Terbit Untuk Tenggelam (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 30 July 2016

Surya nampak tak seperti biasanya, ia sembunyi di balik awan hitam yang meredupkan kehidupan global. Tetes embun seakan enggan menghilang dari dataran dedaunan yang berhiaskan mahkota cantik. Rintik hujan mulai mengguyur bumi seolah memberi waktu untuk santai dan istirahat. Puri didampingi kedua orangtuanya, duduk di teras sebuah rumah berpemandangan asri menikmati hembusan angin sepoi-sepoi, ditemani segelas susu, secangkir teh, dan kopi dengan pelengkap kue kering beraroma kelapa.

Asyik bercengkrama diiringi canda tawa merupakan bumbu utama kaharmonisan keluarga Puri. Gadis lima belas tahun itu mendapatkan tumpahan kasih sayang dan curahan kegembiraan Pak Asep dan Bu Ratna, orangtua kandungnya. Rasanya, gadis yang duduk di bangku sekolah menengah pertama itu telah menjadi jantung dari keutuhan keluarganya.

Di balik keharmonisan keluarga Puri, ternyata pekerjaan orangtuanya telah menjadi bumerang dalam keterbukaannya. Sang Ayah berprofesi sebagai manager di sebuah perusahaan swasta. Sedangkan sang bunda, menyibukkan diri dengan menjadi perancang busana sebuah butik ternama di Surabaya. Hal itu menjadi penyita waktu terbesar kebersamaan mereka.
Kesibukan ayah dan bunda Puri tak lantas membuatnya tumbuh mandiri. Karena pundi-pundi rupiah dengan mudah mengaliri ATMnya, Puri tumbuh menjelma menjadi sosok gadis manja yang selalu berpangku tangan terhadap orang lain. Bahkan, untuk merawat dirinya pun ia rela merogoh kocek untuk membiayai jasa orang lain.

Hujan yang turun kini tak kunjung reda, mentari pun berdiam diri di balik produsen air yang membasahi bumi itu. Puri malah melamun di sela kehangatan kebersamaan ayah dan bunda. Tak terasa waktu memaksa untuk segera menghampiri sekolahnya tercinta karena harus melaksanakan ujian nasional.

Puri bergegas mengajak orangtuanya memasuki sebuah mobil yang terparkir di teras rumah. Kendaraaan beroda empat yang mereka tumpangi melaju dengan kencang menerobos kubangan air yang mengandung asam. Benda yang mengangkut mereka akhirnya terhenti di depan gerbang sekolah tempatnya menuntut ilmu.

Diciumnya tangan ayah dan bunda. Lantas tanpa basa basi ia langkahkan kaki keluar dari benda beroda empat itu, menerjang tetes hujan sampai menapak di depan pintu ruang kelas. Gerombolan murid berseragam putih_biru berdiri di sekeliling gadis berkerudung itu menampakkan ketegangan.

“Teeet… teeet… teeet…”, bel sekolah berdering menandakan waktu memasuki ruang ujian nasional, dengan tergesa diraihanya papan dan alat tulis dari ransel, benda tak berdosa itu lantas dihempaskan ke tempatnya, bertumpuk tas-tas lainnya. Langkah kakinya terayun menuju sepaket meja kursi yang telah tercantum nomor ujian dan gambar yang mirip dengannya. Penuh ketenangan, gadis itu terduduk memperjuangkan nasib hanya dengan selembar kertas yang amat bernilai nanti. Sepasang guru memasuki ruang saksi bisu itu. Lelaki senja berkopyah hitam yang menutupi sebagian rambut kepalanya. Wanita paruh baya berhiaskan jilbab putih yang menutupi seluruh rambut kepala dengan kacamata yang jelas memperindah bola matanya. Kedua manusia itu berseragam bak guru yang tampil berwibawa. “Assalamu’alaikum warah matullahi wa bara kaatuh”, sapa sang pria mengawali perjumpaan kami. “Wa’alaikum salam warah matullahi wa bara kaatuh”, balas murid serentak. Lelaki itu lantas memandu siswa dadakannya untuk berdo’a sebelum melaksanakan ujian. Lantunan surah Al-fatihah rupanya cukup sebagai pembuka acara pagi itu. Lelaki itu lantas dengan lantangnya membacakan tata tertib. Sementara si wanita yang mendampinginya membagikan lembar jawaban. Peraturan cukup jelas masuk ke dalam telinga hingga bisa mengisi rongga otak. Tangan Puri bergeser mengambil sebatang kayu kecil untuk mengarsir identitas diri. Benda yang bisa disebut pensil itu dengan lihainya menghitamkan bulatan-bulatan kecil di lembar jawaban komputer. Dirasa cukup, kedua pengawas itu membagikan soal yang berstempel dokumen negara ke setiap pasang mata di kelas itu. Belasan siswa berlomba membolak-balik lampiran soal, berfikir lantas menjawabnya. Tak begitu dengan Puri, dia malah terdiam senyam senyum sendiri. Pengawas ujian yang dari tadi mondar mandir tak curiga pada gadis itu, dipikirnya puri memang ramah. Padahal, menurut teman dan orang yang mengenalnya, Puri tergolong gadis cuek dan judes. Saat waktu menunjukkan kurang lima belas menit Puri baru sok-sokan membuka soalnya. Tanpa membaca ia langsung melingkari pilihan di lembar jawaban sambil tangan kirinya membuka sesobek kertas kecil. Ya, kertas itu dibelinya kemarin seharga ratusan ribu di temannya yang mengaku memperoleh dari seorang pegawai pemerintah.

Gema adzan maghrib menembus dinding telinga. Namun, tubuh Puri serasa kaku menjalankan kewajiban. Jemari indah yang selalu dirawatnya di salon sibuk memainkan handphone sambil mendengarkan alunan musik yang di putar kencang-kencang, menari, dan menyanyi di atas kasur seolah tak malu pada jilbab yang menutupi kepala. Seakan tak mengenal asma Allah yang selama ini digemparkan sebagai sang pencipta. Tanpa disadari Puri, seorang lelaki senja berdiri di depan pintu kamarnya. Ia merampas dan mematikan alunan musik yang tengah diperdengarkan cucunya. Lelaki itu kakek Puri. “Puri, sholat dulu nak!”, tuturnya bijak memandangi cucunya. Puri hanya mengangguk terdiam. “Ayo jamaah, sudah lama kan kita gak sholat jamaah. Itu ibu dan ayahmu kebetulan sudah pulang!”, pandangnya menyorot luar. Tentu saja Puri senang tanpa tanding. Tak bisanya kedua orangtua Puri pulang secepat ini. Biasanya mereka pulang larut, saat anaknya capek menunggu dan lebih memilih tidur di pembaringan dengan perasaan yang pasti hancur kecewa. “Bunda… bunda….?”, Puri lantas sumringah keluar kamar menuju keberadaan bundanya. Dipeluknya sang ibu bak berpisah berpuluh-puluh tahun lamanya. Mereka lantas menunaikan ibadah, bacaan istighfar terlontar dari bibir setelah salam mengakhiri gerakan sholat. Suasana makin khusyuk, Puri terpaku mendengar kakek melantunkan ayat suci dengan fasih. Dalam bayangnya, mereka seolah berdiri di negara timur tengah. Hal itu makin menguatkan kekaguman Puri pada kakeknya.
Kakek Puri terlahir menjadi seorang anak yatim. Ayahnya meninggal kala usia kandungan bundanya baru menginjak lima bulan. Tanpa sebab pergi tak kembali.

Hidup berdua dengan sang bunda dirasakan kakek tak cukup lama. Karena, ketika usia kakek belum genap sepuluh tahun, ibundanya telah menghadap sang kuasa, meninggalkan putra semata wayang hidup sebatang kara dengan kehidupan dunia yang tak sebegitu bersahabat.
Tinggal sendirian di sebuah gubuk reyot, mencari makan dengan mengamen. Kehidupan kakek sangatlah memprihatinkan, tak mampu terbayangkan bila Puri lah yang ada dalam posisi kakek. Keadaan yang kakek alami berlangsung tak cukup lama, hanya sampai usia beliau empat belas tahun.
Sampai satu ketika, kakek bertemu seorang kyai di sebuah warung makan saat kakek hendak mengamen. Kyai tersebut menuntun kakek duduk dan menanyai tentang kehidupan pribadi kakek. Kakek dengan mengharu biru menceritakan segala ingatan yang selama ini membuntu jalur pikirannya.

Kyai yang merasa simpatik akhirnya memberi tawaran kakek untuk tinggal di pesantren yang diasuhnya. Tentu, dengan senang hati kakek menerima tawaran itu. Dari kyai Abdullah lah kakek mengenal agama, hingga ia menjunjung tinggi asma Allah. Karena, Allah lah kehidupan ini ada. Itulah alasan terbesar kakek untuk mengajari Puri tentang apa itu agama, apa itu bersyukur, tawakal, ikhlas dan lain sebagainya. Kakek adalah satu-satunya orang yang mampu mengendalikan ego Puri. Tapi, apa yang terjadi kini? Puri malah menyiakannya begitu saja.

Detik-detik ujian nasional telah dilalui, kini masa penantian pengumuman kelulusan tengah menghadang. Hati dan pikiran serasa bimbang tak tahu arah dan tujuan. Hari-hari dijalani Puri penuh kenakalan, berangat pagi pulang malam, tanpa sepengetahuan orangtua tentang apa yang dilakukan anaknya. Kegiatan sekolah tak dihiraukan, setiap pagi berpamitan mencari ilmu. Tapi malah santai di pusat perbelanjaan atau sekedar bertanding di playstation.
“Sekolah selesai ujian gak dapat apa-apa, membosankan. Datang cuma disuruh sholat, istighotshah, aaalah, semua hal itu buang waktu percuma”, ungkap Puri penuh nada kesombongan tiap diingatkan kawannya untuk sekolah.

Puri mengendap masuk ke dalam rumah ketika waktu menunjukkan pukul 01:00 dini hari. Cahaya lampu yang mula-mula padam. Tiba-tiba, menyala. Sang kakek tengah berdiri di hadapnya. Wajah kakek nampak pucat saat memergoki Puri tak mengenakan kain yang biasa menutupi kepala. Kakek hanya diam tak marah apalagi murka.
“Ada apa dengan jilbabmu, sudah kah kamu sholat dan makan, nak? makanan ada di kulkas, kalau kamu belum sholat dan takut wudlu sendiri, kamu bisa bengunkan mbok Inem. Kakek ada urusan jadi harus pergi sekarang”, tutur kakek dengan lembut. Berlalu meninggalkannya. Puri hanya diam, membisu, hati teriris telah menyakiti orang yang selama ini menghujani dengan kasih sayang.

Ini bukan pertama kalinya Puri pulang larut malam. Tapi, baru kali ini kakek nampak kecewa pada Puri, sangat kecewa malah. Air mata membasahi pipi, menangisi kesalahan yang telah diperbuat sendiri hingga menggores luka yang amat dalam bagi orang yang selama ini membasuh lukanya. Lama membuang air bah dari terowongan penglihatan, Puri terlelap dengan kelopak yang membengkak. Bak sulit tuk terbuka kembali.

Bunga tidur menyelinap dalam pikiran, mengusik kepulasan tidur Puri. Mimpi itu yang membasahi bantal guling serta seprai tidur Puri. Bagaimana tidak? dalam bayang, Puri berbalut jubbah hitam diseret terombang-ambing dua makhluk bermuka garang. Sang kakek berdiri tertunduk berusaha meraih cucunya agar tak terbawa pergi. Tapi, Puri sama sekali tak menghiraukan keberadaan kakeknya. Ia malah pergi menjauh hingga kakek terjatuh tak berdaya. Jauh, makin jauh. Tapi, ia menangis seolah menolak kepergiannya sendiri.

Kokokan ayam tetangga membangunkan Puri dari mimpi yang sama sekali tak diharapkannya. Gadis itu seolah terbebas dari penjara alam bawah sadar. Terdengar sayup suara kakek mendendangkan sholawat nabi, sudah kebiasaan setiap pagi memang. Lagi-lagi, Puri diam bimbang membisu. Merenungi apa yang telah dirasanya selama ini.
Lima belas tahun kakek bekerja keras menanami benih keimanan, keikhlasan, ihsan. Tapi, kini, semua itu hilang tak bersisa. Semua hilang entah kemana. Yang tertinggal hanya kemanjaan, ego, amarah, dendam yang ia tahu akan membawanya menuju lembah neraka.

Sebulan lamanya Puri menunggu hasil pengumuman ujian nasional, sekarang penantian itu akan berakhir dan mengembangkan senyum sang pejuang. Perintah tirakad dan doa, tak dipenuhi sedikit pun. Dengan gembira yang membara dalam relung, Puri mengenakan baju putih_biru yang lama tak dikenakannya mengunjungi komplek sekolah yang juga lama tak didatanginya. Snowman dan cat pilox sembunyi di balik tas bersiap mengotori kain-kain putih tak berdosa.

Senyum manis menghiasi senyum Puri, Tatkala putri pak Asep itu menunggangi matic yang dihadiahkan untuknya. Secepat kilat motor keluaran Jepang itu menggelinding di tempat parkir sekolah. Puri menyusuri teras perpustakaan, laboraturium dan musholla dengan hati riang gembira bak tak ada masalah yang melanda. Puri pun sampai di aula, dimana ratusan siswa harap cemas menanti pengumuman. Dengan kesombongan yang bersarang dalam perangainya, Puri mengejek teman-temannya yang kini lemah selemah lemahnya. Bahkan, ada yang jatuh pingsan dibuatnya. Puri duduk di barisan terdepan dengan senyum yang amat mengembang.

Amplop putih telah di tangan. Namun, semua siswa tak diperbolehkan membuka amplop itu sebelum ada aba-aba dari bapak kepala sekolah yang banyak omong itu. Lelaki senja itu menangis di atas podium atas kecewanya karena ada beberapa anak didik yang dinyatakan tidak lulus ujian nasional. Sontak para siswa makin deras mengguyur lantai aula dengan tangis. “Sekarang, bapak tak bisa menunda lagi. Yang telah terjadi tidak bisa diulangi lagi, bukan? jadi dalam hitungan sampai tiga, silahkan dibuka amplopnya”. “satu, dua, tiga”, Lelaki itu lemas tak bertulang rasanya. “Puri senja maharani, dinyatakan tidak…”, dengan lantang Puri membaca pernyataannya. Dia terdiam, tak berkutik seolah tak mendengar apapun yang ada di sekitar. Segalanya dibiarkan berlalu begitu saja.

Puri tetap tak percaya kalau kata yang terpampang di kertas itu adalah tidak lulus. Sorak bahagia berulang kali diteriakkan kawan-kawan, cukup memekakkan telinga, makin menyesakkan dada Puri. Namun, kata di kertas itu tetap sama, sama sekali tidak berubah.

Tak kuasa membendung air yang melinangi kelopak mata, tanpa basa basi Puri meremas surat itu. Lantas dihempaskannya ke lantai. Gadis itu berlari kencang mengendarai matic barunya, melaju kencang menerobos puluhan siswa sekolah menengah pertama lain yang sedang konvoi di jalanan.

Keresahan membuat hati dan fikiran berantakan tak karuan hingga tabrakan maut tak dapat lagi terhindarkan antara Puri dengan sebuah truk tronton di perempatan lampu merah. Benda beroda dua itu remuk berkeping-keping. Tubuh Puri seakan melayang tak ingat apapun yang menimpa dirinya.

Tak lama terdengar suara kerumunan manusia di sekeliling Puri. Lantas suara sirine ambulan mulai mendekat. Puri bingung, sangat bingung. Matanya menatap samar sekeliling, tetap tak dapat berbuat apa. “Akankah ajal menjemputku sekarang? aku pasrah dengan apa pun yang terjadi padaku. Lagi pula mau ditaruh mana mukaku ini di depan orang-orang? ya, syukur-syukur malaikat izroil menjemputku menghadap Tuhanku”, begitulah yang ada di benak Puri saat ia tak dapat merasa apa-apa. Semua serasa gelap gulita dan suasana serasa sunyi sepi tak bertepi.

Seminggu setelah kecalakaan itu menimpa Puri, dokter berdiskusi dalam forum tertutup bersama keluarga Puri. Operasi penyambungan kaki Puri beberapa hari yang lalu mengalami kegagalan. Luka itu membengkak dan membusuk. Kaki itu harus segera diamputasi. Jika tidak, luka itu dapat membahayakan nyawa Puri. “Ya Allah, semoga ini adalah jalan terbaik yang engkau pilihkan untuk anak kami, Puri”, do’a orangtua perempuan Puri menyeka tangis. Mereka merelakan kehilangan sebagian kaki Puri untuk dibuang.

Proses amputasi pun dilaksanakan. Dari awal operasi berlangsung hingga selesai, Puri masih terbaring lemah tak berdaya di sebuah ruang yang selalu berwangi khas itu. Tak banyak orang yang suka dengan aroma ruangan itu, bahkan tak sedikit juga yang mual dan muntah apabila berlama menghirup wangi khas ruangan tempat Puri terbaring antara sadar tak sadar itu.

Setiap pagi pak Asep dan bu Ratna selalu menjenguk putri semata wayangnya yang tak berdaya di rumah sakit. Namun, kehangataan itu tak dirasa Puri lebih dari sejam. Karena, orangtua kandungnya itu harus bekerja lebih keras lagi untuk membiayai pengobatan Puri selama di rumah sakit. Tak sedikit biaya yang dikeluarkan untuk Putri tercintanya itu. Motor yang baru dibeli pun sekarang tak berguna lagi, telah menjadi bongkahan besi yang tak seberapa nilainya. Seharusnya, motor itu lebih memiliki fungsi daripada hanya menjadi rongsokan. Bahkan, bisa sedikit membantu biaya pengobatan jika mesin beroda dua itu kembali diuangkan. Paling tidak bisa membantu, namun semua itu hanyalah angan saja.

“Aku bingung, apa aku sudah mati? tapi kenapa rasanya tidak sama dengan yang diterangkan guru agama di sekolah? ah, apakah beliau berbohong? atau memang aku belum mati? kalau gitu, kenapa aku tidak dapat berbuat apa-apa? aku hanya dapat merasakan dan mendengar apa yang terjadi pada keadaan sekelilingku. Aku merasa mati, aku hanya bisa merasa hidup saat kudengar kakek melantunkan ayat suci Al-quran di dekatku, ah aku semakin bingung saja dengan semua ini!”. Begitulah yang selalu dipikirkan Puri kala dia semakin bingung dengan dirinya sendiri.

Kemerduan suara ayah dari bunda Puri itu mampu membuat hati Puri nyaman, tenang, damai, dan tentram. Bacaannya yang fashih dengan nada yang khas mudah dikenali dan sulit terlupakan. Bukan itu saja, tak jarang dilantunkannya shalawat nabi juga lagu islami pada cucu semata wayangnya. Kakek sangat sayang pada Puri. Sejak kecil tak jarang kakek memandikannya, menyuapi dan memakaikan bajunya. Mengantarkan ke sekolah atau tempat les. Ya, itulah agenda kakek Puri. Semua hal itu menjadi kenagan terindah yang mampu menyesakkan dada bila dibanding dengan keadaan saat ini.

Dua bulan sudah Puri terkapar di ranjang rumah sakit, ramadhan pun kini datang menghampiri. Hal yang selama ini meresahkan Puri akhirnya terjadi. Kini, kebersamaan Puri dan keluarga makin berkurang saja. Bagaimana tidak? seperti ramadhan tahun-tahun sebelumnya, kakek selalu saja disibukkan dengan agenda yang seabrek. Mulai dari ceramah hingga menghadiri aneka kajian islami lainnya. Tak jarang kakek bermalam di pondok pesantren. Ya, sedikit-sedikit kakek mendapat imbalan dari warga. Apalagi sekarang keluarga Puri sangat membutuhkan uang, pasti kakek makin giat juga mengikuti pengajian.

Kondisi tubuh Puri makin melemah, detak jantung dan hembusan nafasnya tak stabil. Emosi Puri makin tak keruan saat menyadari usahanya merasakan lingkungannya tak mendapat hasil.
Lebih dari sebulan pasca amputasi kaki Puri, kesehatan gadis itu tak kunjung membaik. Hingga saat malam takbiran, kondisi Puri makin kritis. Denyut nadi melemah, jantung serasa malas untuk berdetak, sungguh tak bersahabat. Nafas bak terhenti di paru-paru. Puri koma!
Suster yang biasa ditugaskan untuk mengawasi perkembangan kesehatan Puri pun menginformasikan keadaan Puri yang malah semakin buruk adanya. Kakek, ayah, dan bunda lantas menemani Puri melewati masa-masa kritisnya. Perlahan terdengar alunan syahdu bacaan ayat suci Al-quran diperdengarkan kakek, ayah, dan bunda. Hal itu yang selama tujuh tahun terakhir ini dirindukan Puri. Sejak ayah dan bunda sibuk dengan pekerjaannya, mereka tak lagi bersama.

Gema takbir diiringi lantunan ayat suci perlahan menggetarkan gendang telinga. Hari ini adalah hari kemenangan bagi setiap umat muslim di seluruh dunia. Adzan subuh dengan lantangnya mengisi ruang pendengaran. Otak Puri seolah baru terlahir dari masa panjang yang melelahkan. Bayangan kakek mengisi bagian dalam pikiran, mengungkap kembali kisah antara Puri dan ketulusan kasih kakek, juga saat kebersamaan bunda dan ayah beberapa tahun yang lalu. Seakan tak tega pergi tanpa meninggalkan kenangan yang indah untuk mereka semua, itulah yang di pikirkan Puri.

Kondisi Puri benar-benar membaik, tubuh yang awalnya pucat kini mulai menampakkan kecerahannya, detak jantung sepertinya sedang bersahabat, proses respirasi pun berjalan mulus. Kelopak meta Puri perlahan bergerak, gadis itu menatap asing ruangan yang dihuninya hampir tiga bulan terakhir itu.

Bunda tertidur pulas di sofa ruang VIP itu, sedangkan ayah menyimak bacaan quran mertuanya. Mereka tak sadar bahwa orang yang mereka nanti kini telah menempakkan permukaan bola matanya menatap atmosfer. Sepasang dokter suster yang berjaga memasuki ruangan perawatan Puri. “Assalamu’alaikum”, sapa dokter wanita itu memotong bacaan ayat suci yang dilantunkan kakek. “Waalaikum salam warah matullah”, jawab ayah dan kakek bertautan. “Allahu akbar, Subhanallah”. Wanita itu tersentak lantaran mendapati pasien yang telah cukup lama ditanganinya terbebas dari jerat koma dan pasang surut kesehatan.
Ayah dan kakek Puri sontak menoleh. Ucap syukur alhamdulillah berkumandang dari bibir orang-orang di sekitar Puri. Bunda terjaga mendengar kericuhan yang terjadi di ruang itu, menengok putrinya seraya mengucap syukur. “Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin”, ujar bunda penuh syukur sembari meneteskan air mata haru.

Lidah Puri mencoba untuk bicara. Namun, kata itu urung keluar dari bibir manisnya, bibir itu terasa kelu, tangan dan kaki mencoba terlepas dari kekakuan, dan akhirnya tak berhasil. Tubuh Puri bagai patung yang tak mampu terlepas dari posisinya, meski otaknya terus mengirimkan sinyal yang memang sia-sia.

Bunda yang seakan merasakan apa yang dirasakan anaknya, memberikan isyarat pada dokter. “Dok, kenapa anak saya hanya diam saja?”, tanya ibu penasaran. Dokter itu tertunduk haru. “Inilah yang kami khawatirkan akan terjadi pada Puri, bu, kami takut Puri lumpuh. Tapi, sebelum itu terjadi insya allah ada jalan, secepatnya Puri harus menjalani terapi, itu pun bila Puri mau”. Begitu tegas hal yang di ungkapkan dokter itu pada ibunda.

Air mata membasahi pipi bunda, juga jilbab yang digunakan untuk mengusapnya. Perasaan tak menentu antara senang atau sedih, semua campur aduk menjadi satu. Dokter yang bernama Tia itu segera memeriksa kondisi kesehatan Puri, memungkinkan untuk langsung menjalani terapi atau tidak. ternyata, kesehatan Puri stabil, amat stabil malah. Dokter Tia dibantu suster membawa Puri ke ruang terapi. Seingatnya, ruang itu berada tak jauh dari tempatnya menginap semula. Wangi khas ruangan masih pun masih sama bahkan lebih menusuk hingga Puri pun enggan berada di sana. Namun, gadis itu tak kuasa, dia tak dapat berbuat apa dengan tubuh utuh yang kini sama sekali tak dapat lagi digerakkan.
Saat selimut terbuka, Puri benar kaget. Didapatinya kaki kanan yang sudah tak utuh lagi, ekspresinya kembali tak mengenakkan. Sepertinya gadis itu amat ingin berontak. Ayah mendudukkan Puri di atas kursi roda yang telah berkesiap mengangkut Puri. “Tidak ada yang perlu disesali cucuku, semua yang sudah terjadi merupakan kehendak Allah, Allah memberi segala yang terbaik untuk kita, tapi kita tidak tahu. Allah lebih mengerti kita daripada diri kita sendiri, cucuku. Kakek harap kamu mengerti!”, tutur kakek dengan nada tenang sambil membelai rambut Puri.

Roda kursi yang ditumpangi Puri menggelinding ke sebuah ruangan bertemakan jauh dengan ruang terapi sebelumnya, tempatnya agak jauh. Banyak tumbuhan berklorofil disana, ruangan itu dirancang khusus agar penghuninya merasa betah dan nyaman berada disana. Karena, di ruang itu mereka dapat menghirup udara segar meski dalam ruang tertutup.

Setelah di ruang sebelumnya dokter Tia memberikan terapi dengan obat-obatan dan menggunakan alat medis. Di tempat yang baru ini dokter Tia mengajak Puri untuk berinteraksi. Tidak ada kakek, ibu, ataupun ayah yang menemani Puri. Mereka harus menemui Tuhannya untuk melaksanakan kewajiban juga berucap syukur atas pulihnya tubuh sang anak. Perlahan Puri melafadkan kata Allah, suara mulai terdengar lirih setelah cukup lama mencoba, teramat lirih bahkan tak ada yang lebih lirih, bibir dan lidah belum bisa bekerja sama dengan baik.

Cerpen Karangan: Alfi Nurul Afida
Blog / Facebook: Alshof.wordpress.com / Alfi Nurul (Shofi)

Cerpen Terbit Untuk Tenggelam (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Suka Duka Kuliah Daring

Oleh:
Inilah sepenggal cerita tetang sebuah kehidupan baru yang saya alami, yang juga dirasakan oleh ratusan bahkan ribuan mahasiswa lainnya. Sebuah kehidupan yang penuh dengan suka duka kuliah daring (online)

The Magic of Dreamcatcher (Part 1)

Oleh:
Alarm membangunkan Andel dari mimpi buruk yang sudah setahun ini menghinggapi kepalanya. Kepalanya terasa berdenyut hingga berasa ingin pecah saja. Ia memegangi kepalanya sambil meringis. “Mimpi buruk lagi?” tanya

R.I.P

Oleh:
Kau terbang menghampiriku. “Sendiri?” tanyamu. Aku menggelengkan kepala, tidak mau menjawab, maksudku. Tetapi sepertinya kau salah mengerti. “Ooo. Di mana sahabat-sahabatmu?” Sebenarnya kamu siapa? Untuk apa menanyakan sahabat-sahabatku? Pergilah.

Aku, Kamu Sahabat

Oleh:
Kulihat, masih tetap kulihat. Tak akan pernah bosan diri ini menatap sesosok gadis di hadapanku. Ia tetap cantik meski kini ia tengah terbaring lemah dengan wajahnya yang pucat pasi.

Zig Zag

Oleh:
Pernahkah kalian merasakan subuah getaran perasaan yang tak tau apa artinya? Pernahkah kalian bertanya tentang itu semua? Bukan perasaan cinta. Perasaan yang menggambarkan kasih sayangmu terhadap orang yang kamu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *