Siti Asiah Dan Asiah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 21 December 2015

Tersebut dalam sebuah kisah yang nyaris membelalakan mata membaca seluruh makna dan isinya. Menyusuri setiap huruf demi huruf yang disampaikan begitu leluasa mengambil sebuah ajaran yang disuguhkan. Seorang wanita tak mau kalah ingin membaca kisah itu. Kini kisah itu mengubah sebuah jalan takdirnya yang suram menjadi semakin suram dan sesuram-suramnya. Ia tidak ingin menyalahkan hanya gara-gara kisah yang ia baca membuatnya seperti ini.

Tidak! dan Tidak! ia percaya pada takdir Allah yang sudah dicatat dalam Lauhul Mahfudzh memang begini adanya. Semuanya tak dapat diubah dan tak dapat ditolak kehadirannya. Kisah seorang wanita syahidah yang mempertahankan keyakinan hingga rela ditelanjangi dan disalib tanpa memakai apapun. dan siap menahan rasa pedih ketika seluruh tubuh yang tak memakai apapun itu merasakan panas api dan cambukan yang sangat kuat dan berkali-kali.

Membuat Wanita yang membaca kisah itu sangat yakin dan berjanji akan seperti wanita yang ada di dalam kisah itu yang tak lain adalah istri fir’aun yang bernama Siti Asiah. Ia tak akan lagi meragukan keyakinan yang sudah ia pegang. Walau berat rintangan dan cobaan pastilah Allah akan memberi jalan yang terbaik, sama seperti Siti Asiah. Kini ia melangkah dengan pasti dan tak akan meragukan sebuah takdir yang siap menantinya. Entah takdir itu menyakitkan lagi baginya, atau malah membahagiakan dirinya. Yaah.. siapa yang tidak kenal wanita malang ini. Sungguh jalan hidupnya tak dapat ditafsirkan dengan sebuah kata-kata. Semua orang masih tak percaya dan tak terima dengan jalan takdir yang dialami wanita ini.

Selepas membaca kisah yang gempar dibicarakan masyarakat warga di majalah. Membuat wanita ini kena imbasnya. Sehari setelah membaca kisah itu, warga sempat melihat wanita ini memakai jilbab berwarna putih dan menampilkan kesan yang begitu rupawan pada wajahnya. Namun ada yang mengatakan wanita ini mati terbunuh di dalam kamar salah seorang warga karena berzina dengan suami orang. “jelas sekali ini sangat mengagetkan bagi kami.” tutur salah satu warga yang sangat antusias dengan fenomena ini. Warga lain menjelaskan seluk beluk wanita itu dengan cermat pada Tim Detektif kami.

“wanita itu walau sering kami lihat, kami tak mengetahui namanya. Dia dulu sering sekali pulang dengan baju s*ksi dan jalan urak-urakkan seperti orang mabuk. Dia kadang meminta uang secara paksa kepada kami. Tentu wanita itu membawa alasan yang sangat miris dan membuat kami kasihan untuk memberinya.” tragedi ini sangat menarik untuk kami telusuri. Ada sebuah kepastian yang tersembunyi di baliknya.

Aku dan teman-teman lainnya akan menyelidiki sebuah kasus Wanita yang sering muncul namun tiba-tiba mengilang. Dan menghilangnya pun hanya gara-gara membaca kisah yang sering dituturkan para warga agar anak-anak perempuannya meneladani sifat Siti Asiah itu dan ada juga anggapan dari segelintir orang yang kurang lebih 20 orang mengatakan wanita itu mati terbunuh saat berzina.

Dan tak tanggung-tanggung masyarakat sekitarnya setiap malam akan terbangun sendiri dan merasa takut untuk kehilangan salat malam. Sebelum wanita itu pergi, tak pernah mereka seperti ini. Peristiwa ini tentu membuat nyali kami tergerak untuk mencari siapakah wanita misterius itu. Langkah yang kami lakukan ialah dengan mendatangi tempat tinggal wanita itu dan menanyakan kepada keluarganya. Namun naas yang kami dapatkan.

Ketika akan menuju rumahnya, kami tertimpa musibah yang membuat seluruh Kru yang bekerja mengalami cidera. Untung aku hanya mendapat luka di bagian kening saja akibat pohon besar di jalan tumbang dengan angin yang datang secara tiba-tiba. Kami mendapat alamat Wanita ini dengan penuh susah payah. Karena memang warga sering melihatnya namun tak tahu asal muasal wanita itu. Alamat wanita ini kami dapat dari laki-laki yang sedang mabuk tengah malam. Ini kami lakukan setelah bertanya pada masyarakat kampung namun tak pernah ada yang tahu. Dan kami memiliki ide untuk menanyakannya pada orang-orang yang sering pulang mabuk karena dia juga kerap sekali berteman dengan orang mabuk. Dan alhasil kami dapatkan alamat rumah wanita misterius ini.

“Kalian lurus aja dari jalan ini lalu belok kiri belok kanan, kemudian belok kiri dan belok kanan sampai 7 kali. Kalian pasti akan temukan dia.” inilah kata-kata orang yang sedang mabuk ini. Kami hanya percaya saja walau kelihatannya konyol dan alamat ini belum tentu jelas. Kami berpikir, “apa salahnya mencoba?” dan hingga akhirnya inilah yang kami dapatkan sekarang. Baru tiba pada belok kiri dan kanan sebanyak tiga kali sudah ambruk di tengah jalan.

“teman-teman.. kalian pernah dengar kata Mario Teguh kan.. yang mengatakan tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita untuk mencoba karena di dalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil. Tujuan kita menyelidiki peristiwa ini hanya ingin menyelesaikan anggapan masyarakat yang mengatakan wanita itu telah mati namun jasadnya tidak pernah ditemukan. Para warga juga sangat resah dengan hilangnya wanita itu dan tak seresah yang warga setempat rasakan saat wanita itu masih berkeliaran di kampung mereka.” aku menjelaskan pada setiap rekan-rekan kerjaku.

Dan dua hari setelah musibah yang kami dapatkan. Kami melanjutkan ekspedisi dengan lebih berhati-hati lagi. Kami akan mencari informasi yang lebih akurat dari yang sebelumnya. Kami akan menanyakan pada orang-orang yang mungkin lebih baik dari orang yang kami temukan malam itu. Walau kami sudah putus asa karena kami sudah yakin seluruh warga ini sudah kami tanyakan namun jawaban tak dapat kami temukan.

“bapak kenal dengan wanita ini?” ujarku memberi foto wanita itu saat masih berkeliaran di kampung ini.
“iya, kenal neng. Dia sempat minjem uang ke bapak. Katanya dia mau pakai bayar obat di Rumah Sakit Risafa untuk adeknya Naila yang sakit” akhirnya orang ini kenal.
“bapak tau rumahnya di mana?” tanyaku lagi.
“kurang tahu neng” jawab bapak itu. Ya hanya jawaban inilah yang kami terima dari warga setempat jika menanyakan alamat wanita ini.
Dan ujung-ujungnya yang kami dapatkan hanya sebuah pesan.
“cari tahu alamat wanita itu di mana dan namanya siapa” inilah pesan mereka kepada kami.

Aku berpikir, “memang kalau wanita ini dipanggil pakai apa yah? kenapa semua orang kenal tapi tak tahu namanya.” kejadian yang membingungkan inilah yang harus kami cari tahu kebenarannya dan banyak warga juga yang meminta uangnya untuk dilunasi. Apa mungkin wanita ini pergi agar terbebas dari hutang-hutangnya ataukah pergi menghilang untuk mencari uang pengganti? Saya langsung menanyakan pada teman-teman.

“apakah kalian tidak sadar bahwa wanita ini memiliki hutang banyak dan bisa jadi dia menghilang agar terhindar dari hutang-hutang itu semua. Dan kemungkinan besar juga dua tahun atau tiga tahun pasti Wanita ini akan kembali.” tuturku saat rapat Tim setelah mendapat berita baru tentang Wanita ini.

Akhirnya kami berhenti sementara menggali kasus ini untuk melihat bagaimana perkembangan peristiwa ini setelah dua tahun berjalan. Karena memang pristiwa hilang dan meninggalnya wanita ini tercium setelah 6 bulan ini. Para warga menyadari akibat peristiwa ini mereka juga berubah dengan perilaku mereka yang tergerak bangun malam sendiri. Banyak sisi positif dan negatif yang warga dapatkan dari kepergian wanita itu. Mereka percaya ini gara-gara wanita itu tidak muncul lagi.

Saat masih ada, para warga biasa saja menjalani aktivitas. Namun setelah sebulan wanita itu tidak terlihat, para warga sebagai petani gagal total, warga kampung sering bangun malam, dan kekeringan menimpa mereka di mana-mana. Anehnya warga kampung ini tetap mengingat hutang wanita itu dan terus berharap meminta ganti rugi pada wanita itu. Setelah lama tidak muncul membuat warga geram dan menagih, menuntut habis-habis kantor camat untuk mencari wanita itu agar uang-uang mereka dikembalikan.

Inilah awal dari kerja kami yang diamanatkan dari Kantor Camat. Namun setelah berpikir keras, kami mengatakan pada Pak Camat untuk melihat perkembangan dua tahun atau satu tahun ke depan tentang masalah ini. Anggapan kami sebagai Tim Detektif bahwa bisa saja wanita itu hilang dan ingin mencari pengganti uang-uang warga setempat. Dan urusan Wanita mati berzina itu kami usut dengan membuahkan hasil bahwa itu tidak benar adanya karena tidak memiliki bukti akurat.

Setelah sekian lamanya kami tak mempedulikan dan memikirkan masalah ini dan memilih untuk menyelesaikan masalah lain. Kini kami kembali lagi setahun setelah peristiwa tersebut. Kami kembali ke kantor camat.
“alhamdulillah wanita itu kini kembali dengan membawa nama Siti Asiah. Dan melunasi segala hutang-hutangnya di warga setempat. Dia juga sudah berhijab” kami semua terkejut bukan main.

“berapa kira-kira pak hutang Siti Asiah itu?” tanyaku.
“1,2 Triliun rupiah” ujar pak camat. Kami semua menambah sebuah perasaan tak menyangka sekaligus heran dari manakah dia mendapat uang sebanyak itu.
“apakah bapak benar-benar yakin dia wanita yang dulu itu? dan apakah bapak tak menanyakan dari mana dia bisa dapat uang sebanyak itu selama satu tahun?”
“bapak percaya karena dia sekarang menjadi seorang dokter ternama di Rumah Sakit Rasifa.” tandas pak camat.

Kami teringat lagi setahun yang lalu ada seorang bapak-bapak yang memberitahu kami kalau Wanita itu akan membayar obat untuk adeknya Naila yang sedang dirawat di Rumah Sakit Rasifa.
“apa bapak percaya begitu saja dengan kata-katanya tanpa membawa bukti akurat semacam tanda bahwa dia sebagai dokter sekarang?” sanggahku karena masih tak percaya.
“dia membawa surat kerjanya dan bahkan akan mendirikan Puskesmas di sini agar warga kampung Banyusari tak berjalan jauh untuk mendapatkan perawatan.”

Kami sepakat untuk mencari tahu sendiri semuanya dengan langsung mendatangi wanita itu yang kini dinamakan Siti Asiah itu. Kami diberi izin untuk menggali info ini oleh pak camat. Dan aku beserta Kru yang bekerja bergerak ke rumah Wanita ini. Dan kami langsung terkejut bahwa alamat ini adalah persis sama dengan yang diberikan bapak-bapak yang yang sedang mabuk setahun yang lalu.

Ternyata kami mendapat pelajaran bahwa, “janganlah menganggap orang yang jahat semuanya penipu, namun perlu waspada dan jangan takut mencoba kebaikan!” jika memang yang kita dapatkan dari orang itu salah, bersabarlah dan ambil hikmahnya bahwa jika kita berbohong pasti sesakit inilah rasa orang yang kita bohongi. Dan kini kami langsung terjun ke lapangan. Kami teringat Tragedi pohon tumbang itu dan sekarang lain lagi yang kami terima. Pada belokan ke lima kami dihadang oleh wanita yang mirip dengan foto Siti Asiah yang dulu masih menjadi wanita misterius. Dia menghadang mobil kami.

“kalian mau ke mana.. haaa?” tanyanya dengan berlagak cewek tomboi.

Aku langsung turun tangan dan ke luar dari mobil, “kami mau ke rumah Siti Asiah, anda siapa?” tanyaku sedikit takut. Dan hanya memastikan juga bahwa dia mirip sekali dengan wanita yang ada di foto. “apa mungkin ini Siti Asiah yang di maksud atauuu..” tanda tanya terus terhujam di benakku.
“aku ini Asiah, hanya aku nama Asiah di sini. Aku penjaga jalan ini, jadi kalau kalian mau masuk hafalkan lima rukun Islam” ujarnya. Kami langsung heran.
“apa-apaan ini?” pikirku dalam hati. “tumben ada yang meminta rukun Islam disebutkan..”

Dia langsung membentak karena kami kelamaan menjawabnya dan jujur kami tak menyangka kami akan ditanya seperti ini.
“ayo cepaaat, bego amat sih kalian. Percuma lo pakai jilbab ini kalau gak tahu rukun Islam” dia mendorongku dan untung sampai tak terjatuh. Teman-teman juga tak ingat rukun Islam, mereka mencari di internet namun sinyal tak ada. Aku langsung panik dan menelepon Kakakku yang ada di seputaran jawa sana. Namun sial lagi, sinyal benar-benar tak ada di sini dan kami bingung mau melakukan apa. Ya aku mencoba lagi. Jangan takut salah, kami memang benar-benar lupa dan tak tahu.

Wanita itu mendekatiku yang masih ada di samping mobil, “berarti kalian lebih bobrok dari aku ini. Mengapa kamu pakai jilbab jika tak tahu islaaammm. Lepaaaasss ajaaa!!!” wanita itu menarik jilbabku hingga terlepas. “percuumaaaa.. kalau kayak gini kan sesuai sama pengetahuanmu kaannn.. hahaha” dia tertawa keras melihat jilbabku terlepas dan aku benar-benar merasakan kata-kata yang ke luar dari mulutnya.

Teman-teman di dalam tak berani berkutik, mereka malah menangis tersedu-sedu atas kesalahan mereka. Wanita ini benar sekali. Kita hanya bisa merendahkan orang yang berpenampilan tak layak dan menilainya dari luar saja. Namun kita tak tahu dia malah lebih jauh kenal agama dan tahu agama daripada kita yang rasanya hanya sok-sokan memakai dan menutup aurat tanpa memiliki ilmunya. Dia tiba-tiba mengeluarkan pisau dari dalam bajunya yang diselipkan di celananya. Kami sontak kaget tak tahu maksud Wanita itu apa.

“kalian udah tahu jawabannya beluuum, kalau tidak nyawa kalian lebih baik mati daripada merusak Islam yang suci.” ujarnya menakuti kami. Kebetulan jalan ini sepi dilewati oleh orang. Dan satu dua orang yang lewat seperti sudah biasa dengan pemandangan ini sehingga tak mempedulikan kami.
“ya kami akan jawab namun kami punya satu syarat untukmu” ujarku memberanikan diri. Teman-teman di dalam kelihatan bingung dengan diriku yang mengajukan persyaratan kepadanya.
“gillaaa loo Ni berikan syarat lagi. Memperpanjang masalah aja. Ya ammpuun tamat riwayat kita” ujar Dani dengan suara kecil bercampur kesal.

“kalau kami berhasil menjawab, kamu ikut dengan kami ke rumah Siti Asiah. Bagaimana?”
“lo maen-maen sama guee nih ceritanya? Asiah tu hanya guee!!” balasnya dengan sedikit ingin langsung menusuk kepalaku.
“aaaww Ni!!” kata teman-teman panik melihat pisau itu melayang masih di atas kepalaku.
“ke rumahnya Siti maksudku. Kamu tahu nama Siti?” tanyaku lagi walau hatiku sudah mencekam rasa takut yang overdosis.
Aku sungguh-sungguh sebenarnya ingin kabur dan berlari. Namun ketakutan dan berlari tidak akan menyelesaikan masalah. Aku beranikan diri apa adanya.

“iya aku tahu Siti itu orangnya mirip seperti aku, dia Gagak Putih di Desa ini” akhirnya benar dugaanku mereka mirip dan Siti Asiah yang asli benar ada namun bukan dia. Hanya saja wajah mereka cuman mirip.
“kalau gitu antarkan kami ke rumahnya jika kamu tahu. Kami tak tahu rumahnya.”
“okee.. sekarang sebut Rukun Islam apa saja” jawabnya menagih. Aku beranikan diri menjawab dengan terbata-bata. Aku teringat sedikit-dikit, dan aku mulai konsentrasi mengingatnya. Dan tak lama kemudian aku meniru gayaku masih kecil yang melagukan rukun islam sambil terpejam aku menyebutnya.

“Rukun Islam ada lima perkara, pertama membaca dua kalimat syahadat, kedua mendirikan salat, ketiga puasa di bulan ramadhan, keempat membayar zakat, kelima berhaji bagi yang mampu” setelah itu ku buka perlahan-lahan mataku wanita itu tak ada.
“heh. Masuk cepat!” katanya teriak dalam mobil. Ternyata dia sudah memasukkan dirinya. Kemudian aku masuk dan duduk di depan dengan Ifah.

Dalam perjalanan kami sangat takjub dengan desa Puncang sari ini yang begitu indah. Jalannya memang benar kami harus belok kanan lalu kiri begitu selanjutnya hingga 7 kali belokan dan kini kami sudah berada di depan rumah yang begitu kecil dan nampak sederhana dari luar. Kami satu persatu ke luar dari mobil. Wanita yang bernama Asiah itu mulai berkicau lagi di depan rumah ini.

“tidak ada yang paling pintar dan paling bodoh di dunia ini, karena setiap yang paling pintar itu bisa jadi bodoh dan yang bodoh itu bisa jadi pintar.” itu kata-katanya padaku.
“Makanya selama satu bulan ini aku membuktikan itu dan ternyata memang benar, kebanyakan orang melihat dari luarnya saja seperti kalian semuaaaa tadi” ujarnya dengan sinis sambil menatap ke arah pintu masuk Wanita yang dikira Gagak Putih ini.

“kenapa kamu mengatakan dia Gagak Putih? Aku heran dengan perkataanmu yang tadi sebelum ke sini”
“jawabannya ada di dalam, mari kita masuk?” ajaknya.
Kemudian perlahan langkah kami menyapa rumah ini sedikit demi sedikit untuk mendekat. Kami ucapkan salam dan tak lama kemudian Siti Asiah muncul dengan anggunnya dan paras yang sangat menawan hati.

“subhanallah..” hanya itu yang kami ucapkan dalam hati dengan kesan terpesona sambil terpana di depan pintu.
“ehh kok semua pada ngelihatnya seperti itu, malu jadinya. Mari masuk ke dalam” sapanya membuyarkan keterpesonaan kami padanya. Dan benar muka mereka mirip dengan Asiah ini. Tak salah lagi ada sesuatu di balik peristiwa di Banyusari.
“sebelumnya ada perlu apa yah mbak-mbak dan mas-mas ini datang ke mari?” ujarnya memulai perbincangan.
Aku menjelaskan semuanya kepada mbak Siti Asiah.

“begini mbak, di kampung Banyusari mbak sangat dikenal dengan warga sana dan mbak katanya dulu wanita yang urak-urakan. Apa benar tuduhan mereka?”
Wanita itu menatap Asiah, “apa saya harus jujur kepada mereka wahai sobatku?” tanyanya pada Asiah. Namun Asiah hanya mengangguk tanda setuju dan membuat kami semakin bingung dengan mereka.
“sebetulnya wanita yang di banyusari itu ialah Asiah dan karena wajahku mirip dengannya, Asiah meminta tolong padaku saat aku mulai pindah rumah dari Jakarta ke kampung Puncang Sari ini. Dan akhirnya dapat terselesaikan masalah ini.”

“lalu apa mbak tahu Asiah sering menganggap anda sebagai gagak putih?”
“saya juga gak tahu mbak mengapa dia anggap saya gagak putih”
Seketika itu Asiah tertunduk dan mulai menitikkan air mata dan suara isak tangisnya mulai terdengar.
“ceritalah wahai sobatku. Inilah saat yang tepat untukmu cerita agar semua masalahmu bisa terselesaikan secepatnyaa” pinta Siti Asiah pada Asiah.
Dia perlahan-lahan membuka mulutnya untuk bercerita.

“sebetulnya dulu ada niat saya ingin memperbaiki diri, saya ingin menjadi Gagak putih melawan kejahatan gagak hitam. Gagak putih kebanyakan para ustadz menganggap itu tak ada saat zaman ini. Dialah si gagak putih yaitu wanita saleha yang cantik paras, ilmu banyak, dan bermanfaat bagi orang. Namun seketika itu saya melihat mbak Siti Asiah mirip dengan saya. Jika saya berhijab maka orang-orang akan menagih hutang pada mbak Siti Asiah.”

“Saya tidak mau menyakiti orang dan tetap jadi diri saya sekarang. Dan pada akhirnya kedua orangtua saya telah tiada akibat kejahatan orang yang tega membakar rumah saya. Saya semakin tak terima dan tambah urak-urakan. Lalu saat malam tiba mbak Siti Asiah menyelamatkan saya dari amukan warga saat saya berhasil ditemukan dalam pengasingan saya. Saya anggap mbak Siti Asiahlah yang pantas menjadi gagak putih itu.”

Mbak Siti Asiah lalu masuk ke dalam dan mengambil sebuah jilbab syar’i dan memasangkannya ke wajah Asiah. Betapa kagetnya kami melihat dua sosok Wanita yang mirip dan nyaris tanpa kami kenal mana Siti Asiah dan mana Asiah. Lalu mbak Siti Asiah mengambil dua bros bunga mawar yang berbeda warna lalu menempelkannya pada Asiah.

“jika kalian melihat bros berwarna putih, dialah Asiah sang gagak putih dan jika kalian melihat bros hijau itulah Siti Asiah. Kini kau pantas menjadi gagak putih wahai sobatku.” ucapnya pada Asiah dan Asiah tak kuasa lagi membendung tangis yang kian menyeruak dari kelopak matanya. Mereka sekarang berkeluarga dan tinggal bersama. Kami dan Kru yang bekerja menayangkan cerita ini dan akhirnya banyak orang sekarang menyanjung kedua wanita ini. Maka jika kalian melihat bros warna putih, itulah Asiah sang gagak putih. Jika kalian melihat bros warna hijau, itulah Siti Asiah. Mereka seperti itu agar mudah dikenali oleh masyaraakat sekitar.

Tidak ada bahagia yang abadi. Demikian juga kesedihan. Semua berputar mengikuti aturan. Kebahagiaan dan kesedihan hanyalah bagian dari kehidupan yang pasti terjadi.

Cerpen Karangan: Shollina
Facebook: Sholli.wasallim

Cerpen Siti Asiah Dan Asiah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nikmatnya Subuh

Oleh:
“Nabila bangun!!! Sudah siang” teriak ibu dari ruang makan. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 06.00 tepat. Tetapi aku tidak terkejut sama sekali, karena aku sudah terbiasa bangun kesiangan. langsung

Anak Sulung Ibu

Oleh:
“Bareng yan?” tawar Amar, temanku ini sangat bersemangat dengan acara ngejus (minum jus rame-rame) lepas sekolah nanti. “gak Mar! Maaf aku harus nunggu cacakku, dia ada extra siang ini”

Ukhty Sahabat Surgaku

Oleh:
Aku mempunyai teman dekat yang aku anggap sebagai sahabatku, namanya maulidia. Sebelum aku mengenal sahabatku ini, banyak sekali informasi informasi jelek yang kudapat mengenainya, aku bukan tipe orang yang

Lima Menit

Oleh:
Siang hari itu adalah siang yang sangat panas. Sengatan terik matahari hampir membuat semua orang tidak mau keluar dari rumah mereka. Yah, hanya beberapa orang saja yang mendapat hidayah

Getar Tuhan Ataukah Getar Cinta?

Oleh:
Sesejuk angin malam yang membelai lembut diriku yang tengah melangkah pulang dari surau. Kurasakan indahnya kasih yang diberikan tuhan, kuberjalan diantara barisan para mujahidah modern akhwat tangguh yang berhasil

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *