Tembok Tinggi Kami

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 3 June 2016

Subuh senyap dan dingin masih saja memanjakan tidur Randy. Sedang aku dan kawan malah dimanjakan dinginnya air yang mengguyur tubuh kami. Bersiap salat subuh. Entah mengapa Randy seperti itu, dari dulu sejak masuk sampai sekarang, tradisi terlambat subuhan selalu saja terlaksana. Nampaknya pesantren baginya adalah penjara. Sebelumnya ia dipaksa bersekolah di pesantren kami ini. Alasannya karena Randy yang selalu saja membuat ulah di sekolah umumnya dulu. Siapa nyana, aksi nakalnya pun terjadi di sini. Membuat masalah.

Segala pencerahan oleh ustadz bagai angin berlalu. Membuat dingin sebentar lantas berlalu. Tak ada yang terserap oleh hatinya. Marahan dan bentakan tak mempan baginya. Hukuman demi hukuman selalu dijatuhkan padanya, tapi entah ia merasa biasa-biasa saja. Ia bebas melakukan apa pun, ia seperti bukan santri. Seperti anak berandalan yang numpang hidup saja di pesantren, karena orangtua mengusir.

“Kalau saja dia iblis ifrit, sudah dari dulu aku bacakan ayat kursi,” kata ustadz di ujung tertinggi amarahnya. Ustadz Aziz saja yang terkenal paling sabar dapat membuncah amarahnya karena Randy. Aku dan kawan pun merasa jengkel padanya. Sering mengatakan kami ini kampungan, ketinggalan zaman. “Di luar sana itu tak seperti dulu, sudah tak murni lagi arti kehidupan sebenarnya. Kalian sebagai anak muda sangat bahaya di luar sana. Kalian masih rentan, penyaring kalian masih lemah, masih sangat mudah menerima segala ucapan yang entah hak atau malah batil.” Ustadz Aziz berhenti sejenak, menghela napas.

“Kalian tahu? politik di luar sana? para tikus berdasi, wakil-wakil rakyat yang katanya akan membantu rakyat? Sungguh masya Allah bohong mereka. Sekarang katanya uang tunjangan mereka akan naik, ada yang mendukung ada pula yang sok menolak tapi mau. Tapi bagaimana dengan rakyatnya? Janji manis hanya diumbar-umbar, ditebar-tebar, lantas menguap tak ada hasil.” nasihat ustadz di pengajian begitu bijak. Randy malah mengganggu Alif yang sibuk memperhatikan.

“Astagfirullah Randy, apalagi yang kamu lakukan! simpan mukenah itu, jangan dipakaikan pada Alif! dimana lagi kamu ambil barang itu?!” Randy nyengir menjulurkan lidah pada ustadz, sambil memasang paksa mukenah pada Alif.
“Tuh kan jadi cantik kalau pake mukenah, sekalian pake lipstik aja yak sekalian,” Randy malah berlari sambil tertawa bahak, menuju pintu musala. Sosoknya hilang di balik pintu tua itu.

“Sekian dan terima kasih, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!” kata-kata itu terucap, menandakan kultum Zaki telah usai. Bukannya membalas salam, Randy malah mengangguk-ngangguk tak jelas di pojok shaf paling belakang. Rutinitas favorit Randy yang tak pernah absen. Teman di sampingnya tak peduli, kapok membangunkan Randy dari tadi. Ustadz Syahdan mulai mendekatinya.

“Kau ini, tidak kemarin, tidak hari ini selalu saja tidur. Kenapa pula tidur terus? Astagfirullah Nak, ini subuh, lebih baik kau gunakan untuk hal yang lebih bermanfaat, kecewa nanti orangtua kau,” logat Sumatra meloncat dari mulut ustadz. Entah apa yang terjadi, Randy beranjak bangun dan mendongak ke ustadz dengan mata merah.
“Jangan sebut mereka! aku benci mereka!” Randy berteriak, memenuhi penjuru musala. Apa yang terjadi?

“Sudah cukup aku di sini, sudah cukup aku menuruti orangtuaku tinggal di sini. Tempat ini aneh, tidak nyaman, tidak aman bagiku,” lanjut Randy, air matanya sudah leleh, dibakar hati marah. Pemandangan langka buat kami, sebelumnya tak pernah kami lihat air mata Randy.
“Justru tempat ini paling aman bagi kau Randy, orangtuamu memaksa kau sekolah di sini karena mereka menyayangi kau. Justru di luar sana yang bahaya,” jelas ustadz.

“Apa tahumu ustadz baj*ng!”
“Astagfirullah! Cukup! Kau tau siapa orangtua kau? Merekalah yang baj*ng, telah menggunakan uang rakyat bukan pada tempatnya. Mereka sudah terjerat, tak dapat terlepas, untuk itu mereka mengirim kau di sini. Mereka tak mau pula kau terjerat dalam rantai koruptor,” ungkap ustadz, aku dan kawan setengah tercengang. Baru tahu faktanya.
“Aku tidak percaya, ustadz bohong! Ustadz pembohong!!!” Randy berteriak keras, ia berlari.

Ustadz mengejarnya, kami mengekor di belakangnya. Randy ingin kabur dari pesantren kami. Tempat yang sesungguhnya membuatnya aman dari segala tingkah aneh dan bahaya di luar tembok tinggi kami. Langkah Randy tepat satu langkah dari tembok pembatas kami dengan dunia para tikus-tikus berdasi. Ia memanjat, ada celah-celah di tembok yang entah sejak kapan ada. Ia gunakan lubang itu, nampaknya ia sudah merencanakan prosesi kaburnya.

“Jangan ke luar dari pesantren ini. Jangan lewati tembok pagar itu Randy! Di sana bahaya, sangat bahaya!” ustadz Aziz berteriak, gelombang suaranya tepat mendarat di telinga Randy. Namun anak sang koruptor itu tetap saja melompat, melewati tembok yang melindungi kami.
“Aaaaaa!!” terdengar teriakan, keras nan sakit. Apakah suara Randy? entah apa yang terjadi. Para Ustadz menggeleng, lantas meninggalkan tembok dan Randy di luar tembok.

Cerpen Karangan: Dahdawi Anka
Blog: dahdawi-anka.blogspot.co.id

Cerpen Tembok Tinggi Kami merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hamba Allah Yang Bersyukur

Oleh:
Rasulullah menceritakan kepada para sahabatnya sebuah kejadian yang terjadi di tengah-tengah kamu Bani Israel. Rasulullah menyatakan bahwa ada tiga orang Bani Israel berpenyakit sopak atau kusta, rambut rontok, dan

Lomba CCQ

Oleh:
Hari ini saatnya aku lomba Cerdas Cermat Qira’ati (CCQ), di jalan menuju tempat lombanya, aku berdoa terus menerus agar aku, Afifa, dan Laila bisa menang. Tak lama kemudian mobil

Si Orange

Oleh:
Hidup enak, bisa gonta ganti baju bagus, fasilitas lengkap, jabatan strategis, dan segudang kenikmatan lainnya, siapa sih yang nggak kepingin? Dan mungkin hal semacam itulah yang diidamkan oleh setiap

Ella

Oleh:
Pagi itu, Ella kembali mengikat tali sepatunya dengan tangkas. Seperti hari-hari sebelumnya, ia harus sampai di sekolah sebelum pukul setengah tujuh. Tak ada sosok yang setia menghantarkannya. Ketidakterlambatannya datang

Ayah

Oleh:
Tiba disuatu titik aku harus meluapkan semua. Entah itu gembira, bahagia, tangis, dan amarah. Aku bukan tipe pencurhat andal yang mencari sosok orang kuat yang mau mendengar kisahku. Seringkali

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *