Semua Karena Nayla (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 17 January 2017

“Ibu kok nangis?” tanya Nayla melihat air mataku jatuh saat menatap foto pernikahanku dengan Mas Amran delapan tahun silam.
“Ndak, Ibu ndak nagis kok,” kuusap air mata yang sedari tadi meleleh membasahi pipi.
“Ibu marahan ya sama ayah? Hmm… maafkan Nayla, Bu.”
“Ndak…,“ aku berhenti berucap. Bingung, hendak menjelaskan apa.
Nayla segera menyahut. “Oh ya, Bu. Dari pada Ibu sedih lebih baik temenin Nayla beli kebab turki. Di warung langganan Nayla itu lho, Bu.”
“Dimana?”
“Nanti Nayla kasih tahu deh. Ayo Bu sekarang!” pinta Nayla manja.
“Apa ndak salah? Malam-malam begini?”
Nayla mengangguk. Aku tersenyum mengiyakan.

Tak apalah malam-malam seperti ini aku menyetujui permintaannya. Toh ini bisa kugunakan sebagi refresing jiwa. Setelah sedari tadi aku menumpahkan air mata. Butuh sebuah ketenangan dan sementara ini kucoba untuk tidak memikirkan Mas Amran dulu. Sebab jika memikirkannya, hanya akan mengundang tangis saja.

Usai beres-beres sebentar serta mengunci pintu rumah, aku dan Nayla pergi menggunakan mobil –hendak membeli kebab turki langganan Nayla. Entahlah dimana. Di luar, angin malam menghembuskan dingin. Menusuk pori-pori kulit, maklum sisa-sisa aroma air hujan masih terasa, jalanan pun membasah, udara malam membasah. Langit malam nampak hitam pekat. Sesekali samar-samar terdengar petir menggelegar.

Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit perjalanan. Akhirnya kami sampai juga di depan Kedai Kebab Turki itu. Jika dilihat sekeliling tempat ini memang terasa asing bagiku. Di sekelilingnya pun kulihat hanya toko Kebab Turki dan beberapa toko lain yang masih buka, selebihnya telah menutup pintu rapat-rapat. Segelintir orang nampak lewat dengan langkah cepat. Satu dua kendaraan melintas. Lalu hening kembali menyelimuti.

Aku pesan tiga buah Kebab Turki rasa original. Kemudian duduk beradampingan dengan Nayla di sebuah bangku panjang di depan kedai itu –menunggu pesanan masak. Mataku melihat ke sekeliling ruangan kedai. Sepi. Rupanya hanya kami berdua yang membeli. Untuk mengusir kekosongan kubuka ponsel, kudengarkan lantunan sholawat nabi penyejuk hati, menggunakan headset yang kupasang di telinga –di balik jilbabku.
Sampai tak terasa pesananku selesai dan aku baru sadar, Nayla tak ada di sampingku. Astaghfirullah… Kemana Nayla. Aku mulai cemas. Keluar dari toko aku celingukan mencari Nayla. Kepada seorang penjaga parkiran dekat kedai itu aku bertanya. Ia memberi pentunjuk bahwa seorang anak kecil berbaju merah muda tak lama ini berjalan ke arah sayap kiri bahu jalan. Aku menurutinya.

Dari radius dua puluh meter langkahku terhenti. Kulihat Nayla berdiri tak jauh di samping sebuah rumah. Yang membuat langkahku terhenti ialah saat kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, pemandangan di depanku. Tepatnya di depan sebuah rumah itu.
Dua orang lelaki berpakaian kemeja saling berhadapan. Dekat, sangat dekat malah. Lelaki yang memakai kacamata itu menciumi punggung tangan lelaki di hadapannya. Lantas keduanya saling berpelukan. Lama. Begitu mesra. Layaknya sepasang kekasih. Sesekali lelaki berkacamata menciumi tengkuk lelaki dalam dekapannya. Mereka saling menikmati pelukan itu tanpa peduli dengan keadaan sesekiling.

Ketika lelaki satunya itu menyandarkan kepalanya di atas pundak lelaki berkaca mata. Hingga wajahnya bisa kulihat jelas dari tempatku berdiri. Aku terbelalak. Aku syok. Saat itu juga darahku seakan berhenti mengalir. Tulang-tulangku seolah dilolosi. Tubuhku lemas nyaris ambruk. Aku tak kuat lagi untuk berdiri. Bencana seperti menanti di depan mata. Ternyata lelaki itu… Mas Amran, suamiku sendiri. Innalilah…

Kulihat Nayla berjalan pelan mendekati Mas Amran. Ia meraih ujung kemeja ayahnya. Sambil bergumam lirih. “Ayah…”
Mas Amran tersadar. Ia melepaskan pelukannya. Terkejut mendapati Nayla sudah ada di sampingnya. Dan kali ini pandangannya tertuju padaku yang tengah berdiri mematung dengan gemuruh tangis luar biasa. Sungguh aku tak kuat lagi Allah.C epat-cepat aku berlari ke arah Nayla. Kuraih lengannya. Lantas berbalik arah, berlari menuju mobil. Mas Amran mengejar.
“Dhea, tunggu. Kamu jangan salah paham, Dhea,” teriak Mas Amran.
Aku tak peduli. Buru-buru aku dan Nayla masuk ke dalam mobil. Mas Amran menepuk-nepuk kaca mobil.
“Dhea, Dhea. Aku akan menjelaskannya, Dhea.”
Segera kutancap gas, meninggalkan Mas Amran yang berdiri di punggung jalan. Sejurus kemudian hujan turun begitu lebat. Aku masih sempat melihat Mas Amran di kaca spion. Ia duduk berlutut membiarkan tubuhnya basah kuyup tersirami air hujan.

Dalam perjalanan menuju rumah. Air mataku tak kunjung sirna seperti air hujan malam ini yang semakin lebat seperti tak ada tanda-tanda akan segera reda. Kuucap istighfar berkali-kali, bersamaan dengan hadirnya memori kejadian hari-hari yang lalu pada diri Mas Amran. Memori yang serasa meremas-remas hatiku. Hingga puncaknya ialah malam ini.

Bermunajat merupakan suatu hal yang paling urgen tatkala dihadapi sebuah keterpurukan. Seperti keadaanku kali ini. Dengan begitu, aku dapat sepuasnya mengadu pada-Nya, menangis, merintih, berdo’a, memohon, hingga lama kelamaan ketenangan jiwa perlahan hadir. Asma-asma Allah seakan menempel kuat dalam dinding-dinding hati. Allah serasa begitu dekat, lebih dekat dari dekatnya pembuluh nadi dengan kulit.

Di luar sana hujan malam masih terasa, meskipun nampak berubah menjadi gerimis seperti air mataku yang kian menyusut usai bermunajat pada-Nya. Baru saja keluar dari pintu kamar Nayla, terdengar ketukan pintu dari ruang tamu. Aku menghampiri. Bertanya-tanya siapa yang bertamu malam-malam begini. Belum sempat kusibakkan gorden, mendadak pintu langsung terbuka. Aku menghela napas berat tatkala seorang lelaki dalam balutan pakaian basah kuyub berdiri mematung menatapku, tatapannya sendu. Mas Amran.
“Dhea…,” lirih Mas Amran.
Perlahan ia melangkah mendekatiku. Aku mundur satu langkah. Mas Amran semakin mendekat, tangannya hendak meraih lenganku. Aku berkilah.
“Tidak. Jangan dekati aku, Mas.” kataku menggeleng. Ah, air mata ini. Aku tak kuat membendungnya lagi. Entah kenapa kali ini setiap aku mengingatnya terlebih melihatnya langsung, aku selalu ingin menangis.
“Dhea, kumohon dengarkan aku dulu. Aku ingin menjelaskannya, Dhea,” Mas Amran meraih lenganku, hendak menarik tubuhku.
“Jangan sentuh aku, Mas!” aku meronta. Mas Amran malah terus berusa memelukku.
“Lepaskan!”
“Kumohon Dhea, izinkan aku untuk bicara, aku akan menjelaskannya.”
“Semua sudah jelas, Mas. Mas membohongiku. Mas telah melakukan perbuatan yang hanya pantas dilakukan orang yang tak punya akal. Tidak pantas lelaki seperti kamu melakukannya,” teriakku bercampur gemuruh tangis.
“Iya, aku salah Dhea. Tapi sebentar saja, izinkan aku menjelaskannya. Aku tidak melakukan sejauh-seburuk yang mungkin kamu banyangkan, Dhea,” ujar Mas Amran dengan nada memelas, kini kulihat bulir air mata keluar dari sudut matanya. Entahlah air mata sungguhan ataukah air mata kepura-puraan.
“Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Mas. Tak ada yang perlu dijelaskan lagi. Tak ada. Lepaskan!” aku semakin meronta. Kupukuli tubuh Mas Amran sekenanya.
“Maafkan aku Dhea.”
Aku mendorong tubuh Mas Amran sekuat tenaga. Lantas berlari menuju kamar. Mas Amran mengejar. Aku cepat-cepat masuk kamar. Mengunci pintu. Kemudian menangis tersedu memeluk erat kedua lutut. Mas Amran menggedor-gedor pintu. Aku tak peduli. Satu kalimat terakhir yang sempat kudengar sebelum segera kututup telinga ialah…
“Dhea, maafkan aku. Izinkan aku untuk bicara. Aku salah, aku khilaf, Dhea. Aku yaris diperbudaknya. Tapi sungguh keadaaku tidak seburuk yang mungkin kamu bayangkan. Dhea…”
Kututup telinga. Beristighfar berkali-kali mencoba mengadirkan asma-asma Allah di seluruh tubuhku, hingga ketenangan menyelimuti hati dan jiwaku.

Dua puluh menit berlalu hatiku agak tenang. Walaupun kadua mata ini terasa sangat lelah karena sedari sore mengeluarkan air mata. Mendadak seperti ada dorongan kuat di sudut hatiku yang lain, yang menyuruhku untuk bangkit, melihat keberadaan Mas Amran. Terlebih saat terlintas di kepala bayangan air mata Mas Amran. Juga nada sendu dari rentetan ucapannya.

Aku keluar kamar. Mas Amran tak ada di depan pintu. Ketika kulihat pintu kamar Nayla terbuka lebaran dan Nayla tak ada di kamar. Aku mulai cemas. Langkahku menuju ruang tamu.
Pintu depan terbuka. Dalam keremangan lampu ruang tamu kusibakkan gorden. Dari jendela kulihat Mas Amran duduk bersandar pada dinding, sambil memeluk kedua lututnya. Dan Nayla menyelimuti tubuh ayahnya dengan handuk. Anak kecil itu seperti berbicara lirih. Sesekali kedua pundak Mas Amran berguncang, samar-samar kudengar lirih tangisnya. Lantas Mas Amran memeluk Nayla, air mata itu…

Allah… Apakah aku memang terlalu curiga pada suamiku hingga menumbuh suburkan prasangka buruk? Apakah kecurigaanku selama ini serta kejadian puncak beberapa jam yang lalu itu, sejatinya tak sesuai dengan fakta sesungguhnya? Atau mungkinkan kali ini ia tersadar telah melakukan perbuatan buruk itu?
Ampuni aku ya Allah, jika perlakuanku pada Mas Amran nyaris mendekati kedurkahaanku pada aimamku sendiri. Serta cobaan ini juga dirasakan anakku. Seharusnya tak kubiarkan ia ikut merasakannya, tak kubiarkan ia menyaksikan pertengkaran kami, tak kubiarkan ia melihat air mata kami –terlebih air mataku. Betapa egoisnya aku, lantas bagaimana dengan pemikirannya terhadap ayah-ibunya? Pasti ia pun dirundung duka, sedih dan bingung. Allah… betapa tak becusnya aku menjadi Ibu. Bagaimana jika kami bercerai? Cerai? Ah, tidak. Tak mau, aku tak mau itu terjadi. Kata itu tak ada dalam kamus kehidupanku juga sejarah keluargaku. Meski cerai merupakan perkara halal namun Allah membencinya.
Buliran air mata itu kini kembali meleleh membasahi pipi. Tiba-tiba lorong dinding hatiku seakan diterjang gelombang rasa takut dan bersalah. Pada Mas Amran serta Nayla.

Usai kejadian itu kami masih tinggal serumah. Mas Amran berkali-kali menghadangku, memintaku untuk mendengarkan penjelasannya. Kusambut dengan mata terpejam serta menutup kedua telinga, tanpa berbicara satu kata pun. Ia malah sempat hendak memeluk kakiku. Tetapi lagi-lagi aku tetap cuek, berlagak tak peduli meski sebenarnya dinding hatiku terasa membasah.

Selanjutnya aku lebih sering menghabiskan aktivitas di kamar solat. Menghindari pembicaraan dengan Mas Amran. Namun lama kelamaan aku malah merasakan kehampaan. Pun Nayla lebih sering menghabiskan waktu dengan ayahnya. Mungkinkah Mas Amran yang dulu kini telah kembali? Ah, aku jadi serba salah.

Malam itu pukul tiga dini hari. Aku hendak bersiap-siap melaksanakn solat malam. Sejurus kemudian tanpa bersuara Mas Amrandan Nayla masuk. Mas Amran langsug takbirotul ihram, juga Nayla di samping kiriku. keduanya seperti memintaku untuk melaksanakan solat malam bersama seperti malam-malam lalu, sebelum Mas Amran berubah. Apa boleh buat aku ikut menjadi makmum.

Selepas salam tiba-tiba Mas Amran langsung menarik tangan kananku. Menciuminya sambil menangis tersedu. Aku tak bisa mengelak.
“Dhea, aku minta maaf atas kejadian malam itu. Ya, aku salah. Aku khilaf Dhea. Sungguh selama ini aku nyaris diperbudak olehnya. Hingga sama sekali tak kusadari ia hendak menuntunku pada jurang kenistaan, Dhea. Hari-hari yang lalu aku memang berubah. Entahlah kenapa aku juga tak mengerti, kini aku menyadarinya. Tatapi sungguh aku masih mencintaimu, Dhea. Aku tak mau kehilanganmu. Izinkan aku kembali menjadi imammu yang dulu. Mengarungi samudera rumah tangga dengan gelombang laut dipenuhi angin kebahagiaan, menebar samawa disetiap waktunya bersama-sama, Dhea,” jelas Mas Amran bernada haru, ada desahan kesungguhan dari setiap napasnya, napas yang bercampur tangis.
Aku menarik tanganku. Menggeleng pelan. “Tidak semudah itu, Mas.” lirihku.
Mas Amran menatap nanar kedua mataku. “Semarah itukah engkau pada suamimu, Dhea? Seburuk itukah aku di matamu? Tak adakah sedikit cahaya dalam hatimu, menerima maafku, khilafku? Bukankah Allah sendiri ialah dzat yang selalu membuka pintu maaf bagi hamba-hambanya yang sungguhingin bertaubat, kembali pada-Nya?”
Aku menunduk tergugu. Mas Amran memelukku erat.
“Dhea, kumohon maafkan aku. Aku sangat bersyukur atas kejadian malam itu. Sebab kejadian malam itulah aku tersadar. Aku keluar dari dekapan selimut buruknya. Tak bisa kubayangkan jika kau dan Nayla tak ada pada malam itu. Mungkin aku sudah menjadi bagian dari kaum nabi luth yang terkutuk itu. Tapi tidak Dhea. Aku masih punya kalian berdua. Aku masih punya iman. Aku masih punya Allah. Kumohon maukah kamu memaafkan aku Dhea?”
Mas Amran menatapku lekat-lekat. Kutemukan sinar kesungguhan-kejujuran dari balik tatapannya.
“Wallahi, Demi Allah Dhea. Aku ingin kembali. Aku ingin kembali menjadi suamimu yang dulu. Aku ingin bertaubat.”
Kupejamkan mata. Perlahan aku mengangguk. Mas Amran tersenyum.
“Semua ini karena Nayla juga, Dhea. Karena Nayla aku tersadar. Karena ajakan Nayla, perkataan Nayla, tatapan mata bening Nayla, aku kembali menemukan imanku, Rabbku. Bukan nafsu buruk itu lagi yang kini menyelimuti jiwaku. Semua ini karena Nayla, Dhea. Buah hati kita,” kata Mas Amran lagi dengar bening mata bersinar seperti menyiratkan kebahagiaan. Ia segera menarik Nayla di sampingku yang sedari tadi hanya manatap kami dalam diam. Mas Amran memelukku dan Nayla erat-erat. Ia ciumi kepalaku dan kepala Nayla yang tertutupi mukena. Ia menagis tersedu seraya berujar lirih. “Aku mencintaimu, Dhea. Aku mencintamu buah hatiku Nayla. Aku mencintai kalian berdua, karena Allah…”

Pada malam itu juga kutemukan cahaya kebahagiaan yang sama sekali tak kuduga sebelumnya. Bangunan rumah tanggaku seakan kokoh kembali, dipenuhi selimut cahaya kebahagiaan. Kuucap rasa syukur barkali-kali. Kuucap asma Allah berkali-kali. Ini semua rencana-Nya. Aku semakin yakin Allah tak akan menguji kamampuan hambanya lebih jauh dari batas kemampuan yang dimiliki hambanya. Terlebih dalam menyempurnakan separuh agama ini. Aku harus selalu menerima setiap apapun rencana-Nya. Sebab aku yakinakan ada kejutan kebahagiaan tak terduga, lebih dari apa yang kita bayangkan. Meskipun di awal-awal rencana-Nya itu dipenuhi tangis dan luka menganga.

Pagi itu kami bertiga berkumpul di depan meja makan.Suasana rumah sudah seperti dulu lagi. Baru saja aku hendak mengambil nasi, suara bel rumah terdengar bersahutan.
Aku melirik sekilas pada Mas Amran, “Siapa Mas?”
Mas Amran menggelengkan kepala. Aku segera bangkit, melangkah menuju ruang tamu. Tatkala kubuka pintu. Deg! Waktu seakan terhenti. Aku tak percaya dengan pemandangan di depanku. Lelaki itu, lelaki berkaca mata malam itu. Ia berdiri menatapku tajam. Tangan kanannya memegang pegangan koper besar. Dan tangan kirinya memperlihatkan padaku sebuah cincin melingkar di jari manisnya.
“Aku sudah bertunangan dengan Mas Amran. Ini buktinya. Dan mulai pagi ini aku akan tinggal di rumah ini bersama suamimu. Menggantikan dirimu,” ujar lelaki itu seraya tersenyum sinis.
Aku syok. Apa maksud semua ini? Mas Amran menghampiriku. Wajahnya Nampak terkejut saat melihat lelaki di depanku.
“Apa maksud semua ini, Mas? Pura-purakah Mas Amran selama ini padaku?” tanyaku dengan mata berkaca-kaca. Mas Amran malah memandangiku serta meraih tangan kananku. Ia menggeleng. Dan…

Astaghfirullah… Aku terbangun. Ini hanya mimpi. Mimpi buruk. Kusematkan doa dan sedikit meludah ke kiri tiga kali. Allah apa maksud mimpi ini? Apakah sebuah pertanda bahwa selama ini Mas Amran ternyata hanya pura-pura? Dan ia telah menikah lagi, dengan seorang lelaki? Naudzubillah…

Kupandangi wajah Mas Amran dalam tidurnya. Bulir air mataku menetes jatuh mengenai pipi Mas Amran. Kupeluk tubuh Mas Amran seraya berujar lirih.
“Mas aku mencintaimu. Jangan sakiti aku lagi, Mas. Jangan bohongi aku, jangan tinggalkan aku.”
Mas Amran membalas pelukanku. Mengusap-usap punggungku.
“Ehmm… ,” desahnya lirih.
Aku melirik wajahnya. Matanya masih terpejam namun bibirnya menyunggingkan senyum. Ah, senyuman itu, Mas Amran. Allah, Naudzubillah. Mudah-mudahan ini hanya mimpi. Bukan pertanda buruk apalagi menjadi sungguhan. Kumohon ya Robb, lindungilah kami dari godaan syetan yang terkutuk, juga bala-bala yang mungkin akan muncul kembali disetiap perjalanan rumah tangga kami. Amin.

Selesai

Cerpen Karangan: Iqbal Saripudin
Facebook: Iqbal Saripudin Muhammad
nama saya iqbal saripudin, mahasiswa tadris PGMI di kampus cirebon, sekaligus nyantri dipondok kebon jambu babakan ciwaringin cirebon…

Cerpen Semua Karena Nayla (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku, Lenteraku dan Mataharinya

Oleh:
Aku terdampar di pojok taman, terduduk lemah bersanding dengan para bunga yang ceria dan rerumputan yang asyik menari, di sebuah kursi panjang aku menengadah ke lengit mencoba mencari-cari sesuatu

Ibuku Duniaku

Oleh:
“Aku benci ayah!!!” teriakku menggema di lapangan basket outdoor, di tempat ini kulampiaskan semua amarah dan kekesalanku. tempat ini menjadi saksi kepiluan sebuah pengkhianatan, kulempar bola basket dengan bengisnya

Apa ini Dari Nya?

Oleh:
Malam pekat dengan deru angin yang mecekam. Mendidih dalam dingin. Berdiri dalam sederet bulu tubuh yang mencekar. Merasuk dalam tulang. Menerobos gerbang hati. Mengetuk dalam getaran jiwa tuk bangun

Penggemar Rahasia Aisyah

Oleh:
Mungkin ini surat dan bunga yang ke seratus kalinya kuletakkan di lacinya. “Assalamualaikum Ukhti, Ana Inni uhibbuki fillah. Aku berharap engkau tersenyum membaca suratku.” “Dari: Penggemar Rahasiamu” Itulah isi

Kelontong

Oleh:
“Kakek belum tidur?” “Kamu tidurlah duluan, Sur… Tugas sekolah besok sudah dikerjain?” “Sudah, Kek.” “Ya sudah, tidurlah… Kakek masih beres-beres warung dulu.” Kakekku yang tua merapikan barang-barang dagangan di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Semua Karena Nayla (Part 2)”

  1. Mantap lah, entah kenapa aku ngakak ngebacanya, mungkin karena aku pernah jadi santri juga.
    Tetep semangat. Cerpen pertama di cerpenmu, tapi udah bagus. Sebal~
    Haha.
    Ditunggu karya2 selanjutnya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *