Setangkai Mawar untuk Afsha (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 19 May 2017

Bogor masih terlelap. Bulan masih bersembunyi di balik awan gelap. Afsha membuka matanya perlahan. Jantungnya masih berdetak. Nadinya masih berdenyut. Mulutnya masih mampu mengucap kata hamdallah.
“Alhamdulillahirabbil’alamin.”
Afsha mengucap syukur atas nikmat yang tak terkira, terbangun dalam 2/3 malam dengan nafas yang masih berhembus. Sama seperti biasanya, Ummi Rofiqoh akan segera mengetuk pintu dan mengajak Afsha shalat tahajud. Sungguh luar biasa, disaat pemuda-pemudi lain buta dengan hingar bingar dunia malam, Afsha dengan semangat menegakkan tiang agamanya. Dugannya benar, tak lama, Ummi mengetuk pintu kamar Afsha dan memanggilnya dengan lembut.

“Afsha, bangun, nak.” sahut wanita paruh baya itu.
“Afsha sudah bangun, Ummi.” begitu katanya.
Pintu kamarnya terbuka. Ummi Rofiqoh sayup-sayup memandang Afsha, dengan senyumnya yang selalu sama, menenangkan hati bagi siapapun yang memandangnya.

“Ummi tidur pukul berapa semalam?” tanya Afsha memicingkan mata. Afsha sadar bahwa Ummi terlihat tidak seperti biasanya, kantung matanya begitu kentara menandakan wanita setengah tua itu tidak memiliki banyak waktu untuk terlelap.
“Fatih demam lagi. Mau tidak mau, Ummi harus mengompresnya semalaman.”
“Astaghfirullahaladzim. Ummi, besok pagi kita bawa Fatih ke klinik saja, ya?” begitu usul Afsha.
“Kita lihat keadaannya besok pagi. Jika Fatih belum juga membaik, Ummi akan bawa Fatih ke klinik terdekat. Mudah-mudahan saja Fatih lekas pulih.”
“Besok pagi, jika Fatih memang harus dilarikan ke klinik terdekat, biar Afsha saja yang mengantar Fatih.”
“Bukannya Afsha mau tengok Bunda dan Bapak di Jogja? Ummi sudah hubungi Mang Diding untuk antar Afsha besok pagi.”
Afsha terdiam. Ia hampir lupa bahwa besok dia sudah janji akan menemui Bunda dan Bapaknya di Jogja.

Bunda —begitu Afsha memanggilnya pada Ibu kandungnya— sudah hampir 11 tahun mengalami gangguan kejiwaan. Hal itu terjadi karena masalah yang bertubi-tubi menimpa keluarganya. Sejak Afsha kecil, Bunda sudah menjadi orangtua tunggal bagi Afsha. Bapak —panggilan Afsha kepada ayahnya— meninggalkan Afsha dan Bunda dalam kecelakaan lalu lintas yang melumpuhkan kaki Afsha hingga saat ini. Bapak dimakamkan di Jogja, kota kelahiran Afsha. Begitupun dengan Bunda, dirawat di salah satu rumah sakit jiwa yang cukup besar di Jogja. Afsha sempat merasa putus asa, ketika kehilangan Bapak ditambah dengan keadaan Bunda yang cukup mengkhawatirkan.

Dengan umur yang belum genap 20 tahun, Afsha merupakan seorang wanita yang luar biasa. Afsha sudah melewati banyak hal dengan sangat tegar. Termasuk pada saat Afsha memutuskan untuk berhenti kuliah, dan menyumbangkan beasiswanya untuk biaya perbaikan panti yatim milik Ummi Rofiqoh, tempat dimana Afsha tinggal sekarang. Afsha sudah menganggap Ummi sebagai ibunya sendiri, begitupun dengan anak-anak panti yang sudah ia anggap sebagai saudara kandungnya. Walaupun begitu, Afsha tidak sedikitpun melupakan sosok pahlawan bagi hidupnya, yaitu Bunda. Selama Bunda masih hidup, Bunda masih menjadi tanggungan bagi Afsha. Sejak awal, Afsha berniat baik untuk merawat Bunda seorang diri. Tapi, kondisinya terus memburuk. Dengan sangat terpaksa, Bunda harus dipindahkan ke rumah sakit jiwa untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat. Walaupun Bunda sudah tidak lagi mengenal Afsha sebagai anaknya, Afsha tetap menyayangi Bunda sepenuh hati, Afsha rela melakukan apapun demi Bunda yang telah melahirkannya ke dunia. Tentu saja, Afsha akan terus berharap Allah segera mengangkat penyakit Bunda, setidaknya Afsha ingin sekali menceritakan pengalaman-pengalaman berharganya kepada Bunda, Afsha ingin sekali Bunda membelainya seperti dulu, Afsha sungguh merindukan sosok Bunda di masa lalu.

“Afsha, kok malah diam? Ada apa?” tanya Ummi menggenggam tangannya.
“Ngga papa, Ummi. Padahal, Ummi ngga perlu repot-repot hubungi Mang Diding. Afsha bisa naik kereta besok pagi.”
“Ummi khawatir Afsha jatuh lagi. Lagi pula, Mang Diding juga ngga keberatan kok. Jam 6 pagi, Inshaa Allah, Mang Diding sudah di sini.”
“Kalo sepagi itu sih, Afsha ngga bisa antar Fatih ke klinik dong?”
“Ngga apa-apa sayang. Biar Ummi dan Nando yang antar Fatih, Afsha tengok saja Bunda dan Bapak. Pasti sudah kangen banget sama si cantik ini.” gumam Ummi seraya mengelus pipi Afsha.
“Na’am, Ummi. Kalo gitu, kita sholat sekarang saja, yuk? Nanti keburu siang hehehe.”
“Ya sudah, Afsha lekas ambil wudhu. Ummi bangunkan yang lain dulu ya.”
“Siap, komandan.” begitu canda Afsha.

Ummi membantu Afsha bangun dengan tongkatnya. Afsha sudah mengalami kelumpuhan sejak umurnya masih 6 tahun, kecelakaan maut itu yang merenggut kakinya. Kaki kanannya sudah tidak bisa difungsikan dengan baik, sehingga memaksanya untuk berjalan menggunakan tongkat sebagai pengganti kakinya. Seringkali Afsha merasakan sakit bukan main, kakinya kian hari kian membengkak. Afsha sempat ditawari untuk mengganti tongkatnya dengan kursi roda, tapi Afsha menolaknya. Karena menurutnya, itu akan mempersulit langkahnya ditambah merepotkan Ummi nantinya. Afsha tidak mau jika Ummi harus setiap hari mendorongnya kesana-kemari, sementara Ummi harus merawat banyak anak di dalam panti. Sederhananya, Afsha benar-benar tidak mau membebani Ummi.

Setelah mengambil air wudhu, Afsha bergegas menuju ruang tengah panti, yang biasanya dipakai sebagai tempat menunaikan ibadah sholat setiap hari. Terlihat Nando —anak kandung Ummi Rofiqoh— hendak menertibkan anak-anak panti untuk menunaikan shalat tahajud. Di barisan belakang, Maryam, Fatimah, dan Khadijah sedang bersiap memakai mukena kesayangan mereka. Mereka bertiga merupakan saudara kembar yang sudah lama tinggal di panti sejak usia yang masih sangat muda. Sungguh malang nasibnya, ketika mereka dibuang ke pinggir kali, dan tanpa sengaja Ummi menemukan ketiganya dalam keadaan yang sangat mencemaskan.

Afsha mengambil mukena putihnya dalam laci, ia lekas menuju kursi pojok ruangan tempatnya beribadah sehari-hari, karena kondisi kakinya mengharuskan Afsha sholat dengan keadaan duduk di atas sebuah kursi. Afsha masih sangat bersyukur, karena di luar sana, banyak sekali orang yang sudah tidak mampu mengangkat tangan untuk sekedar mendirikan takbiratul ikhram.
“Allahuakbar.” takbir dikumandangkan, mengawali shalat tahajud kali ini. Tanpa disadari, butir-butir bening jatuh dari pelupuk mata Afsha, membentuk sungai kecil melewati lekak-lekuk paras cantiknya. Begitu ia merasakan pilu yang luar biasa, mengingat terlalu banyak dosa yang telah diperbuat sepanjang masa hidupnya. Hatinya bergetar hebat, ia menyadari begitu banyak nikmat yang Allah berikan, termasuk kenikmatan melaksanakan sholat di waktu yang mulia ini.

“Assalamu’alaikum warrahmatullah.” Seketika, Afsha mengangkat kedua tangannya, seraya menengadahkan kepalanya. Kalimat-kalimat mulia pun dilantunkan, ia berdoa kepada sang maha pencipta, mendoakan Bunda, Bapak, Ummi, serta keluarganya di panti. Tak lupa, Afsha meminta lindungan Allah dari segala marabahaya. Tak banyak yang Afsha minta, hanya agar orang-orang yang dicintainya selalu dalam lindungan Allah swt.

Tak terasa, adzan shubuh berkumandang. Anak-anak di ruangan bersiap mendirikan sholat shubuh berjamaah. Kali ini, Nando yang akan menjadi imam. Sebenarnya, Nando lah yang selalu menjadi imam sholat setiap hari, itu karena hanya Nando satu-satunya laki-laki dewasa di panti.

Pagi pun datang. Matahari menampakkan keberadaannya, menyinari dunia dengan kehangatan sinarnya. Afsha lekas membereskan perlengkapan sholatnya, lalu perlahan membuka satu-persatu tirai di setiap sudut ruangan. Anak-anak berlari kesana-kemari, setelah menunaikan shalat tahajud lalu melanjutkannya dengan shalat shubuh, mereka kembali ke kamarnya masing-masing untuk mandi dan membersihkan tempat tidurnya. Begitu juga dengan Afsha, biasanya setelah Afsha membereskan kamarnya, ia membantu Ummi memasak di dapur, untuk menyiapkan sarapan bagi anak-anak di panti. Namun pagi ini, ia bersiap-siap pergi ke Jogja, untuk mengunjungi Bunda dan makam Bapaknya. Setelah membersihkan diri, Afsha membalut tubuhnya dengan gamis biru kesayangannya. Ia selalu memanjangkan dan menyederhanakan tampilan jilbab yang dipakainya, sesuai dengan aturan yang Islam tetapkan. Dianugerahi paras yang cantik, Afsha tak lekas memoles wajahnya dengan make up untuk menyempurnakan kecantikannya. Karena baginya, yang terpenting bukanlah kecantikan di mata orang lain, melainkan kecantikan di mata sang pencipta, Allah swt.

Setelah persiapannya dirasa cukup, ia lekas menemui Ummi dan memastikan Mang Diding sudah menjemputnya.
“Ummi, biar Afsha bantu ya.” begitu Afsha berniat membantu di dapur.
“Tidak usah, biar Ummi saja. Ngomong-ngomong, Mang Diding sudah menunggu di ruang tengah. Ummi sudah siapkan bekal untuk Afsha, nanti dimakan saja di mobil ya. Afsha sudah siap?” tanya Ummi kembali dengan senyumnya yang mengembang.
“Afsha siap Ummi. Kalo begitu, Afsha pamit ya.”
“Hati-hati sayang, telepon Ummi kalo terjadi apa-apa ya nak.”
“Iya, Ummi. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”

Afsha bergegas menuju ruang tengah, tak lupa, Afsha membawa bekal yang Ummi buatkan pagi ini. Aromanya begitu meruah-ruah, menggoda Afsha untuk segera melahapnya. Sudah diduga, Ummi pasti membuatkan nasi rendang kesukaan Afsha. Sungguh tidak ada tandingannya masakan yang Ummi buat, bahkan jika dibandingkan dengan nasi padang sebelah pun, rendang buatan Ummi lebih menendang lidah.
“Assalamu’alaikum, Mang Diding.” sapa Afsha lembut.
“Waalaikumsalam. Sudah lama tidak bertemu, ya Neng? Damang Neng?” begitu sahut Mang Diding.
“Alhamdulillah. Mang Diding bagaimana? Sehat?”
“Alhamdulillah, Neng Afsha. Kalau begitu, gimana kalo kita berangkat sekarang? Nanti keburu siang, keburu macet Neng. He-he-he.”
“Boleh, Mang. Kita berangkat sekarang saja.”

Mang Diding merupakan adik ipar Ummi, hanya Mang Diding lah satu-satunya sanak keluarga Ummi setelah Abi —suami Ummi— meninggal satu tahun yang lalu. Mang Diding bekerja sebagai supir di sebuah perusahaan besar di Bogor, terlihat dari mobil kantor yang selalu dipakainya kemana-kemana. Hari ini, ia terpaksa mengambil cuti bekerja dan meminjam mobil kantor untuk mengantar Afsha ke Jogja. Ummi tidak mengizinkannya pergi menggunakan kereta, semenjak insiden satu bulan yang lalu, saat Afsha terjatuh ketika hendak turun dari kereta dan menyebabkan kedua kakinya tidak bisa difungsikan total untuk sementara.

Selama di perjalanan, Afsha langsung menyantap bekal yang Ummi buat. Benar saja, uap panasnya masih mengepul-ngepul menambah kenikmatan. Sembari menikmati santapan pagi, Afsha berbinar-binar membayangkan pertemuannya dengan Bunda nanti. Sudah lama Afsha menahan rindu. Rindu ini begitu menyiksanya. Mungkin Bunda tak merasakan persis yang Afsha rasakan, namun begitu lebih baik menurutnya. Agar Bunda tak perlu merasakan pedihnya merindukan seseorang. Tak lupa, Afsha membawa rangkaian mawar putih kesukaan Bunda yang ditanamnya di pekarangan panti. Mawar putih itu tumbuh subur di sana, karena Afsha rajin merawatnya setiap hari.

“Mang, sebelum jenguk Bunda, kita ke makam Bapak dulu ya?” pinta Afsha dengan lembut.
“Mangga, Neng. Kita ke makam Bapak dulu, lalu jenguk Bunda.”

Setelah sekian lama di perjalanan, pukul dua siang Afsha sampai di Yogyakarta, kota kelahirannya. Seperti pintanya, sebelum mengunjungi Bunda, Afsha pergi menjenguk makam Bapak. Sesampainya di makam, Afsha menangis sesenggukan. Amat rindu Afsha kepada Bapak. Afsha tak kuasa menahan pilu yang dirasakannya, kenangan pahit itu kembali menyeruak di benaknya. Ia tak sanggup. Sungguh tak sanggup menanggung pilu sendirian.

“Sudah, Neng. Nanti Bapak sedih lihat Neng Afsha nangis.” hibur Mang Diding, cemas melihat Afsha menangis begitu sendu.
“Iya, Mang. Afsha rindu Bapak. Afsha ingin ketemu Bapak. Rindu ini buat Afsha sesak dada.”
“Kita doakan saja Bapak ya Neng. Neng Afsha jangan nangis begini. Bapak itu orang baik, Inshaa Allah ditempatkan di tempat yang paling baik.”
“Makasih ya, Mang.”
Afsha menyeka air matanya. Ia menabur bunga di sepanjang makam Bapak. Tak lupa, Afsha memanjatkan doa kepada sang Maha Pencipta. Lalu mencium nisan Bapak.
“Pak, tak pergi dulu. Bapak apik-apik yo. Afsha sayang Bapak.” pamit Afsha dengan logatnya yang kental.

Setelah mengunjungi makam Bapak, Afsha lekas bersiap menjenguk Bunda di rumah sakit. Sepanjang jalan, ia mencemaskan keadaan Bunda. Terakhir kali bertemu, Bunda mengabaikan Afsha, Bunda benar-benar tak ingat bahwa Afsha adalah anak semata-wayangnya. Afsha berharap, keadannya berbeda sekarang.
“Neng Afsha, kita sudah sampai.” sahut Mang Diding.
“Alhamdulillah, untung saja ngga macet ya Mang. Kalo gitu, Mang Diding mau ikut atau nunggu saja?”
“Saya tunggu saja di sini Neng.”
“Ya sudah kalo begitu, Afsha pergi ya Mang. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”

Perlahan, Afsha melangkahkan kaki dibantu dengan tongkatnya. Tangannya gemetaran, ia sedikit takut. Walaupun begitu, rasa rindu yang sudah lama tertahan, akan lebih menyiksa jika Afsha tak menemui Bunda sekarang. Sesampainya di lobi rumah sakit, Afsha langsung disambut hangat oleh dr. Halimah -dokter yang selama ini merawat Bunda.
“Assalamu’alaikum Afsha. Piye kabare?” tanya dr. Halimah dengan ramah.
“Waalaikumsalam. Iki apik-apik bae.”
“Sudah lama ngga ketemu ya. Sibuk kuliah nih?”
“Afsha ngga kuliah lagi dok. Ada beberapa alasan kenapa Afsha ngga lanjut kuliah, hehehe.”
“Oh begitu. Afsha rindu sekali sama Bunda, ya? Rencananya minggu depan baru mau kemari, kan?”
“Betul dok. Rindu sekali sama Bunda. Gimana perkembangannya? Bunda sehat?”
“Alhamdulillah, Bunda sehat. Tapi masih belum banyak perkembangan. Kalo begitu, langsung saja kita ke ruangan Bunda yuk? Bunda pasti senang, Afsha datang.”
“Mudah-mudahan begitu.” senyumnya merekah, masih penuh harap Bunda dapat mengingatnya.

Cerpen Karangan: Annisa Eva
Facebook: Eva Annisa N

Cerpen Setangkai Mawar untuk Afsha (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Ada Rumah Yang Tak Akan Hancur

Oleh:
Ia terduduk di sudut kamarnya yang terkunci. Matanya ia pejamkan lekat-lekat, tangannya menutup rapat telinga -mencoba menghalang semua suara gaduh menyentuh syaraf pendengarannya, ia bernapas dengan cepat dan berat-bagai

Perasaan Kita (Part 1)

Oleh:
Andai yang di samping kamu adalah aku.. andai jari itu adalah milikku dan cincin itu untukku.. aku mencoba mengalihkan pandanganku saat cincin itu akan dilekatkan di jari manis seorang

Kembali Ke Pangkuan Mu

Oleh:
Terik matahari menyengat kulit, namun awan gelap mulai menutupi sebagian wilayah kota. Pohon-pohon di kanan kiri jalan tertiup hembusan angin kencang. Dingin seketika menyergap seluruh badan. Tiupan angin terkadang

Gadis Itu

Oleh:
Akulah wanita penjelajah waktu, wanita yang melihat kejadian-kejadian dari masa lalu hingga masa depan. Akulah pengawas kejadian dari masa lalu hingga masa depan, aku berusaha untuk mengetahui apa yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *