Taubatnya Temanku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 29 May 2017

Waktu terus berjalan, zaman pun semakin berubah. Tidak dapat dicegah, kebudayaan asing telah merasuk ke dalam diri teman-teman sepermainanku. Budaya-budaya barat yang seharusnya tidak dilakukan oleh teman-temanku, tetapi dilakukan. Sesuatu hal yang kuharap tidak terjadi. Calon-calon pemberontak agama dan norma mulai muncul di sekitarku. Aku berharap aku diberi kekuatan lebih untuk menghadapi semua ini.

Dia adalah Reman, temanku sejak aku TK. Tetapi sekarang namanya mendapat sebutan huruf P di depannya, karena tingkah lakunya. Memang, sejak dahulu aku sudah mengenalnya sebagai anak yang nakal. Dia pun sering usil kepadaku. Kenakalannya tersebut sampai membuat guruku, Bu Fatimah, marah, padahal dia kukenal sebagai guru yang paling sabar di sekolahku. Reman memanglah begitu, tapi sekarang semakin parah.

Usianya sekarang SMP, tapi dia sudah melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh anak seusianya. Dia telah merok*k sejak usia 12 tahun. Aku pun sempat ditawarinya untuk merok*k, tetapi aku menolaknya. Saat aku ditawari, langit sedang hujan. Saat tanganku mulai kugerakkan untuk menerima benda silinder itu, tiba-tiba halilintar membuat kaget. Reman pun juga kaget. Akhirnya benda tersebut terjatuh ke dalam kubangan air. Ini kuanggap sebagai teguran dari Tuhan.

Aku berusaha untuk menghadapi dengan kekuatan hati. Sebenarnya bisa saja kuhadapi dengan kekuatan fisik, tapi itu malah memberi efek buruk kepadaku. Akhirnya, karena hatiku sudah tidak kuat untuk menahannya, dan aku sudah semakin dewasa, terpaksa aku merantau untuk berpisah dengannya. Aku pun hidup tenang di daerah rantauanku tersebut. Aku berharap, harapanku untuk hidup lebih baik dan mendapat teman lebih baik. Semoga harapanku ini tidak pupus seperti harapanku sebelumnya. Alhamdulillah, harapanku kali ini benar terjadi.

Tapi, nasib buruk menghampiriku. Aku diperintahkan bosku untuk bekerja di Kalimantan untuk beberapa bulan. Dalam hati kecilku, aku berkata: ini adalah nasib sial, di Kalimantan itu hampir semua anak buah dari Reman berkumpul. Sebenarnya, walaupun reman itu suka berbuat yang macam-macam kepadaku, dia tetap menghargaiku, dia tetap memanusiakan diriku. Anak buahnya pun juga seperti itu. Tapi, yang kukhawatiri ialah saat terjadinya tawuran antar kelompok tersebut. Jika ditangkap polisi, Reman selalu membawa-bawa namaku. Akhirnya aku pun juga mendapat jamuan dari hukum.

Semalam penuh aku tidak tidur. Pikiranku terus memikirkan hal itu sampai keberangkatanku ke Kalimantan. Saat berada di dalam pesawat, perasaanku bercampur aduk. Bukan karena pesawat itu akan jatuh ataupun aku akan dikucilkan oleh masyarakat dan rakan kerjaku di sana, tetapi karena Reman.

Pesawat pun mendarat, aku pun turun dari pesawat dan membawa koperku yang lumayan berat. Aku pun terkejut, karena bukan hanya rekan dan bosku yang di sana yang menjemputku. Tetapi juga Reman. Memang Reman telah mengetahui ini sejak awal. Semakin terkejutnya aku, Reman telah berubah. Dia terlihat sebagai orang yang kalem dan taat beribadah. Rambutnya pun sekarang hitam, bukan disemir pirang. Saat aku sampai di sana, tepat waktu subuh, Reman pun mengajakku untuk shalat subuh dulu di masjid dekat bandara.
Melihat semua itu, aku berharap, semoga Reman tetap seperti ini untuk selamanya.

Cerpen Karangan: Wildan Hasibuan Amriansyah
Facebook: Wildan Hasibuan Amriansyah

Cerpen Taubatnya Temanku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tembok Tinggi Kami

Oleh:
Subuh senyap dan dingin masih saja memanjakan tidur Randy. Sedang aku dan kawan malah dimanjakan dinginnya air yang mengguyur tubuh kami. Bersiap salat subuh. Entah mengapa Randy seperti itu,

Maut

Oleh:
“Lusi, ayo sholat bareng!” Ucap Hasni, saudaraku. Aku pun mengangguk pelan sambil masih terus berkutat pada majalah yang sedang kubaca. “Iya. Duluan aja ya.” Ucapku malas. Hari ini aku

Mengaji

Oleh:
“Pokoknya gak mau!” bentak Zinta pada Mamanya. Zinta sedang kesal pada Mamanya. Karena Mamanya memaksanya mengaji di Masjid. Maklum, Zinta pindahan dari Jakarta ke Surabaya. “Eh! kok gitu, sih

Dibalik Senyum Tulusmu

Oleh:
Rintik hujan menetes dari luar kamarku. Aku menatap hampa ke atas langit kelabu yang sejak pagi tidak menampakkan sinarnya. Hari ini seolah ikut berduka dengan keadaanku. Demam. Ya, tepatnya

Bulan dan Ramadhan

Oleh:
Hari sudah mulai gelap, adzan magrib beberapa menit lagi akan berkumandang. Ramadhan kali ini terasa aneh bagi Bulan, gadis yang baru saja lulus SMA itu merasa sepi di tengah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *