Setangkai Mawar untuk Afsha (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 19 May 2017

Ruangan Bunda di lantai dua. Afsha ingat benar bahwa dua tahun yang lalu, ia menanam mawar putih di pinggir ruangan, walaupun mawar itu mati karena tidak ada yang merawatnya. Itu karena Afsha tahu betul, Bunda amat menyukai bunga, khusunya bunga mawar. Mawar melambangkan keanggunan, putih melambangkan kesucian, serta duri melambangkan pertahanan. Kelak, Afsha akan tumbuh menjadi wanita anggun, dengan hati sesuci mawar putih, namun setajam duri dalam menjaga kehormatan, persis seperti yang Bunda katakan.

“Assalamu’alaikum, Bunda. Afsha datang jenguk Bunda.”
Ditemani dr. Halimah, Afsha menyapa Bunda dengan hangat. Matanya kembali berkaca-kaca. Perasaannya begitu tercampur aduk, ketika melihat Bunda berada di depannya.
“Selamat pagi, Bunda. Afsha datang jauh-jauh dari Bogor. Katanya Afsha rindu Bunda. Bunda mau temui sebentar?” begitu sahut dr. Halimah.
Bunda memutar tubuhnya. Kerutan di wajahnya mulai terlihat. Rambutnya pun mulai beruban. Afsha tersenyum melihat Bunda, melepas kerinduan yang selama ini meyakiti batinnya. Ia tak sabar ingin segera memeluk Bundanya.
“Kau lagi.” ucap Bunda ketika melihat Afsha berada di depannya.
“Iya, Bunda. Ini Afsha. Afsha di sini, untuk Bunda.”
Afsha kembali meneteskan air matanya. Dengan langkahnya yang penuh kehati-hatian, ia berjalan menghampiri Bunda. Ingin rasanya Afsha memandang wajah Bunda dari dekat. Namun, usahanya gagal. Lagi-lagi Afsha mengalami penolakan. Bunda mendorong Afsha hingga terjatuh ke lantai.
“Dasar wanita jal*ng! Berani-beraninya kau rebut suamiku. Mati saja kau pel*cur. Aku muak melihat wajahmu! Jangan coba-coba datang ke sini lagi! Pergi kau wanita jal*ng, pergi!”
Bunda mulai kehilangan kendali. Matanya membesar, wajahnya memerah menandakan emosinya berada di puncak. Bunda terus melemparkan berbagai macam barang ke arah Afsha. Bantal, guling, boneka, bahkan gelas, kini berserakan di mana-mana. Afsha harus pergi, jika tak ingin dirinya terluka.
“Astaghfirullah, Bunda. Ini Afsha. Anak Bunda, anak Bapak.” Afsha tetap tak ingin beranjak.
“Wanita kotor! Pergi kau sekarang!” Bunda makin tak terkendali, ia terus meneriaki Afsha agar keluar dari ruangannya.
Perlahan, perasaan rindu itu berubah, menjadi kesakitan yang amat menyakitkan. Afsha memegang dadanya. Sungguh, kali ini ia tak mampu menahan emosinya. Baru kali ini Afsha merasakan hatinya teriris, bagai pisau yang melesat menghujam jantungnya. Ia menangis. Afsha benar-benar menangis.

“Afsha, kita keluar sekarang. Kamu bisa terluka, jika terus diam di sini.” dr. Halimah berusaha memperingatkan.
Afsha pun menurut, walau berat rasanya, ia harus meninggalkan Bunda (lagi). Padahal, Afsha ingin sekali memeluk Bunda, mencium Bunda, bahkan mengajaknya untuk tinggal di panti saja. Tapi Allah berkehendak lain.
“Afsha, maafkan saya.”
“Tidak, dokter. Tidak apa-apa.” balas Afsha meyeka air matanya.
“Maafkan saya. Saya belum mampu mengembalikan kondisi kejiwaan Bunda seperti sedia kala. Tapi, saya akan terus berusaha.”
“Tidak, ini bukan salah dokter. Afsha yakin ini semua rencana Allah, Afsha yakin ini semua skenario terbaik Allah. Allah akan tunjukan keindahan kelak, tepat pada waktunya. Terima kasih sudah mau merawat Bunda. Afsha pamit pulang. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Hati-hati, Afsha.”

Afsha bergegas menuju parkiran. Rencananya, ia ingin mampir ke sekolah lamanya terlebih dahulu, untuk sekedar bersilaturahmi dengan guru dan pegawai disana. Namun rencana itu dibatalkannya. Perasaannya yang tak menentu, membuatnya ingin langsung pulang saja.
“Mang Diding, kita langsung pulang.”
“Siap, Neng.”

Perkataan Bunda masih terngiang jelas dalam telinga Afsha. Sebencikah itu Bunda pada Afsha? Sampai kapan Bunda akan terus seperti ini? Kapan Allah akan membukakan jalan? Kapan sesuatu yang indah itu datang? Begitulah kira-kira yang ada di benak Afsha sekarang. Untungnya, Afsha tidak pernah sekali pun beranggapan bahwa Allah tidak adil. Dengan ikhlas, dan hati yang lapang, Afsha menerima semuanya jika memang ini cobaan dari sang Maha Kuasa. Afsha mengerti, bahwa Allah takkan mengujinya jika ia tak mampu melewatinya.

Enam jam pun berlalu. Tepatnya pukul 9 malam Afsha sudah tiba di panti. Keadaannya sudah sunyi, menandakan anak-anak sudah tidur dan merajut mimpi. Tapi, Ummi masih terjaga. Ummi mencemaskan Afsha yang memang berkata akan pulang hari ini juga. Sontak, pintu rumah terbuka. Sudah diduga, Ummi yang membukanya.
“Assalamu’alaikum, Ummi.” salam Afsha, seraya mencium punggung tangan Ummi.
“Waalaikumsalam. Bagaimana pertemuannya, nak?” tanya Ummi sedikit berbisik.
Afsha tak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu pergi begitu saja. Sikapnya yang tiba-tiba, membuat Ummi khawatir melihatnya. Siapa yang hendak melukai, putri cantik-nya Ummi? Begitu pikir Ummi.
“Rof, saya pamit pulang.” pamit Mang Diding keluar dari mobil.
“Hatur nuhun, sudah mau antar Afsha. Rof masak semur jengkol hari ini. Ini dibawa pulang saja.” balas Ummi sembari memberikan rantang.
“Nuhun, Rof. Kalo begitu, saya duluan. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”

Seminggu berlalu, satu pekan kemudian.
“Anak-anak sudah tau kisah Nabi Sulaiman yang dapat mukjizat bisa bicara dengan binatang?” tanya Afsha penuh semangat.
“Belum, kak Afsha.”
“Mau kakak ceritakan, tidak?”
“Mau, kak!” anak-anak itu bersorak
Akhir-akhir ini, Afsha senang sekali menceritakan kisah para Nabi kepada anak-anak di panti. Setiap pukul 5 sore, anak-anak akan berkumpul di pekarangan panti untuk mendengarkan kisah yang diceritakan Afsha. Bukan hanya anak-anak panti saja yang langganan menjadi pendengar setia, namun anak-anak sekitar komplek kerap kali datang dan bergabung dengan anak-anak yang lainnya.

“Afsha, kemari nak.” tiba-tiba Ummi memanggil Afsha dari dalam rumah.
“Sebentar ya adik-adik, kakak dipanggil Ummi. Nanti kita lanjutkan kisahnya, ya.”
Afsha lekas menghampiri Ummi. Perasaannya tidak enak. Firasatnya buruk.
“Ada apa, Ummi?” tanya Afsha.
Untuk sekian detik, Ummi hanya terdiam. Namun, matanya berbicara. Ummi hendak mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Afsha mulai gelisah. Ada apa ini sebenarnya? Jantungnya berdegup kencang. Lebih kencang dari biasanya.
“Ada apa, Ummi?” Afsha mengulangi pertanyaannya.
“Afsha, Bunda sudah tiada.”
Deg. Seperti jatuh dari jurang, rasanya. Begitu kiranya yang Afsha rasakan. Air matanya tumpah. Jantungnya berdegup begitu cepat. Dadanya terasa sesak. Inikah rencana Allah sesungguhnya? Mengapa Allah begitu cepat mengambil Bunda sebelum Bunda ingat bahwa Afsha adalah anaknya? Ummi langsung memeluk Afsha dengan erat. Ummi tahu betul, bahwa nyatanya Afsha sangatlah rapuh.
“Kita berangkat ke Jogja sekarng.” pinta Afsha.
“Iya, sayang. Ummi sudah hubungi Mang Diding, kita tunggu sebentar ya.”
Tak lama waktu berselang, Mang Diding datang. Ummi langsung bergegas, begitupun dengan Afsha. Untung saja, Khumaira—tetangga sebelah mau bantu Ummi kondisikan anak-anak di panti.

“Mang Diding, ngebut ya. Kita tidak punya banyak waktu.” begitu Afsha meminta.
“Sabar, sayang. Pikirkan keselamatanmu juga.” sahut Ummi.
Andai saja Afsha punya cukup uang di kantongnya, ia ingin sekali berangkat dengan pesawat. Apa daya, hanya Mang Diding lah yang mampu menolongnya di saat genting seperti ini. Walau begitu, Afsha sudah sangat bersyukur.
“Ummi, Afsha ngga kuat.”
Afsha kembali memeluk Ummi, bahkan lebih erat. Ia benar-benar membutuhkan bahu untuk menjadi sandarannya. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya Afsha menangis sesenggukan. Belum cukup ia membahagiakan Bunda, tapi Bunda sudah menemui ajalnya.
“Bunda sudah bahagia, sayang. Afsha tumbuh menjadi mawar putih penuh duri, Afsha sudah membahagiakan Bunda.” begitulah kiranya Ummi menghibur Afsha, seakan-akan Ummi tahu apa yang ada dalam benak Afsha.

Setelah cukup lama di perjalan, Afsha pun sampai di rumah sakit. Tanpa pikir panjang, ia langsung mantap melangkah menuju ruangan Bunda. Tapi, langkahnya terhenti ketika dr. Halimah berdiri tepat di depannya.
“Assalamu’alaikum, Afsha, Ummi, Pak Diding. Sekarang, Bunda sudah dikafani.” ucap dr.Halimah.
“Waalaikumsalam. Tapi, kenapa dok?” tanya Afsha tak sabar.
“Bunda menjadi korban tabrak lari. Raganya remuk tak berbentuk. Mustahil untuk dimandikan sebelum dikafani. Bila Afsha dan Ummi mengizinkan, Bunda akan disemayamkan besok pagi. Saya yang urusi semua biaya. Seperti permintaan Bunda, Bunda akan dimakamkan tepat di sebelah suaminya.”

Afsha terkulai lemas. Ia tak bisa melihat Bunda untuk yang terakhir kalinya. Terlebih lagi, Afsha tak sanggup membayangkan bagaimana Bunda yang menjadi korban tabrak lari. Air matanya kembali tumpah. Dadanya terasa sakit lagi. Namun perlahan ia berusaha memahami skenario sang Ilahi. Bunda orang baik, bahkan amat baik. Allah sangat menyanyangi Bunda. Allah tak mau Bunda berbuat dosa. Begitu kiranya dalam benak Afsha.

Hari pun terlewati, setelah Bunda disholatkan, kini tibalah Bunda dalam tempat tinggal abadinya. Afsha sudah cukup tenang sekarang, ia jauh lebih ikhlas. Walaupun berat rasanya, ketika melihat Bunda diturunkan ke dalam liang lahat. Hatinya bergetar hebat. Afsha terus memanjatkan do’a, demi keselamatan Bunda di alam yang berbeda.
“Sabar ya, Neng Afsha.” begitu kata Mang Diding, ketika melihat Afsha menahan air mata.
“Ummi, Bunda penghuni surga, kan?” tanya Afsha.
“Insha Allah, sayang. Afsha jangan putus mendoakan Bunda, ya.”

Hari semakin siang. Matahari makin tinggi menampakkan sinarnya. Panasnya begitu menyengat. Untuk terakhir kalinya, Afsha memandangi makam Bundanya. Ia masih tak percaya, pahlawannya kini telah gugur, pahlawannya tertidur untuk selama-lamanya. Mengingat waktu yang terus berjalan, Afsha memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, membereskan barang-barang Bunda yang tertinggal di ruangannya. Namun, ketika hendak memasuki ruangan, dr. Halimah mengehentikan langkahnya.
“Afsha, sebelum kejadian itu, Bunda titipkan ini untuk Afsha.” begitu kata dr. Halimah, sembari memberikan sebuah kotak.
“Terima kasih, dok.”
“Kalau begitu, saya tinggal dulu.”

Afsha mengurungkan niat untuk membereskan barang-barang peninggalan Bunda. Ia duduk di koridor rumah sakit seraya membuka perlahan kotak yang dr. Halimah berikan padanya. Kotak itu berisi secarik kertas yang dilipat, juga setangkai mawar berwarna merah. Dengan hati-hati, Afsha membuka dan membaca suratnya.

Assalamu’alaikum, Afsha sayang.
Mungkin ketika Afsha membaca ini, Bunda sudah berada di surga.
Bagaimana kabar putri cantik Bunda? Seminggu lalu, Afsha datang ke Jogja untuk temui Bunda ya? Afsha rindu Bunda? Bunda juga rindu Afsha. Bahkan, amat rindu. Bunda minta maaf, Afsha. Mungkin saat itu ketika Afsha jenguk Bunda, Bunda sebenarnya tahu. Bunda sadar, Bunda sembuh, sayang. Tapi, Bunda tak bisa beri tahu Afsha. Bunda takut Afsha akan membawa Bunda pulang, dan Bunda akan repotkan Afsha kelak. Kiranya, Bunda lebih baik pergi saja agar Bunda tak perlu lagi merepotkan siapapun. Terima kasih Afsha sudah mau turuti Bunda, Afsha tumbuh menjadi wanita yang sungguh luar biasa. Bunda sangat bahagia. Tapi, kali ini, jadilah Afsha yang lebih kuat, yang lebih berani, seperti mawar merah yang Bunda petik untuk Afsha. Romantis bukan? Bunda hanya ingin Afsha menjadi yang terbaik di antara yang paling baik. Tetaplah menjadi Afsha yang tegar, Afsha yang lembut, namun keras dalam menjaga kehormatan. Selalu libatkan Allah dalam setiap langkah ya, sayang. Agar Afsha tidak tersesat, dan selalu dalam jalan yang benar. Jangan lupa untuk terus doakan Bunda. Sudah dulu ya, Bunda akan terus memperhatikan Afsha dari surga. Bunda amat sayang Afsha.
Wassalamu’alaikum.

Lagi-lagi, Afsha tak kuasa membendung air matanya. Tapi kali ini, Afsha langsung menyekanya dengan cepat. Ia berusaha menjadi seseorang yang lebih kuat, seperti kata Bundanya.
“Bunda, Afsha janji, Afsha akan berusaha untuk lebih berani seperi mawar ini. Afsha yakin, mawar merah ini akan sangat indah bila ditanam di antara mawar putih di pekarangan panti. Terima kasih, Bunda. Afsha sayang Bunda.”

TAMAT

Cerpen Karangan: Annisa Eva
Facebook: Eva Annisa N

Cerpen Setangkai Mawar untuk Afsha (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lampion Terakhir

Oleh:
Mungkin itu hanya kenangan. Biasanya, aku dan Reila membuat lampion bersama, untuk dijadikan hiasan kamar kami. Tapi, ada satu lampion yang istimewa, membuatku selalu ingin memegangnya, seolah ketika aku

Sepatu Untuk Nisa

Oleh:
Di jalan setapak sepagi ini sudah ada suara anak sekolah yang berangkat ke sekolah dia adalah Arif dan Anisa dua kakak beradik yang sangat akur. Arif begitu menyayangi adiknya

Semua Karena Nayla (Part 2)

Oleh:
“Ibu kok nangis?” tanya Nayla melihat air mataku jatuh saat menatap foto pernikahanku dengan Mas Amran delapan tahun silam. “Ndak, Ibu ndak nagis kok,” kuusap air mata yang sedari

Mengenang Sebuah Mimpi

Oleh:
Semalam aku bermimpi. Dan kuanggap itu mimpi indah. Mimpi namun terasa nyata. 7 tahun lalu, aku mengenal seorang gadis. Berwajah indo, bertubuh tinggi dan langsing bak model catwalk. Kita

Cahaya Lilin Natal

Oleh:
Kegetiran hidup menyelimuti diriku ketika aku menatap hampa ke layar televisi. Sebuah film hitam putih, “It’s a Wonderful Life” sedang ditayangkan. Film ini adalah salah satu film favoritku sepanjang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *