Senja Sore di Masjid Biru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 15 March 2014

Sebut saja namaku Alissha, aku adalah gadis muslim yang berumur 18 tahun. Aku seorang gadis berdarah campuran, ayahku adalah seorang Pakistan dan menikah dengan ibuku yang berkewarganegaraan Inggris. Aku memiliki 1 saudara laki-laki yang masih berumur 12 tahun, dia bernama Hassir. Selama 17 tahun aku tinggal di kota Leeds di daerah West Yorkshire, Inggris. Merupakan salah satu wilayah metropolitan dan daerah terbesar kedua di Inggris menurut luas wilayahnya. Aku adalah seorang gadis yang baru saja menamatkan pendidikan sekolah menengah atas di salah satu sekolah terkemuka di kota ini. Prestasiku tergolong baik bahkan sangat baik secara akademik maupun non-akademik. Aku memenangkan lomba-lomba ilmiah antar Inggris Raya bahkan aku pernah mengikuti lomba ilmiah internasional. Karena aku selalu mengutamakan pendidikan dan mengambil berbagai macam kursus setelah jam sekolah usai, sekarang aku berhasil mendapatkan beasiswa di University of Istanbul. Namun aku tidak pernah tahu mengapa sampai di umur 17 tahun ini aku tidak pernah merasakan kebahagiaan yang penuh. Aku selalu merasa biasa dengan apa yang telah aku dapatkan, aku selalu merasa bahwa semua prestasi yang aku dapatkan hanyalah karena kerja keras yang telah aku lakukan. Aku lupa bahwa aku dibantu oleh-Nya

Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku adalah seorang muslimah dan pula bukan seorang muallaf. Ayah dan Ibuku mengerjakan kewajiban Islam dengan baik, begitu juga adikku. Ibuku bahkan rajin mengamalkan puasa-puasa sunnah dan Ia pun menggunakan kerudung terjulur panjang dengan sempurna. Berbeda denganku, walau aku seorang muslim aku tidak menggunakan jilbab, aku jarang bahkan hampir tidak pernah berpuasa sunnah, sholatku pun masih 1-2 kali sehari. Itu pun kalau disuruh ibuku. Ibu memang sering menasehati tentang berbagai macam kewajiban sebagai muslimah dan aku pun tahu persis semua kewajiban itu. Hanya mengetahui saja.

Sama seperti layaknya remaja pada umumnya, aku suka berpakaian secara trendi dan juga pergi ke tempat-tempat dimana biasanya remaja kota Leeds berkumpul dan juga aku bersama dua teman ku Anne dan Karinee sering menghabiskan waktu malam sabtu kami di La Bottega Milanese, salah satu café terkenal di kota Leeds. Tak ketinggalan pula dengan cara berbohong kepada ibu, aku dan temanku cukup sering mengunjungi club malam di kota ini. Biasanya aku tidak pulang, aku bilang pada ibu bahwa aku mengerjakan tugas untuk praktek ilmiah sekolahku sehingga aku harus menginap di rumah Karinee. Sejak memasuki umur 15 tahun aku mulai mengenal berbagai hal-hal yang harusnya tidak aku lakukan, aku pernah mer*kok, aku mem-piercing lidahku selama ayah, ibu dan Hassir pergi mengunjugi sanak saudaraku di London. Satu hal yang harus aku ulangi sekali lagi, bahwa aku tetap menjadi siswi yang berprestasi di sekolahku. Sehingga ayah dan ibu tidak terlalu mengetahui kegiatan liarku. Aku selalu berharap agar cepat menjadi mahasiswi lalu kuliah di luar negeri dan hidup sendiri, agar aku dapat menjadi bebas sepenuhnya, karena hal itulah aku sangat bahagia sekali pengajuan beasiswa ku diterima oleh University of Istanbul.

Akhirnya hari yang sudah aku nantikan datang juga. Aku sudah mengemasi seluruh barang-barangku serta semua keperluan administrasi yang aku butuhkan. Ayah dan ibu mengantarku ke Leeds Bradford International Airport. Seperti orangtua pada umumnya, tentu banyak sekali nasehat yang ayah dan ibu berikan kepadaku. Walau hidup mandiri adalah salah satu keinginanku, di sisi lain aku sangat sedih harus meninggalkan mereka. Ya wajar saja, mereka tetap orangtua yang aku cintai. Aku ingat sekali pesan ayah di bandara Ia berkata “bawalah dirimu sebaik mungkin, tanpa terkecuali”. Cukup lama kami melakukan perpisahan ini, aku lihat ibu menangis begitu juga Hassir. Namun aku berjanji kepada mereka bahwa setiap setelah 2 semester aku akan mengunjungi mereka.

Saat ini aku sudah berada di dalam pesawat, aku tidak tahu perjalanan ini memakan waktu beberapa lama yang pasti sekarang aku sedang mengingat kenangan-kenanganku di Inggris. Semua kepingan flashback bermunculan di kepalaku hingga membuatku tertidur. AC pesawat ini terlalu dingin sehingga selama aku tidur aku mengeluarkan gerakan-gerakan yang sangat menganggu. Aku mencoba mencari sisi mana yang mengurangi rasa dingin ini.

Setelah 20 menit kemudian aku merasakan tubuhku menjadi lebih baik, dingin yang tadi merasuk tulang terasa sangat berkurang. Karena aku heran apa yang menyelimutiku, aku kemudian membuka mataku dan melihat dirikku ditutupi oleh kain panjang, tebal berwarna hitam. Tentu saja aku sangat terkejut, tiba-tiba seorang perempuan berkerudung panjang yang duduk di sampingku tersenyum. Sepertinya perempuan ini sebaya denganku. Lalu ia berkata, “aku tadi melihat, sepertinya kamu sangat kedinginan. Kebetulan aku membawa jubahku, lalu menyelimutimu. Maaf kalau aku tidak sopan” . Mendengar pernyataan itu pun aku tersenyum seraya mengucapkan terima kasih padanya, kemudian aku bertanya tentang dirinya dan dari situ aku ketahui bahwa dia bernama Shamirra yang juga merupakan warga Inggris, tapi dia berasal dari Manchester. Dia juga seorang calon mahasiswi baru di universitas yang sama denganku. Mengetahui hal itu, aku sangat senang sekali karena setidaknya aku sudah mendapat teman di Turki.

Perjalanan yang melelahkan ini akhirnya berakhir. Aku tiba di Istanbul AtatÜrk Airport, namun sayangnya aku harus berpisah sementara dengan Shamirra. Dia dijemput oleh saudaranya yang tinggal di Turki, dan aku harus naik taksi untuk menuju asrama punya teman ibuku yang bernama Ibu Aliffah. Aku sangat beruntung ibu mempunyai kenalan disini, karena aku malas harus repot-repot mencari tempat tinggal di Negara ini. “hmm.. ternyata Turki jauh lebih indah dari yang aku pikirkan” gumamku dalam hati. Pemandangan di Turki membuat lelahku sedikit hilang. Di kanan kiri ku penuh dengan berbagai jajanan khas Turki, apalagi Kebab merupakan makanan yang paling terkenal.

30 menit perjalanan dari bandara menuju asrama Ibu Aliffah, dari luar asrama ini terlihat sangat manis dengan warna coklat muda dengan ukiran warna krem serta jendela yang tinggi dengan kusen yang berwarna coklat dan pohon besar di sebelah kiri bangunannya. “Assalamu’alaikum…” aku ketuk pintu utama asrama ini. Setelah itu keluarlah seorang perempuan paruh baya yang menyambutku dengan hangat, dan ternyata Ibu Aliffah. “selamat datang Alissha, ibu sudah lama menanti kedatanganmu untuk tinggal disini” sapanya sambil mempersilahkan ku masuk. Sembari ibu Aliffa memberitahu sedikit tentang peraturan di asrama ini, aku melihat sekeliling ruang tamunya yang penuh dengan kaligrafi arab. Kemudian ibu Aliffah mengantarkan aku ke kamar yang bersebelahan dengan musholla sederhana di asrama itu. Setelah masuk ke dalam kamar aku langsung merapikan barang-barangku lalu mandi dan kemudian aku tidur.

Jam menunjukkan pukul 3 sore, aku pergi keluar kamar berniat untuk berjalan-jalan di sekitar asrama. Saat aku memakai sepatu ku, aku melihat banyak sekali remaja berkerundung panjang sedang duduk di depan mushalla. Salah satu dari mereka melihatku lalu tersenyum dan tentu saja aku membalas senyumannya, walaupun aku tahu pasti mereka sangat aneh karena aku tidak menggunakan kerudung layaknya penghuni asrama lain. Namun aku tidak sepeduli itu, aku masih belum ingin mengenakannya. Tanpa memikirkan perempuan tadi, aku pergi menuju gerbang asrama dan disitu aku sangat tak menyangka bahwa bisa bertemu Shamirra! “hei sham, aku tidak tahu kau disini juga..” sapaku tanpa mengucapkan salam “assalamu’alaikum Alissha, iya aku kesini karena Ibu Aliffah memang membuka majelis untuk remaja di mushalla asrama ini.. kau mau kemana Alissha?” Tanya shamirra dengan wajah bingung. “oh aku hanya mau berkeliling sebentar, sekalian membeli makanan..” jawabku singkat lalu meninggalkan Shamirra.

Keesokkan harinya aku bersiap untuk pergi ke universitasku, aku diarahkan oleh Ibu Aliffah untuk menggunakan transportasi umum di kota ini. Sesampainya di kampus, aku bertemu dengan teman-teman baruku dan ternyata aku satu kelas dengan Shamirra. Kegiatan di universitas ini terdapat 12 kampus. Antara lain adalah, Beyazit, Vefa, Bakirkoy, Laneli-Vezneciler, dan lain-lain. Aku dan Shamirra terdapat di kampus Beyazit yang meliputi Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Politik. Aku mengambil fakultas hukum, karena aku sangat tertarik di bidang ini.

1 tahun kemudian…
Tanpa terasa aku sudah cukup lama ada kota ini, semuanya sejauh ini berjalan dengan baik. Prestasiku 2 semester ini cukup memuaskan. Semuanya terlihat baik. Persahabatan ku dengan Shamirra pun tetap berlanjut sampai sekarang. Kami sudah banyak mengetahui tentang diri kami masing-masing. Setelah jam kuliah selesai, Shamirra memintaku menemaninya ke masjid paling terkenal di Turki yaitu, Masjid Biru. Dilihat dari luar, masjid ini memang tidak berwarna biru. Biru adalah warna interior masjid tersebut. Aku tercengang melihat keindahan masjid ini, masuk ke dalam kompleks kita akan melewati taman bunga yang dilindungi pepohonan yang rindang serta tempat wudhu yang berderet panjang menyambut kita memasuki masjid ini. Masuk masjid ini diwajibkan untuk menutup aurat, lalu Shamirra meminjamkan kerudungnya kepadaku dan aku mengikutinya masuk. Saat itu adalah waktu Ashar. Aku beralasan halangan untuk shalat kepada Shamirra, aku menunggu Shamirra di kursi taman bunga tepat di bawah pepohonan rindang di sudut masjid ini. Suasana sore itu terlalu indah, langit terlihat orange dan burung dara penuh beterbangan di atas kubah masjid ini semilir angin meniup kerudungku dengan lembut. Tiba-tiba aku mendengar suara laki-laki yang sedang mengaji. Suaranya indah, walau aku tidak mengerti tajwid aku yakin sekali dia membacanya dengan sempurna. Alunan al-Quran tersebut, seakan membawa ku melayang ke tempat yang indah tanpa sadar aku menitikkan air mata. Aku mencoba mencari sumber suara yang ternyata 6 meter dariku. Dia berwajah khas Turki, hidung mancung dengan mata coklat dan berkulit putih. Setelah aku lihat-lihat ternyata aku pernah melihat dia sebelumnya, dia satu fakultas denganku hanya beda kelas, kalau tidak salah dia bernama Fatih. “Sial! dia mendapatiku sedang melihatnya mengaji”. Dia tersenyum simpul, lalu kembali mengaji. Lalu membuatku kembali terhanyut dalam ayat-ayat suci itu. “Alissha.. maaf membuatmu lama menunggu ayo kita pulang!”, suara Shamirra memecahkan keheningan lalu aku cepat-cepat menyapu air mataku. “Sham, bagaimana kalau kita jalan-jalan sekitar masjid ini?” ajakku. Shamirra mengangguk sambil tersenyum.

Udara sore itu semakin dingin, anginnya semakin kencang tapi terasa sangat mendamaikan kicauan burung beradu dengan suara-suara orang mengaji di sekitar masjid merupakan kombinasi yang sempurna menurutku. Selama kami mengitari masjid itu, aku bertanya banyak tentang Islam kepada Shamirra. Aku seperti seseorang tidak pernah mengenali Islam sama sekali. Dia pun sepertinya menanggapi dengan sangat senang hati, bahkan dia mengajakku untuk ikut di majelis milik Ibu Aliffah. Perbincangan kami semakin mendalam, dimulai dari yang paling sederhana. Shamirra memintaku untuk menutup aurat. Dia cerita kepadaku tentang hukuman para wanita muslim yang tidak mau menutup aurat, sehingga membuat tubuhku merinding.

“Allahuakbar.. Allahuakbar…!”
Terdengar suara adzan magrib yang menghentikan permbicaraan panjang kami. Mendengar adzan Shamirra langsung berjalan ke dalam masjid lalu aku mengejarnya dan berkata bahwa sebenarnya aku sedang tidak halangan, aku hanya beralasan, malas. Shamirra tertawa kecil dan mencubit lenganku, lalu dia menarik tanganku dan mengajaku mengambil wudhu. Kami mengikuti shalat berjama’ah, dan itu untuk pertama kali aku shalat dengan perasaan yang tenang ketika sujud pun aku menangis sejadi-jadinya. Masjid ini di desain sangat baik walau dalam kondisi paling penuh sekalipun, semua yang ada di masjid tetap dapat melihat dan mendengar imam. Karpet lantai masjid berasal dari tempat pemintalan sutera terbaik. Aku jadi ingin mengajak Ayah, Ibu, dan Hassir kesini.

Baru kali ini aku merasa damai secara hati, walaupun selalu mendapat prestasi yang sangat baik. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini. Setelah selesai shalat, aku meminta Shamirra untuk menemaniku membeli jilbab beserta pakaiannya. Dia tersenyum lalu memelukku. Karena selama ini dia selalu menasehatiku tanpa pernah aku tanggapi.

Kami keluar dari kompleks masjid dan mengunjugi pusat pertokoan di dekat masjid. Istanbul waktu malam menjadi lebih indah. Cahaya kubah Masjid Biru menerangi sekitaran jalan, ditambah kilauan lampu jalan yang berwarna-warni serta para penjual di sekitar jalanan tersebut. Aku dan Shamirra memilih beberapa setel baju. Aku tidak cukup tahu, maka dari itu aku percayakan sepenuhnya kepada Shamirra untuk memilih. Aku sangat beruntung aku ditakdirkan Allah untuk bertemu dengan Shamirra.

Malam sudah semakin larut, kota ini tetap ramai. Setelah mendapatkan baju, aku dan Shamirra kembali ke masjid untuk melaksanakan shalat Isya’, untungnya Shamirra menelpon saudaranya untuk menjemput kami di Masjid Biru karena saat itu sudah pukul 9 malam.

Sampainya di asrama, aku memeluk Shamirra sekali lagi dan mengucapkan terima kasih kepadanya yang masih mau menjadi temanku walau imanku tidak sebaik dia. Aku masuk ke dalam kamarku, lalu mencoba memakai baju yang aku beli tadi. Aku menutup mata dan mencoba mengikrarkan dalam hati, bahwa aku harus memakainya apapun pendapat orang. Saat kuliah pun aku menggunakan baju panjang ini, sebagian besar teman-temanku ikut senang melihat perubahan penampilanku. Saat istirahat belajar pun Shamirra mengajakku untuk ikut ke dalam komunitas mahasiswi Muslim Inggris yang kuliah di universitas ini. Disana aku seperti menemukan “rumah” dan menemukan Islam yang aku hilangkan selama ini.

Seperti yang aku janjikan kepada orangtuaku, bahwa setelah 2 semester aku akan pulang ke Leeds. Aku sudah tiba kembali di Leeds Bradford Int. Airport. Kota ini tidak berubah, selalu ramai dan selalu sibuk. Aku sudah tidak sabar kembali melihat Hassir yang selalu memakai jersey Liverpool kesayangannya walaupun selama ini aku juga tidak terlalu sering bermain dengannya. Aku rindu dengan Anne dan Karinee sahabat sekolahku, terutama aku merindukan ayah dan ibu.
Menunggu sekitar 15 menit. Ayah, ibu dan Hassir akhirnya datang. Aku memeluk Hassir, walaupun aku tau dia agak ragu mengenaliku karena sebelum memelukku dia berkata “are you the real Alissha? I must be wrong” saat itu aku hanya tertawa kecil dan membalasnya dengan “no! I am not Alissha, I am the “new” Alissha!!”. Ibu dan Ayah sangat bahagia melihat penampilan baruku ini. Terutama Anne dan Karinee yang menyangka aku sudah gila dengan penampilan baruku ini, tapi di satu sisi mereka sangat mendukungku dengan baik. They are always be my best friend and Shamirra is my sister. She is like my savior from Allah to save my life.

Cerpen Karangan: Tarissa Azhr
Blog: Itsreallyridiculous.blogspot.com
AN 18 YEARS OLD GIRL 🙂

Cerpen Senja Sore di Masjid Biru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dik Anah

Oleh:
Sore itu madrasah dipenuhi dengan adik-adik yang mau mengaji. Semuanya sekitar 500an anak, yang laki-laki memakai baju koko seperti yang dipakai ngaji pada umumnya. Dik anah merupakan murid kelas

Ada Tuhan

Oleh:
Aku tak bisa mengerti dari mana dan bagaimana semua ini berawal. Bagaimana rasa takut tak wajarku yang semakin membesar hingga meruntuhkan optimismeku. Aku hanya gadis biasa, aku bahkan tidak

Kerudung Pertamaku

Oleh:
“Nia, bangun nak jam segini kok masih tidur aja, ayo cepat mandi” terdengar suara perempuan yang khas dan merdu dengan penuh kasih sayang membangunkanku dari tempat tidurku yang berselimut

Cahaya Kerinduan Rose

Oleh:
Seperti mawar yang begitu anggun dengan mahkotanya yang berwarna merah, seperti mawar yang kuat dengan banyaknya duri disekujur tubuhnya, dan seperti mawar yang harumnya begitu memabukkan bagi siapapun yang

Pelangi Kehidupanku

Oleh:
Teeeeetttt…!!! Aku gelagapan dari terjagaku. Ada sesosok jelek yang berdiri di depan kaca. Ya, itu aku. Yang suka berdiri memandangi diriku setelah bangun dari tidur. Sriik… Sriiik… Perlahan aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Senja Sore di Masjid Biru”

  1. Farida Azzahra says:

    Cerpen ini sangatlah bagus dan membuatku menitihkan air mata

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *