Sorry, Mom

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 30 December 2015

Sudah tiga tahun lamanya, sejak ayah dan ibu berpisah. Hari itu tanggal 20 Agustus 1998 bertepatan dengan ulang tahunku. Ayah pergi meninggalkan aku dan ibu setelah pertengkaran dashyat pada malam sebelum ulang tahunku. Entahlah aku juga tidak paham apa dasar pertengkaran itu. Hari itu tidak ada perayaan ulang tahun, namun yang ada adalah pesta air mata antara aku, ayah dan ibu.

Pada hari itu juga dengan sebuah koper besar, ayah pergi meninggalkan rumah. Sejak hari itu hidupku yang dulu terang mendadak padam oleh perpisahan ayah dan ibu. Malas. Itu adalah salah satu penyakitku, setiap pagi tanpa dibangunkan ibu, aku tak akan berangkat ke sekolah. Aku lebih terbiasa menikmati angin sepoi yang menerobos ke kamarku, seperti yang ku lakukan saat ini. Di tengah-tengah kenikmatan, tiba-tiba terdengar suara merdu dari lantai bawah yang memaksaku bangkit dari kenikmatan itu.

“Kiran. Bangun yuk nanti kamu telat loh ke sekolah.”
“Iya, aku sudah bangun dari tadi kali bu, jadi ndak usah teriak gitu.” Balasku penuh emosi.

Perlahan ku langkahkan kakiku ke sebuah kamar mandi. Aku mandi disertai dengan suara musik keras yang aku setel sendiri melalui speaker yang aku bawa ke kamar mandi. Wajar aku tak suka diganggu oleh siapa pun. “Maaf bu, aku begini karena pilihan kalian.” Gumamku saat memoles wajahku di depan cermin yang memuat seluruh tubuhku. Hentakan kaki saat menuruni tangga membuat ibu yang sedang menunggu di meja makan menoleh ke arahku. Aku tahu matanya akan terbelalak melihat perubahan yang ada pada diriku. Wajar saja awalnya aku berhijab, sekarang aku memakai rok di atas lutut, rambut merah dan tindik yang melekat di hidungku.

“Astagfirullahal azim.. Kiran jilbab kamu di mana, kenapa nggak dipake? Kamu lebih cantik kalau memakai jilbab itu. Mau Ibu ambilin jilbabnya?” Jelas ibu sangat heran.
“nggak usah Bu, aku ngah butuh lagi jilbab itu.” Jawabku membuat ibu sedih.
Pip. Pip. Suara klakson mobil terdengar dari depan rumahku. Itu adalah suara mobil sahabat baruku, Sofi.
“Ran, yuk berangkat nanti kita telat loh.” Suara Sofi terdengar nyaring.

Aku langsung melangkahkan kakiku menuju mobil yang dikendarai Sofi. Yah, dengan mendengar suara nyaring saja ibu udah tahu aku berteman dengan orang yang tidak benar. Penampilan Sofi serupa dengan penampilanku. Di sekolah Sofi adalah siswi yang sangat populer. Dia cantik dan berasal dari keluarga bermartabat. Di sekolah aku mempunyai nilai di bawah rata-rata. Tapi wajar saja sih, aku tak pernah punya waktu untuk belajar, namun yang ku punya adalah waktu untuk foya-foya bersama Sofi dan teman-temannya. Pokoknya tiap hari sepulang sekolah kami langsung ke tempat karaoke dan sejenisnya. Sekitar jam 09:00 malam aku tiba di rumah setiap hari.

“Kiran. Kamu dari mana aja? kamu membuat Ibu khawatir.” Tanya ibu penuh khawatir.
“Aduh.. Bu aku dari rumah teman.” Jawabku sambil melangkahkan kakiku naik ke lantai atas menuju kamarku.

Besok adalah hari ulang tahun Sofi, Aku harus menyiapkan sesuatu untuknya. Dengan perlahan aku melangkahkan ke kamar ibu dan mengambil kartu ATM dari dompetnya. Pagi harinya, seperti biasa aku dijemput oleh Sofi. Di dalam mobil aku memperlihatkan kartu ATM ibu.
“Sof.. lihat nih apa yang aku pegang.” Sambil mengipaskan ATM.
“Wah, hebat. jadi hari ini kita ke mana?”
“Pokoknya hari ini kamu bebas memilih kemana pun kamu pergi. Aku yang bayarin spesial ulang tahun kamu.”

Pada hari itu, sepulang sekolah aku, Sofi dan teman-temannya pergi foya-foya menikmati uang di ATM ibu. Aku tak sadar, teryata salah seorang dari teman kelasku mengikuti kami. Namanya Amran, dia adalah anak tetangga kami seorang juara kelas. Di tengah-tengah party Bi Ina menelepon, awalnya aku tak ingin menerima teleponnya tapi aku juga penasaran kenapa Bi Ina menelepon. Akhirnya aku ke luar dari ruangan itu dan menerima telepon Bi Ina.

“Iya Bi.. kenapa nelepon? nggak tahu apa aku lagi sibuk.” Jelasku jengkel.
“Alahhh non. Jangan dimatikan dulu toh. Ini loh Ibu masuk rumah sakit. Di rumah sakit Fatimah.”
“Apa? Ibu masuk rumah sakit?” Jawabku sangat kaget dan khawatir.
Tanpa pikir panjang aku pergi meninggalkan Sofi dan teman-temannya. Ku langkahkan kakiku menuju Rumah Sakit Fatimah. Di depan gedung tempat parkir ketemu Amran, akhirnya aku meminta dia mengantarku ke Rumah Sakit tempat ibu dirawat. Setiba di ruang rawat ibu, aku sangat terpukul melihat ibu terbaring lemah. Ku raih tangannya perlahan air mataku mengalir dengan jelas di pipiku.

“Bu. Maafkan aku Bu. Aku sadar aku bukan anak yang baik untuk Ibu.” Ujarku sambil mencium tangan ibu yang terbaring lemah. Dengan perlahan senyuman manis di bibir malaikatku itu perlahan merekah.
“Iya, Ibu juga bukan Ibu yang baik untukmu selama ini. Mulai hari ini Ibu jadi Ibu yang baik dan Kiran juga harus jadi anak Ibu yang baik dan sayang sama Ibu. Oh ya Kiran ke sini sama siapa?” ujar ibu sambil menngelus rambutku.
“Oh itu, aku diantar Amran Bu, tetangga kita, itu loh anak Ibu Fajrah.” Jelasku sambil menunjukkan Amran yang menunggu di ruang tunggu.

Berawal dari kejadian yang menimpa ibuku, aku dan Amran mulai berteman. Arman anak yang baik, pintar dan juga religius. Berteman dengannya ternyata membawa dampak positif dalam hidupku. Untung saja aku pergi dari pesta pada malam itu, ternyata Sofi dan teman-temannya ditangkap polisi karena kedapatan minum minuman keras. Tanpa kehadiran Sofi di sekolah membuat kelas jadi aman. Kini waktu yang dulu aku gunakan hura-hura aku gunakan untuk belajar privat bersama Amran.

Meskipun terkadang aku dapat hukuman karena masih sering terlambat bahkan sempat kedapatan mer*kok. Aku menjalani semua hukuman atas semua pelanggaran yang pernah aku lakukan atas dukungan Amran. Hubungan antara aku dan Ibu juga kembali seperti saat kami masih bersama ayah, meskipun aku sempat marah karena ibu tidak memberikan aku undangan pernikahan ayah. Tapi semua itu hanyalah masa lalu. Bagiku, saat ini adalah jadi anak yang normal untuk ibu.

Stststst.. Lagi-lagi pagi ini aku terbangun oleh suara lembut angin yang menerobos melalui celah jendela kamarku menusuk ke kalbu menyejukkan jiwa yang rindu akan haus akan kehangatan keluarga. Namun, ada yang berbeda kali ini, aku merasakan sebuah kecupan lembut di keningku. Kecupan yang dulu pernah sirna oleh keegoisan. Perlahan aku membuka kedua bola mataku yang sipit. “Kiran bangun. Nanti kamu telat loh ke sekolah.” Rayuan lembut ibu.

Aku hanya senyum dan melangkahkan kakiku ke sebuah kamar mandi. Kemudian aku memoles wajahku di depan cermin yang memuat seluruh tubuhku. Ku pandangi seluruh tubuhku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Aku sadar, aku telah meninggalkan-Nya selama ini. Ya Allah betapa berdosanya hamba ini, menjadikan keluarga hamba sebagai alasan perubahan hamba yang dulu berhijab menjadi wanita tak benar. Aku tak sadar telah berdiri kurang lebih 30 menit di depan cermin itu, akhirnya aku putuskan untuk mengenakan jilbabku kembali.

“Wahai hati kembalilah ke peraduanmu.” Gumamku.

Hentakan kakiku saat menuruni tangga membuat ibu terharu. Wajar saja ibu terharu melihat aku kembali lagi jadi anak yang ia dambakan selama ini. “Subhanallah, ya Allah terima kasih engkau telah mengembalikkan anakku.” Ujar ibu sambil meneteskan air matanya. Aku hanya tersenyum dan menggandeng tangan ibu sampai ke garasi. Hari ini tak seperti biasanya karena dintar oleh ibu. Di sekolah ku pandangi seluruh sudut sekolah, namun sosok Amran tak aku dapati. Saat ku langkahkan kakiku ke kelas aku mendapat pesan dari Amran.

“Assalamualaikum Kiran, ini gawattt.. Pak Kepsek meminta kamu ke ruangannya. Pokoknya sekarang kamu harus ke ruangan kepala sekolah.”

Isi pesan Amran membuatku dag-dig-dug takut kena hukuman lagi. Sesampai di ruangan sekolah, dengan senyuman manis dan memukau Amran menyodorkan sebuah rapor. Betapa terkejutnya aku saat ku buka rapor itu isinya adalah angka delapan sampai sembilan yang artinya sekarang nilaiku di atas rata-rata. Setelah peristiwa mengejutkan itu, akhirnya aku juga menjadi guru privat seperti Amran. Hal lain adalah aku tak pernah lagi melepas hijabku terlebih lagi Amran tak suka gadis yang mengumbar Auratnya. Ini memang memalukan tapi aku memendam rasa untuk Amraan.

Cerpen Karangan: Hasmatiah
Facebook: Thya hasmhatiah
Alhamdulillah, di bumi Pinrang Sulawasi Selatan, telah terlahir seorang anak perempuan yang diberi nama Hasmatiah di tengah-tengah keluarga yang sangat sederhana. Gadis yang merupakan anak terakhir dari tiga bersaudara ini memulai ketertarikannya terhadap kegiatan tulis menulis sejak duduk di bangku SMP. Ia sudah beberapa kali mengikuti event menulis cerpen. Sekarang semester 5 di salah satu kampus swasta di Parepare, Sulawesi Selatan. Penulis yang baru memulai karirnya ini bisa kita jumpai atau hubungi setiap hari di Facebook: Thya Hasmhatiah atau di E-mail: Hasma_tiah[-at-]yahoo.co.id.

Cerpen Sorry, Mom merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Metamorfosis Sempurna

Oleh:
Aku memiliki seorang sahabat, kami bersahabat sejak kelas 1 SD dan kebetulan kami tinggal di satu kampung yang sama. Di situlah kami tumbuh bersama hingga saat ini. Kami sekarang

Cintaku Karena Allah

Oleh:
Sinar sang surya telah meninggi di atas jam 12.00 WIB, surya yang sangat terik, tak ada awan yang menghalanginya, tak ada 1 burung pun yang terlihat melintasi langit, tak

Publik Figur

Oleh:
Ini adalah kisah seorang pemuda bernama Yuda yang memiliki ambisi besar menjadi seorang YouTuber. Dia berkeyakinan bahwa di era digital seperti saat ini, orang dengan sangat mudah mengekspresikan dirinya

Aku Tak Lagi Berdua

Oleh:
Kusisipkan kedua tanganku ke dalam jari-jarinya. Kuelus lembut kepalanya sampai mereka pun tak terasa. Kukecup lembut keningnya agar mereka merasakan kehangatan dari kasih sayangku. Teringat perkataan papanya bahwa kita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *