Setitik Embun Kala Angin Bertiup

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 30 June 2020

“Rena, kamu mau kemana. Balik udah malem!” ucap bunda sambil berteriak.
“Iya, Bun… Ren mau ke taman bentar aja. Ngambil daun talas buat tugas!” jawabku sambil berteriak juga.

“ngambilnya kenapa nggak dari tadi sore aja? Anak gadis malem-malem ke kebun, nggak baik. Bunda nggak mau tahu, kalau kamu kaya gitu lagi, bunda laporin kamu ke Ayah!” ancam bunda saat aku sudah kembali dari kebun.
“Yah… Bunda gitu amat ngancemnya. Jangan ya Bunda… Bunda baik deh, cantik, ramah lagi, ples nggak ngaduan!” rayuku.
“Gombalan lo receh, Ren!” talak Bang Galih tiba-tiba.
“Apaan sih lo Bang!” hardikku pada bang galih.
“Udah, kalian ini berantem aja sukanya, sana belajar lagi. Tugasnya buruan diselesaiin, habis itu tidur!” perintah bunda.
“Siap bos!”

Aku Rena, aslinya Raina Fatimah Fatmawati. Dulu maunya dipanggil Raina, tapi susah, jadi dipanggil Rena. Raina, hujan, tapi nyatanya si pemilik nama hujan ini takut banget sama hujan. Padahal satu keluarga pada suka hujan. Cuma aku aja yang nggak suka—takut—hujan. Kenapa ya? Sebenernya sih bukan takut sama hujannya, tapi sama petirnya. Kan kalau hujan sering ada petirnya, jadi ya… gitu.

Pagi ini seperti hari Minggu biasanya. Aku akan mengantar bunda ke majelis taklim Al-Munawaroh di masjid Al-Munawaraoh di ujung gang. Sudah menjadi rutinitas dari bunda dan ibu-ibu di sini. Tapi asli, aku nggak tertarik. Jadi ya cuman nungguin bunda di gerbang—udah kayak tukang ojek dah.

“Assalamu’Alaikum, ukhti tidak masuk saja ke masjid?” tanya seseorang saat aku duduk di serambi masjid menunggu bunda.
Ah, apa? Wa’alaikumsalam!” aku gelagapan melihat perempuan berniqab hitam dengan khimar dan jilbab hijau toska, warna kesukaanku.
Sepertinya perempuan itu tersenyum, terlihat dari matanya yang menyipit, “Ukhti tidak masuk ke dalam saja? Hari ini ada kajian remaja loh ukh…”
“Kajian remaja?”
“Iya, ukhti masuk saja dulu, nanti juga tahu, mari” balas perempuan itu ramah—oh, asli, aku suka banget orang ramah.
“Oh, iya, ayo!” entah dorongan dari mana, tiba-tiba saja aku tertarik dengan ajakan perempuan tadi.

“Rasul SAW bersabda: Kerjakanlah shalat malam, karena shalat malam itu kebiasaan orang-orang yang shaleh sebelum kamu dahulu, juga suatu jalan untuk mendekatkan diri kepada TUHAN kalian, juga sebagai penebus pada segala kejahatan (dosa) mencegah dosa serta dapat menghindarkan penyakit dari badan (HR.Imam Tarmidji & Ahmad)” ujar ustadzah Rahma menyampaikan ceramahnya pagi ini.
“Salat tahajjud merupakan kehormatan bagi seorang muslim, sebab mendatangkan kesehatan, menghapus dosa-dosa yang dilakukan siang hari, menghindarkannya dari kesepian di alam kubur, mengharumkan bau tubuh, menjaminkan baginya kebutuhan hidup, dan juga menjadi hiasan surga. dunia dan akhirat, antara lain wajahnya akan memancarkan cahaya keimanan, akan dipelihara oleh Allah dirinya dari segala macam marabahaya, setiap perkataannya mengandung arti dan dituruti oleh orang lain, akan mendapatkan perhatian dan kecintaan dari orang-orang yang mengenalinya, dibangkitkan dari kuburnya dengan wajah yang bercahaya, diberi kitab amalnya ditangan kanannya, dimudahkan hisabnya, berjalan diatas Selain itu, salat tahajud juga dipercaya memiliki keistimewaan lain, dimana bagi orang yang mendirikan salat tahajjud diberikan manfaat, yaitu keselamatan dan kesenangan di shirat bagaikan kilat.” Tambahnya.

“Kak…!!!” panggilku pada perempuan berniqab tadi, perempuan itu berhenti lalu berbalik. Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita, umatnya, untuk berbalik badan ketika ada yang menyeru atau memanggil sebagai bentuk penghormatan.
Perempuan itu berjalan mendekat ke arahku, “Iya, ukhti manggil saya?”
“Iya, mmm… saya mau ngucapin makasih buat ajakannya tadi,” ucapku.
“Iya sama-sama,” jawabnya ramah.

“Kenalkan, saya Raina Fatimah Fatmawati. Biasanya dipanggil Rena, Raina, Reina, Rei, Rein, Rain, Ren, kadang dipanggil Fat dari fatimah dan fatmawati, sering juga dipanggil AFF, kakak boleh panggil saya apa aja senyamannya kakak, kalau nama kakak?” perkenalan yang unik dan panjang bukan—berkesan.
Sepertinya dia tersenyum lagi—biasa, sok baca ekspresi orang—, “Ukhti lucu ya, jadi inget adik saya. Oh ya, saya Almeera Fatimah Azzahra, panggil saja Meera”
“Wah, nama kita samaan yak,” aku heboh sendirian.
Kak Meera tersenyum lagi, “Ukh, maaf saya duluan ya, ini mau ada acara lagi soalnya,” ujarnya sambil melihat arloji..
“Yah… padahal aku mau ngobrol banyak sama kakak,” sesalku.
“Ini nomer telpon saya, ukhti bisa hubungi saya kapan saja jika ukhti mau!” ucap kak Meera sambil menyerahkan secarik kertas bertuliskan 11 digit nomer telepon.
“Oh, oke. Siap…”
“sampai jumpa ukh… Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh, hati-hati kak… sampai jumpa balik…!!!” kulambaikan tanganku pada kak Meera, ia membalasnya.

“Ayolah Ren… anterin Bunda ke rumahnya tante Rita. Abangmu ngampus hari ini. Ayo…” rayu bunda padaku.
“Yaudah, Ren mau. Tapi kita ke rumahnya Rossa dulu ya…” ujarku.
“Oke, buruan siap-siap gih, keburu siang!”
“Woke, siap Bunda!”

Mobil jazz milik bunda membelah jalanan ibu kota yang ramai. Lantunan musik shalawat oleh Mustafa Atef dari tape mobil bunda mengiringi perjalanan kami dari rumah Rosa mejuju ke rumah tante Rita. Bunda fokus menyetir sambil sesekali bergumam mengikuti irama sholawat. Sedang aku, aku? Iya… aku. Biasa, aku membaca novel bergenre romance yang sangat aku sukai.

‘Qamarun… Qamarun… Qamarun sidnan nabi, Qamarun…’
“Rumahnya tante Rita dimana sih Bun?” tanyaku pada bunda.
“Itu, di perumahan depan sana, bentar lagi sampai kok…” jawab bunda tenang.

Aku menutup novelku bosan. Kualihkan pandanganku kearah kiri memperhatikan satu persatu rumah minimalis khas ibu kota. Ah! Membosankan. Rasa bosanku tergantikan dengan rasa kagum sekaligus heran. Mengapa? Bunda menghentikan laju mobilnya di pelataran sebuah rumah beraksitetur jawa.

Tidak seperti rumah-rumah di sekitarnya, rumah ini nampak lebih asri dan nyaman. Terdapat sebuah kolam ikan yang berukuran sekitar dua kali tiga meter di taman yang terletak di depan rumah itu. Cantik, bunga-bunga tulip dan mawar bermekaran indah di taman itu. Ini rumah siapa? Apakah ini rumah tante Rita?

“Kita sampai, ayo turun!” ucap bunda membuyarkan lamunanku.
“Ha? i..iya bun,” ucapku gelagapan kaget.
“Rumahnya bagus ya Bun!” tanyaku saat kami mulai berjalan menuju pintu utama.
“Iya, orangnya rajin soalnya, hihi…” jawab bunda sambil terkekeh, aku megangguk mengerti.

“Assalamu’alaikum… Sar, Sarita…” bunda mengetuk pintu pelan.
Tak lama keluar seorang perempuan bercadar toska dengan khimar dan jilbab yang senada “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh… Ya Allah, Kareena, udah nyampai duluan ternyata. Ayo, silakan masuk, duduk dulu ayo!” ucap perempuan itu ramah.

“Aku Sarita, temennya bundamu…” ucap perempuan tadi yang ternyata adalah tante Rita.
“Iya, saya Rena tan…”
“Kamu udah gede aja ya…” tante Rita terkekeh.
Aku tersenyum sambil mengangguk. Tante Rita aneh juga ya, masa dari waktu ke waktu aku disuruh kecil mulu. Kan nggak seru kalau gitu.
“Ta, anakmu mana? Kok nggak keliatan?” tanya bunda kemudian.
“Oh, iya. bentar, aku panggilin dulu.” Timpal tante Rita, kemudian ia berlalu ke belakang—mungkin—memanggil putrinya.

Tak lama tante Rita kembali dengan—sepertinya—jus jeruk. Dibelakangnya diikuti seorang perempuan berkhimar pech dengan cadar hitam yang membawa biskuit dan roti bolu di atas nampan—sepertinya. Sebentar! Nampaknya aku pernah bertemu perempuan itu. Oh! Itu kak Meera, iya kak Meera. Dunia memang sempit.

“Kak Meera!” seruku pelan.
“Kalian sudah kenal?” tanya bunda.
Kak Meera sepertinya tersenyum, “Iya, tante. Kita pernah bertemu sebelumnya”
“Wah, sip deh kalau gitu!” timpal tante Rita, “Maaf ya, adanya Cuma ini di dapur”
“Kebiasaan deh kamu, ngrepotin jadinya”
“Nggak repot kok… seneng malahan.” Tante Rita tersenyum ramah, “Meer, ajak Rena main gih!”
Kak Meera mengangguk, “Ayo, Ren!”

Aku mengikuti langkah kaki Kak Meera. Kami berhenti di sebuah taman di belakang rumah yang berkuran lebih besar dari taman yang berada di halaman rumah ini. Wow! Rumah ini benar-benar rumah idaman. Indah, rapi, asri, bersih, dan yang jelas nyaman.

“Duduk dulu ukh!” titah kak Meera.
“Iya,” aku duduk di sebuah ayunan—sepertinya—jati yang indah. Mirip dengan milikku di rumah, hanya berbeda pada ukiran yang berada pada ayunan ini. Sangat indah!
“Saya ke dalam dulu ya ukh!”
“Iya kak, siap…!”

“Diminum ukh jusnya!”
“Iya, ini aku minum ya kak…”
kak Meera tersenyum sambil menaikan cadarnya, hingga nampaklah wajahnya yang ayu rupawan. Sangat cantik, pipinya tirus dan ada semburat kemerahan di sana, manis sekali!

“Ini ukh, dibaca. Bagus banget!” belum usai aku memperhatikan wajahnya yang sangat proporsional, kak Meera memberikan sebuah buku yang tidak begitu tebal dengan sampul warna hijau kecoklatan. Sepertinya semacam novel.
“Apa ini, Kak?”
“Itu novel, genrenya spiritual. Bagus banget, ada romancenya juga. Ukhti pasti suka. Bawa aja pulang!”
“Wah, makasih. Nanti kalau ada waktu kosong aku baca.” Kumasukan novel itu ke dalam tas. “Oya, Mbak jangan pangill aku ukh atau ukhti dong. Panggil aja Rena atau dek gitu”
“Oh, Ukh… maksudnya Rena nggak suka dipanggil gitu?”
“Bukan, suka kok. Suka. Cuma agak gimana… gitu. Kayak kurang bersahabat, panggil aja dek, kan aku masih unyu-unyu”
“Ih, kamu pede banget sih…”
“Hehehe…”
“Oya Ren, kamu pangill aku mbak aja ya, aku kurang nyaman di pangil kakak” ujar kak Meera.
“Oh, oke. Mlbak Meera, bagus.” aku menilai panggilan baru untuk kak Meera—maksudnya—mbak Meera, “Aku tahu apa alasannya!”
“Apa?”
“Alasannya—mungkin—panggilan kakak itu terkesan terlalu banyak jarak diantara kita, iya kan”
“Wah, kamu hebat ya…”
“Iya dong, siapa dulu emaknya, Mak Kareena…”
“Iya…iya…”
“Hehehe”

“Mbak Meera sejak kapan pakai cadar?” tanyaku saat kami sedang berajaln-jalan di taman komplek perumahan rumah mbak Meera.
Mbak Meera nampak berpikir, “Akhir kelas sembilan, anggep aja sebelum UN!”
“Oh… Mbak terinspirasi dari siapa aja?”
“Utamanya sih dari Umi sama keluarga yang kebanyakan pake cadar. Sama dari temen-temen aku juga, banyak deh yang menginspirasi!”
“Awal pake cadar itu pasti ada suka dukanya kan,” tebakku. Mbak Meera mengangguk.
“Apa aja Mbak?” tanyaku lagi—kayak wawancara ya.
“Ya, banyak. Sukanya itu ngerasa lebih aman dan lebih dekat. Mbak itu ngerasa ada yang njagain mbak.”
“Kalo dukanya?”
“Dukanya,” Mbak Meera nampak berpikir menerawang ke masa lalu, “Waktu Mbak mau masuk SMA, nggak ada SMA negeri yang mau nerima mbak, karena mbak pake khimar yang besar dan bercadar. Mbak sempat nyerah dan berpikir buat ngelepas cadar yang mbak pakai. Kembali jadi mbak yang dulu, ya… kalo sekarang disebut ‘hijabers’. Tapi, umi, abi, Maura, Raihan, bibi, dan keluarga yang lainnya terus ngeyakini Mbak bahwa masih banya sekolah swasta yang bagus. Jadilah mbak sekolah di sekolah swasta, bagus sih… tapi mahal, hehe…”
Aku ikut terkekeh. Betapa sulit ujian mbak Meera. Semoga Allah selalu melindunginya. Amin.

“Kalo Raihan Mbak sama Mbak Maura dimana?” pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulutku.
Air muka mbak Meera tiba-tiba berubah sayu, “Raihan dia…” suaranya tercekat, ia menundukkan pandangannya.
“Maaf Mbak, aku…” kurangkul Mbak Meera.
“Tidak papa,” Mbak Meera menghapus setitik air mata di sudut matanya, “Raihan sudah tiada, dia meninggal karena terserang kanker otak stadium akhir saat itu, kami terlambat mengetahuinya. Kami sempat mengalami kesedihan yang mendalam, terlebih umi. Putra kesayangannya telah pergi meninggalkannya untuk selamanya, tak kembali. Tapi perlahan kami bangkit. Allah berfirman ‘ Setiap yang benyawa pasti akan merasakan mati. Dan hanya kepada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya’, surat Ali Imron ayat 185. Firman allah itu yang membuat kami tersadar bahwa kesedihan kami itu adalah tipu daya dunia yang fana. Di sana, di surga, kami percaya bahwa Raihan telah bahagia bersama ibunda Aisyah r.a.”
“Kalian semua kuat ya, aku turut berduka, maaf ya Mbak, aku udah mengorek luka lama Mbak,” sesalku.
“Tidak apa-apa, terimakasih,” di saat seperti ini Mbak Meera masih tetap tersenyum, hebat!
“Mbak Amara, Mbak?” tanyaku mengalihkan pembicaraan tentang Raihan.
“Amara, kembaranku, satu bulan yang lalu dia berangkat ke Spanyol. Mengikuti suaminya sekaligus melanjutkan sekolahnya.”
“Wah… hebat ya, Mbak Maura” jawabku.
“Iya, dia pinter banget. Aku aja kalah, kata orang kalau kembar itu pasti salah satu ada yang cebderung lebih pinter. Da ya! Amara lebih pinter, tapi sayangnya dia memiliki masalah dengan jantungnya dulu, sekarang udah sembuh sih…”
“Kasian ya, Mbak Amara, tapi semua orang pasti ada plus minus-nya kan”
“Heem, dan apapun yang terjadi diantara kami berdua. Aku tetap bangga sama Amara, dia kebanggaan kami sekeluarga!”
“Sayangnya mbak Maura nggak pake khimar”
“Itu dulu sebelum dia menikah, sekarang dia sudah pakai”
“Serius? Alhamdulillah kalau gitu”

“Kamu nggak ingin pake khimar Ren?” tanya Mbak Meera tiba-tiba.
“Hihi… pengen sih Mbak, tapi aku masih ragu,” ucapku sambil menampilkan cengiran terbaikku.
“Kenapa ragu? Semakin cepat semaikn baik. Jangan ditunda Ren, kita nggakk tahu kapan kematian akan menghampiri. Keraguan itu hanya bisikan setan saja,”
“He, iya Mbak…”

Aku termenung menatap lagit dengan gugusan bintang dari atap rumahku. Sesekali kuayunkan ayunan jati yang berwarna merah muda ini. Kata-kata Mbak Meera berputar ters-menerus di telingaku bagai kaset yang telah kusut.
‘Semakin cepat semaikn baik. Jangan ditunda Ren,’
‘Setiap yang benyawa pasti akan merasakan mati’

“Hei, ngapain lo bengong?” bang Galih membuyarkan lamunanku yang masih seru.
“Apaan sih, Bang?” gerutuku.
“Lo kenapa?” Bang Galih duduk di sampingku dan merangkulku.
“Gue takut, Bang” kutundukan kepalaku dalam-dalam menyembunyikan airmatku yang hendak menetes.
“Takut apa, kenapa nangis? Cerita ke gue, cerita sama abang!” bang Galih mengangkat daguku pelan, terlihatlah wajahku yang penuh dengan air mata.
Kupeluk bang Galih erat, “Hiks… gue takut mati Bang!” kurasakan tubuh bang Galih menegang.
Ia melepaskan pelukannya lalu mencengkram bahuku, “Lo, lo ngomong apa sih Ren, gue nggak suka lo ngomong begitu.”
“Gue takut… hiks… gu.. gue takut mati sebelum gue jadi orang baik hiks… sebelum gue menutup aurat gue, gue takut…”
“Udah, udah jangan takut. Lo jangan ngomong gitu lagi. Udah, diem, jangan nangis. Lebih baik lo tidur aja, oke” aku mengangguk dan menghapus sisa-sisa air mata di pipiku kemudian pergi meninggalkan bang Galih yang masih termangu.

Pagi yang cerah menyapa. Di balik tirai aku menatap langit penuh yang menyala kemerahan, tanda sang fajar telah tiba. Apa lagi yang aku inginkan? Aku hanya takut. Kupegang erat pashmina peach pemberian mbak Meera kemarin. Ingin rasa hati ini mengenakannya. Tapi masih terselip keraguan di dalam sana.

“Ren,” seru bang Galih yang ternyata berada di belakangku.
“Lo bang, ada apa?”
“Lo kenapa?” bang Galih mengambil duduk di kursi di depan meja belajarku.
Aku terdiam sejaenak, “Gue pengin pake khimar Bang”
“Lo yakin?”
Aku menggeleng lemah, “gue nggak tahu, tapi gue percaya keyakinan itu bakal tumbuh semakin besar suatu saat nanti”
“Pakai aja, gue seneng banget kalau lo pake khimar. Gue bangga jadi abang lo” Bang Galih memasangkan pashmina itu di kepalaku, membuatku meneteskan air mata haru.
“Jangan nangis, gue nggak suka liat lo nangis kayak gini” ucapnya sambil menyeka air mataku.
“Gue nyesel Bang… kenapa nggak dari dulu gue pakai jilbab”
“Udah, ngak papa. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali”

Banyak hal yang terjadi usai aku pmenggunakan khimar di kepalaku. Banyak teman sekolahku yang terheran-heran dengan perubahanku. Ada yang mendukung dan menolak. Ada yang mendekat dan ada yang menjauh.

Abah dan bunda sangat bahagia saat mengetahui aku sudah menggunakan khimar. Begitu juga dengan mbak Meera. Ia juga sangat senang. Beberapa khimar dengan warna yang sangat aku sukai diberikan oleh mbak Meera padaku. Sweet banget…
Usai menggunakan khimar. Aku jadi sering mengikuti halaqah bersama dengan mbak Meera. Mengkaji ilmu-ilmu islam dan belajar dari banyak orang. Manusia hidup di dunia untuk beramal shaleh, beriman kepada Allah SWT. Dan mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran. Selalu belajar dari siapapun dan mengamalakan apa-apa yang telah di dapatkan. Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengamalkannya

Cerpen Karangan: Zianna Fasichalisna
Blog: www.kachakarya112.blogspot.co.id
penulis amatir yang sedang mencoba berimajinasi dengan huruf dan angka. lebih suka sastra dari pada kimia. tapi sayang seribu sayang, di sekolah nggak ada jurusan bahasa.

Cerpen Setitik Embun Kala Angin Bertiup merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tauladan Seorang Ibu

Oleh:
Melahirkan seorang anak dengan penuh perjuangan dan kesabaran Ibu, sungguh pengorbanan yang tiada batas. Ketika anak lahir di dunia, semua orangtua menginginkan anaknya menjadi sholeh dan sholehah. Aku dilahirkan

Remember Me

Oleh:
Siang ini cuacanya sangat panas, dengan berat Naura membuka matanya yang sedang kesilauan. Tiba-tiba ada seorang pengendara motor yang hampir menabraknya karena mengantuk, Naura pun langsung memejamkan matanya secara

Rania

Oleh:
Aku masih di sini. Bersama dengan Rania di sudut kantin sekolah. Tampak sekali sekitar kami sudah sepi. Yang memastikan bahwa hampir semua siswa SMA Pramudya Aksara sudah pulang ke

Notes Hitam

Oleh:
‘Orangtua bagiku hanya peduli dengan kesuksesanku, tapi tidak sedikit pun dengan kebahagiaanku. Mereka bersungguh-sungguh menjaga nama baikku, tapi sebenarnya tidak!! Mereka hanya menjaga nama mereka sendiri agar tampak baik

Siapa Itu, Allah SWT

Oleh:
Hari ini rembulan bersinar begitu terang, seperti ia sedang bahagia. Tepat pada pukul 10 malam di sebuah desa terpencil ada sebuah keluarga baru yang dikepali oleh Pak Rasyid dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *