lagi-lagi dia tersenyum. Ah, senyuman manis yang selalu kurindukan. Dia tampak begitu tampan saat tersenyum dengan lesung pipit jelas tergambar di pipi kirinya.

Sore itu ponselku benar-benar mati. Entahlah mengapa. Mungkin memang harus kuganti yang baru. Sementara itu aku harus segera menghubungi Rina –sahabatku hendak membicarakan perihal kue pasananku. itu artinya aku harus meminjam ponsel Mas Amran.
Kurasa Mas Amran sedang mandi –selepas pulang kantor. Kucari ponselnya di saku celana. Ada. Kutekan tombol lock, layar ponsel menyala. Aku menghela napas berat.

Kata sandi?
Sejak kapan Mas Amran memprivasi ponselnya? Biasanya tidak. Kucoba isi dengan tanggal pernikahanku. Salah. Kucoba lagi tanggal lahirnya. Salah juga. Aku berfikir sejenak mengingat-ingat angka apa yang sekiranya ia kagumi.
Sejurus pintu kamar terbuka. Mas Amran masuk kamar memakai pakaian solatnya.
“Mas, kok ponselnya diprivasi?” tanyaku heran.
“Ya, biar aman aja. Barangkali ada orang yang mau mengorek-orek sembarangan,” jawab Mas Amran santai.
“Lalu kata sandinya apa?”
“Ponselmu mana?” Mas Amran malah balik bertanya seraya meraih ponselnya di tanganku.
“Ponselku mati, Mas. Dan aku harus menghubungi Rina sekarang juga, ada suatu hal yang perlu kubicarakan dengannya.”
Ponsel Mas Amran berdering. Ada yang menelepon.
“Siapa, Mas?”
“Teman kantor. Kamu pakai ponsel Nayla dulu aja!” pinta Mas Amran dingin sambil berbalik badan meninggalkan kamar.
“Mas pertanyaanku belum dijawab. Kata sandinya apa?” tanyaku lagi berusaha mengejarnya.
Mas Amran tak bergeming. Padahal ia belum mengangkat teleponnya. Dia malah cepat-cepat menghindariku bergegas menaiki tangga.

Seketika perasaanku kembali diterjang berbagai pertanyaan perihal perubahan sikap dan kebiasaannya kini. Yang menurutku benar-benar seperti ada kejanggalan. Sore ini lagi-lagi aku merasakannya. Sebab dari awal pernikahan baru kali ini Mas Amran memprivasi ponselnya.

Ok! Fine. Tak apa jika ponselnya ia privasi. Tapi apa salah jika aku sebagai istrinya berhak mengetahui kata sandi itu? Usai kejadian sore itu, kukejar Mas Amran lagi dengan pertanyaan yang sama. Mas Amran sama sekali tak mau memberitahuku dengan berbagai alasan yang seperti dibuat-buat.

Aku harus bersabar. Tidak boleh begitu mudah kecurigaanku menjadi-jadi hingga menumbuhkan benih-benih prasangka buruk. Terlebih kepada imamku sendiri. Bukankah dalam berumah tangga itu akan selalu ada bumbu-bumbu penyedap dalam setiap perjalanannya? Dan kedua belah pihak harus bisa saling menerima –apapun itu- terhadap rencana-Nya.

Selepas menemani Nayla tidur. Aku bergegas ke kamar.Kurasa Mas Amran masih ada di kamar mandi. Aku merapikan sedikit tempat tidurku. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah kalender yang terpasang di dinding. Ada beberapa angka tersilang spidol merah, itu menandakan aku sedang haid.
Kuhitung tanggal akhir masa haid yang lalu. Otakku berputar. Kutemukan suatu kejanggalan lagi. Sudah nyaris mendekati tanggal masa haid selanjutnya. Namun mengapa Mas Amran belum juga memintaku untuk beribadah lagi. Jika dihitung-hitung dari terakhir beribadah hingga sekarang, berarti sudah sebulan lebih kami tidak beribadah. Aku menghela napas berat. Apa mungkin ia tidak tahu? Atau ia tengah menunggu waktu-waktu yang tepat.

Klek.
Mas Amran masuk kamar, diam tanpa berucap sepatah kata pun. Ia langsung rebahan di tempat tidur. Perlahan aku mengikutinya, rebahan tepat di samping kirinya. Hening. Sekilas kulirik Mas Amran. Kedua bola matanya masih terbuka lebar menatap langit-langit kamar. Baiklah, akan kucoba apakah kejanggalan ini selaras dengan kejanggalan-kejanggalan lainnya.

Perlahan kupeluk tubuh Mas Amran dari samping. Semakin kurapatkan. Hangat. Hening. Mas Amran tak merespon. Kucoba lagi, kali ini kucium tengkuknya, lehernya, pipinya. Lalu bibirnya. Mas Amran masih diam. Lima detik, tujuh detik. Tiba-tiba…
Mas Amran mengelak menghentikan aksiku, membelakangi tubuhku tetap dalam keadaan diam membisu.
Air mataku menetes. Biasanya Mas Amran yang memulai, kalaupun aku dan ia tidak mau. Ia akan beralasan. Namun ia pasti akan memberikan kecupan lembut di kening serta kata-kata romantis penyejuk hati. Tapi malam ini? Sungguh sikap tak yang biasa. Sebuah kejanggalan lagi, kecurigaanku padanya semakin menjadi-jadi.
Aku menahan tangis. Beristighfar, mencoba menghilangkan prasangka buruk yang timbul tenggelam dalan jiwa.

“Ibu, kok Ayah ndak mengajak Nayla solat berjama’ah di masjid lagi? Kalau malam Nayla ndak dibangunin solat tahajud, trus Ayah ndak mau nemenin Nayla baca komik lagi, Bu. Kenapa ya Bu?” tanya Nayla sore itu sambil membulak-balikkan komik islam kesukaannya.
Di sampingnya aku menjawab seraya tetap melipat-lipat pakaian.
“Mungkin Ayah kecapaian, Nay. Nayla tahukan Ayah itu kalau pulang kantor jam berapa coba? Kalau malamnya pasti Ayah tidur pulas. Jadi tidak sempat bangun malam.”
“Tapi masa setiap hari, Bu? E, Ayah juga sering teleponan sendiri dan ndak mau Nayla ganggu,” keluh Nayla lagi.
Aku menghela napas berat.
“Sudahlah Nayla. Ndak usah berfikir macam-macam sama Ayah. Ayah Cuma sedang sibuk saja. Jadi, ya begitu ndak mau diganggu,” ujarku beralasan lagi. Alasan yang kubuat-buat. Ah, kenapa kali ini seperti ada desakan kuat dari sudut kedua mataku. Hangat. Kutahan agar tidak menangis.

Sungguh tak mungkin jika kuutarakan pada Nayla perihal perubahan dalam diri Mas Amran, yang sudah berhari-hari ini kurasakan. Allah, cukup diriku sajalah yang dibuat bingung olehnya. Tidak dengan Nayla.
Bagaimanapun juga ungkapan Nayla menambah dafatar kecurigaanku pada Mas Amran. Dan kini aku tak mau tinggal diam. Sebelum tabir kegelapan itu terkuak, hingga memporak-porandakan pondasi rumah tanggaku. Aku harus segera mensinyalirnya. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diri Mas Amran.

Oh, iya aku ingat. Rina. Sahabat terdekatku. Akan kucoba mencari solusi ini padanya. Kuraih ponselku di atas meja, melihat sisa pulsa. Limit. Tanpa berlama-lama lagi aku bangkit, berpamitan pada Nayla bahwa aku hendak ke luar sebentar untuk membeli pulsa. Lantas segera berlalu meninggalkan Nayla yang masih sibuk dengan bacaan komiknya.

Sekitar lima belas menit berlalu. Aku kembali ke rumah. Baru saja kusentuh gagang pintu rumah, kudengar keributan dari dalam kamarku. Suara Mas Amran dan Nayla. Apa yang terjadi?
“Tapi Nayla mau pinjam sebentar Ayah.”
“Ah, kamu ini ganggu Ayah terus!”
“Ayah jahat. Ayah ndak mau nemenin nayla lagi. Ayah sibuk sendiri. Ayah teleponan terus,” rengek Nayla mulai menangis sesenggukkan.
Aku segera menghampiri, memeluk Nayla. “Nayla kamu jangan berkata begitu. Itu tidak sopan. Coba bicara sama Ibu!”
Sambil masih menangis sesenggukkan Nayla menjawab. “Nayla mau pinjam sebentar ponsel Ayah. Tapi ayah malah marah, Bu. Hiks…”
Aku melirik ke arah Mas Amran yang tengah duduk di depan laptopnya. Telinga kanannya terpasang headset dan ia seakan tak peduli akan kebaradaan aku dan Nayla.
“Kamu kenapa sih, Mas? Masih kurangkah kamu membuatku bingung, terhadap sikapmu hari-hari ini. Kamu melarangku meminjam ponselmu. Kata sandinya pun sama sekali tak kau beritahu. Dan sekarang kepada anakmu sendiri kamu tidak memberikan sedikit jeda pun untuk meminjamkan ponselmu.” ujarku mulai beremosi.
Mas Amran beralih menatapku dingin.
“Aku jadi curiga. Apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dalam ponselmu,” selidikku tajam.
Hening.
“Atau jangan-jangan Mas Amran selingkuh?”
“Cukup!” pekik Mas Amran keras. Aku terkejut. Kedua bola matanya menyala-nyala menatapku garang. Seolah aku adalah mangsa yang tak akan lama lagi ia terkam.
Mas Amran berdiri. Lantas meninggalkanku dan Nayla. Astaghfirullah… aku sudah membuat imamku marah. Mengapa semudah itu aku menuduhnya. Allah, ampuni aku yang begitu mudah beremosi hingga aku tak bisa menjaga ucapanku ini.

“Pokoknya kamu harus cari tahu apa yang terjadi dengan Mas Amran. Jangan kamu tunda-tunda lagi, Dhea. Hingga ia semakin berubah. Dan kamu sebagai istrinya tidak salah mencurigai suamimu. Bukankah selama ini kamu merasakan kejanggalan? Itu wajar Dhea,” ujar Rina di seberang sana penuh semangat.
Aku kembali bercerita. Dalam hati meyakini bahwa bukankah membicarakan aib seseorang dengan tujuan ingin mencari solusi, itu diperbolehkan?
Rina beremosi. “Lha, itu ciri-cirinya. Aku yakin Dhea, pasti di dalam ponsel masmu itu ada sesuatu yang ia sembunyikan. Kalau nggak ada, ya nggak mungkin juga ia bersikap seperti itu. Kamu harus segera cari tahu.”
“Ok, Dhea. Aku akan coba menghubungi Mas Nizar. Setahuku ia punya teman sekantor dengan Mas Amran. Kita akan coba menyelidikinya diam-diam.”
Aku menyanggupi dan mengingatkan kalaupun terjadi suatu hal yang tak diinginkan, Aku harap aib suamiku tidak sampai terumbar-umbar.

Klik.
Aku menghela napas panjang. Seakan ada energi baru yang menyusup perlahan dalam jiwa, hingga semangatku untuk berusaha membuka tabir kejanggalan dari Mas Amran melambung tinggi. Ya, ponsel Mas Amran.
E, sebentar. Bukankah aku tidak tahu kata sandi ponselnya? Ah, tak apa. Biar kucoba membuka kartunya pada ponselku.

Pukul 17.45. Mas Amran baru saja masuk kamar mandi. Ini waktu yang tepat. Gumamku menyemangati. Tanpa pikir panjang aku segera masuk kamar. Celana panjang Mas Amran yang tergantung di kastok, aku raih. Mencari-cari ponselnya dalam saku. Tak ada. Kucoba lagi mencari di saku kemejanya, di dalam tasnya, di bawah tumpukan baju. Innalillah… Nihil. Kemana ponsel itu berada?

Klek. Pintu kamar terbuka.
Aku was-was. Jangan-jangan Mas Amran. Tapi seketika itu juga ketakutanku sirna saat kepala Nayla nampak menyembul di celah pintu.
“Nayla,” aku menyapanya sambil tersenyum dipaksakan.
Tanpa sepatah kata pun anak kecil itu menyerahkan selembar kertas kecil padaku. Aku menerimanya. Nayla mengangguk lantas berlalu menyisakan berbagai pertanyaan dalam fikiranku. Dengan tangan bergetar aku membaca rentetan tulisan pensil Nayla. Sebuah susunan kata yang langsung memberikan lampu hijau di depan mata.
Ibu, ponsel Ayah ada di laci dapur, paling bawah. Kata sandinya 180316.
Mataku berkaca-kaca. Terharu, rupanya buah hatiku itu paham terhadap keadaanku selama ini. Cepat-cepat aku melangkah ke dapur. Kubuka laci paling bawah. Kusasar isi di dalamnya.
Benar. Ada ponsel Mas Amran. Kuraih dan kubuka locknya menggunakan kata sandi pemberian Nayla. Alahamdulillah, lock terbuka. Dengan hati berdebar, bercampur antara perasaan takut, was-was, dan senang. Kubuka sebuah pesan yang langsung muncul di layar ponsel. Berinisial Fajar S.

Saat kumulai membaca satu persatu dialog pesan antara Mas Amran dengan kontak berinisial Fajar itu. Astagfirullah… Pesan-pesan ini. Sejurus, langit-langit ruangan seakan runtuh menimpa tubuhku hingga hancur berkeping-keping. Sungguh aku tak kuat membacanya, Allah…
Benarkah pesan-pesan ini? Antara percaya dan tidak. Dialog pesan-pesan itu begitu bernada intim selayaknya pesan-pesanku dengannya saat kami mulai memasuki awal pernikahan. Dan kini ia melakukannya dengan… seorang lelaki? Yang menambah sesak hatiku ialah ada beberapa pesan yang bersifat vulgar. Apa mungkin Mas Amran… Astaghfirullah. Tidak, ini tidak mungkin.

Dalam kehancuran jiwa yang timbul-tenggelam. Mendadak sebuah tangan hendak meraih ponsel di tanganku.
“Dhea.”
Aku segera berkilah. Menjauh. Kedua tangan Mas Amran menarik lengan kiriku.
“Dhea, sini ponselnya!” teriak Mas Amran bernada garang.
Aku menggeleng, seraya berkilah menjauhkan tangan kananku yang memegangi ponsel –dari sergapannya.
“Tidak, Mas. Aku ingin tahu rahasia yang selama ini kamu sembunyikan. Jujur Mas siapa Fajar ini? Apa maksud pesan-pesan ini?” tanyaku bermosi bercampur tangis yang kutahan.
“Itu bukan apa-apa,” jawabnya pendek.
“Bukan apa-apa? Kamu pikir aku bodoh, Mas? Pesan ini sangat jelas. Aku tidak mau kamu bohongi lagi, Mas. Tidak mau,” teriakku cukup keras. Aku menangis.
Mas Amran menangkap tubuhku sambil masih berusaha meraih ponselnya. Ah, tubuhku kian lemas. Aku tak mampu menahan tenaga kekarnya. Plas! Ponsel itu jatuh ke tangannya.
Kuraih kerah kaos putihnya. Dengan bercucur air mata, aku berteriak tertahan.
“Mas Amran, kunci dalam berumah tangga ialah harus selalu ada keterbukaan dan kejujuran. Itu yang selalu kamu ulang diawal pernikahan kita, Mas.”
Mas Amran menarik paksa tanganku. Mendorong tubuhku menjauh. Lantas cepat-cepat pergi keluar melalui pintu dapur –masih dalam balutan sarung dan kaos putih saja. Aku mengejarnya.
“Mas Amran…”
Percuma. Ia tergesa-gesa berlari meninggalkan halaman rumah. Aku tak sempat mengejarnya barang satu langkah pun. Sementara itu hamparan langit kian hitam pekat. Kegelapan perlahan menyelimuti. Rintik hujan mulai terasa berjatuhan dari langit. Aku menangis di depan pintu. Menatap kepergian Mas Amran begitu saja. Jiwaku kalut, dipenuhi perasaan tak percaya, luka dan sedih.
Air mataku masih meleleh. Langit pun seolah ikut menangis menumpahkan rintik air hujan yang semakinlama semakin lebat. Samar-samar kudengar adzan magrib berkumandang disela-sela tumpahan air hujan.
Ya Allah, Mas Amran hendak kemana?

“Ibu…,” suara Nayla memanggil.
Aku tak bisa menghentikan tangisku. Terlebih saat kulihat raut wajah Nayla tampak bermuram durja. Kupeluk Nayla erat-erat. Ah, apakah sedari tadi Nayla menyaksikan pertengkaranku dengan Mas Amran? Ya Allah, bagaimana pandangannya terhadap kami berdua?

Cerpen Karangan: Iqbal Saripudin
Facebook: Iqbal Saripudin Muhammad
nama saya iqbal saripudin, mahasiswa tadris PGMI di kampus cirebon, sekaligus nyantri dipondok kebon jambu babakan ciwaringin cirebon…

Cerpen Semua Karena Nayla (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kertas Kosong

Oleh:
Sunyi yang selalu menemani malam ku beserta nyanyian jangkrik di sekelilingku. Hampa sudah terasa, pupus sudah smuanya dan kini ku hanya mengharapkan kenangan yang telah sirna itu. “Dooorrr….!” Seketika

Mawar di Ujung Senja

Oleh:
Bumi berotasi, berevolusi, begitupun hidup sebuah kupu-kupu berotasi dari ulat renta, buruk rupa, menjadi makhluk Tuhan paling diteladani keteguhannya. Siluet jingga menebarkan senyumnya untukku, “Selamat malam” gumamku tersenyum pula

Kertas dan Pena

Oleh:
Waktu begitu kejam tak pernah mempedulikan siapa pun, ia terus berjalan tanpa beristirahat barang sedetik saja. Meninggalkan mereka yang lalai. Dan berjalan beriringan dengan mereka yang sangat menghargainya. Tanpa

Cincin Kawin Ibu

Oleh:
Suara mesin jahit ibu sudah mulai terdengar, pertanda subuh sudah datang. Seperti biasa ibu meneriakiku untuk bangun dan salat subuh. “Bangun, Le. Sudah subuh,” Ibu yang sudah bangun lebih

Adilkah Untukku? (Part 2)

Oleh:
Sesampainya ia di masjid, ia melihat pak Hambali sudah berada di tempat wudhu yang berada di sebelah kanan masjid. Putra berjalan menuju ke arah pak Hambali dan kemudian kembali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *