Si Orange

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 5 December 2016

Hidup enak, bisa gonta ganti baju bagus, fasilitas lengkap, jabatan strategis, dan segudang kenikmatan lainnya, siapa sih yang nggak kepingin? Dan mungkin hal semacam itulah yang diidamkan oleh setiap insan di zaman para pemuja kenikmatan semu.

Hidup di zaman hedonisme seperti saat ini, cobaan yang tiap hari mendera kian mematikan. Bak hidup di padang pasir dengan tanpa bekal. Namun, berbeda dengan seorang akhwat (cewek) yang mampu merubah dunia dengan si orange, sepeda ontel jadul banget. Seakan ia mampu membawanya ke kehidupan yang penuh kenikmatan, surga…
Setiap 06.30 WIB, setiap pagi, setiap hari…

Ya… si akhwat yang juga seorang aktivis itu mengayunkan si Orange tua tuk menggapai kenikmatan dunia plus juga akhirat.
Seorang akhwat dengan kondisi yang serba pas-pasan, dengan kehidupan jahiliyah yang pernah dijalaninya, ternyata ia mampu menemukan jalan yang haq bagaimana selayaknya ia menyikapi dunia. Kuliah dengan IPK fantastis, ia peroleh dengan usahanya sendiri. Meskipun hanya makan dengan asinan, garam. Bagaimana saat ia hutang kanan-kiri, tak dapat pinjaman dan yang didapat hanyalah cemoohan.
Ia tinggal dengan biaya kontrakan sendiri, bukan tiada orangtua akan tetapi ia telah membuat suatu keputusan yang mengharuskan ia menanggungnya. Dan juga bukan pilihan yang serba palsu, pilihan itu surga jaminannya. Mengiurkan bukan?

Pagi itu, usai menunaikan sholat shubuh, aktivis muda itu tampak menahan kesakitan pada penglihatannya. Ia tiba-tiba mengeluh sakit, dan kemudian tidur. Sejenak, ia memberi kabar pada majikannya bahwa ia sakit dan tidak bisa masuk kerja. Dan ia melanjutkan tidurnya. Saat itu, temannya sedang ada Praktek Mengajar, namun ia tidak tega dan memutuskan untuk membantu meringankan beban sakitnya. Sungguh luar biasa sakitnya, hingga ia tidak bisa melihat apa-apa meskipun cuma sebentar.

Tak seperti hari-hari biasanya, ia hanya tidur. Namun, tak disangka ia masih sempat untuk menunaikan kewajibannya kepada Rabbnya, yakni mengikuti perhalaqahan (mengkaji ilmu Allah) meskipun ia menahan kesakitan.

“Mau berobat, tak ada uang”, katanya. Bagaimana temannya tak menangis mendengarnya. Sungguh luar biasa akhwat ini…
Namun, keyakinan kepada Sang Pemilik Hidup, ia senantiasa berucap syukur dan harap akan kehidupan yang lebih baik, surga. Dan ia sering mengatakan bahwa, “Rizki itu di tangan Allah” bukan manusia.
Meskipun begitu, ia masih mampu untuk menginfaqkan hartanya yang ia peroleh dengan peluh keringatnya dengan si Orange yang senantiasa mendampingi. Tiap bulan ia masih bisa mengikuti agenda-agenda di harakah (kelompok dakwah) dengan gaji yang pas-pasan juga.

Subhanallah! Dengan secuil kondisi yang dialami oleh wanita di zaman yang penuh dengan multidimensi imperialisme seperti saat ini, ketakwaan kepada Allah mampu melahirkan seorang akhwat, seorang aktivis, yang tangguh akan meraih janji Rabbnya. Dan hanya dengan kembali kepada sistem atau aturan Sang Maha Pemilik Hidup yang mampu memuliakan wanita dengan kedudukan yang agung.

Cerpen Karangan: Ima Susiati
Blog: imasusiati.blogspot.com
Akhwat yang sedang meraih mimpi di Negeri Kinanah

Cerpen Si Orange merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Taruhan Cinta

Oleh:
Aku masih berdiri dengan kakiku disini, menatap lurus bangunan megah diseberang jalan itu. Ya, kampus tercintaku. Meski tahun semakin membuatnya terlihat gagah, namun tak begitu membuat kakiku tetap kokoh

Hujan

Oleh:
Hujan. Pada siang menuju sore hari ini, hujan terus mengguyur tanah pertiwi. Lebih tepatnya kota saya, Jakarta. Karena saya tidak tahu apakah di belahan kota sana, hujan juga turun

Safa Berkerudung Biru

Oleh:
Safa berkerudung biru. Aku mengenalnya belum begitu lama. Tepatnya dua bulan yang lalu. Pertama kali aku melihat dirinya, jantung ini berdegup kencang. Saat aku pandang parasnya, seketika itu hatiku

Liontin Ibu

Oleh:
Lesung pipi yang meciptakan senyum yang begitu Indah ketika melihatku datang. Matanya yang membulat dan berbinar-binar ketika melihatku berlari ke pelukannya. Tangannya yang lembut ketika mengusap kepalaku. Suaranya begitu

Arti Sebuah Pengorbanan

Oleh:
Kisah ini terjadi beberapa minggu yang lalu. Mungkin menurut sebagian orang, tak ada intisari apapun dari apa yang akan aku torehkan di sini, namun menurutku hal ini memiliki arti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *