Senyuman Via

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 24 August 2013

Livia Maharani Alfaro atau yang lebih dikenal dengan ‘VIA’ adalah seorang gadis SMA yang amat cantik, kulitnya kuning langsat, tubuhnya langsing, tinggi semampai, rambutnya yang panjang dipirang berwarna merah menyala sehingga menambah kecantikan sang kembang sekolah tersebut. Bukan hanya dari parasnya saja yang membuatnya terkenal tapi juga disebabkan karena ia merupakan anak dari Adrian Alfaro seorang bussiness man yang kaya raya seantero indonesia. Hal tersebut membuat Via hidup dalam dunia yang glamour dan terkesan mendewakan uang. Berbeda dengan Via, Merliana fajri alfaro atau Ana, kakak dari Via malah kebalikannya, Ana tidak senang dengan kehidupan glamour bahkan sangat memegang teguh Agama yang dianutnya. Itu semua Ana dapatkan karena sewaktu berusia 5 tahun, ia diangkat anak oleh paman dan bibinya, kemudian dibawa ke Arab saudi untuk di didik.

Pada suatu siang Via datang ke kantor ayahnya, tapi karena ‘sibuk’ facebook an sehingga tanpa disadari menabrak Budi, seorang pemuda yang bekerja sebagai office boy di kantor ayahnya hingga jatuh.
“Dasar, gak punya mata ya loe? kalo jalan liat-liat donk! sakit tau!” kata via yang berusaha bangun sambil merapikan pakaiannya.
“Maaf ya mbak, aku gak sengaja” kata budi yang amat merasa bersalah.

Via pun berlalu meninggalkan budi dengan marah dalam hati, budi pun kembali bekerja. Via marah-marah masuk ke ruangan kerja ayahnya, ayahnya yang sibuk mengerjakan agenda kantornya tidak memperhatikan muka sang anak, via mendekati meja sang ayah dan dengan gaya manjanya meminta uang jajan untuk happy-happy. Ayahnya memberi uang 5 juta, via dengan senang langsung memeluk sang ayah dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu, via langsung pergi bersama tara dan vivi, sahabat dikala senangnya ke klabbing. Mereka foya-foya sampai jam 2 pagi lalu pulang dalam keadaan mabuk.

Besok malamnya, via berlari ke luar rumah, karena orang tuanya sedang bertengkar hebat dan bahkan hendak bercerai padahal sebentar lagi akan bertemu dengan bulan penuh berkah. Sudah seminggu ini, kedua orang tua via sering bertengkar dengan berbagai hal kecil sebagai pemicunya. Malam itu lagi-lagi tuan dan nyonya alfaro bertengkar hebat, melihat itu via duduk dan menangis tersedu-sedu di sebuah taman
“Pakailah saputangan ini untuk menghapus air mata di wajah cantikmu adikku sayang” kata seorang gadis cantik berkacamata dengan jilbab menutupi auratnya.
Via berbalik dan terkejut ternyata gadis itu adalah Merliana fajri alfaro, kakak kandungnya yang selama ini berada di Arab saudi menjadi mahasiswi. Mereka ngobrol panjang lebar, ana menenangkan hati adiknya yang sekarang ini sedang labil. setelah itu mereka pulang dan masuk kamar tanpa memperdulikan kedua orang tuanya yang masih saja terus bertengkar. Ana mengajak adiknya sholat bersama, tapi via menolak halus ajakan tersebut dengan alasan ia mau menenangkan diri dulu (sebenarnya via menolak karena ia tidak tahu caranya sholat tapi ia malu mengungkapkannya).

Pada hari-hari berikutnya, via selalu memperhatikan setiap kegiatan kakaknya dan apabila kakaknya sedang mengaji, via merasa hatinya sangat tenteram, semakin lama via merasa sangat ingin mempelajari yang selama ini ia “lupakan”. Malam itu, via datang menemui kakaknya yang saat itu telah selesai melaksanakan sholat.
“kak, boleh nggak via minta diajarin sholat?” kata via sambil merayu kakaknya dengan penuh harap.
Ana pun terkejut mendengar pernyataan adiknya itu karena selama ini, ana mengenal via sebagai sosok gadis yang enggan sekali melaksanakan sholat.
“pastilah kakak mau adik ku sayang?” kata ana sambil tersenyum sangat senang
Via mulai berlatih sholat, membaca Al-Qur’an, yang lebih menakjubkan ana, via sudah mulai mengenakan jilbab dan sedikit demi sedikit mulai meninggalkan kebiasaan hidupnya yang glamour. Ana dengan telaten membimbing adik yang amat disayanginya hingga via benar-benar berubah menjadi kepribadian baru, sekarang via pun menjelma menjadi gadis cantik yang menjadikan agama sebagai tameng dan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya.

Beberapa hari kemudian, kejadian terberat dalam kehidupan kedua kakak beradik itu pun terjadi. Kedua orang tua yang mereka sayangi akhirnya berpisah juga, via yang tidak bisa menerima hal tersebut kabur dari rumah dan dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan karena motor yang ia bawa menabrak sebuah mobil sehingga ia pun terluka berat, tapi untungnya ia segera dibawa kerumah sakit oleh warga setempat. Via memang langsung segera dibawa ke rumah sakit tapi ia mengalami koma panjang. Seluruh anggota keluarga sungguh sangat panik, detik demi detik Ana merawat adiknya itu dengan penuh rasa kasih sayang dan tak lupa setiap ia habis sholat, dilantunkannya bacaan ayat suci Al Qur’an di telinga via yang saat itu masih terbaring di atas ranjang dalam keadaan tak sadarkan diri, moment itu membuat tuan dan nyonya Alfaro langsung berpikir dan memutuskan akan kembali bersama, mereka berjanji akan mengubah sifat dan berusaha selalu rukun. Ana masuk ke kamar via,
“cepetlah sembuh dek papa dan mama sudah rujuk sayang” kata ana sambil membisiki adiknya tersebut dengan cucuran airmata bahagia, Kabar itu ternyata membawa dampak positif bagi kesehatan via.

Kondisi kesehatan via semakin baik, dan akhirnya via pun sadar dari komanya, membuat seluruh keluarga sangat senang, terutama sang kakak, ana sungguh bahagia melihat senyum sang adik muncul kembali. Via pun diperbolehkan pulang,

malamnya ketika sahur pertama dengan penuh kasih sayang ana menyuapi via yang masih berbaring di atas ranjang karena masih dalam lemah.
“sayang, nih mama buatin kamu susu rasa stroberi kesukaanmu… sini mama suapin ya sayang” kata nyonya Aira Alfaro sambil menyuapi via dengan susu yang dibuatnya dengan penuh kasih sayang, via menengok ke arah ana dan mereka saling tersenyum.
“ihh mama pilih kasih, masa via aja yang dibikinin ana juga kan mau?” kata ana pura-pura ngambek. nyonya Aira langsung mengelus rambut ana dengan manja. Ibu dan anaknya saling bermanjaan, karena udah masuk shubuh mereka sholat berjamaah untuk pertama kalinya di keluarga alfaro.

Mereka sekeluarga sebulan full melaksanakan puasa dengan memaknai pentingnya kebersamaan antar keluarga yang selama ini telah hilang dalam keluarga itu. Hilangnya kebersamaan itu hanya karena sibuk akan kegiatan masing-masing. Pada hari raya idul fitri, acara sungkeman pun terasa sangat berkesan bagi via sehingga tanpa sadar ia menitikkan air mata, Ana menghampiri via yang duduk di teras mengamati kedua orangtuanya.
“kenapa engkau nangis dek? bukankah ini hari raya yang membahagiakan dek?” kata ana yang bingung melihat via nangis.
“nggak kok kak, aku nangis karena bahagia melihat mama dan papa akur semoga keluarga kita semoga selalu begini” kata via menjelaskan sekaligus tertawa bahagia.
Ana dan Via berangkulan bahagia pada hari yang penuh berkah.

Cerpen Karangan: Defrianto Alfika Putra
Facebook: Defrianto Alfika Putra

Cerpen Senyuman Via merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Surat Rindu Untukmu

Oleh:
Di keheningan waktu, tak kurasa kau berada, kenangan fatamorgana yang pernah terbang di ufuk langit senja, masih kuingat. Mungkin sekarang kau masih semangat meniti masa depanmu di kota Jambi

Always Be Positif

Oleh:
Kriiinggg. Waktu menunjukkan pukul 4.00. Dengan sigap Rahman terbangun dari mimpi indahnya semalam. Alarm sederhana pemberian dari salah seorang sahabatnya berbentuk Manchester United yang berada di sekitar meja belajar

Br ok en

Oleh:
Gue Deva, gue pindahan dari Bandung, sekarang gue ikut orangtua gue di Jakarta. Orangtua gue selalu berantem, dalam masalah apapun. Dari bandung gue ini anak baik-baik, tetapi semua berubah

Emakku

Oleh:
Malam ini saudaraku yang dokter memvonis kebocoran jantung emakku, aku mengajak anak anakku untuk bersikap biasa seperti tak ada hal yang serius. Anakku yang pertama mulai menangis, dari kecil

Kaca Mata Kuda

Oleh:
Angin sepoi menghidangkan asa baru di tengah hiruk pikuk suatu pola. Orang perorangan memperjuangkan kehendak melangkahi karma. Kejengkelan membludak mendesak keluar di tengah sesakan kios toko di pasar seni

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *