Seratus Persen Muslimah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 7 November 2018

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Sang fajar perlahan-lahan mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur, matahari terlihat lebih cerah hari ini, seolah menandakan senyuman bahagia setelah gelap menyelimuti.

Ada yang mengagetkan hari ini. Kaget bukan karena nilai ujian tiba-tiba anjlok, atau kaget karena digertak teman yang biasa usil di kampus. Tapi kaget dengan penampilan Alfia yang berubah 360 derajat. Penampilannya yang tertutup membuat Mahasiswa seantero kampus sastra menjadi geger. Baju panjang dan kerudung lebar membuatnya terlihat lebih anggun daripada pakaian ketat yang selalu ia pakai di hari-hari sebelumnya. Pasalnya, Alfia terkenal sebagai cewek yang tomboy, celana ketat dan kaos oblong biasa menemani kesehariannya, hingga muncul pemikiran bahwa mustahil bagi Alfia mengenakan baju panjang dan kerudung lebar.

Alfia mengayunkan langkahnya menuju ruang kelas, ia menyapa teman-teman yang sedari tadi melongo melihatnya, ada yang menatapnya dengan memasang muka cemberut, ada juga yang tersenyum, bahkan ada yang melihatnya tanpa berkedip.

“Assalamu’alaikum” sapa Alfia kepada teman-teman yang mulai tadi terkejut melihatnya. Namun mereka hanya diam tertegun tanpa menjawab salam dari Alfia. “Hei Al, kesurupan jin apa loe? Kok tiba-tiba berubah jadi gini?” tanya Sofia, sahabatnya. “Alhamdulillah, Allah masih memberiku kesempatan untuk berhijrah.” Sambil tersenyum ia masuk ke dalam kelas dan duduk di kursi paling depan, tepat di depan meja dosen.

“Wuuih, Alfia sekarang berubah eey. Lihat tuh sekarang udah belajar duduk di depan. Biasanya kan tidur di belakang. Haha..” Gumam salah satu teman diiringi suara gaduh teman sekelas. “Astaghfirullah, ojo ngunu toh rek, dia kan sekarang lagi belajar jadi orang baik, hargai lah” seru Khoir kepada teman-temannya yang heboh menggoda Alfia. Tiba-tiba pak Nadi dosen jurnalistik yang terkenal killer masuk ke dalam kelas. Suara gaduh teman-teman pun mulai menghilang.

Jam kuliah telah usai. Alfia masih duduk di bangkunya. Entah apa yang sedang ia fikirkan, wajahnya yang cantik menyiratkan kegelisahan. “Assalamu’alaikum ukhty” sapaan Maria membuyarkan lamunannya. “Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh” jawab Alfia spontan. “MasyaAllah, barakallah nggeh ukh, semoga istiqomah” lanjut Maria melemparkan senyuman manisnya. “Aamiin. InsyaAllah ukh, ternyata gak mudah ya jadi orang baik, banyak yang mencibir.” Lanjut Alfia mengisak tangis.

Maria yang sedari tadi merasakan kegelisahan Alfia mencoba untuk menenangkannya. Ia langsung memeluk Alfia dan mengusap air mata yang mengalir di wajah cantik Alfia. “yang sabar ya ukh, sesungguhnya Allah tidak akan mengujimu melebihi batas kemampuanmu. Ikhlaslah melakukan sesuatu karena Allah, InsyaAllah semua yang kita lakukan akan terasa ringan.” Ucap Maria menenangkan hati Alfia. “jazakillah khoir ukh, anti selalu menguatkan ana”, Alfia kini kembali tersenyum. “Waiyyaki ukh, sebaik-baik manusia adalah yang saling mengingatkan dalam kebaikan, yaudah yuk kita balik ke kos.” Maria menarik tangan Alfia.

Mereka berjalan menyusuri trotoar kampus dan berbincang-bincang seputar ajaran Islam. “Oya, nanti malem kita ngaji yuk” ucap Maria kepada Alfia. Maria adalah teman setianya yang dulu pernah disia-siakan oleh Alfia. Maria pun salah satu orang yang mengajak Alfia untuk berhijrah dan mengenal Islam secara kaffaah. “Emm, boleh ukh. Di mana? Kaifa kalau di kos ana saja? Jawab Alfia. “Okesip deh, nanti malem ana ke rumah anti yaa.” Ucap Maria. Mereka pun berpisah di persimpangan jalan untuk kembali ke tempat kos masing-masing.

Malam ini angin bertiup sepoi-sepoi, suara gemericik air mancur di depan kos menjadikan suasana malam ini begitu tentram. Alfia duduk di gazebo yang tersedia di depan kos menunggu kedatangan Maria. Dua gelas teh hangat dan semangkuk makanan sudah ia sediakan untuk menyambut kedatangan sahabat taatnya itu.

“Assalamu’alaikum” ucap Maria. Alfia menjawab salam dan langsung menyambut kedatangan sahabatnya dengan hangat. Seperti biasa, mereka bersalaman terlebih dahulu setiap kali bertemu. “kaifa sudah siap ngaji?” tanya Maria. “Siaap dong!” jawab Alfia dengan wajah sumringah.

Mereka memulai aktifitas mengaji dengan bacaan basmalah dan surah Al-fatihah. Maria menjadi pemandu sekaligus sebagai ustadzah bagi Alfia. “Anti bangga menjadi seorang muslimah?” tiba-tiba pertanyaan Maria mengejutkan Alfia. “Na’am, ana bangga menjadi seorang muslimah” tanpa basa-basi Alfia pun menjawab pertanyaan yang dilontarkan Maria. “Alhamdulillah, apakah saat ini anti sudah menjadi seratus persen muslimah?” Pertanyaan Maria yang terakhir ini benar-benar menohok, Alfia terdiam dan sesekali menelan ludahnya.

Melihat respon Alfia yang terdiam tanpa kata-kata, akhirnya Maria melanjutkan kalimatnya “pertanyaan ini juga berlaku buat ana ukh. Di sini kita sama-sama belajar, mari mulai dari sekarang kita belajar untuk menjadi seratus persen muslimah. Bukan menjadi muslimah abal-abal, yang pagi hari beriman, sore harinya kafir. Tetapi jadilah muslimah yang benar-benar muslimah, yang tetap istiqomah dalam keimanan. Jika kita menolong agama Allah, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, InsyaAllah kebahagiaan dunia akhirat pasti akan kita dapat dan Allah akan menolong kita pula nanti di yaumul hisab.”

Alfia yang sedari tadi terdiam kini mencoba untuk membuka suaranya “Na’am ukhty, jazakillah khoir. Mulai malam ini ana akan berusaha untuk menjadi seratus persen muslimah. Kita harus sama-sama saling mengingatkan dalam kebaikan yaa.”, “Amiin. InsyaAllah ukh. Sebagaimana yang tertera dalam (HR. Al-Bukhari dan Muslim) ‘Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini)’. Semoga kita menjadi salah satu dari orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama ini.” , “Aamiin” Alfia memeluk sahabatnya itu dengan penuh kasih sayang.

Malam semakin larut, suara jangkrik semakin kompak bak paduan suara. Sedang langit masih terang dengan bintang-bintang dan sinar indah sang rembulan. Sebelum beranjak ke tempat tidur, Alfia menjatuhkan pandangannya menuju cermin besar yang tersedia di kamarnya. Ia menatap wajah yang terpampang di hadapannya dalam-dalam. Pertanyaan Maria yang tadi masih melekat dalam pikirannya, “benarkah aku sudah menjadi seratus persen muslimah?” ia terus bertanya-tanya dan berbicara dengan dirinya sendiri.

Ia rebahkan tubuhnya ke atas kasur yang tak begitu empuk itu. Kasur spon yang sudah menemaninya selama 3 tahun sejak menjadi mahasiswa. Hatinya terus berkata-kata “Bismillah! Mulai saat ini aku bertekat untuk menjadi seratus persen muslimah.” Ia pun mematikan lampu dan memulai kehidupannya dengan rangkaian mimpi keindahan surga.

Cerpen Karangan: Ulfiatul Khomariah
Nama: Ulfiatul Khomariah
Status: Mahasiswi S1 Sastra Indonesia FIB Universitas Jember
Alamat: Jember-Besuki Situbondo
Aktivitas: Kuliah, Dakwah, Kerja, Menulis, dan Mengkaji Islam

Riwayat Pendidikan:
SD Negeri 5 Jatibanteng
SMP Negeri 1 Besuki
SMA Negeri 1 Suboh
PT Negeri Universitas Jember

Don’t forget to follow my sosmed guys!
FB: Ulfiatul Khomariah
IG: ulfiatul.khomariah
Twitter: @ulfiatul05

Cerpen Seratus Persen Muslimah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hidayah Allah

Oleh:
Dua orang sahabat bernama risa dan rifa mereka murid dari salah satu SMA terfavorit di bandar lampung SMAN 8 Bandar Lampung. Senin pagi risa dan rifa terlambat datang ke

Bias Cahaia

Oleh:
Kawan, jika kau berkunjung ke pulau Madura, maka singgahlah barangkali sebentar ke kampungku, Pasongsongan namanya. Sebuah kampung yang dulunya indah dan dikenal dengan kampung nelayannya. Disini, kau akan disuguhi

Menjemput Kebahagiaan Dona

Oleh:
Sehelai bulu mata, nampak jatuh, mengalir bersama benda basah ke pipi. Sendiri, diam, tanpa ada siapapun menyapa, atau bahkan menyentuhnya. Dona. Perempuan berumur 5 tahun dengan boneka usang yang

Maut

Oleh:
“Lusi, ayo sholat bareng!” Ucap Hasni, saudaraku. Aku pun mengangguk pelan sambil masih terus berkutat pada majalah yang sedang kubaca. “Iya. Duluan aja ya.” Ucapku malas. Hari ini aku

Kesempurnaan Hati

Oleh:
Di sebuah perjalanan pulang, fikri ingin menyempatkan diri terlebih daluhu pergi ke sebuah masjid, terlihat dengan jelas di balik kaca mobilnya sebuah masjid yang sangat megah, arsitektur yang sangat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Seratus Persen Muslimah”

  1. naira charesta udzry says:

    Bagus banget, i love it

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *