Tahun

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 4 February 2018

Dari ibnu umar Radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda
“Sesungguhnya rasa malu dan keimanan itu bergandengan apabila hilang salah satu dari keduanya, hilang pula yang lainnya” (HR. Bukhari dalam al adabul mufrad, dinyatakan shahih oleh Syaikh Al Albani dalam shahi al Adabul Mufrad lil imam Bukhari hlm: 44)
Mungkin seperti itulah aku rasa malu yang seharusnya dimiliki setiap wanita tak kumiliki, aku melupakan rasa malu bahkan untuk melindungi diri. Kukira aku sudah bisa membentengi diri dari lelaki yang hanya inginkan kepuasan bukan cinta dariku.

Pertemuan ini berawal dari sosmed yang kemarin ajang siaturahmi menjadi ajang mencari jodoh. Ya aku tertipu dengan kata manis dan janji butanya, kami berkenalan dari salah satu aplikasi di Handphone awalnya kami bercanda, berbincang dan mencoba saling mengenal satu sama lain. Dengan gombalan, janji dan cerita kehidupannya aku tertarik untuk mengenalnya. Satu minggu masa berkenalan itu dia mengatakan cinta lewat Handphone dan dengan konyolnya aku menerimanya tanpa berpikir

Belum cukup satu minggu ikatan itu terjalin dia mendatangi tempat tinggalku, dan dari pertemuan itu rasa ingin memiliki muncul dari dalam pikiranku dia mulai menciumku, awalnya aku kaget tapi entah mengapa keingintahuanku akan rasa itu kembali bergejolak.

Dua minggu hubungan ini, pertemuan kedua denganya membuatku ingin tahu lebih dalam tentangnya tanpa berfikir panjang dia membawaku ke rumahnya dengan alasan akan diperkenalkan dengan orangtuanya, tapi belum sampai di rumahnya dia kembali menciumku di jalan gelap itu bukti dia telah melukaiku, sesampainya di sana aku kira dia akan memperkenalkanku sebagai wanita yang dia cintai tapi dia memperkenalkanku sebagai teman. Dia kembali merayuku dan membuat janji dengan tingginya aku jatuh dalam pelukannya aku tak berfikir bahwa yang kulakukan saat itu adalah kesalahan yang akan mempengaruhi masa depanku, saat semuanya sudah mulai hilang aku sadar bahwa kesalahan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku, kenikmatan itu hanya datang sesaat tapi penyesalan itu tak pernah pergi bahkan untuk bertahun-tahun lamanya.

Cerpen Karangan: Watu

Cerpen Tahun merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ku Bacakan Padamu Tujuh Ayat

Oleh:
Cuaca siang ini sangat menyengat. Matahari membakar melelehkan kepala-kepala yang ada di atas mereka. Peluh menghujan, membasahi sekujur tubuh mereka. Dehidrasi yang sekarang mereka rasakan. Lambung-lambung mereka sudah saling

Peluk Aku Papa

Oleh:
Pak bromo kelihatan bingung. Barusan dia dihubungi oleh pihak sekolah. mereka memberitahukan bahwa dilla tidak masuk. Pak bromo yang khawatir menelpon ke rumahnya. Namun Dilla tidak ada. Hal ini

Picturing You

Oleh:
Sulit dipercaya… Aku menatap lukisan itu lekat-lekat, nyaris tanpa berkedip dan bernapas. Warna-warni kontras cat minyak pada kanvas memberikan bentuk dari objek yang membuatku terpukau. Aku meraba permukaannya untuk

Hijab

Oleh:
“Kenapa cewek itu harus berhijab?” Tanya Syifa pada seorang pemuda yang duduk di bangku di depannya. Cowok itu tidak menoleh, hanya cukup mendengar. Sepasang kedua matanya yang teduh menerawang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *