Tak Pernah Ku Sangka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Pendidikan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 24 April 2014

Hari ini adalah tangal 24 mai dimana pengumuman kelulusan akan diumumkan pada hari itu. ayah ku mewakili untuk datang ke sekolahan melihat hasil pengumuman.

Jam dinding milik ku yang dari tadi tak lepas dari perhatian ku menunjukan pukul 10 pagi, aku mondar-mandir di kamar ku seolah tak tenang dan tak sabar melihat hasil pengumuman “mudah-mudahan aku LULUS” ucap ku masih dalam keadaan panik. Apa jadinya apabila aku tidak lulus percuma rasanya perjuangan ku selama tiga tahun ini.

“krreekk” suara membuka pintu dari ruang tamu menghentikan lamunan ku. “aku yakin itu ayah” gumam ku dan segera memastikan siapa yang membuka pintu. Aku masih mematung tepat di hadapan ayah melihat ekspresi ayah begitu tak semangat dan kecewa, “jangan-jangan aku tidak lulus!” aku menduga-duga dengan rasa penasaran. “ayah gimana hasil nya?” tanya ku mencoba untuk tidak panik.
Ayah langsung berajak dari depan pintu dan duduk di sofa masih dengan muka lesu. “ayah jawab aku?” aku masih penasaran dan mendesak ayah ku. Ayah tersenyum lebar dan membuka surat pengumuman dan berdiri di hadapan ku “kamu lulus sayang” ucap ayah penuh ekspresi. Aku terasa melayang tinggi ketika ayah memberi pernyataan barusan dan melihat tulisan LULUS di selembar kertas yang dipegang ayah. Aku tak tau harus dengan cara apa mengekspresikan kebahagian ku, apalagi aku mendapat juara umum kebahagian begitu lengkap “selamat ya sayang” ucap ayah ku seraya memeluk ku.

Satu minggu sudah berlalu
kini bukan was-was/kekhawatiran akan tidak lulus SMA yang muncul di benak ku melainkan mau kemana kah aku setelah tamat SMA ini.

Suatu hari aku asyik bermain hp milik ku di kamar tanpa seorang pun yang menemani karena sudah tak lagi disibukan dengan kegiatan sekolah aku hanya berdiam di rumah. “praakkk” suara kencang terdengar dari sudut kamar ku suara yang sengaja aku buat ya aku membanting hp ku ke lantai karena kesal entah tanpa sebab dan alasan yang pasti. Pikiran ku tak lagi jernih pagi itu tepat pukul 8 entah karena aku belum terbiasa dengan keadaan ini lantaran muak dan bosan jika tak ada kegiatan dalam hari ku tak seperti 12 tahun yang lalu ketika gelar PELAJAR masih aku pakai setumpuk pr yang aku kerjakan atau ikut kegiatan eskul. “Apa yang aku lakuin? Bodoh sekali tindakan ini” ucap ku sadar dengan perbuatan yang konyol.

Aku mulai menarik nafas dan menghembuskannya perlahan aku berdiri tepat di depan jendela ku buka gonden yang setengah tertutup, pancaran matahari menyerang wajah ku. Aku mulai berfikir jernih “tak penting merenungi ini semua yang terpenting adalah mau ke universitas manakah aku kuliah?” tegas aku pada diriku sendiri.

“dddrrrr” handpon ku bergetar ada seseorang yang menelpon. Ternyata dina yang nelpon teman SMA ku waktu kelas 1 Dulu. Aku segera mengangkatnya. Tak beberapa lama kami basa-basi dina pun mulai berbicara perihal penting ya kabar baik dina mengajak ku untuk ikut test perguruan tinggi di kota ku.

Setelah berminggu minggu bahkan berbulan bulan aku dan keluarga ku berdebat mengenai perguruan tinggi mana yang akan aku tuju, akhirnya IAIN lah yang disepakati.

2 minggu kemudian
Tibalah saat yang menegangkan dalam hidup ini yaitu ikut test seleksi untuk masuk perguruan tinggi. Hari senin tepat hari dimana aku dan teman ku dina ikut test. Bismilahirohmanirohim doa ku ketika mau mengisi soal soal yang ada di depan mata. 2 jam berlalu test pun usai dilaksanakan. Aku segera pulang ke rumah pada saat itu juga.

Seminggu berlalu saat saat menegangkan datang lagi namun aku begitu santai melihat hasil tes. Ku buka laptop ku dan segera login ke website yang aku maksud. Dengan jeli mata ku melihat nama ayu hardini di setiap tulisan. “aku pasti lulus” ucap ku dengan PD.

1 menit berlalu namun aku tak menemukan nama ku di antara orang orang yang lulus. Aku mulai shock rasa takut mulai menghatui ku namun aku mencoba menenangakan diri. Ternyata benar aku benar benar tidak lulus. Hati ku rasa teriris pisau tajam perlahan air mata menbasahi pipi ku, aku masih tak percaya dengan kenyataan “ddrrr” hp di atas meja bergetar. Aku berhenti menangis dan mengecek sms ternyata dina yang sms bahwa dia lulus. Kesedihan semakin menjadi-jadi. Seolah tak sanggup menerima kata TIDAK LULUS. aku berlari ke luar rumah meninggalkan laptop ku dalam keadaan hidup. Aku berlari sambil menangis ke tempat yang tak asing lagi.

Di sebuah danau yang jaraknya tak jauh dari rumah ku. Hembusan angin semilir mulai merasuk ke jiwa ku di tambah bunyi kicauwan burung ikut menenangkan hati ku yang galau. Aku berusaha untuk mengentikan air mata namun sia-sia hati ku sudah terlanjur kecewa. aku bangkit dan berdiri tepat di muka danau ku tarik nafas ku dalam dan aku teriak tak peduli orang menyangka aku gila “tuhan… Kenapa aku tidak lulus? Padahal aku begitu mudah mengerjakan soal soal itu, aku juga selalu mendapat juara umum di sekolah, aku juga selalu menang di berbagai olimpiade, kenapa tuhan? Aku tidak bodoh!” teriak ku protes tak terima dengan kenyataan.

Tiba-tiba suara injakan kaki mulai terdengar yang tadinya samar samar kini terdengar jelas. seorang perempuan seusia ku datang menghampiri ku dia adalah dina teman sma ku. Ia mulai menghapus air mata ku dan menarik ku perlahan dari tepi danau ia mulai menenangkan amarah ku.
“ucapan kamu benar kok, kamu pintar, berprestasi, jagoan, kamu juga lebih pintar dari aku dan lain lain” ucap dina mulai menghibur.
“trus? Kenapa aku tidak lulus?” tanyaku masih setengah emosi.
Dina tersenyum tipis “bukan karena kmu bodoh, atau gak belajar kamu selalu usaha setiap mau ujian, tapi…” dina tak melajut kan ucapannya.
“tapi apa?” tanya ku penasaran
“tapi kamu gak pernah tawakal/berdoa, kamu terlalu sombong, lantaran kamu diberi kecerdasan kamu jadi lupa sama Allah” ucap dina panjang lebar.
Aku terdiam dan kembali menjatuhkan air mata.

Aku segera beranjak dan memeluk dina kata-kata nya menyentuh batin ku, selama ini aku angkuh aku merasa tak membutuhakn siapa-siapa. Tapi salah Allah lah yang mengatur dan mengabulkan setiap doa. Aku tersadar akan keegoisan ku dan selalu meremehkan hal hal terkecil namun itu penting. Dina membalas pelukan ku. “terus? Aku tidak bisa kuliah di tempat yang sama seperti kamu” ucap ku.
“kan masih ada golombang ke dua” ucap dina.
Aku pun lega mendengar penyataan teman ku. Masih ada kesempatan kedua.

1 bulan kemudian. Dan alhamdulilah aku lulus berkat tawakal dan ikhtiar ku selama ini. Tak henti2 aku bersyukur.

Cerpen Karangan: Ayu Hardini
Facebook: Ayu Hardini

Cerpen Tak Pernah Ku Sangka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Di Penghujung Jalan Sana

Oleh:
Di penghujung jalan sana, tepat diujung simpang empat arah barat, setiap pagi dapat kulihat, seorang nenek menyokong nampan berisi kue-kue basah yang ia bawa ke Desa kami untuk dijajakan,

Pita Putih Di Pohon Pinus

Oleh:
“Pencuri!” teriakku. Tukang parkir mengejarnya, menambrakan badannya ke pencuri. Pencuri pun jatuh, berdiri, terus melarikan diri. Jantungku berdebar ketika tukang parkir tersebut mengembalikan sepeda motorku. “Neng …, hati hati,

Pulang

Oleh:
“Farah, beliau sudah tiada,” sebuah pesan singkat Whatsapp dari ibu yang muncul di layar notifikasi. Menunjukkan pesan tersebut tiba pada pukul delapan malam, sedangkan sekarang sudah menunjukkan hampir pukul

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *