Si Pejuang Subuh

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 13 December 2017

Suara kokok ayam terdengar nyaring di telinga seorang gadis yang baru saja membuka matanya. Mengerjap-ngerjap sebentar lalu bangun dan duduk untuk mengumpulkan nyawanya kembali.

Dibukanya tirai jendela. Langit masih begitu gelap. Belum ada tanda-tanda matahari muncul dari ufuk timur. Udara pun dingin merayap. “Ah, masih gelap…” lirihnya. Lalu, ditenggelamkan kembali kepalanya ke dalam bantal dan menarik kembali selimutnya ke seluruh tubuh. Dan tubuh itu kembali ke alam mimpi. Berlayar ke dunia mimpi yang memabukkan.

“TEH!!! KUMAHA ATUH! UDAH JAM 6 INI!” suara teriakan itu lagi-lagi nyaring terdengar hingga membangunkan gadis bernama Wendy. Dari balik tirai jendela tipisnya, sudah bisa dipastikan bahwa matahari sudah menampakkan cahayanya. Ia beranjak tiba-tiba. “Aww…” namun kepalanya seperti melayang-layang tak terkendalikan. Dipegang kepalanya dan dipijit pelan. Mungkin akibat semalam begadang hingga pukul 1 pagi.

“TEH! BANGUN! BANGUN TEH!”
BRAK… BRAK… BRAK…
“Aish… IYA IYA. SAYA SUDAH BANGUN!” teriaknya kesal. Wendy beranjak dari kasurnya menuju lantai keramik yang terasa dingin itu. Berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan.

Dengan wajah kusut, ditatapnya wajah teman satu kosnya itu.
“Aduh teh. Cepetan subuhan. Udah jam 6!” gerutu Cica pada Wendy.
“Iya iya.”
“Teteh begadang lagi ya?” tanya Cica penasaran.
“Iya. Ngerjain tugas.” Jawabnya singkat, tanpa menunggu lama lagi-Wendy langsung ngeloyor pergi. Cica hanya bisa memandangi tubuh yang menghilang di balik pintu kamar mandi itu seraya menggeleng-nggelengkan kepala.

Seolah tak jera keesokan harinya, terjadi lagi kejadian serupa. Wendy telat bangun meski sebenarnya, setiap pukul 4 pagi, ‘alarm’ alami selalu setia membangunkannya. Namun apalah daya manusia jika sudah dikuasasi oleh tipu daya syaiton untuk melalaikannya dari bangun pagi.

“TETEHHHH!” seolah telah menjadi kebiasaan bagi Cica membangunkan Wendy dengan cara menggedor-nggedor pintu kamarnya. Hingga menjadi kewajiban baginya untuk melakukan aktifitas tersebut.

Siang harinya, ketika Wendy pulang dari jam kuliah -Cica sudah bersiap di ruang tamu kos. Ia sudah merencanakan hari ini akan menginterogerasi Wendy terkait keterlambatannya sholat Subuh dalam beberapa minggu terakhir ini.

“Teteh duduk!” perintah Cica dengan mimik wajah serius.
“Ada apa nih Ca? Kok serius amat?” Wendy duduk sesuai dengan arahan Cica dan meletakkan ransel mungilnya di atas meja.
“Teteh, merasa nggak-ada yang aneh dari teteh akhir-akhir ini?”
Wendy mengernyitkan dahinya bingung. “Maksudnya apaan ya? Aneh gimana? Saya nggak ngerti maksud kamu.”
“Ish. Teteh sadar nggak sih kalo akhir-akhir ini tuh Teteh berubah. Teteh jadi sering telat bangun. Sholat Subuh diluar waktunya. Teteh nggak ngerasa apa?”
Wendy seperti mengerti arah pembicaraan Cica. “Ya. Saya ngerasain itu. Trus kenapa, Ca?”
Cica tak habis pikir. “Kenapa Teh? Aduh. Gini deh. Cica tanya ya. Apa sih yang membuat Teteh jadi sering telat bangun? Teteh begadang kah atau gimana?”
“Iya. Saya lagi banyak tugas akhir-akhir ini, Ca…”
“Nah apa Teteh nggak ngerasa kalo teteh lagi diuji? Lupakah teteh sama slogan teteh dulu waktu saya masih jahil? Pejuang Subuh. Subhanallah, Teh. Slogan itu yang akhirnya bikin saya sadar. Tapi kenapa malah jadi Teteh yang seolah lupa slogan sendiri? Mana teteh yang dulu? Teteh wendy yang selalu ngingetin Cica untuk nggak lupa jadi pejuang subuh-sampai akhir nafas kita?” Cica terdiam sejenak. “Saya rindu Teteh yang dulu…” kini tangan Cica memegang lembut tangan Wendy yang tertutupi handshock.
“Bolehkah saya lihat Teh wendy yang dulu? Saya benar-benar kangen teh.” Haru. Mata Cica sembab, pilu merasakan kemunduran iman yang saat ini tengah melanda sahabat terbaiknya dalam ketaatan.

Wendy bungkam. Tak menyangka Cica akan mengatakan hal itu secara blak-blakan padanya. Tak peduli ia akan terima krtikan atau tidak. Yang Cica sesalkan hanyalah ia kehilangan teman yang selalu mengingatkan ketaatan padanya.
Melihat kesedihan Cica yang tergambar jelas di wajahnya, tiba-tiba saja Wendy merasakan sesuatu dalam dirinya yang hilang. Memang ia telah lama kehilangan dirinya yang dulu. Yang selalu semangat memperjuangkan waktu Subuh apapun rintangannya. Meskipun tugas menumpuk-numpuk di kepalanya. Tak pernah jadi penghalang.

Malam itu, Wendy tak kunjung keluar dari kamarnya. Ia terus merenungi kata-kata Cica siang tadi. Ia terus berpikir keras bagaimana caranya ia mendapatkan dirinya kembali. Menjadi Wendy si pejuang Subuh.
Akhirnya, ia memutuskan untuk mengambil wudhu dan sholat malam. Dalam sujudnya, ia menangisi segala dosa yang akhir-akhir ini telah ia perbuat. MUNGKIN saja dosa itu penghambat ia dari bangun pagi dan melakukan kewajiban. Tak lupa juga dosa yang telah ia perbuat di masa lalu. MUNGKIN saja dosa-dosa di masa lalu menjadi penghambat masuknya hidayah padanya. Hidayah yang pernah ia terima namun ia sia-siakan.

Ia bersimpuh di hadapan Rabb-Nya malam itu. Kenikmatan ibadah malam luar biasa merasuk dalam relung hatinya. Kenikmatan yang telah lama hilang sirna ditelan oleh kemalasan yang menggelayut manja di tubuhnya. Seolah tangisnya menjadi butiran cahaya bagi penggugur dosa-dosanya. Hatinya luluh kembali. Menyesali atas kelalaian yang ia biarkan merajalela tanpa ingin segera muhasabah diri.
“Ya Robbi… Maafkan kelalaian hamba. Kelalaian yang berangsur-angsur tanpa hamba sadari. Terimakasih telah mengkaruniakan aku teman yang sholih. Yang tidak hanya senang memujiku. Namun juga bersedia mengkritikku apabila hati ini telah jauh dari rengkuhan-Mu. Ya rabbana. Jaangan jauhkan aku darinya. Teman setiaku dalam ketaatan. Balaslah kebaikan yang banyak untuknya sebagaimana kebaikannya padaku.”

“Maa syaa Alloh. Teteh Wendy si pejuang subuh sudah kembali…” celetuk Cica riang ketika nampak Wendy keluar dari kamarnya tepat pukul 4 pagi. Dimana kumandang adzan nyaring indah terdengar di telinga orang-orang yang hatinya dipenuhi dengan cinta akan panggilan Rabb-Nya.
Wajah Cica berseri-seri tak dapat disembunyikan lagi rasa bahagianya. “Makasih Ca sudah ngingetin saya kalau si pejuang subuh ini sudah lama hilang” sahutnya tak dapat menahan lagi rasa haru.
Cica pun memeluk sahabatnya itu dengan derai air mata bahagia. “Iya. Dan saya yakin si pejuang subuh tidak akan menghilang lagi untuk kedua kalinya.”
“Hiks… Semoga Alloh membalas kebaikanmu Ca. Semoga persahabatan kita tidak hanya di dunia. Tapi juga di Syurga.”
“Aamiin. Semoga ya Teh. Semoga…” terdengar lirih suara Cica. Tangis bahagianya tak lagi dapat terbendung.
“Yuk… Kita Jamaah berdua.” Wendy melepas pelukannya. Sambil menyeka air mata yang tersisa. “Eh kita bangunin yang lain juga nggak nih?”
Cica terlihat setuju. “Ide bagus. Saya bangunin di kubu kiri. Teteh bangunin di kubu kanan. Oke?”
Wendy mengangguk antusias. Keduanya pun mulai melakukan aksinya dengan mengetuk satu-persatu pintu muslimah yang masih tertutup. Berderet kamar kos yang tak lebih dari 10 ruangan itu, saling berhadapan.

Keduanya begitu semangat menggugah hati yang mulai redup dari cinta pada subuh. Berharap dari sana mereka gapai kemuliaan. Berharap dari sana, mereka mampu berjalan bersama menapaki jalan terjal menuju Surga-Nya. Meski sulit. Meski sakit. Tak ada yang dapat menandingi bayangan Surga di pelupuk mata. Siapa yang tak ingin menikmati keindahan Surga bersama para Nabi, para syuhada dan orang-orang sholih walau hanya dengan menjadi pejuang Subuh?

Dan bagaimana tidak bersyukur menjadi pejuang Subuh kala dunia dan seisinya ia dapatkan hanya dengan 2 rakaat sebelum Subuh? Kekayaan yang melebihi kekayaan orang terkaya di dunia ini. Bayangkan…. Hampir tidak bisa akal kita menampungnya. Namun Rasulullah telah mengabarkan berita itu melalui lisan beliau, bahwa
“Rok’atal fajri khoyrun minaddunya wa maa fiyhaa”
“Dua rakaat sebelum Subuh lebih baik dari dunia dan seisinya.” Hadits shahih riwayat at Tirmidzi dan An Nasaa-i

Wendy dan Cica tersenyum bahagia. Secercah cahaya dibalik wajah-wajah pengagum Subuh menjadi inspirasi bagi setiap jiwa yang menginginkan perubahan dalam hidupnya.

Cerpen Karangan: Diah Putri Ningrum
Facebook: Diah.putrii.1
Saya hanyalah Ibu muda dari 1 anak laki-laki. Yang suka menulis. Apapun. Asal membuat hati saya tenang setelah menulis.
Selain itu, ingin memberikan semangat pada pemuda melalui tulisan saya. Meski tidak sempurna. Namun semoga bermanfaat.

Cerpen Si Pejuang Subuh merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kenapa Semua Berubah

Oleh:
Pada hari itu aku masih berumur 15 tahun, aku pada saat itu masih kelas 2 sma pada saat itu aku masih culun dan lugu, teman ku sejati ku aldo

The Light

Oleh:
– Cahaya negeri ini adalah kita – “Peringatan HUT RI yang ke-70 tahun ini kenapa begitu sepi? Tidak meriah seperti tahun lalu.” “Pada sibuk mungkin.” “Sibuk? Tapi setiap tanggal

Raket Ajaib

Oleh:
Pada suatu hari, ada seorang anak laki-laki bernama Surya. Ia bersekolah di SMPN Karta dan duduk di kelas 8. Ia mahir berolahraga dan pintar pelajaran Agama Islam. Olahraga favoritnya

Pertempuran Batin (Part 2)

Oleh:
“Apa sudah ada pemberitahuan hasil tes yang kemarin?” Ayah bertanya saat makan malam usai, setelah hampir satu bulan kepulanganku kembali ke rumah. “Belum yah… sepertinya El nggak lolos lagi.

Enjoy Bin Joy Bersama Rohis Tangsel

Oleh:
“Busnya dimana, ah?” ucap Pak Taufiq di akhir salamnya. Beliau adalah guru dari Mts. Miftah ‘Asaadah yang datang bersama dengan siswanya, wajahnya masih kusut. Terlihat masih larut menyisihkan mimpi.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *