Terbunuh Sepi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 10 June 2017

Namanya Andi, dari luar ia Nampak seperti pemuda biasa yang tidak memiliki keistimewaan khusus di dalam dirinya. Tapi, tidak ada satu orang pun yang tau bahwa ia seorang introvert, atau seseorang yang memiliki kondisi dimana ia lebih menyukai kesendirian dan kesunyian. Baginya kedamaian hanya ia dapatkan disaat ia berdiam seorang diri. Keresahan adalah saat ia berada di tengah orang ramai, bahkan saat ia berada di sekeliling teman-temannya pun, ia tidak merasakan hidup. Tentu saja sifat ini tidak dia dapatkan begitu saja sejak lahir, semua berawal saat ia meninggalkan ayah bundanya di kampung dan menetap di kota untuk menuntut ilmu. Orangtuanya sangat berharap besar padanya, pada anak satu-satunya yang mereka miliki. Berhektar-hektar tanah mereka jual demi menyekolahkan anaknya di Perguruan tinggi.

Andi yang sama sekali tidak pernah mengenal pergaulan kota sangat kesusahan untuk beradaptasi, tak ada teman yang mau bergaul dengannya. Entah apa yang salah pikirnya, mungkin saja tingkah lakunya atau cara berpakaiannya yang membuat orang tidak mau berteman dengannya. Alhasil di semester pertamanya kuliah nilainya anjlok. Bukan karena ia bodoh, ia hanya belum bisa beradaptasi dengan lingkungan kampus yang seakan-akan menyudutkannya dan membuatnya seperti orang yang tersisihkan. Teman sekelas yang seharusnya menjadi teman seperjuangan malah menjadi sekelompok hewan buas yang menggerogoti seluruh raganya hingga ke tulang. Ia tak mampu, tak mampu walau hanya sekedar memulai percakapan ramah kepada salah seorang temannya. Sejak saat itu ia memutuskan untuk menyendiri.

Tidak hanya di kehidupan kampus, di lingkungannya juga ia tak terlihat. Ia tak bersosialisasi dengan tetangga. Satu-satunya orang yang pernah memasuki kontrakan kecilnya hanyalah ia sendiri. Kadang ia mencoba pergi di tempat keramaian di mana orang banyak berkumpul, jalan-jalan, atau sekedar mencari teman. Tapi yang ada ia hanya tersiksa. Disiksa oleh keadaan yang tidak pernah ia mengerti. Bagaimana bisa orang di kejauhan bercanda-canda, bermain, bahkan bermesraan dan ia sama sekali tidak menjadi bagian dari itu semua. Ia tidak terlihat. Sendiri ditelan dingin malam dan sayup-sayup lampu jalan. Ia benci orang-orang, ia benci keramaian. Mungkin memang lebih baik menyendiri.

Seiring waktu berjalan, tahun pertamanya kuliah telah usai, nilai telah keluar. Dan lagi, nilainya sangat memprihatinkan. Ia sudah kehilangan semangat hidup. Satu-satunya alasan ia berada di sini adalah untuk kuliah, dan itu semua telah hancur di depan matanya. Ia teringat dengan keadaan orangtuanya yang sangat berharap akan kesuksesannya. Ia merasa bersalah sudah menyia-nyiakan perjuangan orangtuanya. Bingung dan sedih, ia duduk menyandar di sudut kamarnya sambil memegangi kedua kertas hasil perkuliahannya. Ia memikirkan cara bagaimana sampai orangtuanya tidak kecewa terhadapnya. Diambilnya foto wajah kedua orangtuanya sambil memandang dengan wajah memelas, pandangan meminta maaf, sesekali ia mencium foto tersebut. Wajahnya semakin menyedihkan, ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri walau ia tau dunia pun tidak mendukungnya. Ia sangat depresi, di saat seperti ini yang ia butuhkan adalah rangkulan seorang teman di sisinya, tapi itu tidak mungkin terjadi. Rasanya ia sudah tidak ada gunanya lagi hidup di dunia ini. Ia tertunduk lesu seorang diri di kamarnya.

Kemudian di sudut matanya ia melihat sebotol racun serangga berdiri tersandar di pinggiran dinding kamarnya. Matanya yang lesu langsung terangkat. Mungkin lebih baik ia mengakhiri penderitaannya. Ia sudah tidak sanggup menghadapi dunia yang begitu kejam terhadapnya. Lagi-lagi ia tak sanggup bila harus melihat tetesan air mata dari kedua orangtuanya yang kecewa terhadap dirinya. Setidaknya dengan mengakhiri hidupnya, ia tidak akan melihat kesedihan orangtuanya.

Ia pun bangkit, berjalan dengan lemas dan mengambil racun tersebut. Sekarang, sekarang lah saatnya. Biar dunia tau, bahwa ia adalah korban ketidakadilan kehidupan. Ia bagai sebuah kerikil di antara setumpuk berlian. Tak ada artinya lagi. Dengan cepat dia menenggak cairan tersebut meluncur ke dalam tenggorokannya. Sedetik kemudian ia sudah tumbang. Tubuhnya kejang-kejang, matanya berubah putih, seketika ia tewas dan terbujur kaku…

Di dalam kegelapan, ia tersadar bahwa bunuh diri bukanlah jalan satu-satunya untuk mengatasi masalah. Bahkan itu bukanlah satu jalan. Ia pun mengangkat kepalanya yang tertunduk, ia menyudahi lamunannya tentang perbuatan mengakhiri hidup tersebut. Ia sadar, hidupnya tidak boleh berakhir hina seperti itu. Ia pun bangkit dan mulai berjalan ke luar kamarnya. Ia berhenti sejenak di depan pintu dan menengok ke arah racun serangga yang tersandar di dekat dinding, ia tersenyum penuh kemenangan. Ia pun beranjak.

Kini Guyuran air wudhu membasahi wajahnya dan sebagian anggota tubuhnya, ia tau bahwa walaupun seluruh dunia menjauhi dan memusuhinya, tapi Tuhan tidak akan pernah meninggalkannya. Tuhan selalu bersamanya, hanya saja selama ini ia sudah terlalu jauh dan sekarang lah waktunya untuk kembali mendekatkan diri. Tak lama ia mulai mengerjakan sholat. Di tengah sujudnya air matanya mengalir.

Cerpen Karangan: Muhammad Fadhel
Facebook: fb.com/muhammadfadhel147

Cerpen Terbunuh Sepi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hikmah Dari Sehelai Krudung

Oleh:
Ada seorang wanita cantik, ia memiliki rambut yang sangat panjang dan lurus, namun sayang wanita cantik itu selalu bersikap sombong dan selalu membanggakan rambut dan kecantikannya itu. Sehingga kaum

Rona Kehidupan Malaikat Tak Bersayap

Oleh:
Dunia mereka kelabu sebelum datangnya seorang malaikat tak bersayap. Tapi roda kehidupan terus berputar. Kini dunia malaikat itu kelabu sebelum segerombolan semut membuka mata hati dan pikirannya. Mentari tersenyum

Antara Tiga Matahari

Oleh:
Siang itu ketukan palu di meja hijau telah merenggut segalanya.. aku pun keluar dari ruang sidang utama dengan membawa kepiluan.. aku bertarung dengan rasa cinta yang telah tertanam di

Pasti Ada Jalan

Oleh:
Biaya pendidikan di Negara kita sangatlah mahal. Apalagi biaya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Banyak pemuda pemuda yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi setelah tamat dari SMA ataupun yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *