Seulanga Yang Terabaikan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 16 December 2015

Mesyen Seulanga Keumang. Gumpalan tipis nan lembut, bagaikan kapas putih itu terus menerus turun perlahan membungkus jalan aspal tempat aku berpijak. Ada yang aneh, matahari sore terlihat bersinar walau tak secerah di musim panas. Mungkin ini efek dari pemanasan global, atau bisa jadi karena minggu ini adalah minggu terakhir musim salju. Entahlah, yang terpenting bagiku adalah menikmati sore keduaku di Paris setelah kepulanganku ke tanah air untuk melaksanakan prosesi yang sangat sakral dalam hidupku, yaitu “menikah”. Kemarin aku kembali menjejakkan kakiku di negeri Eiffel untuk mengikuti wisuda sebagai sarjana di “Serbone University”.

Jalan-jalan kali ini terlihat berbeda dari sebelumnya, bagaimana tidak? hari ini aku didampingi sosok laki-laki yang telah menyadarkanku dari kebohongan dunia. Sungai Seine terlihat masih membeku namun tampak cantik dengan biasan sinar matahari sore, mataku tertuju kepada sepasang muda mudi yang sedang memasang gembok cinta di pagar Pont Des Arts. Sudah menjadi kebiasaan wajib bagi setiap pasangan turis asing mau lokal yang berkunjung ke Sungai Seine untuk memasang gembok tanda cinta mereka yang akan abadi di pagar Pon Des Arts. Kemudian membuang kuncinya ke dalam sungai Seinei. Sedikitnya 700.000 gembok dipasang oleh pengujung sungai Seine setiap bulannya. Melihat pasangan itu seolah lorong waktu membawaku kembali mengingat masa lalu nan suram bersama sosok itu, sosok yang tak pernah ku temui lagi semenjak kejadian itu, sosok penghancur karir dan hidupku.

“Seulanga cantik,” sapa Leo Tolstoty genit mencoba menggodaku, tak seperti biasanya Leo menyapaku dengan nada seperti itu.

Aku tetap tak akan membalas setiap sapaan laki-laki manapun. Hanya tersenyum kaku khas gadis Rusia. Walaupun sebenarnya aku bukanlah gadis Rusia asli namun aku mempunyai garis keturunan Rusia dari Kakekku, aku hanyalah Seulanga Anastasia Bilqis si gadis Indonesia. Banyak yang mengatakan bahwa aku ini cantik, cukup lumrah bagiku untuk mempercayai mereka, bagaimana tidak? aku mempunyai wajah khas nonik Rusia pada umumnya dengan wajah oval, hidung lancip dan mata abu-abu yang indah serta rambut blow brown yang menawan meski aku menutupi rambutku dengan jilbab.

Walau sudah berkali-kali diingatkan oleh pemerintah kota Paris untuk tidak mengenakannya lagi. Meskipun begitu tetap saja banyak laki-laki yang mencoba mendekatiku dengan berbagai cara mereka sendiri. Seperti dengan memberi bunga, cokelat, bahkan ada yang rela membuatkanku Fasion Show yang menampilkan berbagai macam tunik serta gaun-gaun hasil rancanganku. Tapi tetap saja tidak akan bisa mengubah hatiku ini.

“Seulanga!!!” panggil Alice yang terengah-engah berlari ke arahku.
“kenapa Alice? sepertinya kamu kelelahan?”
“ini dari Leo,” sambil menyerahkan sesuatu dari tangannya.

Leo Toistoty memang selalu memberikan surat kepadaku yang isinya selalu sama dari surat-surat yang sebelumnya ia berikan. Kalan kalau tidak, “kapan kita akan jalan-jalan bersama” pasti “aku tetap menunggu kau berubah pikiran.” cukup singkat memang isinya, namun surat itu diberikan kepada gadis-gadis lain pasti mereka sangat senang dan bangga menerima surat itu, dan aku yakin 100 persen mereka akan mengiyakan undangan itu untuk jalan-jalan bersama atau lebih dari sekedar itu. Untuk wanita sepertiku itu merupakan sebuah penghinaan yang besar, aku memakai jilbab dan aku sangat menjaga kehormatan jilbabku.

“aku yakin isi surat ini sama seperti kemarin Alice,” komentarku seraya berjalan menuju tempat sampah.
“Ingin kau apakan surat itu?”
“hanya ingin membuangnya,” jawabku.
“sudahlah Seulanga, apa salahnya jika kita membaca surat ini,” saran Alice sembari merebut surat itu dari tanganku dan membacanya.

Air mata Alice mengalir pelan dari sudut matanya, mengapa ia menangis? aku berusaha merebut surat itu darinya, aku penasaran dengan isi surat yang membuat sahabat dekatku menangis, tetap saja Alice tidak memberikan surat itu padaku. Alice terduduk lesu di bangku taman yang disediakan oleh kampus kami, dan aku pun ikut duduk bersamanya karena aku masih sangat penasaran dengan isi surat itu. “Bacalah,” seru Alice seraya memberikan surat itu padaku. Perlahan namun pasti air mataku mengalir, layaknya Alice.

“Hai wanita jal*ng lepaskan saja penutup kepalamu, jika kau masih memajang foto yang hanya membuat orang menganggapmu sebagai wanita murahan di blogmu sendiri, tapi tak mengapa aku suka dengan rambut blow brown. Bisakah kita menghabiskan waktu bersama malam ini dear?”

Aku mencoba membolak-balikkan surat itu mencari kepada siapa surat dikirimkan, berharap Leo salah mengirim surat dan hasilnya nihil. Aku mencoba membuka blogku melalui akun pribadi, ada yang janggal, blogku tidak bisa dibuka seperti ada yang mengubah password akunku. Aku pun mencoba melihat blogku melalui mesin pencari. Astagfirullah, siapa yang meng-upload foto-foto ini. Seorang Seulanga Anastasia yang berjilbab, seorang blogger yang terkenal, seorang designer tanpa perlu title sarjana design di belakang namanya, seorang mahasiswi business management di Serbone University, kini tampil hampir tanpa busana di blognya sendiri. Ya Allah siapa yang melakukan ini semua? siapa Ya Allah? Mengapa harus hamba ya Allah?

Aku masih duduk termanggu di bangku taman bersama Alice yang masih terduduk di sampingku. Aku tak tahu harus berbuat apa, akun blogku masih tetap tidak bisa dibuka. Menurutku seseorang sengaja menggantinya agar aku tak bisa menghapus foto itu. Alice sepertinya sudah bisa menerima keadaan bahwa sahabatnya tengah mengalami kesulitan yang besar. Si gadis asli prancis ini tampak sibuk menghubungi seseorang.

“siapa yang sedang kau hubungi Alice?”
“Polisi, siapa tahu mereka bisa menemukan orang yang berusaha merusak namamu?”
“Terima kasih Alice, aku benar-benar tak tahu haru berbuat apa sekarang,”
“Tak perlu berterima kasih Seulanga, aku ini sahabatmu,”

Aku hanya tersenyum mendengar jawaban Alice, dia adalah sosok langka yang ku temukan di Paris. Karena dialah orang pertama yang ku temui di kota ini. Dialah orang pertama yang berteman denganku, mungkin karena sebelumnya orang-orang berpikir bahwa orang yang berjilbab itu teroris. Aku bertemu pertama kali dengannya di depan Le Grande La Mosquee de Paris, masjid agung di pusat kota Paris. Saat aku pertama kali aku menginjakkan kakiku di kota ini, saat itu pula Paris sedang dilanda badai salju.

Plato dan lima lapis pakaian yang ku gunakan tidak mampu membuat tubuhku dalam keadaan hangat, ya aku sangat kedinginan. Sopir taksi yang ku tumpangi tega menurunkanku di depan bangunan yang mana setelah aku bertemu Alice aku mengetahui bahwa bangunan itu adalah masjid. Sopir taksi itu tidak mau mengantarkanku ke apartemen yang ku tuju. Awalnya dia mengira bahwa aku ini seorang biarawati karena saat itu aku mengenakan jilbab putih, plato merah dengan rok kembang sebetis, serta kaos kaki putih panjang selutut lengap dengan weighes hitam.

Di tengah perjalanan sopir taksi itu bertanya mengapa aku tidak ke gereja padahal hari itu merupakan hari minggu, dengan polosnya aku menjawab aku ini seorang muslim dan aku tidak ke gereja. Sopir taksi itu pun kaget dan segera menurunkan koperku dan menyuruhku turun dari taksinya. Aku hanya meratapi kesialanku, aku tak tahu harus menghubungi siapa, karena aku belum membeli kartu telepon setempat.

Saat itu aku terduduk lesu di bawah pohon palem di depan masjid. Aku merasakan dahaga yang sangat mendalam karena tidak terbiasa dengan cuaca yang sangat ekstrim, beruntung Alice yang sedang melakukan penelitian sejarah masjid pun ke luar dari masjid dan memapahku masuk ke dalam masjid. Saat itulah aku mulai mengenal Alice dan aku merasa cocok berteman dengannya walau dia bukan seorang muslim.

“Seulanga sebaiknya kau ke kelas saja biar aku yang mengurus segalanya sementara kau ke kelas saja,”
“tapi lice..”
“Sudahlah biar aku yang mengurus semuanya,” sanggah Alice.

Kelas hari ini terasa sangat membosankan, tidak seperti biasanya bu Margareta tidak memujiku walau aku telah banya menjawab pertanyaan darinya. Aku melirik jam di pergelangan tanganku yang sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Aku harus bergegas menuju butik Ny. Clarrise, karena seperti biasa aku akan berkerja untuknya, merancang busana yang indah dan berkulitas sama dengan kualitas butik miliknya, “de Boutique la Clarrise”. Aku harus menaiki metro untuk sampai ke butik yang terletak di sebelah selatan menara eiffle. Dari dalam butik terlihat Ny. Clarrise tergopoh-gopoh berjalan ke arahku.

“Seulanga Anastasia ini upah selama kau berkerja di sini,” kata Clarris sembari menyodorkan amplop cokelat tua itu ke arahku.
“Nyonya lupa hari ini kan masih tanggal 17, dan bukan saatnya untuk gajian?”
“Aku tahu, tapi kau juga harus tahu bahwa kau tidak akan berkerja lagi di sini,”
“Apa maksudmu memecatku Ny. Clarrise, bukankah aku selalu…”
“maaf aku harus melakukan ini sebelum nama butikku tercoreng oleh ulahmu di bolgmu sendiri,” potong Clarrise dan meninggalkanku dengan buliran air mata yang keluar tanpa aku komandoi.

Rasanyaaku ingin berteriak sejadi-jadinya. Perkataan Ny. Clarrise benar-benar memukul perasaanku. Mungkin jutaan manusia telah melihat bologku dan mereka telah berkomentar lebih dari Ny. Clarrise. Ya Allah berilah petunjuk kepada orang yang telah mengupload foto hina itu. Jujur memang benar aku pernah berfoto tanpa mengenaka jilbab, namun itu hanya untuk koleksi pribadi dan siapa gerangan yang mengedit fotoku menjadi foto yang hina itu ya Allah? Kakiku terus melangkah menjauh dari butik Ny. Clarrise, menjauh dari mimpi yang pernah terwujud. Masih terngat kisah awal musim semi lalu dimana aku begitu disanjung oleh Ny. Clarrise karena hasil rancangan busanaku yang begitu memuaskan. Masih teringat pula ketika ia lebih memilih aku dan busana rancanganku untuk tampil di Paris Fasion Week. Ya Allah inikah dunia, sungguh begitu kejam.

Musim semi kali ini memang terlihat begitu indah dibanding tahun lalu, bunga-bunga bermekaran menghiasi kota Paris, kota paling romantis di dunia. Seharusnya musim semi kali ini aku terlihat bahagia, namun tak mungkin dengan perasaan yang seperti ini aku terlihat bahagia. Seminggu semenjak kejadian blog yang menimpaku, aku memilih menenangkan pikiran di apartemenku. Tiga hari yang lalu Alice mengabarkanku bahwa polisi tengah menangani kasusku dan berhasil menghapus foto hina itu di blogku serta mengembalikkan password blogku.

Sedikit perasaan senang dalam benakku, perasaan sedih tetaplah melanda diriku mengingat kejadian seminggu silam saat Ny. Clarrise memecatku, bukan hanya itu, majalah Top Fashion yang tahun lalu mengemis-ngemis mengizinkan mereka untuk memasukkan design busana-busana dalam blogku ke majalah mereka akhirnya kemarin memutuskan kontrak denganku. Aku tak tahu bagaimana cara memberitahukan keluargaku di Indonesia karena dari butik Clarrise aku dapat menghidupi diriku, sedangkan uang beasiswaku hanya cukup untuk membayar uang kuliah saja. Ya Allah sesengguhnya engkau mempunyai rencana yang lebih indah di hari esok.

“Tok, tok, tok,” Pintu apartemenku seperti diketuk seseorang dari luar, ah mungkin saja Alice. Tapi kenapa harus mengetuk pintu bukannya Alice telah memegang kunci cadangan, kenapa tak langsung masuk saja? toh biasanya juga begitu. Aku pun bergegas membukakan pintu. Sosok berkemeja putih tampak berdiri di depan pintu apartemenku.
“Leo, untuk apa kau ke sini?” tanyaku.
“menjemputmu,” jawabnya sembari menarik kasar lenganku.
“Apa yang kau lakukan Leo?” teriakku padanya, tapi Leo tetap saja tidak menggubris teriakanku. Aku tak tahu harus berbuat apa, berteriak, mencoba berlari telah ku lakukan semua, namun kekuatanku tak sanggup mengalahkan Leo.

Leo membawaku ke tepi sungai Seine, tepatnya di pagar Pon DesArts. Aku tak mengetahui maksud dari Leo, sungguh aku lemah kali ini.
“Seulanga aku minta maaf karena telah megirimkan surat itu padamu,” pintanya padaku pada saat memulai pembicaraan, dan kali ini aku benar-benar terlihat membisu dan tak tahu harus berbuat apa lagi, ingin rasanya aku menampar pria yang telah melecehkanku lewat suratnya dan benar-benar telah menjatuhkan harga diriku sebagai seorang wanita.
“Seulanga, apa kau masih marah padaku? Seulanga maafkan aku, aku benar-benar minta maaf, saat itu aku hanya termakan oleh omongan Alice yang mengatakan bahwa kau bukan perempuan yang seperti selama ini aku kenal Seulanga,”

“Hah? Alice? ini tak mungkin Leo, Mungkin saja kau salah orang?” tanyaku tak percaya akan perkataannya.
“Seulanga pernahkah aku berbohong padamu? dan kau juga harus tahu Seulanga bahwa orang yag mengedit dan mengupload foto adalah Alice pula, sahabatmu sendiri,”
“Leo tolong jangan coba-coba memfitnah sahabatku, aku kenal dia lebih dari dari 3 tahun, selama ini dia baik padaku, dan bahkan dia yang membantuku untuk melaporkan masalahku ke polisi,” jelasku.

“Seulanga, tak ada yang tak mungkin di dunia ini, ini buktinya,” jelasnya kembali sembari menunjukkan surat kabar yang berisi tentang penangkapan Alice.”
“Dan kamu juga harus tahu Seulanga juga harus tahu Alice adalah seorang zionis yang sangat membenci agamamu, dia akan melakukan apa saja hanya untuk memburukkan agamamu, jika kau kurang jelas aku punya cukup bukti akan hal itu, mungkin surat keterangan kepolisian ini cukup membuatmu percaya padaku,”

Deg, jatungku seakan ingin berhenti berdetak, darahku seakan berhenti mengalir pula mendengar semua kenyataan ini, surat keterangan kepolisian itu cukup jelas untuk mengetahui siapa Alice sebenarnya, dan aku mulai menyadari betapa bodohnya aku mempercayainya. “Seulanga maafkan aku, aku tak bermaksud membuatmu membenci Alice, dan maafkan aku pula karena aku tak memberitahukanmu bahwa aku yang melaporkan kasusmu ke polisi,” terangnya.
“bukannya Alice yang melaporkan kasusku ke polisi Leo?” tanyaku heran.
“hahaha, Seulanga Anastasia tak mungkin seorang penjahat akan melaporkan dirinya sendiri,”

Jelas sudah semua permasalahanku, sahabat yang aku percaya selama ini tidak lain hanya penusuk ulung yang mencoba menusukku secara perlahan, musnah sudah janji-janji persahabatan yang sudah diikrarnya sendiri. Pupus sudah segalanya. Salju mulai berhenti turun, matahari mulai tampak kekuning-kuningan, memancarkan pesona indahnya. Elok nian pemandangan ciptaan sang Rabb, pelukis ulung yang tak akan ada yang mengalahkannya, sekali pun itu Leonarde Davinci.

“Seulanga bukankah kita telah memasang gembok seperti mereka, malah sepertinya kau juga pernah memasang gembok bersama Alice, tanda persahabatan kalian,”
“Iya Leo, tapi…”
“sudahlah mari pulang, bukankah engkau akan mengajarkanku membaca Al-Quran dear?”

Cerpen Karangan: Riska Ullyana
Blog: riskaullyana.blogspot.co.id
Riska Ullyana. Mahasiswa Universitas Syiah Kuala

Cerpen Seulanga Yang Terabaikan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tiga Tangga Menuju Pesantren

Oleh:
Beberapa nilai hasil ujian semester lima sudah keluar. Nia begitu antusias menantikannya terlebih lagi hari ini adalah hari terakhir dosen menggungah nilai mahasiswa ke dalam situs yang dapat diakses

O Seram

Oleh:
“AhhhHH…“, Teriakan Dewi mengagetkanku dan Alex. Dengan lincah Aku segera mencari Dewi yang barusan bilang kalau ingin cuci muka. “Kamu kenapa Dew?” Sambil membuka pintu Aku bertanya kepada Dewi

Puasa 5 Menit

Oleh:
Halo namaku Azhena clarissa, aku punya kisah nyata yang lucu. Di sekolah ada himbauan untuk puasa sunnah 10 dan 11 september (8 dan 9 dzulhizah.) “nanti kalau ada yang

Di Rumah Tuhan

Oleh:
Rembulan tempias sebarkan sinarnya, mencoba menembus celah-celah pekat langit malam. Berharap kan terang benderang bak mentari mendera bumi dengan sinar cerahnya. Perlahan awan pun mulai berarak, wujudnya tak terlalu

Satu Surah Untuk Kepergianku

Oleh:
Senja kembali menghadirkan warnanya yang indah, warna merah dengan kuning keemasan dan memantulkan cahayanya di lautan hingga tidak nampak lagi lautan biru. Angin meniup kerudungku seakan ingin membawanya bersamanya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *