Serambi Kemuliaan Hawa (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 20 February 2015

Sudah tiga setengah tahun berlalu setelah aku angkat kaki dari SMA, hingga suatu ketika, aku ikut menghadiri acara reunian SMA. Dalam gerombolan manusia beragregat itu tersingsing lambaian tangan yang sepertinya tak asing lagi oleh ku, tepat sekali Ririn, konco bermain lama kini merapung lagi ke permukaan.
“Udah banyak yang berubah neh?” sapanya sembari meremas jemariku.
“Duh, salam ya salaman tapi tangan ku jangan dilecek donk!” sentil kata ku mencuar
“Alah ntu cap rindu gue wa”. Balasnya tak mau kalah
“Eh. Ngapain sih Wa, pake baju kayak ginian?, kolot banget lo kini” dia kibas jilbab yang aku kenakan.
“Kok ngapain sih Rin, aku cuma ingin ngikutin apa yang diperintahkan sama Allah.” Dia pun tersenyum, sambil mencuap
“aku akuin deh emang lo makin manis dengan jilbab yang ginian”.
Dengan sedikit gemetar aku menyampaikan,
“Rin, muslimah sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian grand tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya melalui apa yang dipakainya”.
Dengan senyuman yang menyungging, siring matanya tercetak sedikit miring dari biasanya pertanda bahwa dia mengira aku sedang membual. Aku tak tersinggung dengan ekspresi itu, karena sebelum pemahaman agama itu terkuak dan bayangan akhirat semakin menajam dalam dimensi jiwa memang sulit untuk menerima khotbah faktual tentang diriku ini.
“Aku tetap bersikap seperti biasa dengan teman-teman lamaku, Islam itu bukan mengubah karakter namun Ia hanya membungkusnya atas karakter itu menjadi lebih indah dan mulia. Meskipun mereka mereaksikan sikap yang berbeda, aku tak mengambil pusing masalah lirikan-lirikan maupun bisik-bisik yang mengarah pada morfologi pakaian yang aku kenakan. Pesan dari Murabbi ku kugigit erat dalam setiap waktu. Apalagi aku kan sudah lebih banyak mendapatkan amunisi fiqih-fiqih seputar kemuslimahan, setidaknya ini dapat membuatku lebih tegar terhadap semua kondisi yang sedang kuterjang sekarang. Dalam skala nanodetik…”
“Hawa…”
Aku terkesiap mendengar lentingan suara laki-laki itu. Dengan sudut 1800 kubalikkan vektor tubuhku. menghadap titik asal suara yang barusan tercecer di udara. Nashi, laki-laki karismatik yang akan memakau mata setiap wanita memandang. Aku tergelitik jika harus mengenang kembali masa-masa konyol itu, masa dimana aku terjebak dalam perasaan nafsu syaitani. Dia adalah laki-laki yang pernah singgah dalam ruang hatiku dulu semasa SMA. Setara dengan zamannya pula, dulu aku belum mengenal apa itu cinta hakiki dan kepada siapa patut kulabuhkan. Memang lucu jika rasa cinta itu terbalas, ada jutaan puisi yang tertoreh karenanya, ada waktu yang terbuang sia-sia sebab gubahan khayalan dari sikap-sikapnya, tentunya banyak pula dosa-dosa yang ditulis malaikat di sisi kiriku atas momentaria yang kujalani dengannya. Kami memang tidak menjastifikasi hubungan dengan label pacaran namun orang sering membekenkan istilahnya dengan HTS-an (Hubungan Tanpa Status). Astaghfirullah, aku segera beristighfar sejalan berdo’a kepada Allah agar dapat mengikis habis rasa cinta sesat itu yang pernah bergelantungan di jiwa. Aku sedikit mendehem..
“Nashhiii?” sapa ku setengah tak percaya.
Ia langsung mengatupkan kedua tangannya di dada sebagai simbol salam penghormatan untuk wanita yang tak mau disentuh kulit tangannya. Kalimatnya diteruskan dengan sapaan islami.
“Assalamu’alaikum Wa”.
Senyumnya tumpah ruah yang mengandung sejuta arti dan tanda tanya dalam benakku. MasyaAllah begitu mulianya wanita yang memakai mahkota bagaikan seorang ratu yang akan menahtai kerajaan surga. Semua itu terjelma dalam keanggunan akhlak dan kebijaksaannya untuk memutuskan menjaga diri dari fitnah yang rawan menerkamnya. Lihatlah begitu berbeda Ia memperlakukanku. Setelah aku hijrah aku merasa para kaum adam lebih menghormatiku. Biasanya mereka enggan untuk bersalaman langsung, duduk pun menjaga jarak, serta mengatur pembicaraan yang lebih bijak untuk berdialog kepadaku. Apalagi preman-preman di pasar mereka lebih akrab menggoda dengan kata-kata salam ketimbang bualan kotor yang biasanya dilontarkan untuk wanita yang berbusana kurang rapi alias tidak sesuai syari’at. Aku mencoba memainkan peran yang sedang berlangsung dalam panggung drama dunia ini sebagai sosok insan yang telah bertransformasi dari sebelumnya. Aku pun membalas salamnya sambil sedikit bercuap-cuap sebagai basa-basi pertemuan awal agar tidak kaku.
“Weeh, Udah tambah gede ya sekarang? Mhhh, gimana ne perkembangannya yang sekolah di Ranah Melayu?”
“Gak ada cerita yang spesial untuk kuliah wa. Dimana-mana yang namanya kuliah sama aja, pergi ke kampus, buat tugas dan sebagainya. Ya kan?”
“Awa, Awa… kamu berubah total tapi tetap aja sama”.
“Oh ya?, aku gak ngerti maksudnya”.
“Gini ne Wa, tetap terang di hatiku bedanya sekarang semakin lebih terang lagi”.
“Alah dasar cowok gombal. kamu juga gitu, bedanya sekarang gombalannya jauh lebih menghipnotis dan puitis dari dulu”.
Kedengaran tawanya semakin gurih karena serangan balik dari ku. Aku tahu dia juga berusaha menjaga suasana agar lebih cair, jadi kuladeni aja guyonannya itu sekenananya.
“Udah deh San, sekarang kita sudah punya cara sendiri dalam bersikap maupun berfikir. Aku yakin kamu bakal setuju dengan semua ini. Baik aku maupun kamu tidak lagi harus terkungkung dalam suasana masa lalu. Kita lupakan aja semuanya”. Jelasku
Aku sedikit menyinggung gombalannya, kurasa kata-katanya akan mengarah untuk melanjutkan kembali jalinan keramat yang ku laknat itu.
“Wa, kamu tambah bijaksana saja setelah kita lama tidak berkomunikasi lagi. Asal kamu tahu, aku sempat berfikir bahwa aku telah melakukan kesalahan atau menyakiti mu yang menyebabkan seorang Awa memutuskan segalanya denganku. Ternyata aku salah tafsir. Syukurlah kamu udah menemukan kesejatian cinta itu. Semoga saja jika dua orang insan yang saling mengenal hakikat cinta dapat dipertemukan kembali dalam ikatan yang lebih sakral”.
Ohhhhh tidak, apa-apan ini, mengapa Ia harus mengekspresikan syair-syair itu di gendang telingaku. Apakah ini hanya trik laki-laki untuk menjinakkan hati perempuan?. Seingatku setelah aku hijrah dengan busana seperti ini, tidak ada satu pun laki-laki yang berani mengungkapkan perasaannya to the point apalagi ngajak pacaran alih-alih menggombaliku. Entahlah kurasa tak perlu diuraikan terlalu panjang makna-makna kalimat dari laki-aki yang berdiri dihadapanku ini, karena efeknya dapat mengkorosi material iman yang selama ini kurawat. Aku tidak mau berlama-lamaan larut dalam reaksi yang tidak sehat ini.
“Amin. Aku kesana dulu ya…” kataku menutup semua gejolak-gejolak yang berkecambah.
Aku pun berlalu darinya. Setelah usai acara reunian tadi aku langsung melancong ke rumah untuk mentralisir elektron-elektron di tubuh ini. Sesampai di rumah langsung aku segerakan untuk berwudhu agar menyucikan kembali fitrahku. Matahari mulai lelah menemani bumi, secara perlahan ingin tenggelam ke tempat persinggahan selanjutnya. Ku sambari mushaf Qur’an, perlahan aku buka lembaran demi lembaran dengan melantunkan huruf-huruf arab yang terkaligrafi indah dalam kitab Ilahi ini. Tilawah al-Qur’an adalah media yang dapat memeberi asupan energi untuk kerja imanku. Setelah hatiku relatif bening, ku jejalkan bait demi bait alunan hati dalam tulisan pada diari ku:
“Jika namamu yang ditulis di Luh Mahfuz untuk diriku, niscaya rasa cinta itu akan Allah tanamkan dalam diri kita. Tugas pertamaku bukan mencari dirimu tetapi mensolehahkan diriku.”

“Sukar untuk mencari soleh dirimu andai solehahku tidak setanding dengan kesolehahanmu. Janji Allah pastiku pegang dalam misi mencari diri ‘Lelaki yang baik untuk wanita yang baik.”

“..Seindah hiasan adalah wanita solehah, moga aku hiasan terindah hidupmu wahai imamku..”

Ya Allah…
Seandainya rindu ini suci maka kuatkanlah…
Jadikanlah rasa Rindu ini untuk ku semakin mencintaiMu~ Ikhlas keranaMu~ Ridho dengan ketentuanMu~

ingin ku bertemumu di suatu saat, dalam sebuah ikatan Suci yang di Ridhai olehNya..

InsyaALLAH~

Memang mata tak kenal dosa saat iman menyublim ke udara lepas. Busur panah setan ini menjadi ancaman nyata bagi yang punya nyawa perawan dan perjaka. Tak pelak pula lah aku. Maka kupanjatkan do’a pada Penggenggan nyawaku.
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu, dan aku memohon kepada-Mu perbuatan serta amalan yang dapat menghantarkanku kepada cinta-Mu, Ya Allah jadikan lah cintamu perkara yang baik dan paling aku cintai”
lirih do’a itu menghanyutkan fitrah batin yang selama ini terseka oleh dosa nestapa. Sungguh, aku tidak ingin terpedaya lagi oleh nafsu cinta yang tak sarat dari poin pahala. Keheningan pun terpecah oleh bunyi ponsel. Langsung kubuka sms yang masuk dari nomor yang belum beridentitas dalam ponselku begitu terperanjak aku membacanya.

Aku tidaklah sosok yang sempurna bagimu.
Namun ku berharap kita laksana tali yang saling menguatkan.
Hingga kekurangan tak lagi menjadi kelemahan..

Ya Rabb…
Hamba tak lancang berjanji untuk sebuah PERASAAN,
karena hati ini begitu mudah terbolak-balik.
Namun hamba akan berjuang untuk SETIA hingga Engkau memberi keputusan yang terbaik,
karena hamba yakin apapun pilihan-Mu, itulah yang terbaik bagi hamba. Amin

Siapakah yang lancang mengirim kata-kata begini padaku?. aku menghela nafas panjang dengan lafas istighfar. Semoga ujian hati ini dapat ku tempuh sampai pada prediket lulusan terbaik di sisi-Nya.

Baru kali ini aku mengambil transfer uang bulanan dari orangtuaku di Bank BNI pusat kota Padang. Biasanya aku memilih menarik uang lewat ATM bersama mahasiswa yang tersedia di kampus. Semuanya menjadi berubah total semenjak ATM ku kecopetan di metropolitan pasar Raya Padang, dua minggu setelah aku seminar proposal penelitian. Sengaja aku berhenti di Bank tersebut karena uang ongkos yang ada di dalam dompet hanya persis cukup untuk sampai kesini karena sebelumnya aku dari toko buku Gramedia. Ini pengalaman tragis seumur aku kuliah, baru kali ini keuanganku benar-benar kempes total. Bismillah, dengan penuh pengharapan ayah sudah mentransfer uang saku bulanan, aku nekat masuk ke ruang tunggu setelah mengisi formulir penarikan uang. Ku pandang-pandang angka-angka yang ku tulis di kertas formulir bernilai Rp 250.000,-. Tak hentinya hatiku memanjatkan do’a nabi Musa kepada Allah. Meminta agar mempermudah urusanku ini. Sifat gila buku ku ini menyeret pada masalah krusial. Aku tidak menghitung jumlah uang yang ku bawa sebelum ke Gramedia. Seenak perut saja aku lahap buku-buku favorit yang masih duduk manis di rak-rak. Ketika membayar dengan entengnya kuserahkan semua uang yang ada di dompet kulitku. Parahnya aku lupa menyisakan untuk ongkos pulang, inilah jadinya aku terdampar di Bank yang belum aku kenal seluk beluknya.
Pandangan mataku refleks terlempar ke arah wanita berbaju hitam dan mengenakan jilbab yang dimasukkan ke dalam baju. Ia duduk di kursi teller A atas nama Wiryanti Arafah. Aku mencoba mengacak-acak file-file peristiwa tempo lalu dengan pointer ingatan dalam prosesor otakku. Klik!, tepat sekali ini kan wanita berambut iklan sampo kemaren yang aku buat menangis ketika di halte bus. Hmmm, aku benar-benar tidak salah ingat.
Nomor antrian 26 silakan menuju Teller A
Binggo…! Aku diserahkan pada wanita yang pernah kuceramahi tempo lalu. Dahi wanita itu langsung mengernyit lalu di lanjutkan dengan senyuman.
“Ini adek yang di halte itu kan? apa yang bisa di bantu”. Kata wanita itu
“Benar Mbak, saya mau ambil uang. Ini ceknya”.
Dadaku berdegup kencang, merah, ungu, biru, putih. Semua campur aduk, cemas, penasaran, dan malu bersiul-siul di ranting perasaan ku. Adakah uang di tabunganku?, marahkah wanita Teller dengan nama Wiryanti Arafah kepadaku?. Allahu Akbar wa ni’mal wakil. Kuserahkan semua ini pada Allah.
“Maaf ya uang di saldonya tidak mencukupi untuk diambil. Butuh banget ya”. Tandas nya
Aku hanya nyengir tak karuan mendengar pernyataan itu. Ku beranikan diri untuk mengungkapkan sebenarnya.
“Iya mbak, untuk ongkos pulang”.
Sontak teller di sebelahnya melihatku dengan air muka ingin tertawa. Huftt… dalam hatiku. Allah pasti menolong hamba yang menolong agama-Nya. Setidaknya aku sudah berdakwah dengan pakaian ku selama ini sebagai syiar Agama-Nya. Sudahlah apapun jawaban dari Mbak Wiryanti akan ku telan mentah-mentah. Kalian tahu apa yang terjadi?. indiscribible, Ia mengambil tiga lembar uang seratus ribu dari tas Sofie Martinnya dan langsung menyerahkan kepadaku. Sambil berkata
“Pakai aja ini dulu dan jangan pulang langsung biar Mbak antar karena sebentar lagi istirahat”. Ucapnya dengan nada yang sangat pelan sekali.

Tanpa rasa malu aku tangkap uang pemberian itu dengan penutup ucapan terima kasih. MasyaAllah… aku rasa ini jawabannya. Usaha dalam beramal itu tidak dibayar dimuka oleh Allah, namun ditangguhkan dalam beberapa waktu untuk menguji ketulusan dan kesungguhan dari amal itu. Lihatlah ini adalah investasi yang pernah ku tanam di halte dulu. Hahaha… aku tertawa sendiri di dalam hati sambil mengelus-elus kantong rokku yang berisi lembaran-lembaran uang merah dari wanita di Bank tadi. Sesuai dengan janjiku, di luar aku setia menunggu Mbak Wiyanti sampai keluar. Tak lama kemudian, wajah anggun yang terbalut jilbab belum sempurna itu pun keluar dari kantornya. Aku langsung menghampiri dan mengucapkan terima kasih kembali.
Yuk masuk ke mobil. Katanya sambil mematikan alarm dan membuka kunci pintu mobil

Ini lah yang namanya rizki tak berpintu, gumamku. Sepanjang perjalanan Mbak Wiryanti menceritakan pengalamannya setelah bertemu denganku saat itu. Ternyata setelah hari dimana aku membuatnya menangis, Mbak itu langsung memutuskan untuk mengenakan jilbab. Meskipun ke kantor Ia harus memasukkan jilbabnya ke dalam baju, itu karena tuntutan pekerjaan jelasnya. Yang penting kalau di luar kantor Mbak Wiryanti selalu berusaha mengenakan busana muslimah yang rapi dan menutupi dada. Alhamdulillah, aku bertahmid mendengar liuk cerita yang diungkapkannya. Aku diantar sampai ke depan pekarangan rumah. Setelah aku turun, langsung aku lontarkan kalimat ampuh sebagai kado untuk hijrahnya.
Makasih banyak ya Mbak, dengan jilbab itu Mbak semakin anggun dan penuh pesona syurga. Semoga Allah menjaga dan menguatkan langkah Mbak di jalam kebaikan.

Mendengar itu, Mbak Wiryanti menggangguk dengan semangat dan meng-amin-i do’a-do’a ku. Aku lambaikan tanganku mengakhiri pertemuan dengannya yang perlahan merangkak meninggalkan tempat aku berdiri.
Kemudahan yang kudapati setelah hijrah benar-benar tidak cukup diungkapkan dalam 5000 karakter. Begitu luas dan membuncah, bahkan untuk tempat tinggal aku mendapat potongan harga 25 persen dari teman-teman yang lain. Karena ibu kos sangat tenang dan nyaman hatinya jika rumahnya diisi oleh para akhwat. Alhamdulillah… inilah riski, Allah benar-benar tidak menyia-nyiakan hamba-hamba Nya yang melakukan amalan kebajikan. Melalui Jilbab ini pula Allah menjaga aku untuk menjauhi dosa-dosa, katakanlah seperti bekerja sama dalam ujian. Karena sikap kejujuranku ini, para dosen memandangku sebagai mahasiswi yang memiliki idealisme dan ini langsung diungkapkan dalam selayang sms yang dikirim kepadaku. Mungkin mereka mengira aku dari latar belakang ustad dan ustadzah yang lulusan pesantren. Aku tegaskan, ini salah!, aku tidak pernah mengecap sekolah pesantren maupun jenis sekolah agama lainnya. Jenjang pendidikanku SD, SMP, SMA semi Militer dan sekarang kuliah di Universitas Andalas. Yakinilah bahwa untuk menjadi baik tidak harus duduk di bangku sekolah agama, dimanapun sekolah asal kita menjunjung tinggi nilai ketauhidan dan mau terus belajar pasti semua hidup ini akan berjalan sesuai dengan koridor syari’at-Nya. InsyaAllah.

Dari sinilah kita ketahui bahwa yang bisa menjadikan kita Islam adalah penyerahan fitrah kita kepada Allah, jasmani kita hanya mengikuti saja. Kita juga harus mewaspadai karena di dalam diri ini tersembunyi penyakit nafsu yang menggerogoti kerja hati dan mekanisme fitrah yang hakiki. Perbedaan kepentingan antar fitrah dan nafsu inilah yang menjadi pertempuran sengit. Bila fitrah manusia dapat mengendalikan nafsu secara otomatis jasmani pun akan terselamatkan. Sekecil apa pun godaan yang dating, jiwa manusianya sudah memutuskan untuk menyerah pada hawa nafsu, maka tak butuh waktu lama untuk terjanyut. Na’udzubillah…

Aku mulai menyadari semua dari tapak-tapak kemuliaan yang ku teguk dari iman dan takwa. Semua tergores dalam akhlak, terlukis dalam bertutur kata, tertera dalam cara berbusana, serta tertempel dalam keluasan ilmu yang bermanfaat. Sadar betul aku dengan petuah ahli matematikawan muslim yang berbicara tentang wanita “Kalau wanita berakhlak baik dan berpikir positif, maka ia adalah angka 1 kalau ia juga cantik maka imbuhan 0, jadi 10. Kalu ia juga punya harta, imbuhan lagi 0, jadi 100, jadi 1000, jika seorang wanita memiliki semua namun tidak memiliki yang pertama maka ia hanya “000”. Tidak bernilai sama sekali”. Subhanallah…

Cerpen Karangan: Sulastriya Ningsi
Blog: www.aisyla.blogspot.com

Cerpen Serambi Kemuliaan Hawa (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


False Conclusion

Oleh:
Terkadang aku suka membandingkan hidupku dengan orang. Dan malah suka menyalahkan keadaan. Padahal tak seharusnya aku merasa seperti itu. Diusiaku yang ke delapan belas aku mulai diajarkan oleh Allah

Anak Sulung Ibu

Oleh:
“Bareng yan?” tawar Amar, temanku ini sangat bersemangat dengan acara ngejus (minum jus rame-rame) lepas sekolah nanti. “gak Mar! Maaf aku harus nunggu cacakku, dia ada extra siang ini”

Hidayah Allah

Oleh:
Dua orang sahabat bernama risa dan rifa mereka murid dari salah satu SMA terfavorit di bandar lampung SMAN 8 Bandar Lampung. Senin pagi risa dan rifa terlambat datang ke

Menemukan Tuhan

Oleh:
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik hingga mereka ber iman (masuk Islam). Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu…” (QS: al-Baqarah:221). Burung

Lelucon Takdir

Oleh:
Gadis itu sendiri dengan pandangan menerawang entah kemana. Udara dingin yang menusuk tidak dihiraukannya. Entah tidak dihiraukan atau kulitnya memang sudah terbiasa. Beberapa kendaraan melintas di hadapannya, tapi tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Serambi Kemuliaan Hawa (Part 2)”

  1. yayang siti fatimah says:

    .subhannallah 🙂 baguss sekali .. ada kelanjutannya gak kak?? 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *