Temanku Seorang Atheis (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Misteri
Lolos moderasi pada: 7 August 2017

Darah merah yang terlihat masih segar itu membasahi lantai rumahnya. Kulihat usus berserakan di antara sela kursi. Aku menangis di pojokan kamarnya seakan tak percaya melihat apa yang telah ia lakukan. Wartawan TV, radio dan surat kabar mulai mengambil gambar pria malang yang kupanggil Nim itu.

“Nak, apakah kau temannya Nim” Tanya seorang polisi kepadaku. Aku tetap diam dan terisak isak karena menahan tangisanku.
“Iya, dia te..temanku” jawabku. Polisi itu mengeluarkan selembar kertas dan bertanya
“Mengapa dia melakukan bunuh diri dengan cara seperti ini?”.
Aku sebenarnya tau kalau dia memang sudah merencanakan hal buruk ini sejak minggu lalu. Tetapi aku mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Nim.

“Fis, apa kau malam ini ada acara?”
“Tidak, kenapa? apa kau mau mengajakku ke tempat para banci itu lagi? Ah, aku tidak mau. Kau ajak saja Leo ke sana.”
“Apa yang kau pikirkan? Kau mengigau lagi ya? Tentu saja tidak, Fis. Aku hanya ingin pergi ke rumahmu saja.”
“Untuk apa? Apa kau mau bertanya masalah ideologi lagi?”
“Em…. iya”
“Sejak kapan kau tertarik pada agama, Nim? Mimpi apa kau semalam?”
“Sudahlah, pokoknya aku nanti akan ke rumahmu jam 7. Sampai jumpa nanti.”
“Hei.. mau ke mana kau, Nim?”
“Aku mau ke kampus bukuku ketinggalan”

Aku terisak isak sambil bercerita kepada polisi yang kulihat nametagnya bertuliskan Mark Koules. “A…aku tidak bisa melanjutkan ceri..ta ini”. Polisi itu memasang wajah memelas kepadaku dan seolah olah ia memohon kepadaku agar aku melanjutkan cerita. “ini perintah dari atasanku untuk melakukan investigasi atas kasus ini dan kau telah dijadikan saksi. Kau adalah temannya dan terakhir kali ia datang ke rumahmu, kan sebelum kematiannya?”.
“Apa maksudmu? Jadi kau menuduhku aku yang telah menghasut Nim agar melakukan bunuh diri?”
“Tidak, tidak seperti itu, Nak. Kami memintamu sebagai saksi karena kau yang lebih tau mengenai Nim sejak di bangku kuliah? Kau adalah sahabat karibnya…”
Aku lalu pergi meninggalkan polisi itu. “Hei, tangkap dia…!!!”. Dia dan kawan kawannya menangkapku dan membawaku ke sebuah tempat yang dikelilingi tembok putih dan di dalamnya hanya ada 1 meja dan 2 kursi. Aku seperti tersangka saja.
“Tolonglah, Nak. Ceritakanlah agar kasus ini cepat selesai”. Polisi itu tetap memintaku bercerita. Akhirnya aku pun mau bercerita.

Hujan rintik rintik kulihat dari jendela kamarku di lantai 2. Saat ini memang aku tinggal di rumah sendirian. Kedua orangtuaku sudah meninggal sejak aku bayi. Kini aku tinggal bersama paman dan bibiku yang sekarang sedang pergi. Adikku pergi bersama temanku. “Tok tok”. Aku mendengar suara ketukan pintu “Itu pasti Nim”. Kuhampiri Nim yang memakai jas hujan biru dengan membawa beberapa buah buku.

“Aku kira kau tidak datang karena hujan”
“Tentu saja aku datang. Aku ingin tau mengenai dirimu”
“Apa maksudmu? Masalah agama?”
“Ya, tentu saja”
“Bukankah kita sudah berteman sejak 2 tahun lalu, kau baru ingin tau diriku sekarang? Oh, tidak. Aku bahkan tau dirimu.”
“Benarkah?”
“Ya, kau dari desa terpencil di dekat kota…”
“Sssstttt, stop. Jangan kau lanjutkan. Apakah kau punya agama?”
“Ya, tentu saja. Bukankah kau tau jika aku ini seorang muslim?”
“Maaf, ini kan hanya pembukaannya saja.”
“Ayo, masuklah kenapa kita dari tadi berdiri di sini. Oke, kau duduk dulu, akan aku buatkan teh untukmu dan kubawakan beberapa kue kebab yang masih hangat.”
“Apa kau bisa membuat kue kebab?”
“Kau meledekku ya, di Negara asalku, kue ini menjadi tolak ukur apakah ia bisa memasak atau tidak”
“O… begitu. Kalau kuemu sampai tidak enak, awas saja…!”

Aku tidak tau apa yang dia pikirkan malam itu. Dia bertingkah aneh. Bahkan dia melihat dan membolak-balikkan kitabku dan beberapa buku panduan salat.
“Apa yang kau lakukan? Ini cicipilah makanan yang kubuat. Pasti enak”
“Ya, nanti aku cicipi, ngomong-ngomong kenapa kau menjadi muslim?”
“Orangtuaku juga muslim jadi aku juga muslim”
“Jadi kau beragama bukan karena keinginanmu sendiri tetapi karena orangtuamu. Jika kau terlahir dari keluarga seperti aku, atheis pasti kau juga atheis, kan?”
“Tapi kenyataannya aku dilahirkan bukan dari keluargamu”
“Kau selalu saja bilang kenyataannya. Lalu di manakah Tuhanmu?”
“Di atas langit”
“Bagaimana kau tau, apakah kau pernah berjumpa dengaannya?”
“Tentu tidak, kalau aku bertemu dengannya pasti aku mati. Aku tau karena Dia yang memberitahu”.
“Hah, bagaimana bisa”
Lalu aku berdiri dan mengambil kitab yang kupanggil Al quran
“Dia memberitahuku melalui ini”
“Mengapa kau tau, ini kan bahasa arab? Dan lihat tidak ada terjemahannya?”
“Hei, memang aku tidak tau artinya tetapi aku tau maknanya”
“Lalu apa yang kau lakukan waktu kita pertama berjumpa?”
“Oh, itu namanya sembahyang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.”
“Lalu temanmu yang itu, kenapa tidak salat”
“Aku tidak tau”
“Lalu apa perbedaan kau dan dia?”
“Kita tidak boleh mengatakan hal yang bukan-bukan seperti… yah… seperti itulah. Itu urusan dia, bukan urusan aku. Toh, nanti kita sewakti yaumul masyar atau hari kebangkitan, setiap individu akan dibangkitkan kembali untuk menghadap Tuhan dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang telah ia lakukan. Lalu kenapa kau tak percaya adanya Tuhan. Bukankah setiap manusia lahir untuk menyembah Tuhan? Pasti kau tau itu”.
“Di dunia ini ada banyak agama, kan? Dan mereka mengenal Tuhan mereka masing-masing. Kalau kau hanya mengenal satu Tuhan yakni Tuhanmu jadi kau hanya mengakui Tuhanmu saja dan kau tak percaya dengan Tuhan mereka. Kau jadi kafir”.
“Sejak kapan kau tau kafir?” ledekku sambil tertawa. “Memang, agamaku mengajarkan untuk tidak menyekutukan atau memepercayai selain dari Dia”
“Bagaimana cara bertemu Tuhan?”
“Mudah saja, setiap salat dan menyembah Nya kau akan berjumpa Tuhan karena hakikat sembahyang adalah mendekatkan diri kepada Nya. Hei, kenapa kita memperdebatkan ini semua. Bukankah ini bisa menghancurkan persahabatan kita. Iya, kan? sudah sudah tidak usah dilanjutkan lagi, kita bicara yang lain saja”.
“Tidak mungkin, kau pasti takut tak bisa menjawab pertanyaanku kan?”
“Semua yang ingin kau ketahui untuk apa? Untuk membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada? Lalu katamu tadi ada banyak agama dan Tuhan mereka masing masing, jadi kau lebih kafir dariku karena tidak mengenal Tuhan sama sekali. Agamaku memang melarang mengkafirkan orang lain, karena belum tentu aku lebih baik darimu. Ayolah, kita ubah keburukan kita menjadi kebaikan sehingga bermanfaat untuk orang lain”.
“Sebenarnya aku ingin menjawab pernyataanmu itu, tapi aku takut menusuk hatimu. Jadi aku akan membuat eksperimen mengenai apakah Tuhan itu ada atau tidak”
“Oh, kau mulai lagi dengan IQ mu itu”.

“Sejak setelah itu, aku tak berjumpa lagi dengannya, dia tidak memberitahuku kalau eksperimennya bunuh diri dengan cara seperti itu” aku mengusap air mata yang terjatuh di atas meja. Aku tidak menyangka jika ia nekat, rasa keingin-tauan yang besar membuatnya seperti ini.
“Opsir, aku telah menemukan sebuah video rekaman bagaimana ia bunuh diri” kata pak polisi lain yang baru datang.
“Baiklah, kita akan melihatnya di part 2”

Cerpen Karangan: Aldo Krisdianto
Facebook: Aldo Pedia

Cerpen Temanku Seorang Atheis (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ternyata Aku Sama Saja Seperti Mereka

Oleh:
“Kadang mereka hanya melihat manusia lain dengan sebelah matanya. Menilai sesuai penglihatan mereka dan tidak berniat melihat lebih jauh. Itulah salah satu kesalahan manusia.” Aku terus mendengarkan nasihat yang

Misteri Kado Sebuah Boneka

Oleh:
Kado ulang tahun menumpuk rapi di atas meja. Di sampingnya sudah siap kue tart dilingkari dua puluh satu lilin. Hari ini ulang tahunku. Dari jumlah lilin yang disematkan pada

Yakin Aja Sama Allah

Oleh:
Bagai Vampire yang haus darah, di usiaku yang genap delapan belas tahun ini, aku sangat haus akan ilmu. Terutama ilmu keagamaan. Aku bukan orang yang mudah percaya begitu saja

Surat Misterus (Part 3)

Oleh:
Langkah sosok itu semakin cepat. Sangat cepat. Vira tak mampu mengejar sosok itu. Langkah kakinya melambat napasnya mulai tersengal-sengal. Hingga kedua tangannya mencengkeram lutut seraya membungkuk, menahan lelah. “Dia

Tuts Tua

Oleh:
Alunan nada kembali terdengar dari piano tua itu, tidak, lebih tepatnya tuts tua itu. Ya, tidak salah lagi, Fur Elise. Jangan acuh jika kau tiba-tiba mendengarnya, itu pertanda bahwa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Temanku Seorang Atheis (Part 1)”

  1. elinda says:

    Part 2nya jangan lama2 yah kalo bisa hehehe…

  2. Syalfana Putri Utami says:

    Ditunggu banget banget banget buat part 2 nyaaaaa

  3. FAS says:

    Cepet ya… Part 2nys

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *