Surat Dari Sahabat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 September 2016

Gak terasa kini kami sudah berpisah, tapi bagi kami berpisah bukan untuk selamanya, bahkan perpisahan ini langkah kesuksesan untuk kami dimasa depan nantinya.

Haii… nama saya Difa Ramadhani, biasanya saya dipanggil difa, saya mempunyai sahabat namanya Syahla Aurel, panggilannya lala. Dia orangnya baik, pengertian sama kawan, pintar, dan polos juga orangnya

Kami bersahabat sejak dari pertama kali masuk di SMP, tepatnya di kelas 7-7, disaat semua teman di kelas pada menjauhiku, dia selalu ada di sampingku, aku merasa nyaman bersahabat dengan dia, karena dia orang satu-satunya di kelas itu yang paling paham dengan kondisi kesehatanku.

Suatu hari disaat aku ke luar dari rumah sakit, besoknya aku langsung masuk sekolah tepatnya pada tanggal 21 mei, tibanya sampai di kelas, aku langsung piket karena itu jadwal piketku tapi, disaat lala melihat aku lagi piket, dia bawel banget
“Udah dif, lala aja yang menggantikan difa piket, difa kan baru keluar dari rumah sakit, difa gak boleh capek-capek nanti masuk rumah sakit lagi gimana? Udah ya lala aja yang piket okeey” tampak lala yang begitu perhatiannya samaku
“Gak perlu la, susah mulut-mulut teman di kelas ini, nanti mereka bilang aku pemalas, udah ya, difa aja yang piket, kan sudah jadwal difa yang piket” balasku ke lala
“Ya udah, selesai difa piket kita baca qur’an sama-sama ya, udah kangen lho baca qur’an sama difa” ajak lala kepadaku
“Okeh lala”

Setelah aku selesai piket, dan sudah membaca qur’an sama lala seperti biasanya yang kami lakukan sebelum jam pelajaran dimulai

Tidak terasa kami sudah kelas 9, yang sebentar lagi akan menghadapin segala macam ujian, yang dimulai dari UTS, ujian semester, UAM, UAMBN dan terakhir UN

Bel pun berbuyi menandakan pelajaran akan dimulai, hari ini pelajaran bahasa arab
“Assalamu’alaikum nanda, udah baca qur’an tadi?” Pertanyan yang sering dilontarkan sama guru bahasa arab kami BUNDA ASMA
“Sebagian sudah bunda, sebagian lagi belum” jawab salah satu murid di kelas itu
“Baca lagi qur’annya sama-sama, harus kompak dalam 1 kelas, jangan ada yang sebagian sudah sebagian lagi belum” lanjut nasehat dari bunda asma

Selesai membaca qur’an dilanjut dengan belajar bahasa arab, 45 menit kemudian aku dan lala meminta izin untuk ke kamar mandi
“Bunda kami izin ke kamar mandi ya bun” aku yang meminta izin ke bunda asma
“Iya, silahkan dif” bunda pun mengizinkannya
Pada saat ke luar dari kelas
“Siapa yang sampai duluan di kamar mandi dia yang menang” kata lala
“Iihh lala mah gitu, kan lala tau difa gak bisa lari-lari nantik kecapean gimana? Lala… tunggu difa” aku berteriak memanggil lala supaya lala berhenti berlari
“Hahaha… Maaf dif, lala kan hanya bercanda saja” lala berusaha menenagkanku

Seperti biasa sehabis dari kamar mandi, lala selalu menjahili aku
“Lala mah gitu, suka kali nyubit difa gak jelas, sakit lho la” keselku kepada lala
“Difa jelek kalau cemberut gitu, udah ah senyum lagi dong” lala berusaha membuat ku tersenyum
Sesampai di kelas entah kenapa aku merasa pening, tapi aku membawanya enjoy saja

Sudah hampir seminggu aku tidak hadir di sekolah karena penyakitku kambuh lagi
“Difa kemana la? Kok gak datang-datang” tanya lisa ke lala
“Gak tau lis, aku pun khawatir sama dia” jawab lala dengan penuh kekhawatiran
Bel pun berbunyi pertanda akan dimulainya pelajaran
“Assalamu’alaikum nanda” sapa bunda Nida ke murid-muridnya
“Wa’alaikum sallam bunda” jawab murid dengan kompak
“Sebelum pelajaran kita mulai, bunda mau menyampaikan kabar duka, kalau teman kalian DIFA lagi terbaring lemas di rumah sakit, katanya difa lagi berada di rumah sakit yang biasanya, kita do’a kan supaya difa cepat sembuh ya” jelas bunda nida secara lebar
Lala yang mendengarnya langsung shock, sampai-sampai lala tidak fokus ke pelajarannya.

Gak terasa, bel pulang pun bebunyi, bel yang ditunggu-tunggu banyak murid, lala pun segera ke rumah sakit yang biasanya difa dirawat disana, tanpa menggantikan pakaian seragam sekolahnya.
Sesampainya lala di ruangan rumah sakit, yang di dalamnya itu ada difa
“Difa, kamu kenapa gak kasih tau aku kalau kamu lagi sakit? Pasti kamu sakit karena aku kan? Karena hari itu aku mengajak kamu lari-lari gini kan jadinya? Maafkan aku difa, aku sudah jahat samamu” tanya lala ke difa dengan kekhawatirannya
“Lala… kalau masuk itu biasakan ucapkan salam, jangan langsung main nyambar gitu aja, lagian kamu ke sini kok enggak ganti baju seragam dulu? Cie… Yang khawatir sama difa, difa gak papa kok, sehat-sehat aja, aku masuk rumah sakit bukan karenamu kok” aku berusaha menenagkan lala yang begitu khawatirnya samaku
“Iya iya, lala lupa, assalamu’alaikum ya cantik, lagi sakit pun di bilang sehat? Aku khawatir lho dif samamu, aku gak fokus belajar, kenapa kamu gak kasih tau aku kalau kamu itu lagi sakit?” Jawab lala dengan kesal
“Wa’alaikum salam cantik, aku gak mau kasih tau kamu, karena aku gak mau kamu khawatir, nanti kamu gak fokus ke belajar, oh iya, sebentar lagi lala ulang tahun kan? Cie… Udah besar lala nya” jawabku yang terus berusaha menenangkan lala, dan menggoda lala
“Ini difa ada surat untuk lala, tapi jangan dibuka sekarang ya, nanti saja, sehabis lala pulang dari sini” aku memberikan selembar surat untuk lala
“Ya sudah, lala pulang ke rumah dulu ya, lagian sudah sore, assalamu’alaikum difa, syafakillah yaa ukhty (semoga allah menyembuhkan mu wahai saudaraku)” lala pamit ke aku

Keesokan harinya tepat di hari ulang tahun lala yang ke 15, lala terus menjengukku
“Assalamu’alaiku difa, bagaimana kondisinya?” Tanya lala kepadaku
“Wa’alaikum sallam lala, gak tau nih rasanya makin sakit, aku rasa aku gak sanggup lagi deh, aku menyerah, kalau aku tidak ada lagi jangan sedih terus ya la, kalau kamu sedih terus nanti akunya disana sedih juga” jawab ku dengan lemas
“Difa… kamu bicara apa sih? Jangan begitu dong, kamu harus kuat, harus semangat lawan penyakitmu!” Lala yang terus menyemangatkan ku dengan meneteskan air mata
“Aku gak kuat lagi la, udah dong jangan nangis, gak mau kan melihat sahabatnya sedih? Kalau gak mau hapus dong air matamu, oh iya, jangan lupa baca surat yang kukasih semalam untukmu ya” jawab ku yang juga berusaha menghapuskan air mata lala.
Tanpa sadar, difa pun menghentikan nafas terakhirnya, lala yang melihatnya menangis histeris, tapi lala tidak lupa dengan surat yang dikasih difa semalam untuk dirinya.

“Assalamu’alaikum lala, happy birthday my lovely best, barakallah fil umrik ya, maaf la di hari ulang tahunmu aku tidak bisa hadir, aku tidak bisa kasih apa-apa samamu, aku hanya bisa kasih do’a ke kamu, supaya kamu bisa sukses, bisa menjadi perempuan yang sholehah dan bisa menjadi muslimah sejati, makasih ya la sudah mau jadi sahabatku dari kelas 7 yang selalu bisa paham dengan kondisiku, jangan sedih la, jiwa aku memang sudah tiada tapi, aku selalu ada di hatimu la, jaga aku di hatimu selalu ya la, nanti kita bisa jumpa lagi di jannatullah, do’akan aku selalu la, biar aku bahagia di alam sana, kita masih bersahabat walaupun alam kita sudah berbeda”

Salam sayang dari DIFA
Untuk LALA sahabat baik ku

Lala yang membaca suratnya itu langsung tidak bisa menahan air matanya

The end

Cerpen Karangan: Ainiyah Ramadhani
Facebook: Ainiyah Adifa

Cerpen Surat Dari Sahabat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cadangan Abadi

Oleh:
“Aku akan mengatakan apa pun atau sekasar apa pun untuk memotivasimu untuk bergerak, Val.” Seorang laki-laki sedang menghabiskan jam olahraganya di lapangan sepak bola sendirian, ia menendang dengan kasar

Tuhan Izinkan Aku Menangis

Oleh:
Hai namaku Rainivia, kalian bisa memanggilku Rai. Aku adalah seorang yang jarang menunjukan sedihku di depan umum, apa lagi di depan orang yang kusayangi. Dulu waktu aku kecil aku

Siput dan Singa

Oleh:
Baru saja aku menapakkan kaki di tanah kelahiranku, lebih tepatnya desa kelahiranku. Panggil saja aku Nadira, gadis berusia 20 tahun yang datang kemari hanya ingin berlibur sekaligus mencari sahabat

Surat Untuk Idaman

Oleh:
Sengaja aku buat surat ini untuk kenang-kenangan kepada keluargaku kelak. Siapa tahu, ya siapa yang bisa tahu persis jumlah umurku ini? Aku bisa baca tulis, dan tentu harus kupergunakan

Eternal Sakura (Part 1)

Oleh:
Akihabara, 18 Januari 2016 Hari ini sungguh melelahkan bagi Acchan. Tampaknya wanita itu sungguh kelelahan, karena ia baru saja menyelesaikan proyek kantornya. Ia mengayuh sepeda birunya lalu menuju ke

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *