Something Just Like This

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 24 July 2018

Kutatap matahari yang mulai tenggelam di lautan. Cahayanya redup bagaikan ada yang menyedotnya. Deburan ombak masih terdengar. Aku semakin menenggelamkan wajahku di dalam tekukan lututku. Sunyi. Ya, itu yang kurasakan.

Aku tidak takut sendiri di pantai terpencil seperti ini. Yang kutakutkan hanya satu. Aku tak punya lagi seseorang yang dapat kucurahkan isi hatiku. Aku semakin sedih mengingat ayah ibu yang selalu saja sibuk dengan pekerjaan mereka.
Wajar jika mereka bekerja kantoran. Mereka malah bekerja di tempat pel*curan! Bayangkan, TEMPAT PEL*CURAN! Sebagai apa? Ayahku managernya, dibantu ibuku, sekretarisnya.
Pekerjaan sia sia, tak berguna, bukan dapat pahala malah dapat dosa. Uang haram pula. Sama saja mereka memasukkan api neraka ke perut mereka. Aku tidak mau. Akhirnya, kuputuskan untuk kabur dari rumah. Apakah aku menyesal kabur dari rumah?
Tidak. Aku tidak menyesal. Aku hanya menyesal, mengapa Aku tidak bisa meluruskan kedua orangtuaku.
Airmataku semakin mengalir deras.

Tiba tiba, seseorang menepuk pundakku. Aku serontak menoleh. Seorang wanita muda yang umurnya sekitar 3 tahun lebih tua dariku dengan jilbab biru panjang hingga ke pinggang dan gamis panjang biru tua panjang berdiri di belakangku. Bisa kutebak, ia seorang ustadzah. Aku mengusap airmataku dengan kerudung putihku.

“Kau sendirian di sini, dik?” tanyanya lembut.
“Iya, mbak.” jawabku jujur. Aku meluruskan kakiku. Gamis merahku telah kotor oleh pasir pasir.
“Kok bisa? Orangtuamu ke mana, dik?” tanyanya sambil duduk di sampingku.
Aku menunduk, tak mampu menjawab.
“Begini saja, mbak punya villa di sini. Kebetulan, mbak juga tinggal sendiri. Kamu mau nemenin mbak kan?” tawar wanita muda itu.
“Boleh, mbak.” jawabku sumringah.

“Siapa namamu, dik?”
“Alice, mbak. Tapi saya lebih suka dipanggil Fatimah.”
“Ooh… Saya panggil Fatimah saja ya? Kalau saya, Ningsih. Panggil aja Mbak Ning.”

“Umur mbak berapa?” tanyaku sambil berdiri mengikutinya.
“25 tahun, dik. Kalau kamu berapa?” tanyanya balik.
“21 tahun, mbak.” Jawabku.
“Wah, sudah menikah?” tanyanya kaget.
“Belum. Memang kenapa, mbak?”
“Tidak apa apa.” ia menjawab pendek.

Pagi ini, pukul 6. Sudah 2 hari aku menginap di rumah Mbak Ning.
“Shadaqallah hul adziiim…”
Aku menutup qur’anku dan beranjak melipat sadjadahku. Ponselku tiba tiba berbunyi, ada telepon. Aku bergegas mengangkatnya.
“Halo? Dengan siapa ini?”
“Ini dengan Beni, rekan kerja Bapak Zonto Sulaiman dan Ibu Anggi. Benarkah ini dengan Alice?” jawab suara dari seberang sana.
“Iya. Ada apa?”
“Ayahmu kecelakaan mobil dan dirawat di Rumah Sakit Jaya Purnama. Ibumu juga ada di sana. Diharapkan, kamu segera kesana.”
“APA? Kecelakaan? Baiklah! Saya akan segera ke sana!”
Aku segera menutup telepon dan memasukkan ponselku ke saku rok. Aku bergegas melipat sajadah dan mukena. Aku membuka pintu, dan mendapati Mbak Ning sedang berbincang bincang dengan seorang pria muda yang umurnya sekitar 23 tahun.

“Fatimah? Ada apa? Kenapa mukamu panik?” tanya Mbak Ning khawatir.
“Orangtuaku kecelakaan, mbak!” jawabku panik.
“Apa? Baiklah! ALI! Siapkan mobilmu!”
“iya, mbak!”
Aku pun naik mobil Ali, adik Mbak Ning menuju rumah sakit.

“Fatimah, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa di pantai ini? Ceritalah!” pinta Mbak Ning. Aku menunduk. Terpaksa, aku bercerita pada Mbak Ning dan Ali.

“Ya Allah… Semoga Allah memberi hidayah pada orangtuamu, ya, Fatimah.” Ali berbicara sambil terus menyetir. Aku hanya mengangguk dan menangis. Mbak Ning menepuk nepuk pundakku halus.

“Bu? Bagaimana keadaan ayah?” tanyaku sembari menghampiri Ibuku yang sedang duduk membisu di kursi ruang tunggu.
“Alice!!! Maafkan ayahmu dan ibu ya nak? Ibu dan Ayah tak bisa memberi contoh yang baik!” Ibu serontak memelukku. Aku menangis, balas memeluknya.
“Iya, bu, Alice pasti akan selalu memaafkan ibu.”
“Alice… Ayahmu sedang sekarat, nak. Mari ibu antar kanmu padanya.” Ibu mengajakku masuk ke ruangan ayah.
Aku mengikuti Ibu. Benar, ayah tengah berbaring dengan selang dimana mana. Ia menatapku sayu.

Mulutnya terbuka, terbata bata berkata,
“Aaali…ce.. Mmmaaa…maafkan …ay yah ya… Ayy …yah ttttakk bbb … Isssa jjjaddi c…contoh yyyang baik bbbbuat kamuu…”
Aku tersenyum getir, airmataku mengalir, aku menggenggam jemarinya.
“Aku pasti memaafkan ayah.”
“Aalice, sekarang namamu adalah Fatimah Sulaiman.” Ibu menepuk pundakku. Aku menatap ibu tak percaya.
“Benar begitu kan, yah?” ibu menatap ayah, dan ayah mengangguk pelan.
“Ayah ingin kamu nanti mengurus bisnis baru ayah. Ayah akan berjualan madu Indonesia. Sesuai permintaanmu, nak.” Ibu berkata lagi. Aku menatap Ibu makin takpercaya. Ibu mengangguk mantap, disusul anggukan ayah. Aku memeluk ayah gembira.
“Semoga Allah mengampuni dosa ayah dan ibu…” ucapku sambil memeluk ayah dan ibu. Ibu menangis. Tiba tiba, tubuh ayah mengalami kejang, tangannya bergetar. Ibu dan aku bertatapan panik.
“Fatimah! Cepat tuntun ayahmu ucapkan kalimat syahadat.” perintah Ibu panik. Aku mengangguk. Menuntun ayah mengucapkan kalimat syahadat. Dan tepat. Ketika ayah selesai mengucapkannya, ayah menghembuskan nafas terakhir, dan menutup mata untuk selama lamanya. Ibu memeluk ayah, sambil menangis haru,
“Setidaknya ayahmu sudah bertaubat.”

Aku menaburi makam ayah dengan bunga bunga. Ibu di sebelahku, dengan jilbab panjang milikku ikut menaburi bunga bunga. Di depanku, Mbak Ning dan Ali ikut menaburi bunga bunga. Sebelumnya, sudah kujelaskan pada Ibu siapa mereka.
“Ya Allah… Ampunilah kedua orangtuaku… Sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku. Rabbigfirli waliwa lidayya warhamhuma kamma rabbaya nisoghiro. Rabbana aatina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qina adzaa bannar…” aku berdoa.

“Ali!” panggilku. Lelaki itu menoleh.
“Ada apa, Fatimah?”
“Bisakah kau membantuku membenarkan bacaanku? Maksudku, aku menyetor hafalan padamu. Kamu kan sudah hafidz.”
“Oh, boleh.” ia tersenyum.
Kami pun berjalan beriringan menuju masjid. 2 surat pun kusetorkan padanya.

“Fatimah, sepertinya sebentar lagi kau akan jadi hafidzah. Lihat! Tinggal 1 juz lagi. Bacaanmu lancar pula.”
“Wah, benarkah? Alhamdulillah…” aku mengucapkan syukur.

Dari kejauhan, ibu dan Mbak Ning memperhatikan,
“Ternyata benar, tante. Mereka dekat.” Mbak Ning tersenyum lebar.
“Iya. Kita biarkan menjalani ta’aruf saja dulu, ya?” balas Ibu dengan wajah sumringah.
“Iya, akan kuawasi nanti, tante. Kalau waktunya sudah tepat… Baru kita…” Mbak Ning menatap Ibu sembari tertawa. Ibu balas tertawa senang.

Aku termenung di balkon villaku. Aku sudah tinggal sendiri, tak lagi bersama Mbak Ning. Aku tinggal bersama Ibu, menginap di pantai.
Teringat kenangan kenanganku bersama Ali. Tawanya, suara khasnya, bacaan mengajinya, hafalannya… Ahhh…
“Apakah kau menyukainya?”

Seseorang tiba tiba menepuk pundakku. Ibu. Aku terkejut.
“Menyukai? Siapa?” aku bertanya tak paham.
“Adik Mbak Ning,” jawab Ibu sembari senyum senyum. Pipiku memerah.
“Tttt… Tidak!” jawabku gelagapan.
“Ahh… Ibu tak percaya. Jujurlah, nak.” Ibu tersenyum.
“Memang tidak bu!” aku menjawab. Sebenarnya, aku tidak tahu apa perasaanku padanya.
“Kalau ibu jodohkan dengan putra teman ibu mau?” ibu bertanya. Menjodohkan? Dengan putra teman ibu? Tidak! Lalu, bagaimana dengan Ali? Hey, tunggu! Mengapa bisa aku menolak dijodohkan karena Ali? Berarti, aku…
“Tidak!” jawabku tegas.
“Berarti kau suka dengan Ali, nak. Cepatlah menikah. Ibu yakin, kalian berdua bisa jadi pasangan hafidz hafidzah yang pasti diridhai Allah. Jadilah seperti pasangan Fatimah dan Ali bin Abi Thalib.” Ibu tersenyum menyemangati.
Aku terdiam.

Pagi itu pagi yang cerah. Aku dan Ali saling bertatapan. Ia menatapku penuh cinta. Aku balas menatapnya dengan penuh senyum. Pernikahan kita. Semoga diridhai Allah… Amiiin…
Semoga seperti pasangan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad dan Ali bin Abi Thalib nantinya. Amiiiiiinnnn ….

Ya. Aku ingin sesuatu seperti ini. Tinggal bersama orang orang yang dicintai dalam dekapan Islam. Tinggal bersama orang orang yang kucintai dengan ketaatan padaNya. Aku ingin seperti ini dari dulu. Namun, baru terlaksana sekarang. Tapi tak apalah. Semua akan indah pada waktunya.
Dan yang kuinginkan telah terwujud. Yes, I want something just like this.

Cerpen Karangan: Bilafiana
Blog: syahidahmenulis.wordpress.com
– Bilafiana –
Thanks udh baca cerpenku. Bila ada kesalahan, mohon di kritik dan saran ya.

Cerpen Something Just Like This merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Dibalik Kerudung Biru

Oleh:
Ketika subuh tiba aku membuka mata yang telah beristirahat cukup lama ini untuk melaksanakan perintah allah yang maha esa setelah aku membaca doa, setelah tidur aku menuju ke tempat

Khitbah Cinta (Part 1)

Oleh:
Hari di saat aku merindukannya lagi adalah sekarang. Ya, hari ini. Aku menyukainya karena kebodohanku, aku menyayanginya karena kekhawatiranku, dan kini aku mencintainya karena kepayahanku untuk melupakannya. Aku patah

Perjalanan Seorang Santri

Oleh:
Gue gak pernah kefikiran untuk tinggal yang namanya di pesantren. Dan menjadi seorang santri (ngapain juga tinggal di pesantren, mana enak disuruh ngaji terus). Waktu itu adik gue baru

SMS Lailatul Qadri

Oleh:
Setelah shalat Subuh, aku baru kembali mengaktifkan hp yang semalaman di off kan. Malam ke 27 bulan suci Ramadhan aku sempatkan beri’tikaf di masjid dekat rumah. Sebenarnya, ingin sekali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *