Setitik Harapan Untuk Ibuku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 4 August 2016

Matahari pagi menyemburat langit bercahaya. Suasana pagi di rumah Anisa sedikit berbeda. Terdengar riuh obrolan ibu-ibu tetangga yang sedang berkumpul di teras rumahnya, sesekali suasana itu berubah menjadi hening hampir tiada desah nafas yang terdengar. Ayah Anisa mondar-mandir di depan pintu kamar dengan raut cemas-cemas takut. Anisa termenung. Ia tidak mengerti suasana dan kejadian apa yang tengah ia lihat di rumahnya. Dari dalam kamar terdengar pembicaraan antara ibu Anisa dengan seorang ibu paruh baya. Namun, terkadang terdengar pula keluhan rasa sakit suara ibu. Anisa penasaran kejadian apa di dalam. Ayah meminta masuk ke dalam kamar dan diperbolehkan. Sedang tatkala ia mohon diri masuk, sang ibu paruh baya yang tidak dikenalnya justru melarangnya.

Suara tangis bayi memecah sunyi rumah Anisa. Ayah ke luar dari kamar dengan wajah ceria dengan tawanya yang amat sempurna. Digendongnya seorang anak mungil di kedua tanganya, Anisa hanya memandang ayah bingung. Segera ayah mengumandangkan adzan di telinga kanan adik mungil dan iqamah di telinga kirinya. Anisa masih tertegun, ia belum paham betul gerangan apa yang sedang terjadi. Di hatinya dipenuhi tanda tanya, Siapakah adik yang ada di tangan ayahnya?. Beruntung ayah Anisa tahu apa yang sedang anaknya bingungkan. Sang ayah mendekati Anisa setetehri tersenyum halus, tersenyum amat halus. “Anisa..!” Ayah memanggil Anisa pelan. Anisa mengangguk. “Dek Nisa cantik, ini adik baru teteh Nisa. Ibu baru saja melahirkan adikmu tadi. Ibu masih di dalam kamar.” Jelas sang ayah. Anisa mencoba mencerna kalimat sang ayah. “Yah… Ternyata aku punya adik.” Batin Anisa berteriak. Anisa tersenyum bahagia. Dihampirinya sang ayah yang telah duduk di ranjang. “Ayah, teteh Anis boleh cium dedeknya?” Anisa merayu sang ayah. Ayah tersenyum mengangguk.

“Ibu..! Seragam teteh Anis mana?” Anisa memanggil ibunya. Dibiarkanya tangan kecilnya mengorek-ngorek seluruh isi lemari. Ia sedikit emosi mencari seragam yang tak kunjung ditemukan. Ibu melihat polah anaknya dan tersenyum. Anak sulungnya ternyata masih belum mandiri. “Teh Nisa, ibu kan sudah pernah bilang kalau seragam itu ada di rak paling atas. Teteh pasti lupa.” Anisa tersipu. Digaruknya kepala yang tidak gatal. Ia segera mencari seragamnya dan memang semua seragam sekolahnya tertata rapi di rak lemari bagian atas. Anisa sedikit malu, ia merasa bersalah pada ibunya. Ia merasa masih terlalu manja padahal ia sudah duduk di bangku tiga Sekolah dasar. Mulai saat itulah ia berjanji pada dirinya untuk membanggakan ibunya.

“Adek Hamzah jangan sobekin buku teteh!!” Bentak Anisa pada adiknya. Ia tak sadar bahwa kata-katanya terlalu keras dan kasar. Hamzah menangis keras, dipanggilnya sang ibu yang sedang memasak. Ibu menghampiri dua buah hatinya, diusapnya kepala Hamzah lembut. Ia menatap Anisa pekat dan mendalam seolah menyiratkan ketidak setujuan. Kali ini Anisa benar-benar merasa terlalu berdosa pada ibunya. Digenggamnya tangan sang ibu dan dipeluknya. “Ibu.. maafin Teh Anis ya, bu!” Rengeknya. Matanya mulai berkaca, sedikit demi sedikit air matanya jatuh membasahi pipi bakpaunya. Anisa tak tahan dengan perasaanya, segera ia berlari ke kamar dan mengunci pintu perlahan. Ia merebahkan dirinya di atas kasur, merenung. “Ya Allah, Anis kok jahat ya sama ibu? Anis malah bikin dek Hamzah nangis padahal ibu lagi masak.. ya Allah Anis pengin berbakti sama ibu. Anis sayang banget sama ibu Anis. Ya Allah maafin Anis ya..” Anisa mengusap air matanya yang jatuh perlahan. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Dibukanya buku yang tergeletak di kasurnya. “Anak- Anak Penghafal Al-Qur’an” judul buku yang sedang ia baca namun tak kunjung selesai. “Ini kan hadiah dari ibu waktu Anis masuk SD dulu. Aduh… kok bisa ya, Anis lupa membacanya”. Di dalamnya ada sebuah surat yang masih terbungkus rapi dengan amplop pink bermotif bunga. Anis makin teringat dengan kasih ibunya. Ia ambil amplop itu dan dibukanya perlahan.

Assalamu’alaikum bidadari ibu yang sholihah…
Sayang ibu selalu menyapamu di setiap hari. Cinta ibu untuh teh Anis tak pernah berkurang semakin berjalanya waktu. Cinta ibu makin bertambah sekarang karena teteh dah punya adik baru. Ibu berharap rasa yang ibu berikan padamu mendukung perubahan kedewasaanmu. Ibu harap teteh makin disiplin waktu. Jangan sia-siakan waktu yang teteh punya. Sama adik baru teteh rukun. Ibu. Ibu amat sayang sama teteh. Teteh adalah harapan pertama ibu. Teteh adalah permata yang tak akan pernah terganti dengan anak-anak ibu yang lain. Mengapa? Karena teteh adalah harapan kebahagiaan ibu.
Teteh sayang… Ibu bangga banget sekarang. Ibu bangga karena teteh dah masuk SD dan juga karena teteh dah bisa baca sama nulis.
Teteh… teteh sayang ibu, kan? Kalo teteh sayang ibu, bacalah buku ini sampai habis lalu renungkanlah. Ibu tahu kau amat suka merenung. Merenungi kejadian-kejadian yang teteh alami. Ibu itu amat ingat waktu teteh kecil suka lihat-lihat burung sampai detail terus tanya sama ibu hal-hal yang tak pernah ibu pikir.
Teh.. ibu percaya kalo teteh tahu maksud ibu dengan buku itu.
Salam sayang, salam cinta selalu dari ibu untuk teteh Anis…
Wasssalam.. Purbalingga dengan deraian cinta.

Anis mengusap matanya. Ia baru tahu dan baru sadar, ternyata surat yang datang dari ibu sudah hampir tiga tahun baru ia buka dan baru saat ini ia membacanya. Ia segera melipat surat itu dan dimasukanya lagi ke dalam amplop.

Beberapa hari setelah kejadian itu Anis menghampiri ibunya, diciumnya tangan ibunya yang mulai kasar. “Bu…!” sapa Anis. “Ya, sayang. Ada apa? Tumben teteh kaku gitu gayanya?” Ibu membelai kepala Anis lembut. Dirasakanya bimbang yang amat sangat. Ia mencoba memberanikan diri berucap. “Ibu, teteh kok pengin masuk pondok tahfidz ya, bu?” Ia sedikit grogi. Ditariknya nafas pelan-pelan. Ditatapnya wajah teduh ibu dengan seksama. Ibunya tersenyum, mengangguk. “Alhamdulillah, anak ibu sudah merenung.” Ibu mencubit hidung Anis yang pesek. Dibawanya tersenyum. “Ternyata ibu masih ingat dengan surat itu.” Detik Anisa dalam hatinya. Ia amat bahagia sekarang. Ia akan mencoba berbicara dengan ayah. Dihampirinya sang ayah yang sedang duduk di beranda rumah. Ia mengatur nafasnya lagi. Sekarang ia tengah berdiri di hadapan lelaki paruh baya yang gagah. Ya, sang ayah. Melihat tingkah anaknya membuat ayah terusik untuk bertanya. “Teh Anis mau ngomong sama ayah?” Anis mengangguk. Ia pun duduk di hadapan ayahnya dengan khidmat. “Ayah, Anis mau tanya sama ayah. Boleh ngak?” Tanyanya pelan. Sang ayah hanya tersenyum dan mengangguk. “Ayah, teh Anis pengin sekolah di pondok, boleh nggak yah?” Ia sedikit takut. Namun, ketakutanya hilang tatkala sang ayah mengiyakan permintaanya. Dipeluknya sang ayah dengan erat, diciumnya pipinya berkali-kali. Ia segera berlari menghampiri ibu yang sedari tadi memperhatikan anak perempuanya.

Usai kenaikan kelas empat Anisa resmi menjadi santri Pondok Tahfidz untuk tingkat sekolah dasar di Temanggung. Tepatnya di pondok al-Husna. Ia berangkat ke Pondok diantar oleh kedua orangtuanya dan adik Hamzah sang bungsu. Sebelum kedua orangtuanya pulang, ibunya menyelipkan sebuah kado di tasnya. Ia mencium pipi Anisa dan menangis haru.Sang ayah hanya menatap sang anak dengan penuh kepercayaan. Percaya bahwa anak perempuanya bisa memenuhi cita sang ibu. Sebuah cita-cita mulia, yaitu memiliki anak perempuan sholihah, berbakti lagi penghafal Al-Qur’an.

Masa awal di Pondok
“Nisa!” Salah seorang ustadzah memanggilnya. Ia menoleh. “Nanti sore adek setoran hafalan, ya! Sudah dua hari adek gak pernah setor, padahal ustadzah tahu kalo adek sebenarnya bisa. Setoran ya, nanti sore. Ustadzah tunggu di halaman.” Anis hanya tersenyum kecil, ia mengangguk tanda mengerti. Namun, disisi lain perasaan tidak enak sedang menyergap hatinya. Perasaan tidak enak terhadap ibunya karena selama dua bulan disini ia belum hafal surat kecuali hanya sampai al-zalzalah.

Sore hari menyambut dengan sayu. Anisa berjalan gontai menuju kamar ustadzah. Mulut bergerak-gerak dengan sesekali membuka mushaf yang ada ditanganya. “Lam yakunilladzina kafaru.. min ahlil kitab..” Anisa terus mengulang-ulang ayat pertama surat Al-Bayyinah tersebut. Sesekali ia berhenti untuk mengatur nafas lalu diteruskanya langkah yang kian lama semakin dekat dengan kamar bercat hijau milik ustadzah. Tepat di depan kamar ustadzah ia berhenti, mengingat-ngingat seluruh ayat pada surat Al-Bayyinah.

“Bismillah” ucap Anisa lirih. Ia beranikan diri mengetuk pintu kamar ustadzah tersebut. “Assalamu’alaikum, ustadzah. Ini Anisa mau setor hafalan. Ustadzah Karima ada ngak, us?” Spontan ia berucap panjang. Di hadapanya kini tengah berdiri sesosok wanita yang dicarinya. Ya, ustadzah Karima sudah ada didepanya. Anisa berkeringat dingin, diaturnya nafas yang kian tidak teratur. “Anis jadi mau setoran?” Tanya ustadzah pelan. Ia mengangguk polos. “Sini masuk kedalam!” Ajak ustadzah Karima. Anisa melangkahkan kakinya perlahan. Ia duduk dengan khidmat sebelum memulai setoran. Dibacanya basmalah dengan fasih dan lantang, sang ustadzah tersenyum. Kali ini baru pertama kalinya ia dapati seorang santri yang membuatnya bangga. Anisa melanjutkan metetehcanya. “Lam yakunilladziina kafaruu min ahlil kitaab…” Ia memulai menghafal ayatnya. “Al-hamdulillah hafalan Al-Bayyinah lancar.” Lirihnya dalam hati. Ia amat senang karena berhasil menyetorkan hafalan surat yang amat susah baginya. Usai menyelesaikan setoran ia pamit dan mohon diri. Sang ustadah tersenyum. “Semangat ya Anisa!” Pesan ustadzah. Anisa mengangguk.

Lelah, hari ini Anisa merasa amat lelah. Genap setengah tahun ia tak bersua dengan kedua orangtuanya. Rindu, ya. Anisa rindu nasihat ibu, nasihat yang selalu keluar dari bibirnya adalah anugrah terindah untuk jiwanya. Ia duduk diberanda asrama, pikiranya menerawang ke angkasa raya. Ia merenung kembali, mencoba mengumpulkan mozaik-mozaik yang tercecer di belantara otaknya. Kali ini Anisa sedang merasa bosan, sangat bosan. Ia ingin mendengar nasihat ibunya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, ditinggalkanya pelataran sepi. Ia segera berlari masuk kamar. Dibukanya lemari bukunya, ia mengedarkan seluruh pandangnya ke sudut-sudut lemari. Anisa mencari bungkusan kado yang ibu selipkan di tas dulu. Kali ini Anisa baru ingat, segera diraihnya bungkusan kecil yang tertutup deretan buku-buku. “Menuai Syurga dengan Bakti Orangtua” buku itu adalah isi kado ibu. Buku itu adalah hadiah kedua dari ibu. “Ya Allah, ternyata Anisa melupakan kado cinta ibu. Maafkan Anisa untuk yang kesekian kalinya..” gumamnya dalam hati. Dibukanya buku itu perlahan, di tengah halaman buku ada secarik surat terselip. Anisa membukanya.

Alhamdulillah… adalah ucapan yang amat pantas untuk ibu haturkan pada sang Kuasa. Anisa anakku sudah berkeinginan sendiri masuk pesantren.
Anisa shalihah, ibu berterimakasih padamu, nak. Kau mau memenuhi harapan ibu. Dan tahukah kau Anisa? Ibu amat bangga.
Anisa, kelak jika ibu telah tiada, doakan selalu ibumu ya. Ibu berharap kau mau menghafal Al-Qur’an supaya kau bisa memberikan ibu mahkota di syurga. Semangat ya nak! Oh ya, jadilah permata di hati ibu untuk selamanya. Anisa, ibu minta maaf kalau kedepannya ibu tak bisa menengokmu, tapi akan ibu usahakan terlebih dahulu. Ok, sayang.
Sekarang fokuslah menghafal. Ibu ingin dengar hafalan Anisa jika libur nanti. Anisa mau, kan? Ibu ingin Anisa mampu mewujudkan mimpi ibu yang satu ini. Tapi, ibu tidak memaksa Anisa kok. Kerjakanlah semampu Anisa.
Udah dulu ya teh. Ibu menunggumu disetiap waktu
Purbalingga dalam pelukan cinta,
Ibu.

Anisa menatap kertas itu dalam-dalam. Dicernanya kembali pesan-pesan ibu. Motivasi menghafal pun kini makin menjadi. Ia bersujud pada Allah karena bahagia menghampiri dirinya lagi. Diletakanya buku dan surat itu di atas kasur. Ia berlari keluar mencari ustadzah Karima. “Ustadzah…” Panggil Anisa keras. Ustadzah menoleh. “Ustadzah, Anisa terima tawaran ikut lomba hafalan besok. Anisa udah semangat lagi. Anisa ingin membahagiakan ibu di rumah.” Tuturnya jujur. Dipeluknya sang ustadzah seperti memeluk ibunya sendiri. Ustadzah Karima mengelus kepala Anisa lembut. Tak terasa, air mata ustdzah Karima menganak sungai. Ustadzah Karima terharu dengan sikap muridnya yang amat dewasa di tengah belia usianya.
“Ibu, doain teh Anis ya! Teteh mau ikut lomba hafalan di Semarang, mewakili Pondok teteh. Ya, walau hanya hafalan juz 30 saja. Hehehe..” Anisa memencet tombol send. Pesan singkat itu sudah terkirim ke nomor ibunya.

“Anisa sudah siap?” Tanya ustadzah Karima. Anisa mengangguk, ia mencoba mengatur nafas sebelum naik ke panggung. “Bismillah” Doanya lirih. “Semoga sukses” kata Ustadzah Karima mendoakan. Diayunkanya kaki mungil itu ke atas panggung, dilihatnya hadirin yang entah berapa jumlahnya Anisa tidak tahu. Sebelum memulai hafalan, ia ingat-ingat wajah dan senyum ibunya. Semangat optimisme terus tumbuh di sanubarinya. Lantunan qira’ah terlafadz lancar, penonton mendengarkanya dengan penuh khidmat. Seketika lantunan hafalan Anisa menyihir penonton, banyak di antara penonton sesenggukan karena tangis saat mendengar bacaan surat Az-Zalzalahnya. Usai menghabiskan hafalan satu juz di depan khalayak, terdengar suara tepuk tangan bersahutan. Suasana ramai sekali. Anisa turun dari panggung dengan senyum merekah. Saat ini ia hanya menunggu pengumuman pemenanag saja.

Acara lomba tahfidzul Qur’an usai. Semua peserta telah menunjukan kebolehanya melantunkan Al-Qur’an. Hati Anisa amat bimbang, begitu dengan peserta lainya. Semua merasakan hal sama dengan Anisa, yaitu perasaan harap-harap cemas. Pembawa acara melangkahkan kaki keatas panggung, semua mata menyorot padanya. Semua wali peserta lomba berdoa untuk keberhasilan anak didiknya, begitu pula ustadzah Karima. Ia menundukan kepala dalam-dalam, berdoa dengan patuh untuk kesuksesan Anisa.

Pembawa acara mulai mengumumkan pemenang lomba hifdzul qur’an. Ia memulai dari sang juara ketiga. “Juara ketiga pada event hifdzul qur’an ini dimenangkan oleh…” Hati Anisa berdetak tak menentu. Ditundukan pandangannya ke tanah. “Ya Allah, Anisa harap…” Doanya. “Oleh… Azura dari SDIT Nurul Huda Purbalingga, juara kedua diraih oleh Faris adik kita dari SDIT Darul Istiqamah Semarang dan yang terakhir yaitu sang Penghafal Al-qur’an … Juara satu diraih oleh Anisa Amnatul Jannah dari SDIT Al-Husna Temanggung. Kepada semua juara diharapkan maju ke depan.” Ucap sang pembawa acara.

Anisa menerima piala langsung dari Gubernur Jawa Tengah. Namun, saat ia sedang menerima bingkisan kadonya tiba-tiba tanganya tak kuat dan ia terjatuh. Ustadzah karima segera berlari menyelamatkan anak didiknya. Ada sedikit bulir kecemasan di hatinya. Anisa segera dibawanya ke ruang UKS, dalam perjalanan tak henti-hentinya sang ustadzah berdo’a.
“Ibu…! Ibu…! Ibu jangan tinggalin teteh sendirian! Teteh masih kangen sama ibu…” Tangis Anisa membahana memenuhi ruang UKS. Tapi, Anisa belum terbangun juga, Ustadzah Karima makin cemas. Tak sengaja, ketika ustadzah Karima mengusap peluh di pipi Anisa ia melihat secarik kertas. Diambilnya kertas tersebut dari saku baju Anisa lalu dibacanya.

Assalamu’alaikum ibu,
Hari ini Anisa ikut lomba hafalan, Anisa harap ibu bahagia mendengarnya. Ibu, Anisa tak pernah ibu jenguk selama ini untuk mengajari dewasa. Anisa tahu itu.
Ibu, tuhan semesta alam berpesan padaku untuk selalu berbakti padamu, Ia menyampaikanya pada surat Al-Ahqaf. Surat itu amat sering Anisa baca jika sedang rindu ibu. Ridhamu adalah rahasia kesuksesanku dan cintamu hingga detik ini adalah pembakar imanku.
Karena ketulusan do’amu, kesusahan dan kesedihan yang aku rasakan lenyap. Jika ada yang memisahkan aku, maka engkaulah denyut nadi di jantungku, engkaulah cahaya dimataku. Dan engkaulah nada di bibirku, dengan melihat wajahmu kecemasanku hilang. Ku kan kembali duhai ibu, kan kupeluk erat dirimu. Ku kan kembali, dan aku tak akan pernah nyaman dengan safarku ini. Janji keduaku baru dimulai ketika ranting telah tumbuh dengan bunga. Bunga yang selama ini kau idamkan. Bunga yang akan membawamu mulia di hadapan sang Pencipta.
Jangan bersedih duhai ibuku…
Aku akan datang menjengukmu esok dengan berlinang air mata. Jangan berucap selamat tinggal duhai ibuku. Setelah hari ini, tiada perpisahan lagi kecuali karena kematian ibu…

Ustadzah Karima menangis membaca surat anak didiknya untuk sang ibu. Ia tak sadar jika ternyata Anisa telah bangun. “Ustadzah.. Anisa ada dimana?” Tanya Anisa polos. “Anis ada di ruang UKS tempat kamu lomba, sayang.” Jelas ustadzah Karima. Disembunyikanya kertas Anisa kedalam tas miliknya. Ia tersenyum syahdu. “Ustadzah, nanti Anisa boleh minta pulang dulu ngak? Anisa lagi kangen sama ibu.. kangen banget. Rasanya Anisa pengen peluk ibu..” Anisa meneteskan air mata. Usatadzah Karima mengangguk tanda mengerti.

Esok setelah perlombaan, Anisa pulang ke kampung halaman ditemani oleh Ustadzahnya, Ustadah Karima. Sesampainya di gang rumah, jalanan terlihat ramai, orang-orang berlalu lalang di sekitar rumahnya. Suasana ramainya melebihi saat Anisa hendak mempunyai adik baru. Saat itu yang banyak berkumpul hanyalah para ibu, sedang hari ini banyak sekali bapak-bapak ikut ramai di depan rumahnya. Ustadzah Karima yang menemani Anisa pulang merasa ada keganjalan di rumah Anisa. Ia mencoba untuk berbaik sangka semoga tidak ada peristiwa apapun. Anisa berjalan mendekati pelataran rumah, ustadzah Karima mengikutinya dari belakang. Anisa menerobos keramaian mencoba masuk ke dalam rumah. “Ayah…!” Anisa memanggil ayahnya yang sedang duduk diranjang dengan kepala menunduk. Di sisi ayahnya ada Hamzah sang adik lelaki. Hamzah hanya diam mematung, ia belum paham dengan peristiwa yang sedang terjadi dirumahnya. Anisa sedikit curiga. Ia masuk kedalam ruang tengah dan betapa ia terkejut, didapatinya sesosok ibu telah terbaring kaku di atas dipan dengan dibungkus kain kafan. Ia tak kuasa menahan air matanya tuk mengalir. Ia ciumi tubuh kaku yang ada di hadapannya berkali-kali, ia tak kuasa jika harus meninggalkanya. “Subuh tadi ibumu manggil kamu terus, Nis. Tapi pas kita tanya apa Nisa suruh pulang aja? Ibumu menggeleng. Ya sudah kita turuti permintanya.” Ucap salah seorang tetangganya menceritakan. Anisa mencoba tabah. Ia ingat selalu kata-kata ibunya bahwa ia adalah satu-satunya harapan ibu. Ia tak boleh cengeng, Anisa terus menyemangati dirinya untuk bersabar. Ya Allah…

Kini, Anisa sudah menginjak bangku kelas dua Mutawasithah di sebuah pondok pesantren di Banyumas, tepatnya Pondok pesantren Nurul Huda. Hafalan Al-Qur’anya sudah banyak, ia hampir saja menyelesaikan hafalan 30 juznya tahun ini. Tapi, ia sedikit bimbang. Ia berniat untuk menyelesaikanya diawal kelas tiga saja. Ia ingin selesai hafalan dihari ibu meninggalkan dunia ini.

Sekarang dikala senja merekah menenggelamkan dunia, Anisa duduk di pematang sawah sembari mendedangkan sebuah lirik nasyid kerinduan pada sang ibu. Nasyid yang ditujukan untuk seorang ayah namun ia rubah menjadi ibu. “Terbayang lagi kini… saat ibu tercinta melepas kepergianku.. Walau ada gundah terbias di wajahmu.. Namun senyummu tetap tabah. Dikala aku jauh ketulusan cintamu terpatri di sanubari.. doa keikhlasan mengalir tuk hidupku, membuat langkahku pun tertuju.. Ibu… kini ku bersimpuh di pusaramu… maafkan anakmu tak sempat bahagiakanmu.. ibu disaat segalanya telah kurengkuh kau telah pergi tuk selamanya… Ya Alloh kumohon padamu.. ampunilah segala dosanya… Ya Rabby kupinta pada-Mu jadikan ia sebagai ahli Syurga-Mu kumpulkan kami di syurga kembali …

“Ibu… andai kau masih berada di sisiku, kau akan bahagia melihatku disini. Ibu, kini mimpi ibu yang kau gantungkan pada teh Anis kan segera terwujud. Anisa tahu kalau ibu sedang tersenyum melihat Anis disini.” Anisa berlari meninggalkan pematang sawah, senyumnya merekah. Burung-burung kembali ke sarangnya bersama kembalinya Anisa ke dalam asrama.

Sragen, 12 November 2015
Ditengah rindu yang membuncah melangit, menggapai cakrawala

Cerpen Karangan: Inayah Nazahah
Facebook: Azma D’ Marvelous

Cerpen Setitik Harapan Untuk Ibuku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Milik Kita

Oleh:
“anak muda jaman sekarang itu hanya mengandalkan cinta” sahut bunda dari ruang tamu dengan nada rendah. Itulah cara bunda mengingatkanku setiap diri ini ingin merasakan cinta pada lawan jenis.

Sorry, Mom

Oleh:
Sudah tiga tahun lamanya, sejak ayah dan ibu berpisah. Hari itu tanggal 20 Agustus 1998 bertepatan dengan ulang tahunku. Ayah pergi meninggalkan aku dan ibu setelah pertengkaran dashyat pada

Pencarian Jawaban

Oleh:
Jari jemari menari diatas keyboard, mata memandang layar yang tiada henti hentinya memberikan tugas yang semakin lama semakin memberikan beban di mata. Tak kusadari esok hari beban itu mungkin

Misteri Bintang Jatuh

Oleh:
Hari ini Luna ingin cepat-cepat bertemu dengan sahabatnya Kayla. Dia ingin sekali menceritakan kejadian yang dilihatnya semalam. Makanya ketika pagi hari tiba dia tidak sabar lagi untuk pergi sekolah.

Masa Lalu

Oleh:
16 tahun yang lalu… “Ayah, cara pakai dasi gimana?” tanyaku pada ayah. “Begini sayang, nah, kamu masukkan ke sini, sini, terus ditarik.” Jawab ayah. Aku memperhatikan dengan cermat. “Ayah,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *