Seragam Kucel Warisan Kakak (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 11 October 2017

Ini adalah hari pertamaku masuk Sekolah Dasar (SD). Ya… berbekal seragam merah putih yang sudah kucel warisan dari kakak pertamaku Wahyu, serta satu buah seragam baru yang dibelikan orangtuaku, perasaan senang dan bahagia tentu saja terus menerus menyelimuti hatiku di sepanjang perjalanan berjalan menuju SDN Kemuning.

Anak berperawakan kurus pendek dengan rambut merah karena keseringan dihantam matahari itu adalah aku. Ya aku Asep, anak bungsu dari ke lima bersaudara yang hidup dalam ekonomi keluarga serta terbatas. Tetapi meskipun lahir dari keluarga berlatar belakang ekonomi yang tidak dikehendaki, tapi tentu aku masih bangga karena terlahir dari keluarga yang agamis.

Katanya dari mulai kakekku, Bapakku Solihin dan Emakku Aminah, ke semuanya sudah dididik agama sejak kecil. Maka aku tak heran jika Bapak berpandangan, pendidikan agama lebih penting dari pada pendidikan umum. Karena faktor ekonomi, Bapak dan Kakak pertamaku hanya mampu sekolah sampai dengan tingkat Sekolah Dasar (SD). Apalagi Emakku yang sampai saat ini tidak bisa baca tulis laten, karena beliau hanya mampu bersekolah Madrasah. Sehingga setiap tulisannya di dalam buku hanya bisa ditulis dengan menggunakan huruf arab tetapi masih memakai bahasa sunda.

Meskipun hanya mampu mengenyam pendidikan formal sampai Sekolah Dasar (SD), tetapi Bapak dan Kakak memiliki kelebihan pendidikan agama islam. Karena keduanya memiliki sejarah bangku pendidikan non formal yang sama, yaitu cukup lama belajar agama di Pondok Pesantren (Ponpes). Dari mulai Kitab Jurumiyah sampai Kitab Kuning, keduanya sudah cukup fasih dan sepertinya layak untuk dipanggil sebagai ustadz atau guru agama. Sehingga meskipun lahir dari latar belakang ekonomi keluarga yang lemah, di kampung aku masih punya kebanggaan, karena terlahir dari keluarga yang agamis. Sehingga selepas pulang sekolah dan kemudian bermain, sore hari pelataran rumahku selalu dipenuhi oleh anak-anak kampung yang belajar mengaji. Dan aku pun pelan-pelan mulai belajar agama di sana.

Selepas pulang sekolah, aku gantungkan seragam merah putihku di sebuah paku yang banyak menancap di sebagian tembok rumahku. Karena tak ada gantungan pakaian untuk dibeli, semua orang di dalam keluarga kecil ini memang sudah terbiasa menggantungkan pakaian bekas di paku yang ditempel ke tembok di setiap bagian sudut rumah. Begitupun dengan aku yang menuruti kebiasaan keluargaku tersebut. Menggantungkan pakaian bekas yang esok atau lusa akan dipakai lagi. Dari mulai seragam sekolah, sarung, kopiah sampai dengan pakaian bermain, semuanya aku gantungkan di paku-paku itu.

Hari sudah mulai sore, tetapi aku yang bandel masih saja asik bermain kelereng ataupun bermain tepuk gambar bersama dengan teman-teman bandel lainnya. Baru saja gundu kelereng akan aku mainkan supaya mengenai kelereng temanku yang lainnya. Tiba-tiba saja telinga kananku sakit karena ada yang menjewer. Saat aku menoreh ke belakang, aku melihat ternyata tangan lembut yang menjewer kupingku tersebut adalah tangan Emak yang sorot matanya aku lihat sedang marah besar, karena sudah sore hari aku belum pulang ke rumah dan masih asik bermain kelereng.

“Ayo cepet pulang, ikut ngaji kamu”, kata Si Emak, yang matanya terus memeolototi mataku.
“Iya mak… iya pulang”, kataku sambil berdiri dengan harapan Si Emak melepaskan tangannya dari telingaku.
“Mau jadi apa kamu nanti kalau setiap hari kayak gini terus”, kata Si Emak.
“Mulai besok gak usah main kelereng atau tepuk gambar lagi, kalau kamu masih sering lupa waktu untuk ngaji sama ngerjain PR sekolah”, timpal Si Emak yang masih terus saja menjewer telingaku yang sudah mulai memerah.

Dalam perjalanan pulang ke rumah sambil diceramahin Si Emak, setiap langkah yang menginjak bebatuan kecil di perkampungan itu aku masih terus membayangkan jika esok ataupun lusa aku masih ingin bermain kelereng atau tepuk gambar bersama temen-temanku. Karena aku pikir bermain kelereng dan tepuk gambar bukan hanya merupakan kesenanganku, karena lumayan bisa nambah-nambah uang jajan sekolah dan tabunganku. Karena kalau aku menang terus, kelereng dan gambar-gambar permainanku sering aku jual kembali kepada teman-temanku.

Sesampainya di rumah…
Selepas magrib itu, dengungan pujian-pujian “talaran” atau hapalan pelajaran pengajian serta lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an di pelataran rumahku terus bergemuruh. Suara-suara hapalan pelajaran agama anak-anak pengajian itu seakan menghangatkan suasana perkampungan. Dan biasanya suara-sura anak-anak pengajian itu akan berhenti selepas waktu isya. Di sudut pelataran rumah, aku yang juga sedang mengikuti pengajian terus saja memegangi telingaku yang sepertinya masih memerah karena masih terasa cukup sakit.

Sekitar dua meter dari tempat dudukku, aku lihat si Bapak tengah bersila dengan baju koko, sarung, serta kopiah hitam ciri khasnya. Sorot matanya yang tajam, suaranya yang lantang serta mengayun-ngayun setiap kali membaca “talaran” atau hapalan pengajian dan ayat-ayat Al-Qur’an, satu persatu anak-anak atau murid pengajiannya di tes hapalan bacaan shalat dan juz’ama. Bagi setiap murid pengajiannya yang tidak bisa hapalan-hapalan yang diberikannya, biasanya Si Bapak memberikan hukuman kepada murid-muridnya berupa cambukan kecil di telapak tangan dengan batang sapu lidi. Katanya sih bukan untuk membuat anak orang tidak betah belajar mengaji. Melainkan untuk mengajarkan sesuatu, jika suatu perkara yang ingin dicapai pasti membutuhkan pengorbanan yang terkadang sering menyakitkan.

Dan aku meyakini perkataan Si Bapak tersebut. Karena memang aku lihat jarang sekali orang tua murid pengajiannya Si Bapak yang protes yang hukuman yang sering diberikan kepada murid-muridnya tersebut. Karena didikan orangtua zaman dulu memang kebanyakan “keras”. Akan selalu ada hukuman bagi setiap yang salah. Tetapi akan ada hadiah bagi setiap yang benar. Apalagi kata Bapakku, semasa di pesantren beliau juga mengalami hal yang sama. Telapak tangan sering dicambuk dengan batang lidi kalau ustadz atau gurunya memberikan hukuman. Kata Si Bapak, dari zaman buyut, kakek sampai kepada Si Bapak, didikan agama keluarga besar Nahdatul Ulama (NU) memang keras. Katanya, hari ini telapak tanganku akan terasa sakit kalau dicambuk batang lidi. Tetapi akan ada rasa yang “lebih sakit” jika semasa tuaku buta dengan ilmu agama dan tidak bisa mengajikan atau mendoakan orangtua yang sudah meninggal. Begitu katanya…

Satu per satu teman-teman pengajianku sudah membacakan hapalan pengajiannya kepada Si Bapak. Kini giliranku yang terakhir untuk membacakan hapalannya, sebelum waktu shalat isya tiba dan pengajian di rumahku selesai. Aku yang kebetulan belum hapal bacaan shalat saat itu, di depan Si Bapak aku hanya bisa pasrah sambil memberikan kedua telapak tanganku untuk dicambuk dengan batang lidi yang dipegangnya.
“Jepreeeet…”, kira-kira seperti itulah perumpamaan suara batang lidi yang dicambukan ke kedua telapak tanganku. Dengan raut muka kesal; “Kenapa kamu juga belum hapal juga hapalan bacaan shalat yang pendek seperti ini,” kata Si Bapak.
“Dipikir Bapak tidak akan memberikan hukuman karena alasan kamu anak Bapak”, tegas Si Bapak yang terus memarahiku. “Mau jadi apa kamu kalau sudah besar nanti, kalau bacaan shalat saja tidak bisa,” timpal Si Bapak.
“Kalau kamu tidak hapal bacaan shalat, siapa nanti yang akan men-shalatkan Bapak dan Emakmu kalau meninggal nanti. Kalau kamu tidak bisa mengaji, siapa nanti yang akan mendoakan kuburan Bapak sama Emakmu”, tanya Si Bapak.
Aku yang sedang menahan rasa sakit telapak tanganku karena cambukan batang sapu lidi, bibirku rasanya sedang dijahit. Bukan hanya telapak tanganku yang memerah. Rasanya mukaku juga memerah karena menahan rasa malu terhadap Si Bapak dan teman-teman pengajian yang lain.
“Iya Pak… Iya maaf, besok-besok pasti hapal,” sautku dengan pendek.

Sambil menahan rasa sakit dan malu, tiba-tiba saja pikiranku sejenak melayang membayangkan sedang berada di tempat pemakaman Bapak dan Emakku sendiri. Tak terbayangkan sesedih apa aku saat itu, ketika memang aku sedang berada di kuburan Bapak dan Emakku, tetapi tidak bisa melantunkan doa-doa serta membaca Al-Qur’an. Terlebih Si Bapak selalu mengajarkan kepada anak-anaknya, termasuk murid pengajiannya, jika hanya doa anak sholeh dan sholehah yang dalam menyelamatkan kedua orangtua yang sudah meninggal dari siksa kubur.

Begitulah keluarga besar kami adanya. Si Bapak yang terlihat kental dengan didikan agama Nahdatul Ulama (NU) itu memang selalu menekankan pentingnya pendidikan agama kepada anak-anaknya. Terhentak sesaat pikiranku melayang sambil membayangkan di depan kuburan Si Bapak dan Si Emak, sayup-sayup terdengar suara perintah Si Bapak kepada murid-murid pengajiannya.

“Noh… sudah waktunya shalat isya. Pengajian selesai, ayo cepet ambil wudlu lagi bagi yang sudah batal, dan bergegas ke musola kita bejamaah shalat isya”, sahut Si Bapak.
Terperanjat, aku mulai sadar kembali dari khayalanku dan langsung bergegas ke musola yang jaraknya kurang lebih 10 meter dari rumah atau tempat pengajianku. Sebagian kecil biasanya temen-teman pengajianku yang rumahnya cukup jauh meminta izin ke Si Bapak untuk shalat isya di rumahnya masing-masing. Namun sebagian besar memang memilih untuk ikut shalat bejamaah di musola. Karena ke semua dari kami biasanya memang mendapat giliran untuk bertugas melakukan adzan atau iqamat shalat isya.

Satu persatu temen-teman pengajianku antri untuk mengambil air wudlu di musola. Dari mulai melakukan kumur-kumur untuk membersihkan dosa-dosa ucapan yang seharian dipakai untuk membicarakan kejelekan orang lain. Membasuh muka lelah dunia agar di akhirat kelak tetap bercahaya. Membasuk kedua tangan untuk membersihkan dosa-dosa tangan yang sering disalahgunakan. Membasuh kedua telinga untuk membersihkan dosa-dosa karena seharian mendengarkan omongan jelek orang lain. Sampai dengan membasuh kedua kaki agar setiap langkah kehidupan selalu dalam bimbingan Allah SWT dan selamat saat melangkah di jembatan sirotol’mustaqim.

Cerpen Karangan: Ade Kosasih SE
Facebook: Ade Kosasih (Fakta Karawang)
Ade Kosasih, SE
Karawang, 27 Juli 1988
Laki-laki
Aktivis/ jurnalis/ penulis

Cerpen Seragam Kucel Warisan Kakak (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hafalan Qur’an untuk Ibu

Oleh:
Hai namaku Salma. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Nama kakakku Aisyah. Kita selalu bercanda kadang bertengkar. Aku pusing, ketika aku melihat Ibu selalu ditampar Ayah, gara-gara disuruh shalat

Aku Pergi Ma, Pa

Oleh:
Semilir angin malam menembus jendela kamarku. Hingga tiba-tiba pintu kamarku terketuk pelan. “Hem pasti Tante Lia.” Gumam Ara. “Ra, ayo makan malem, semuanya udah pada kumpul di bawah.” ajak

Ojek Payung Merah

Oleh:
Di sebuah Desa tinggallah seorang Anak yang bernama Alia. Dia anak yatim piatu. Ayah meninggal karena kecelakaan dan Ibunya meninggal karena sakit-sakitan. Dulu, Alia tinggal bersama neneknya. Tiba-tiba neneknya

Anak Mas ku

Oleh:
Terdengar suara isak tangis malam itu, aku bergegas menuju kamar belakang, “klek” aku nyalakan lampu kamar untuk mengetahui lebih jelas yang terjadi, ku hampiri tubuh kecil berselimut sarung yang

Kejutan Terkhir Mama

Oleh:
Setetes air hujan jatuh ke wajahku, ku lihat jam menunjukkan pukul 00.05. Saat itu aku merasa lapar dan mencari makanan di kulkas, karena tidak ada makanan yang ku inginkan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *