Surat Sayang Untuk Sang Bulan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 18 March 2016

Terlalu banyak berharap dan mengkhayal adalah suatu kebiasaan buruk. Hal ini akan membuat diri semakin ringkih dan selalu bersedih. Namun itulah kenyataannya, aku telah masuk ke dalam permainan bodoh yang harus membuatku berulang kaki menelan air liur untuk sekedar menahan perih yang aku buat sendiri. Aku bermain rasa. Malam terasa begitu panjang ketika aku harus berulang kali merepeat tulisanku dan menggantinya dengan kertas yang baru, sudah lebih dari enam kertas yang aku sobek-sobek agar tidak meninggalkan jejak penggemar ini. Hatiku begitu menggebu berkata-kata, namun ketika kalimat itu sampai di jemariku tanganku seolah kelu tak sanggup menuliskan apa yang telah disampaikan oleh hatiku barusan.

Berulang kali tulisan itu ku baca, aku tak ingin ada satu kata pun yang bisa membuat suatu kesalahpahaman antara aku dan bulanku. Aku ingin ketika ia membaca suratku ia bisa tersenyum riang dan menyapaku penuh kasih dan perhatian. Itulah harapan sepanjang tujuh bulan terakhir ini. Selama itu juga aku selalu tersiksa setiap kali berpapasan ataupun hanya sekedar melihatnya bercanda tawa dengan temen-temanku yang lain. Entah sejak kapan tepatnya aku mulai mengagumi si jilbaber itu. Miss of english and Mapensa. Yang aku tahu sejak aku mulai melihatnya dan memintanya untuk mengajariku lima bulan yang lalu ketika aku masih semester 1.

“Kak Syahida..” panggilku pada gadis tomboi yang duduk di depan pintu kantor BEM.
Ia menoleh dan tersenyum berbicara dengan bahasa tubuh, aku rasa aku cukup mengerti arti dari senyumnya itu.
“Bisakah Kakak membantu Dyla mengerjakan soal bahasa inggris ini,” aku tersenyum penuh arti.
Dia meraih kertas yang ada di tanganku dan melihatnya tepatnya ku rasa dia sedang mempelajarinya.
“Tugasnya disuruh diapain nih dek?” katanya memecah kebisuan kami.
“Mmm.. kata miss Chosyah, kita harus meletakkan verb yang sesuai dengan kalimat ini Kak, dan menyesuaikan grammarnya? Gitu,” kataku menjelaskan.

Aku melihat ke arah matanya yang agak sedikit belok, ia tersenyum dan mengangguk lalu mulai mengajariku. Aku mengerjakan tugas kuliah pertamaku ini diajari oleh kakak MEMBASA langsung. Hatiku bersorak senang, aku merasa menjadi orang yang paling bahagia pagi itu. “Kalau yang ini Kakak sedikit ragu La, tapi Insya Allah menurut pengetahuan Kakak ini bener gak perlu ada yang diubah lagi,” katanya sambil menunjuk dua nomor yang ku rasa memang sulit. Aku sendiri bahkan enggak paham. Kakak aja ragu apalagi Dyla kataku dalam hati.

Setelah hari itu aku sering tersenyum jika berpapasan dengannya, namun mengenaskan sekali dia tidak membalasku. Aku sungguh tidak paham apa dia sengaja melakukannya atau memang dia tidak tahu kalau senyuman manisku itu untuknya dan hanya untuknya. Dia berlalu di hadapanku, tanpa beban, tanpa senyuman, pandangannya lurus kedepan seperti tidak merasa kehadiranku. Dan aku pun berusaha memudarkan rasaku padanya ku kumpulkan segala hal menjengkelkan tentangnya berharap bisa membantuku untuk tidak lagi mengaguminya.

Setelah liburan UAS kami pindahan kamar, karena aku ingin mencoba belajar menghafal qur’an jadinya aku memutuskan untuk pindah ke kamar Hafidzoh. Semula aku berpikir aku akan kuat dan baik-baik saja meskipun sekamar dengan Kak Syahida, karena sejak pulang liburan aku tidak lagi terlalu memedulikannya. Aku seperti menemukan keinginanku. Aku menang. Pikirku. Namun aku salah. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku belum bisa tidur, banyak hal yang berkecamuk di kepalaku. Tanganku menggurat-gurat buku diaryku dan ku ungkapkan semuanya di sana ku tulis tentang kerinduanku pada ibu, bapak, adekku, dan juga kekagumanku yang sedikit demi sedikit bangkit lagi pada Kak Syahida dan kali ini lebih besar dari yang sebelumnya.

Hingga suatu sore. Ketika Kak Syahida sedang larut dalam lantunan surat cinta Ilahi, aku memberanikan diri menghampirinya. “Kak Syahida..” panggilku pelan sambil menyodorkan kertas putih yang sudah ku lipat rapi, di sisi paling depan bertuliskan DON’T TALK TO WHO. Aku tak tahu apakah ini suatu kesalahan, atau kebodohan. Atau bahkan kedua-duanya. Salah dan bodoh dua senyawa yang tak bisa dipisahkan itu? Ia menghentikan bacaannya lalu mendongak ke arahku yang masih berdiri di depannya sambil menyungging senyum penuh harap. Ia menyambut suratku, sebelum aku melihat apa yang akan ia lakukan pada suratku, lebih dulu aku mengambil langkah seribu untuk pergi dari hadapannya.

Ku rebahkan tubuhku di samping susunan kasur, berusaha membuang prasangka buruk yang mulai menghantui pikiranku. Hatiku sangat bingung, takut dan penuh prasangka kalau-kalau Kak Syahida akan benci, marah, jengkel, dan menganggapku aneh. Sungguh aku mengaguminya bukan karena ada penyakit aneh dalam diriku. Apalagi LGBT Na’udzubillah ya Allah. Tidak. Aku mengaguminya karena kecerdasannya dalam menguasai bahasa, lalu latar belakang siapa sebenarnya dia sebelum menjadi mahasiswi di Institut ini. Gadis tomboi dengan pemahaman terhadap agama yang biasa saja, berteman dengan laki-laki, suka bermain sepak bola, dan mungkin semua permainan laki-laki ia kuasai tapi di sini ia menjadi seorang jilbaber, rajin ke musala.

Ia begitu istiqomah menjalankan salat rowatib qobliyah dan ba’diyah, ditambah puasa daud, dan satu lagi hal paling menarik yang menjadi hobiku. Gigi-giginya yang tidak rapi di sebelah kiri dan kanan ada gigi kecil-kecil yang membuat aku begitu tertarik melihatnya. Ya karena hobiku memang peneliti gigi. Aku seperti tertantang dan banyak mengambil pelajaran dari dirinya bagiku dia adalah cermin diri, memberi cahaya meski ia hanyalah sebatas sang bulan yang mungkin lambat laun akan berubah wujud menjadi matahari. Namun sayang sampai detik ini ia tetap begitu dingin padaku.

Padahal aku telah mengatakan padanya jika aku menyayanginya meski aku tidak mengatakan bahwa aku menginginkannya menjadi kakakku di kejauhan ini. Karena aku tidak seberani itu. Aku cukup penakut dan tepatnya pemalu untuk mengungkapkan perasaan. Biarlah catatan ini menjadi surat sayang untuk sang bulan. Mungkin enggak sekarang dan bukan dia tapi suatu saat aku harap akan ada bulan-bulan lain yang bisa memberikan sinarnya hanya untukku, seperti saudara hatiku Vhita yang selalu memberiku semangat meski sekarang kami terpisah jauh. Agar aku selalu merasa gembira ketika malam tiba untuk menikmati sinar rembulan.

Engkaulah sang bulan..
Dengan keindahan yang tiada membosankan
Meski pendar sinarmu namun menyejukkan
Engkaulah sang bulan…
Dengan pesona bak taburan mozaik di atas kertas putih
Menyilaukan mata dan mengikat hati dengan keindahanmu

“Surat sayang untuk Sang Bulan, Kak Syahida … Aku memang bukanlah pelangi. Yang dapat memberi warna di tengah keindahan harimu. Namun aku.. hanyalah seiringan awan gelap. Yang sekedar berarak untuk memberi kabar. Bahwa hujan akan datang. Yang akan meninggalkan pelangi untuk kau nikmati ketika hujan berhenti membasahi bumi.”

Cerpen Karangan: Asyfha Indhy

Cerpen Surat Sayang Untuk Sang Bulan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Kelam Di Pondok

Oleh:
Di teras rumahnya, Ahzam merenung di tengah hujan lebat yang mengguyur kota malam ini. Dia mengingat ingat, apa yang menimpanya sehingga dia menjadi seperti sekarang ini. Kejadian yang sangat

Lebih Baik Memaafkan

Oleh:
Beberapa orang yang saling bersatu. Itulah yang ku sebut kelompok. Orang-orang yang ada di dalam kelompok itu, akan berusaha untuk menjaga keharmonisan antar anggota kelompoknya, dengan cara meningkatkan kekompakan,

Yuk, Rapatkan Shaf

Oleh:
“Bunda, Fisa bingung nih.” Nafisa yang baru beranjak sembilan tahun menghampiri Bundanya yang sedang memasak. “Ada apa sayang ?” Tanya Bunda sambil mengusap kepala putri tercintanya. “Bunda selalu ajarkan

Halaqoh Empat Pemuda

Oleh:
“Janganlah berjalan di belakangku, karena mungkin aku tak bisa memimpinmu. Jangan pula berjalan di depanku, mungkin aku tak bisa mengikutimu. Berjalanlah di sampingku dan jadilah sahabatku..” -Anonim- Suatu sore.

Idealis Sang Pendaki

Oleh:
Embun pun masih menempel di dedaunan, sinar sang mentari masih tertutup awan pagi, belum ada tanda-tanda terik hari ini. Di lapangan hijau pagi sekali sudah ramai pecinta olahraga, sibuk

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *