Semua Karenamu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 20 March 2015

Semua hari-hari yang kulalui kini terasa sangat berbeda dari masa kanak-kanakku dulu. Sekarang aku telah beranjak remaja. Aku tinggal dengan keluarga yang lumayan kental akan agama Islam. Ya… sejak kecil aku telah dididik untuk menjadi wanita solehah. Sewaktu sekolah dasar aku tidak bersekolah di SDIT ataupun MI melainkan di SD, namun orangtuaku tetap memberiku dasar-dasar ilmu agama yang membuatku tertarik untuk melanjutkan sekolah menengahku di MTs.

Namaku Azyan Danesh, aku biasa dipanggil Azy. Aku memiliki satu orang kakak laki-laki yang duduk di bangku SMA.
Semenjak kakak laki-lakiku masuk SMA, sungguh aku merasa sangat kesepian. Dulu sewaktu aku kecil, aku sering sekali bermain dengannya. Bahkan hampir setiap waktu aku selalu menghabiskan hari-hariku hanya untuk bermain bersamanya. Kakakku adalah sosok yang sangat aku banggakan. Dia sangat peduli dan menyayangiku, aku pun sama. Tapi kini… dia telah berubah. Sosok kepeduliannya kini telah memudar, entah karena pengaruh pergaulan atau bagaimana, aku pun tak tahu. Sosok yang menjadi temanku selama ini kini telah hilang.

Dulu aku sangat membenci kata pacaran, bahkan aku pernah berkata pada Umiku “mi… pokoknya nanti kalau udah gede, Azy gak mau pacaran,” Aku telah melanggar kata-kataku itu. Aku tidak tahu mengapa aku bisa berpacaran. Aku sangat nyaman sekali ketika aku mempunyai seseorang yang bisa aku ajak ngobrol. Aku tidak merasa kesepian lagi.

Di Mts aku dekat dengan banyak kakak kelas laki-laki maupun teman-teman laki-laki di kelasku. Bahkan aku pernah bergonta-ganti pacar. Tapi sekarang aku berpacaran dengan kakak kelasku yang bernama Kanz. Dia baik, perhatian, dan juga peduli. Aku berpacaran dengannya secara diam-diam tanpa diketahui Umi dan Abi. Karena aku tidak mau membuat Umi dan Abi kecewa karena tingkahku yang terbilang cukup berbahaya.

Sejak aku dekat dengan kak Kanz, hidupku terasa tidak sepi lagi. Aku juga sering berbagi cerita dengannya lewat SMS, Facebook ataupun Twitter. Kalau boleh jujur aku sama dia gak pernah melakukan hal-hal yang diatas batas kewajaran seperti berpegangan tangan ataupun yang lebih parah dari itu. Aku berpacaran hanya untuk mengisi kekosonganku yang dulu pernah diisi dengan hal-hal indah di masa kanak-kanakku bersama dengan kakak tercinta. Huft… mungkin aku adalah wanita terkejam yang ada di bumi ini karena aku telah memainkan perasaan seseorang yang mungkin telah menyayangiku dengan sungguh. Maafkan aku, kak Kanz… aku tidak terlalu percaya dengan hubungan ini, karena aku tak tahu garis takdir yang telah Allah tuliskan untukku dan juga kak Kanz. Namun aku menyayangimu sebagai kakakku.

“Kak mau kemana?” tanyaku pada kakakku yang sudah berpakaian rapi.
“mau ke rumah temen, nginep!” dia berlalu.
“Kak… masa aku ditinggal sendirian lagi?” teriakku tanpa ada jawaban. Aku cemberut sambil melanjutkan menonton TV.

Setiap sore aku selalu sendiri di rumah, Umiku mengajar ngaji anak-anak kecil, Abiku kerja, dan Kakakku selalu saja menginap di rumah temannya. Mungkin bisa dihitung berapa kali dia tidur di rumah selama satu minggu. ‘Kak… jangan lupa salat ya…’ isi SMS yang aku kirim untuknya.

Keesokan harinya secara tidak sengaja aku yang sedang berjalan-jalan dengan kak Kanz bertemu Kakakku di taman kota yang lumayan jauh dari rumah. Aku terkejut melihat Kakakku merok*k. Sungguh airmataku waktu itu sudah tidak terbendung lagi. Aku mendekati Kakakku, sementara kak Kanz tetap berada jauh di belakangku.
“Kak… ngapain kakak disini? Kakak ngerok*k? Kok berani-beraninya kakak ngerok*k? Kan Abi bilang gak boleh ngerok*k. Kakak pulang sekarang!” Kakakku menyembunyikan rok*knya.
“Kamu tuh masih kecil, gak tau apa-apa, kamu ngapain sih kesini? Mending kamu pulang, kakak masih ada urusan, pulang gih…” Kakak langsung pindah ke tempat lain.
Aku berlari ke arah kak Kanz sambil berderai airmata. “aku benci kakakku… aku benci dia… aku malu punya kakak kayak dia…” aku tutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
“kok kamu ngomongnya begitu? Bagaimanapun dia tetap kakak kandung kamu. Seharusnya kamu bisa cegah dia untuk melakukan itu, udah dong jangan nangis…” kak Kanz tersenyum padaku. ‘terima kasih ya Allah karena telah mengirim seseorang yang bisa membantu aku bangkit, aku menyayanginya karena-Mu ya Allah’ ucapku dalam hati. Aku menghapus airmataku, menarik nafas dalam-dalam.
“Dia kakakku… seharusnya dia selalu memberi contoh yang baik untukku,” suaraku melemah.
“adikku sayang… ketika salah satu di antara saudara kita berbuat salah, gak akan ada salahnya dan gak akan sia-sia jika seorang adik mengingatkan kakaknya untuk kembali ke arah yang benar,” kali ini dia memberi senyum yang paling manis mirip seperti kakakku.

Hari-hari pun berlanjut, semakin hari aku semakin jarang bertemu dengan kakakku. Rasanya seperti aku anak satu-satunya Umi dan Abi, HANYA AKU DAN TANPA DIA. Ada ataupun gak ada Kakak di rumah gak akan ada pengaruhnya lagi. Sungguh aku sangat sedih meskipun aku punya seseorang yang akan selalu menghapus airmataku setiap kali Kakak memaksa airmataku untuk keluar. Abi dan Umi sudah mengetahui Kakak merok*k. Jelas mereka menangis ketika mengetahuinya. Bagaimana tidak, Abi dan Umi telah mendidik anak-anaknya untuk menjadi anak-anak yang soleh dan solehah. Melihat Kakak yang telah berubah, mereka merasa telah gagal mendidik anaknya. Setiap hari Abi, Umi, dan juga aku selalu memberinya masukan mengenai rok*k yang banyak mendatangkan mudharat. Namun tetap saja dia melakukannya secara diam-diam. Sampai-sampai dia dilarang untuk menginap di rumah temannya lagi.

“Kakak kenapa sih ngerok*k?” aku duduk di sebelah kakakku yang sedang asyik dengan Hpnya di tempat tidur.
Kakak menaruh HPnya “gak semuanya harus kamu ketahui,” dia menatapku tajam.
“Apa salahnya seorang adik bertanya tentang perubahan kakaknya? Apa salah kalau aku mau kakak berubah kayak dulu lagi? Apa kakak tega ngeliat Umi dan Abi terus menangis gara-gara rok*k? Hanya sekedar rok*k kecil yang mudah terbakar merubah kakakku begitu saja? Adakah alasan yang jelas?” mataku sudah mulai berkaca-kaca, namun aku tahan.
“Kakak bosan dikekang sama Umi dan Abi, kakak gak boleh main dengan Si inilah Si itulah, masa teman harus milih-milih. Setiap pulang dari rumah temen selalu aja dimarahin. Rok*k itu pelampiasan kakak,” ucapnya sambil mengubah posisi tubuhnya.
“Umi dan Abi seperti itu juga punya alasan kak… Umi melarang kakak temenan sama Si itu mungkin karena ada sisi keburukan yang bisa membawa pengaruh negatif untuk kakak. Kak… Abi bukan mau marahin kakak setiap kakak pulang dari rumah temen kakak, tapi Abi itu sayang sama kakak. Abi takut kakak terpengaruh sama hal-hal yang negatif meskipun kakak selalu bilang bahwa kakak bisa jaga diri, sekarang apa kenyataannya?” aku berbicara dengan pelan dan tetap menahan agar airmataku tidak tejatuh berharap kakakku bisa memahami apa yang aku maksudkan.
“kamu pacaran kan? Ngaku sama kakak…” Dia mengalihkan pembicaraan.
“Aku telah kehilangan sosok yang dulu sering menemani aku bermain dan mengajari aku tentang kehidupan, kehilangan sosoknya membuat aku merasa sepi dan aku mencari sosok seperti dia yang bisa mengobati kesepianku,” aku menunduk. “aku kehilangan sosok kakak…” tangisku mulai menetes. “kak… perubahan kakak itu berdampak besar dalam hidup aku dan juga orangtua kita, kakak dulu perhatian banget sama aku. Semenjak kakak SMA, kakak jadi jarang di rumah padahal kakak tau kalau kakak pergi, aku jadi sendiri di rumah. Aku iri setiap ngeliat temen-temen aku yang akrab banget sama adiknya. Kak… kakak mau janji sama aku kalau kakak akan berubah? dan aku juga janji gak akan pacaran lagi. Oke?” aku tersenyum pada kakakku. Dia pun menyetujuinya.

Aku sudah tidak merasa sepi lagi. Kakakku telah memenuhi janjinya. Akupun telah memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan kak Kanz. Walaupun rasanya berat berpisah dengan kak Kanz namun aku dan kak Kanz yakin bila kita jodoh kita akan dipertemukan lagi suatu saat nanti. Aku juga senang melihat senyum di wajah kedua orangtuaku. Umi dan Abi sudah tidak memarahi Kakakku lagi. Aku bangga padamu Kak…

Saat aku pulang sekolah, secara tak sengaja aku melihat kakakku dari kejauhan. Aku menghampirinya, “kakak…” panggilku dengan suara keras. Aku melihat Kakak langsung melempar sesuatu ke tanah. Aku mendekati benda itu, ternyata benda itu adalah rok*k. “KAKAK? JADI KAKAK SELAMA INI BOHONGIN AKU? AKU RELAIN PUTUS SAMA KAK KANZ DEMI JANJI AKU KE KAKAK, UMI DAN JUGA ABI. TAPI KAKAK TEGA-TEGANYA BOHONGIN AKU, UMI, DAN ABI. AKU BENCI KAKAK…!” aku berlari menjauhi Kakak. Kakak memanggilku namun tak aku hiraukan.
NGGG… BRAK…
Tubuhku sudah tidak berdaya lagi. Pandanganku sekejap kabur. Aku terserempet sebuah mobil setelah aku melihat kakakku merok*k di depan mataku. Aku sudah tidak kuat untuk berkata, mengucapkan satu patah kata pun itu sangat sulit. Dalam pandanganku yang sudah kabur, aku melihat Kakak menangis sambil berkata namun aku tak bisa mendengarnya. Airmataku menetes, dan sekejap semua gelap.

‘Kak… sulit untuk aku katakan bahwa sosokmu begitu berharga dalam hidupku.
Kak… rasanya begitu menyayat hati ketika kakak sudah jarang menemani aku lagi.
Kemanakah sosok Kakak yang aku kenal dahulu?
Yang tak akan pernah rela melepas aku untuk mengetahui seluruh isi dunia ini sendirian
Yang akan selalu menggenggam tanganku
Kak… Kakak terlalu jauh melangkah
Bahkan sampai Kakak melepas genggaman tanganku
Kak… aku mengerti akan kesibukan kakak di SMA yang banyak tugas.
Tapi Kak… aku mau setidaknya kakak meluangkan waktu untuk bercanda gurau dengan aku, Umi, dan juga Abi.
Kak… mungkin tangisku tak akan memberi pengaruh besar bagi kakak.
Aku hanyalah anak kecil yang seharusnya tidak ikut campur urusan kakak dan rok*k itu.
Aku membenci rok*k itu bukan membenci kakak.
Walaupun kakak sudah tidak mau menemaniku lagi, tapi setidaknya aku mau kakak tetap ada di setiap hari-hariku sampai nanti Allah akan mengambil nyawaku.
Kalau kakak terus menerus menghisap rok*k, lalu kakak sakit parah gimana?
Kakak pasti tidak bisa melakukan aktivitas kakak.
Kakak gak bisa lagi nginap di rumah teman, gak bisa lagi sekolah.
Aku takut masa depan Kakak hancur hanya karena benda itu.
Kak… aku hanya ingin Kakak tau bahwa Aku menyayangi Kakak lebih dari apa yang Kakak tau.
Aku ingin sekali, Kakak berkata “Kakak menyayangimu Azy… Kakak juga menyayangi Umi dan Abi…”
Aku hanya ingin Kakak berubah seperti dahulu.
Dan Aku janji tak akan melakukan hal-hal bodoh untuk mencari seseorang untuk mengisi kekosonganku.
Semua ini karenamu Kak…’

Cerpen Karangan: Muthia Zahra
Facebook: muthi zahra

Cerpen Semua Karenamu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu Dibalik SMS

Oleh:
Sejak aku masuk SMA, aku meninggalkan ayah dan ibuku. Aku biasanya pulang sekitar sekali dalam satu bulan. Biasanya kami bertukar kabar melalui SMS, kami tidak punya waktu yang cocok

Warna Warni Pelangi

Oleh:
Pernahkah kalian melihat pelangi? Jika sudah, apa yang kalian katakan? Sangat indah, bukan? Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Penuh dengam warna. Warna-warni yang menghiasi birunya langit,

Cita-Citaku

Oleh:
Semua orang pasti memiliki cita-cita. Termasuk aku. Aku mempunyai cita-cita yang sangaat tinggi. Hanya saja, cita-citaku ini akan membuat orang di sekitarku merasa sedih, tetapi membuatku bahagia. Minggu pagi.

Ayah, Kau Yang Tak Tergantikan

Oleh:
Langit sore di pemukiman pinggiran kota Bontang kala itu cerah terbentang indah memancarkan sinar yang lembut menandakan malam mulai menjemput. Suara merdu syair sholawat memecah kesunyian sore memberi tanda

Kebebasan

Oleh:
Otakku masih bekerja dengan normal, Tapi aku berfikiran bahwa aku sudah gila. Penglihatan dan pendengaranku masih berfungsi dengan baik, Hanya saja, aku beranggapan bahwa aku telah lama menjadi seorang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *