Tentang TV

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 30 May 2012

Allahu akbar…. Allahu akbar…..

“Alqa sayang, sudah maghrib tuh. Ayo di matikan TVnya. Kita ke masjid yuk, sholat berjamaah.” Kata ayah Alqa

Alqa yang sedang asyik menonton program kesukaannya, menolak.

“Alqa sholatnya nanti saja yah. Tanggung nih filmnya lagi seru.” Jawab Alqa tanpa menghiraukan ajakan ayahnya.

“Emmm…. Anak ayah kayaknya tidak mau ya di sayang Allah ?”

“Yaa ayah… tapi kan tanggung.” Jawab Alqa sambil merengut.

“Ya sudahlah. Alqa tidak mau di sayang Allah. Ayah saja deh yang di sayang Allah.” Jawab ayah yang kemudian pergi meninggalkan Alqa.

Belum sampai keluar dari pintu rumah. Alqa pun berteriak.

“Ayaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah….. Tunggu Alqa.”

Ayah tersenyum. Ayah tau bahwa Alqa tidak akan mau tertinggal. Alqa pun bergegas mengambil sarung dan peci dari kamarnya dan lari mengejar sang ayah.

“Yuk yah. Kita ke masjid.”

Sambil berjalan menuju masjid. Ayah bertanya kepada Alqa.

“Tadi ayah ajak, katanya tanggung. Kok sekarang malah ingin buru-buru ?”

”Alqa cuma tidak ingin tidak di sayang Allah. Kan ayah sama bunda sering bilang sama Alqa. Kalau mau di sayang Allah, kita harus mengikuti perintah Allah dan meninggalkan yang Allah tidak suka. Biar nanti di surga, Alqa bisa bertemu dengan ayah dan bunda. Alqa sayaaaaaaaang banget sama ayah dan bunda.” Jelas Alqa panjang lebar membuat ayah tersenyum sendiri melihat tingkah puteranya.

“Pintar sekali anak ayah. Memang harus seperti itu. Kalau menuruti nonton TV, tidak akan ada habisnya. Semua yang terlihat di dalam TV itu indah, padahal tidak semuanya baik untuk di tonton. Malah sia-sia nanti waktu yang kita punya jika sepanjang waktu hanya menonton TV.”

“Ohh… makanya ayah sama bunda selalu membatasi Alqa untuk menonton ya ? dan selalu ada di samping Alqa saat Alqa menonton ?”

“Benar sayang. Karena ayah sama bunda tidak ingin Alqa terus menerus menonton TV. Ayah dan bunda ingin Alqa bisa bermain sama teman-teman, baca buku, melakukan hal-hal yang Alqa suka. Tidak hanya terpaku diam saja di depan TV. Alqa harus bergerak.”

“Harus bergerak ?” Tanya Alqa heran.

“Iya. Kalau hanya berada di depan TV saja kan Alqa diam, hanya menonton. Sedangkan kita harus bergerak, melakukan sesuatu yang bermanfaat. Membaca Al Qur’an misalnya.”

“Berarti TV itu ada baiknya dan ada buruknya ya yah ?” tanya Alqa polos.

“Iya. Makanya kita harus pintar memilih program yang baik untuk di lihat. Menambah wawasan dan iman bukan justru membuatnya kita lalai kepada Allah. Lalu, usahakan untuk bisa jadi yang di ikuti bukan hanya mengikuti. Jadi yang di tonton bukan hanya menonton. Pastinya dalam hal kebaikan. ”

“Alqa paham yah. Kita wudhu dulu yah.”

Usai berwudhu, mereka langsung masuk ke dalam masjid dan menempati shaf pertama.

“Alqa mau kemana ?” Tanya ayah saat melihat Alqa langsung berdiri setelah selesai sholat tanpa berdo’a.

Alqa langsung menengok.

“Alqa mau pulang yah. Mau lihat lanjutan film yang tadi.” Jawab Alqa.

Ayah menghampiri Alqa sambil berkata.

“Loh ? Baru tadi ayah bilang. Jangan sampai TV membuat kita lalai kepada Allah. Kok malah sekarang Alqa jadi ketergantungan ?”

“Tapi kan yah, sholatnya sudah selesai.” Alqa membela diri.

“Iya benar. Tapi Alqa selesai sholat langsung bangun tanpa berdoa dahulu, tanpa pamit juga sama ayah. Apa Alqa tadi sholat sambil memikirkan film itu ?” Selidik Ayah.

Alqa tersenyum mendengar penuturan ayahnya, seakan tahu apa yang di pikirkannya tadi.

“Ya sudah. Sekarang duduk lagi sini. Jangan lupa berdo’a.”

“Iya yah.”

***
Di perjalanan pulang menuju ke rumah.

“Yah, Alqa pernah dengar kalau TV itu bisa jadi tuhan ke dua.” Tanya Alqa.

“Kamu tahu dari mana ?”

“Alqa pernah dengar secara tidak sengaja dari obrolan kakak-kakak di masjid beberapa waktu yang lalu yah.”

“Oh gitu.” Ayah manggut-manggut.

“Memang bisa di bilang seperti itu.”

“Maksudnya yah ?”

“Begini sayang. Seperti yang tadi ayah bilang. Bahwa semua yang ada di TV itu terlihat indah. Dan TV itu media yang paling mudah di akses. Tidak seperti majalah atau internet, acara di TV bisa di lihat secara gratis. Hampir semua orang punya TV. Sayangnya, tidak semua orang bisa memilih mana yang baik atau buruk. Contohnya, ketika ada artis A berpakaian seperti ini, bisa di pastikan akan banyak orang yang mengikutinya. Bukan masalah jika pakaiannya itu sesuai yang di perintahkan Allah. Menjadi masalah jika pakaiannya itu melanggar ketentuan Allah. Karena kita cenderung mengikuti apa yang kita lihat padahal belum tentu benar.”

Alqa menyimak penjelasan ayahnya dengan serius.

“…. contoh lain misalkan ada suatu program di TV yang menampilkan kekerasan, hal tersebut bisa di tiru oleh anak-anak yang menonton tanpa ada pengawasan dari orangtua….”

“… jadi kalau Alqa mau menonton, harus di dampingi ayah atau bunda. Kalau ada sesuatu yang menurut Alqa ganjil atau tidak baik. Alqa tanya sama ayah atau bunda. Begitu juga kalau Alqa tidak sengaja menonton TV di tempat lain atau tanpa pengawasan ayah bunda. Tidak boleh langsung meniru. ”

“Gimana, sudah faham belum ?”

“Sudah yah. Terima kasih ya yah.”

“Iya.”

Cerpen Tentang TV merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Emas Berharga

Oleh:
Dia tak kunjung sembuh. Sudah bertahun-tahun dia mengidap penyakit itu. Bagaimana bisa, aku pun tak percaya. Tapi aku baru mengenalnya selama sebulan. Karena aku baru pindah ke rumah ini

Alexandria

Oleh:
Dentuman keras membangunkanku dari tidur. Saat kubuka mata, kurasakan rumahku bergetar keras. Satu-satunya cermin mendiang ibu juga hancur berantakan. Lamat-lamat terdengar suara gemuruh jerit tangis menjadi satu dalam shimphony

Jangan Menangis Ukhti

Oleh:
Bukan saatnya aku mengeluh, tapi saatnya aku merubah duniaku. Pantaskah aku menggapai angan ketaatan seorang hamba muslimah yang pernah aku cela. Terdiam dan terus memikirkan bagaimana jalanku kedepan nanti,

Sketsa Lembayung Jingga

Oleh:
Telah ku lewati separuh jalan kehidupan. Aku tersesat di tengah tandusnya gurun pasir. Semakin jauh, semakin ku tak mengerti. Mataku seolah kehilangan fokusnya, samar-samar pemandangan ku tangkap. Fatamorgana yang

Ling

Oleh:
Hening, suara jangkrik sesekali menyelingi riuh cinta yang berdengung, Ling. Namamu mendidih mengucur dari bibir yang telah basah mentasbihkanmu. Sebenarnya malam yang indah, ada lampu-lampu menyala, bintang-bintang berkerdipan, namun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *