Ternyata Aku Sama Saja Seperti Mereka

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 30 November 2019

“Kadang mereka hanya melihat manusia lain dengan sebelah matanya. Menilai sesuai penglihatan mereka dan tidak berniat melihat lebih jauh. Itulah salah satu kesalahan manusia.”
Aku terus mendengarkan nasihat yang terlontar dari lisan sahabatku itu. Tak pernah bosan rasanya mendengar dia berceloteh hal-hal yang menurutku bermanfaat.
“Jadi gini deh ra, bersikap biasa aja kalo diomongin macem macem” ucapnya lagi dan terkekeh.
“Iya aku biasa aja sih, tapi gak enak aja gitu dengernya” akhirnya aku menanggapi ucapannya.
“Ya gak usah didenger” ucap putri kelewat santai. Memang putri itu selalu menganggap setiap masalah adalah hal kecil yang dengan mudah diselesaikan. Rasanya ingin sekali aku bisa menjadi dirinya yang selalu bisa mengendalikan diri dengan baik.

Namaku Tiara Amanda, gadis SMA yang sepertinya sangat kesal jika banyak sekali orang yang membicarakan soal pakaiannya. Gimana tidak, aku selalu dijuluki dengan sebutan ‘si sok suci’. Kata itu membuatku lelah. Mereka hanya melihat dari segi pakaian tapi mereka tak menilai maksud dari pakaian ini, hmm… padahal sudah sering sekali aku menjelaskan kepada mereka bahwa pakaian yang kukenakan ini diwajibkan dalam agama untuk setiap muslimah. Tapi mereka selalu menjawab “hidup saja sana di jaman dahulu, ini sudah jaman kejayaan” jika boleh kutanya, aku akan bertanya “Jaya dari mana?”. Rasa kesal tak tertahankan, tapi syukurlah ada putri sahabat yang selalu menasehatiku. Dialah yang mengobati rasa kesalku dengan nasihat indahnya. Kalo tidak ada dia mungkin aku sudah sangat tak tahan.

Aku dan putri bertemu saat kami satu pondok dan ternyata rumahnya tak terlalu jauh dari tempatku. Bahkan aku baru ingat bahwa kita pernah berteman saat TK dulu dan terpisah karena sewaktu SD aku sempat berada di luar kota. Pertemuan indah ini tak pernah kusangka dan aku berharap pertemuan ini tak akan berakhir tanpa makna.

Hari demi hari kami lewati bersama. Ups, tidak hanya berdua loh. Kami juga memiliki teman seangkatan yang lain, bedanya hanya aku lebih dekat dengan putri. Sebenarnya bukan cuma aku yang dijuluki ‘si sok suci’, teman temanku juga tapi aku yang terlalu dibawa perasaan dengan kata kata itu. Sesekali saat kami menjelaskan tentang wajibnya pakaian ini dipakai untuk seorang muslimah, sebagian ada yang mengerti dan berniat berubah tapi tetap saja masih banyak yang hanya mendengarkan dan setelah itu melupakan. Semua butuh proses bukan? Jadi aku hanya bisa bersabar. Banyak dari anak muda jaman sekarang yang tidak ingin dilupakan oleh pacar, tapi mereka dengan santainya melupakan kewajiban yang telah Allah berikan.
Sungguh zaman ini telah sangat jauh dengan zaman islam. Menghadapi anak muda sekarang harus benar benar dengan kesabaran yang ekstra.

“Sibuk amat, ngapain tuh?” Celetuk putri. Aku pun segera mematikan handphone dan menghadap ke arahnya.
“Gak ngapa-ngapain sih, cuma liat-liat aja hehe” jawabku terkekeh, jelas-jelas tadi aku sedang bikin caption dengan gambarku. Dia memandangiku aneh dan berlalu begitu saja meninggalkan aku sendiri di dalam kamar ini.
“Lebih sibuk sama hp” tuturnya pelan sebelum benar-benar pergi dari hadapanku. Otakku bertanya-tanya seolah tak mengerti apa yang telah dikatakannya.
“Emang… lebih sibuk sama hp Ya?” Gumamku.

Sejak kejadian itu kami jadi jarang mengobrol. Cuma sesekali, itu pun hanya hal penting. Sebenarnya aku bingung, tapi ya sudahlah mungkin putri lagi ingin sendiri. Tapi lama kelamaan aku bosan karena sudah jarang mendengar dia menasehatiku seperti dahulu.

Aku bertekat ke rumahnya tapi di tengah jalan aku mendengar suara ribut dari dalam sebuah rumah.
“Kamu Ya, selalu aja pulang sekolah langsung masuk kamar dan tidak keluar sampai waktu makan malam. Baru keluar jika lapar. Ibu kira kamu asik belajar, ternyata kamu asik main dengan benda mati persegi panjang itu. Sampai kamu lupa kewajiban kamu sebagai pelajar dan sampai mengabaikan orang rumah”. Jelas panjang lebar suara wanita paruh baya itu. Aku terpaku, entah kenapa aku jadi teringat bahwa aku juga telah mengabaikan setengah kewajibanku. Entah benda apa yang dimaksud ibu itu, tapi aku berpikir itu adalah sebuah handphone. Rasanya aku seperti mendapat nasihat lewat ceramah ibu tersebut dan apakah karena itu aku terlihat sibuk di hadapan sahabatku? Kalau ia, kenapa dia tak pernah menegurku?. Kubalikkan tubuh dan kuurungkan untuk saat ini menemui sahabatku.

“Ternyata aku juga melupakan kewajibanku. Aku tersadar bahwa bukan mereka saja yang bersalah, aku pun juga. Mengabaikan sahabat, mengabaikan tugasku yang menumpuk dan mengabaikan dakhwahku. Apakah aku pantas disebut sebagai seorang muslimah? Bahkan aku berani mengupload fotoku tanpa malu, dan membuat caption tausiyah, seolah-olah aku adalah seorang muslimah yang sempurna”. Saat ini aku benar-benar mendapat pelajaran dari seorang wanita paruh baya yang menyebut dirinya sebagai seorang ibu. Aku terus merenung, ternyata selama ini aku juga sangat berdosa.
Segera kutarik handphoneku dan menghapus semua foto gambar diri ini di sosial media (sosmed).

“Tiara, tiara bangun.. bangun. Udah ashar” ucap suara yang mengagetkanku. Kubuka mata ini dan mengingat-ingat apa yang telah terjadi.
“Ternyata hanya mimpi” gumamku. Dan mata ini bergerak ke arah wanita berkerudung yang telah membangunkanku
“Putri, putriiiii” pekikku dan bergegas memeluk tubuhnya. Dia seperti kebingungan dengan sikapku, tapi aku beneran takut jika dia menjauhkanku karena kesibukan tak bermanfaat itu.
“Kenapa ra?” tanyanya dengan nada khawatir. Akhirnya aku menceritakan mimpi itu dengan airmata penyesalan.

“Yaudah, aku gak menjauhkan kamu kan nyatanya. Mangkanya lain kali jangan sibuk sendiri, banyak kerjaan yang lebih bermanfaat dari main handphone. Dan satu lagi, gak usah ingin ikut-ikutan seperti gaya orang awam di medsos. Seharusnya kita yang mengingatkan kepada mereka untuk tidak berbuat hal-hal yang tidak penting. Udah ah jangan nangis, buktinya aku disini. Lagian juga gak usah takut kalo dijauhi aku, takut itu kalo kamu jauh dari Allah” tuturnya menenangkan diri ini. Kuusap sisa airmata dan tersenyum kepadanya. Aku membenarkan ucapannya, karena aku seharusnya lebih takut jika diri ini sangat jauh pada penciptanya.
“Udah kan, sana sholat ashar” suruhnya membuatku langsung bergegas masuk kamar mandi.

Aku senang, ternyata itu hanya mimpi dan aku senang telah mendapatkan nasihat bermakna dari mimpi itu. Mimpi itu telah mengingatkan dan sekaligus menegur diri ini.
Teman-temanku, satu pesan untuk kalian “Jangan terlalu memandang diri ini benar dan jangan pernah menyia-nyiakan waktu karena waktu akan terus berjalan walau kita mengabaikannya, semua tak akan bisa terulang?”

Selesai
~Fila

Cerpen Karangan: Fila Khair Alfat
Blog / Facebook: Khairul umi salamah
Fila Khair Alfat, memiliki nama asli khairul umi salamah yg lahir di tanggal 27 mei. Sedang melanjutkan study di Cairo-Mesir.
Aku sangat menyukai menulis sejak duduk di Sekolah Dasar. Dan baru kali ini mencoba mengirim tulisan-tulisan yang aku buat. Itu saja mungkin, jika kurang kalian boleh bertanya-tanya melalui medsos yang ku miliki. Fb: khairul umi salamah, Instagram: khairul_umi atau bisa di Email: umisalamah27052001[-at-]gmail.com

Cerpen Ternyata Aku Sama Saja Seperti Mereka merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Takbir Terakhir

Oleh:
Jika ini menjadi takbir terakhir, Izinkan aku mengucap permintaan maafku. Yang belum dapat mewujudkan kebahagiaan untuk kalian yang kucintai … Jika ini menjadi takbir terakhir, Ijinkan aku mengucap sampai

Dia Adalah Sorbonne

Oleh:
“Hati-hati,” suara lembut itu membuatku mendongak. Pemuda itu tersenyum dan mengulurkan tangan kanannya. Senyum manis dari bibirnya terukir sempurna. Aku hela nafasku dan membalas senyumnya walau terkesan janggal. “Terima

Apa Itu Puasa?

Oleh:
Suatu hari Haikal bertanya pada ibunya. “Bu. Apa itu puasa?” Tanya Haikal. Ibu Haikal tersenyum mendengar pertanyaan Haikal. “Puasa itu menahan diri dari perbuatan yang dilarang oleh Allah. Seperti

Langkah Baru Jalan Dakwahku

Oleh:
“Saya berharap ini keputusan terbaik untuk kita bersama. Saatnya kamu kembangkan kreatifitasmu demi dakwah ini.” Ucapan Kyai Mustafa kemarin membuatku terhenyak seketika. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa akhirnya aku

5 Sekawan

Oleh:
Pagi cerah yang ditemani oleh pelangi yang indah, soalnya shubuh tadi hujan jadi ada pelangi deh hehe.. gadis yang berumur 15 tahun ini baru selesai sarapan pagi, pagi ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *