Takut

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fabel (Hewan), Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 19 August 2019

“Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illa Allahu Allahhu akbar, Allahu akbar wa lillahilham,”

Gema takbir saling bersahutan. Disusul teriakan spesiesku. Para manusia kepayahan mengimbangi amukan jenisku. Sekuat tenaga, mereka menarik tali yang mengikat kaki Supri.

Brugghh!
Tubuh gempal Supri jatuh. Manusia itu bergegas mengunci Supri. Sehingga Supri mustahil melakukan perlawanan. Supri menyerah. Pasrah. Membiarkan pisau tajam itu menyayat lehernya.

“Mooo,” jerit Supri kesakitan.
Tubuhnya menggelepar-gelepar. Darah mengucur deras. Perlahan mata bulat Supri menutup. Dia tak bergerak. Mati.

Aku bergidik ngeri. Tak terbayang bila nanti aku akan berakhir seperti Supri. Mati disembelih manusia. Mengerikan.
Betapa seram rasanya, jika pisau besar itu bergerak maju mundur di leherku. Memotong nadi. Ketika itu terjadi, rasa sakit menyerang. Melumpuhkan perlahan. Hingga darah tercurah semua ke lubang di tanah. Dan aku akan… mati!

Teriakan-teriakan jenisku. Perlawanan tak berarti. Serta gema takbir yang mengiringi ajal. Satu per-satu. Spesiesku meregang nyawa.
Hatiku gelisah. Jatungku berdebar-debar. Andai aku punya tangan. Pasti sudah kugunakan untuk menutup telinga. Tak kuasa mendengar jeritan-jeritan yang menggambarkan rasa sakit yang mereka alami. Semakin lama… aku semakin takut.

Pikiranku tak tenang. Hatiku ketar-ketir menunggu giliran. Jika saja aku boleh memilih. Nomor satu-lah yang kudamba. Aku ingin jadi sapi pertama yang disembelih mereka. Agar aku tak perlu merasa takut sedemikian rupa.

Mataku menatap ke depan. Dia, Joko. Sapi pertama yang kukenal di tempat ini. Kami berdua cukup akrab. Kerapkali kami mengobrol tentang banyak hal.
Aneh. Tak kutemui raut ketakutan di wajahnya. Dia malah asyik memakan rumput. Agaknya jeritan sapi lain tak mempan padanya. Tenang sekali dia. Apa sapi asal Solo selalu damai seperti dia?

“Joko!” kupanggil dia.
Joko menatapku dengan mulut penuh rumput.
Aku mengatur napas lalu berkata. “Apa kau tidak ngeri membayangkan pisau tajam itu menggorok lehermu nanti?” aku menunjuk pisau dengan gerakan kepala. Benda itu berkilau ditimpa cahaya surya. Dan jangan lupakan lumuran darahnya.
Joko melirik pisau itu dan… biasa saja. Air mukanya datar. Tiada perubahan pada ekspresinya. Kemudian dia menatapku.
“Sudahlah, jangan dipikirkan. Lebih baik nikmati rumput ini untuk terakhir kali,” dia kembali melanjutkan acara makannya. “kuberi tahu, ya, rasa rumput ini lezat sekali.”

Gigiku bergemeletuk. Rahangku mengeras. Aku geram dengan responnya yang biasa.
“Bagaimana bisa kau bersikap tenang di detik-detik jelang kematian kita, hah?” nada bicaraku meninggi. Emosi. Pikiranku kalut. Ketakutan menggetarkan susunan tulang-tulangku.
“Kau tau perlu marah begitu, Juno,” Joko berhenti mengunyah. Kini fokusnya tertuju padaku.
“Juno, dengarkan aku baik-baik. Karena ini adalah kata-kata terakhirku. Jadi, sebelum nomorku dipanggil, aku ingin kau mengerti satu hal.” Joko menatapku lekat-lekat.
“Apa kau lupa, Juno? Kita diciptakan Allah memang untuk manusia. Keberadaan kita di dunia itu guna memenuhi kebutuhan manusia. Karena manusia juga alasan bagi kita menjadi penghuni bumi.”

Joko menarik napas sebentar lalu melanjutkan. “Sebagai seekor sapi, kita harus menurut, Juno. Karena itu ketentuan Allah. Semua sapi hidup memakan rumput dan akan berakhir di perut anak cucu Adam. Hal itu merupakan takdir bagi kita.”
Aku tertegun. Penuturan Joko sukses menohokku. Bagaimana bisa aku melupakan tujuan jenisku diciptakan?

“Sapi nomor 19 milik Bapak Rusdi bin Asmawi,”
Mengalun suara manusia itu menyebut nomor urut Joko. Beberapa orang menggiring Joko ke tempat penyembelihan.
Sekilas Joko tersenyum, sebelum pergi dari hadapanku. Benar saja. Penyembelihan Joko berjalan cepat dan lancar. Dia tak berontak seperti sapi lainnya.

Terima kasih, Joko. Percerahanmu telah mengusir gelap di hatiku. Ketakutan lenyap. Kini aku bisa tenang menunggu giliran. Kuharap Allah mempertemukan kita kembali di surga. Semoga.

-Rampung-

Cerpen Karangan: Harni Haryati
Blog / Facebook: Harni Haryati

Cerpen Takut merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Temanku Seorang Atheis (Part 1)

Oleh:
Darah merah yang terlihat masih segar itu membasahi lantai rumahnya. Kulihat usus berserakan di antara sela kursi. Aku menangis di pojokan kamarnya seakan tak percaya melihat apa yang telah

Jilbab

Oleh:
“Piiiit! Mana jilbab Mbak Zahra?” teriak mbak Zahra dari kamarnya. Yang dipanggil cuek sambil terus membetulkan jilbabnya yang belum rapi. Dengan penuh kemarahan Zahra pun berlari ke kamar adiknya.

Getar Tuhan Ataukah Getar Cinta?

Oleh:
Sesejuk angin malam yang membelai lembut diriku yang tengah melangkah pulang dari surau. Kurasakan indahnya kasih yang diberikan tuhan, kuberjalan diantara barisan para mujahidah modern akhwat tangguh yang berhasil

Maaf Yang Tertunda

Oleh:
Ketikaku menghadapi kehidupan yang pelik ini, mampukah diriku hanyut dalam suasana yang sangat bertentangan dengan hatiku, Ya Allah hamba malu pada engkau, hamba tak mampu menghadapkan wajah kepada akhirat-Mu.

Pintu Negeri Atas Awan (Part 2)

Oleh:
Aku beranjak meninggalkan tempat ini dan berjalan menuju homestay. Hari ini, sudahi saja sampai disini. Aku membuka pintu kamar, dan ternyata Pras belum tidur. “Besok kita ke Prau lagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *