Surat Cinta Dari Tuhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 6 April 2018

Sudah tengah semester, tapi Nur masih belum percaya kertas impiannya kini sekedar tempelan belaka. Banyak peluang masuk Universitas lain, namun Universitas ini yang menjadi akhirnya. Tapi meskipun setengah hati, dia masih tetap Nur. Tak ada kata redup. Dia hanya ingin jadi yang paling terang.

“Hei, pulang yuk!”. Ajak seorang gadis yang sudah dikenalnya sejak awal perkuliahan.
“Masih jam 10, Nur mau ke perpus dulu, Winda ikut yuk!”
“Rajin kali lah kau Nur, lain kali aja lah. daa”. Lagi-lagi langkah kakinya hanya berjalan dengan sepi, tak ada langkah lain yang mengiringi seraya menambah semangat fastabikul khairat.

Nur berbelok ke tempat wudhu. Panas cuaca yang meradiasi tubuhnya luntur bersama cucuran air suci. Matanya terpejam sambil mengusapkan air suci ke kepalanya. Kepada Sang Khalik Yang Maha Mendengar dan Maha Kaya ia mengaduh meminta. Bulu matanya yang lentik basah bersama untaian do’a yang dipanjatkannya.

Di perpustakaan, bukan buku yang berkaitan dengan mata kuliah yang dibacanya. Diam-diam tangannya mengambil buku berjudul “Siap menghadapi SBMPTN 100%”. Berulang kali buku itu diperpanjangnya. Diam-diam juga ia mempelajari soal-soal SBMPTN tiga tahun terakhir.

Di meja paling ujung ia selalu belajar sendirian. Hingga pada suatu ketika ia bertemu dengan seorang pria bernama Ridwan, Ben dan Deny. Bermula dari bertukar informasi letak buku hingga menjadi sangat akrab. Apa lagi Deny punya niat yang sama dengannya tahun depan.

Ketiga lelaki itu kini menambah semangat fasabikul khairat bagi Nur. Dalam belajar maupun berorganisasi. Banyak sekali tawaran lomba datang pada Nur. Tapi tekadnya untuk pindah membuat Nur tak menghiraukan tawaran itu. Sampai Deny mengajaknya ikut sebuah lomba.

“Gimana Nur? Mau nggak?”. Nur hanya diam.
“Kalau pun tahun depan kita nggak di sini lagi, setidaknya ini jadi pengalaman Nur” Kata Deny seolah dapat membaca pikiran Nur.
Tapi Nur masih diam. Mencoba berpaling dan hanya mendengarkan penjelasan dosen. Tapi sayang perkataan Deny mengacaukan fokusnya.

“Nur… Nur…” suara Deny menghentikan langkah Nur menuruni bukit kampus. Dia bersama seorang gadis.
“Ini Bunga, sebenarnya dia yang ngajakin aku, karena satu tim tiga orang, jadi aku saranin kau Nur” katanya menjelaskan.
“Tapi Nur nggak pernah ikut Fahmil Qur’an sebelumnya”
“Kami juga baru pertama kali. Ini bahan yang harus dihafal” Bunga tersenyum seraya menyodorkan sejilid kertas pada Nur. Dia tak dapat berkutik. Tangannya hanya ingin mengambil kertas itu. Kepalanya langsung mengangguk tanpa diperintah.

Sepertiga malam begitu nyaman. Dikala jasad lelap bernyawa larut dalam mimpi, sepasang bola mata berkaca mengaduh pada Tuhannya
“Apa rencana-Mu Ya Rabb? Haruskah Nur mengikuti perlombaan ini? Nur tak ingin di sini Ya Rabb, Nur hanya ingin fokus pada persiapan SBMPTN, jika memang ini baik, ringankan langkahku duhai Rabbi”
Usai shalat dilihatnya sejilid kertas tergeletak rapi di rak buku. Dibukanya lembar demi lembar. Banyak sekali pengetahuan. “Baiklah, sekalian belajar” katanya mantap.

Di taman kampus, Nur, Bunga dan Deny belajar bersama. Semangat yang terpancar dari kedua temannya itu membuat Nur tak ingin mengecewakan mereka.
“Nur, pernah nggak kau berpikir kenapa kita diberi kesempatan seperti ini?”
kata Bunga yang sudah bersandar di sampingnya. Nur hanya diam menatapnya.
“Inilah cara Allah untuk menghibur kita, biar kita betah di sini. Aku juga sama sepertimu Nur” Gadis itu menyunggingkan senyum.

Tiba hari perlombaan. Mereka duduk dengan gugup. Menatap wajah-wajah lawan terlihat sangat siap. Namun semangat dan kesungguha Nur dan teman-temannya berhasil membawa mereka menjadi juara dua Fahmil Qur’an Tingkat Universitas. Untaian rasa syukur terlantun dalam hati Nur. Dilihatnya wajah Bunga yang begitu senang. Dia semakin bersyukur.

Waktu SBMPTN semakin dekat. Nur semakin gencar mematangkan persiapannya. Kemudian teringat Nur akan beasiswa yang disandangnya. Perjanjian MOU yang ditandatanganinya berisi poin bahwa tidak diperkenankan pindah Universitas. Hatinya mulai risau. Tangannya mengambil ponsel dan mengetik pertanyaan pada sebuah akun Whatsup milik Pak Muttaqin. Hanya dilihat, tapi tak ada balasan. Diketiknya lagi pesan serupa pada Kak Army, penyandang beasiswa yang sama dengannya.

“sepertinya nggak bisa dik, beasiswanya bakal dicabut kalau pindah”
‘Ya Allah, sedih kali Nur kak, gimana ini ya?”
“Sebaiknya Nur syukuri apa yang sudah ada dan jalani dengan baik. Orang sukses itu tak dilihat dari Universitas mana dia berasal dik, tapi dari kemampuan, semangat dan karakter yang baik dari orang tersebut” Nasihatnya menenangkan. Nur tak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Disaat persiapan sudah matang, masalah muncul menghadang niatnya.

Lagi-lagi tengah malam menjadi obat hatinya. Usai mencurahkan keluh kesah, dibukanya kitab suci Al-Qur’an. Kitab suci itu bagai obat penenang bagi Nur. Kadang banyak jawaban di dalamnya. Kemudian ponselnya berdering. Panggilan dari Bapak. Berbincang ia menceritakannya semua yang terjadi.
“Ya udah, kalau memang benar mau pindah, pindahlah Nak. Kalaupun harus bayar bapak akan usahakan. Yang penting mimpimu tercapai”. Kata itu membuat Nur berfikir panjang. Nur memang ingin kuliah di Universitas Pertanian ternama di Indonesia. Tapi tidaklah sampai menjadi beban bagi orangtuanya.
“Nur akan cari uang sendiri untuk mimpi Nur”. Katanya dalam hati

Sudah seminggu, Nur tampak lelah mencari pekerjaan. Hampir putus asa. Ternyata tak semudah pemikirannya. Tiba-tiba ponselnya berdering, ada pesan dari Pak Muttaqin. Dia pejabat pemerintah yang mengurus beasiswa Nur.
“sepertinya Allah meridhaiku untuk pindah” pikirnya gembira.
“Kamu memang bisa mengurusnya kembali, tapi harus bersaing dengan banyak orang, tahun ini juga banyak pelajar Aceh yang mendapat juara Nasional maupun Internasional, dan sudah pasti kami mengutamakan pendaftar yang lulus SMA/SMK di tahun ini, jadi kemungkinan kamu untuk lulus itu minim sekali. Saran saya lebih baik kamu syukuri apa yang sudah kamu dapat”

Kepala Nur pusing, ia ingin menangis. Segera diambilnya wudhu sebelum syetan menguasai. Lembaran Al-Qur’an dibacanya dengan hati penuh harap akan petunjuk Tuhan. Terhenti matanya pada Surat Al-Baqarah ayat 216. “…Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah menetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Tiga hari sudah permasalahan itu bergelut di pikiran Nur. Suhu tubuhnya semakin meninggi. Meski lemah ia memaksakan diri berjalan menuju kampus dengan senyum tegar kebohongan. Hingga tubuh lemasnya tak lagi mampu bertahan, Nur jatuh pingsan. Teman-temannya terkejut memegang panas tubuhnya kemudian merawatnya di kos.

Sudah satu minggu Nur tampak menyedihkan. Mata sayunya dengan lemah membaca sebuah pesan dari Ibu Nina. Dia dosen pembimbing akademik Nur.
“Bagaimana Nur dengan tawaran saya tempo lalu. Kalau kamu berminat, hari minggu bisa datang ke rumah saya untuk membuat media”

Dosennya itu tahu betul kompetensi keahlian Nur di bidang kultur jaringan, sudah lama ia ingin Nur ikut bersamanya mengembangkan usaha jamur tiram. Tapi niat Nur untuk pindah membuat Nur tak pernah serius memikirkannya.
Kondisi Nur semakin membaik, Nur memutuskan datang ke rumah dosennya itu. Banyak yang ia ceritakan pada Bu Nina, termasuk tentang mimpi-mimpinya. Nasihat dan saran beliau membuat Nur mantap mengambil keputusan.

Malam ini sama seperti malam sebelumnya, Nur tak pernah lelah menangis pada Tuhan. Kini sebuah ayat lagi-lagi menyindir Nur. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” ayat itu paling banyak diulang di Surat Ar-rahman. Kemudian dibukanya lagi Surat Al-baqarah ayat 216. Teringat ia akan nasihat Pak Muksal dan Kak Army, kebaikan Bu Nina. Lama ia berpikir, dipandangnya piala dan IP memuaskan di KHS. Dengan mengucap Bismillah dirobeknya mimpi ke kampus impiannya itu.

“Nur, pendaftaran SBMPTN udah dibuka lo! udah daftar?”. Tanya Deny.
“Nggak jadi”
“Kenapa?”
“Sudah kudapat surat cinta dari Tuhan”. Nur kembali berjalan dengan senyum semangat yang terlihat manis. Kini Nur menyadari, manusia bisa berencana, tapi semuanya kembali pada keputusan Tuhan. Tugasnya adalah melakukan yang terbaik untuk hidup ini.

Cerpen Karangan: Nia Ramadhania
Facebook: Nia Ramadhania

Cerpen Surat Cinta Dari Tuhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Hujan

Oleh:
Hujan tak sengaja mengantarkanku Kepada awal pertemuan dengannya, aku sungguh tak pernah menyangka akan bertemu dengannya di saat hujan. Waktu itu aku baru saja turun dari angkot dengan bawaan

Past of Moment

Oleh:
“Huacchh..” terpaksa aku harus menguap dan secepat mungkin aku menutupnya. jam menunjukkan pukul 04.00 pm. kupandang suasana di luar yang dapat ditembus oleh kaca tepat di samping tempat dudukku.

Apa Yang Sebenarnya Ku Cari

Oleh:
Rasa-rasanya aku sudah terlalu cape dengan semua ini, dengan perasaan ini. Apa yang ku cari selama ini, aku pun tak tahu. Sejak waktu itu dia menghilang. Entah karena tanggung

Ketika Hidayah Melambaikan Cinta

Oleh:
Kicau burung merpati mulai terdengar ditelingaku. Tak sedikitpun aku bergerak dari tempatku berbaring. Tubuhku bagaikan terpaku di atas tempat tidurku. Namun suara adzan yang berkumandang membuatku terpaksa bangun. Walaupun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *