Ternyata Ayahku Adalah Wali Kelasku

Judul Cerpen Ternyata Ayahku Adalah Wali Kelasku
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 6 January 2017

“Dzul! Dzul! bangun, Dzul! sholat tahajud dulu!” Alizah, sahabat Dzulvia membangunkan Dzulvia. “Uh! emang pukul berapa, sih Al!” kata Dzulvia seraya menarik selimutnya. “Pukul 2 tahu!” ujar Alizah setengah kesal. Dzulvia segera bangun lalu merapikan kasurnya. “Yuk! wudhu dulu!” ajak Dzulvia. Alizah dan Dzulvia segera wudhu.

Namanya Dzulvia Azilah Melatika. Ia tinggal di panti asuhan ‘Kasih bunda’. Orangtua Dzulvia dikabarkan meninggal pas umur Dzulvia 4 tahun. Lalu ia diasuh oleh neneknya dan kakeknya. Tapi, pada umur 6 tahun, nenek dan kakek meninggal. Jadi, ia dibawa ke panti asuhan ini. Oya! pemiliknya namanya bunda Melza. Di panti asuhannya ada hanya 5 orang. Yaitu Dzulvia, Alizah, Miliena, Fhino dan Rico.

Usai wudhu, Dzulvia dan Alizah segera sholat tahajud. Usai sholat dan merapikan alat sholat, Dzulvia menyambar handuk gambar domba lalu mandi. Usai mandi, Dzulvia memakai seragam atasannya baju lengan panjang warna putih polos, rok semata kaki warna hijau, jilbab putih dengan bordiran logo sekolahnya dan bordiran namanya. Tak lupa dasi warna hijau berlogo sekolahnya. Dasinya mirip dengan dasi wisuda. Lalu memakai kaus kaki hitam-putih. “Ayo cepat!” tegur Rico. “Iya!” ujar Dzulvia seraya mengambil buku paket SKI (sejarah kebudayaan islam), Matematika, dan bahasa arab. Yup! setiap usai sholat tahajud dan mandi, mereka belajar kelompok. “Allahu Akbar… Allahu Akbar…!” azan Subuh telah berbunyi. Dzulvia segera menggelar sajadah dan mengenakan mukena. Lalu sholat subuh. Karena wudhunya belum batal, jadi langsung sholat deh.

Usai sholat dan merapikan alat sholat, Dzulvia memasukkan bukunya dan mukena ke dalam tasnya. Lalu menggendong tasnya warna hijau bergambar bunga warna biru, menuju ruang makan. “Hallo Bun! Fhey!”sapa Dzulvia, Alizah, Rico, Miliena, dan Fhino sesampai di ruang makan. “Halo!” sapa balik bunda Melza dan anaknya yang masih kelas 1, Fheyra atau disapa Fhey. “Hari ini sarapan apa, Bun?” tanya Alizah. “Nasi goreng dengan udang balado dan jus melon,” jelas Fhey. Usai sarapan, Fhey, Dzulvia, Dkk berangkat sekolah. Oya sekolah mereka Globanic Islamica Elementary School (GIES). Usai sampai di sekolah, Fhey dan Miliena masuk kekelas 1-Alif. Rico dan Fhino kekelas 4-Kha. Sedangkan Dzulvia dan Alizah ke kelas 5-Ra.

“Teet… Teet… Teet…” Bel berbunyi. Semua siswa/Siswi GIES berbaris di halaman depan sekolah. Senin ini yang menjadi petugas upacara kelas 5-Ra. Dzulvia menjadi pembaca UDD (undang-undang dasar) 1945. Sedangkan Alizah menjadi Dirijen. Usai Upacara bendera/Apel, Semua murid dilarang masuk ke kelas dulu. Mereka disuruh duduk di halaman bekas Upacara bendera.

“Assalamualaikum Wr.Wb!” salam ustadz Achmad, selaku kepala madrasah. “Waalaikumsalam WR.WB!” Koor semua murid. “Hari ini, kita kedatangan guru baru, namanya Ustadz Roby,” jelas Ustadz Achmad. Ada seorang pria tampan, tinggi, dan putih berdiri di samping ustadz Achmad. “Dia menjadi wali kelas 5-RA!!!” seru Ustadz Achmad. “Hore!!!” sorak murid kelas 5-Ra. Mereka disuruh masuk kelas. Ustadz Roby masuk ke kelas 5-Ra. “Assalamualaikum!” sapa ustadz Roby. “Waalaikum salam!!!” sapa balik murid kelas 5-Ra. “Hari ini pelajarannya apa?” tanya ustadz Roby lembut. “SKI, Matematika, sama bahasa arab!” jawab Dzulvia. “Gimana kalau kita perkenalan dulu?” usul Ustadz Roby. Mereka setuju. No. absen Dzulvia setelah Alizah. “Setelah Alizah, Dzulvia!” panggil ustadz Roby. “Nama saya Dzulviana Azilah Melatika, saya lahir tanggal 3 April 2006, saya lahir di Blablabla…” Dzulvia memperkenalkan dirinya panjang Lebar. “Ustadz Roby! Ustadz, bangun!” Dzulvia berusaha membuyarkan lamunan ustadz Roby. “Eh! iya, Dzul!” akhirnya Ustadz Roby tersadar dari lamunanya. “Ustadz kenapa?” tanya Dzulvia. “Biodata kamu, sama kayak anakku, tapi ia diculik,” jelas Ustadz Roby.

Waktu istirahat
Dzulvia memesan semangkuk Bakmi, jus melon dan es krim vanila dengan hiasan buah ceri dan astor. Kalau Alizah memesan semangkuk bakso, jus anggur, dan donat selai blueberry. Usai datang pesanan mereka, mereka membuka pembicaraan. “Aku punya firasat, deh, Dzul kalau kamu anak Ustadz Roby,” ujar Alizah, lalu menggigit lembut baksonya. “Alah! itu cuma firasatmu aja, Al!” cetus Dzulvia, lalu menyeruput jus melonnya.

Keesokan hari di sekolah pada jam istirahat
“Dzul! bisa kamu ikut Ustadz ke ruang Ustadz?” pinta Ustadz Roby pada Dzulvia. “Eumh… eh bisa, Us!” ujar Dzulvia. Dzulvia mengikuti Ustadz Roby dari belakang.

“Duduk!” perintah Ustadz Roby pada Dzulvia sesampai di ruangan beliau. Dzulvia duduk. “Kamu punya tanda lahir di siku bentuk lingkaran?” tanya Ustadz Roby. “Nih! kok Ustadz bisa tahu?” kata Dzulvia seraya menunjukkannya. “Hah! kamu adalah anakku, Dzul. Soalnya namanya sama, lahirnya sama, pokonya semua sama!!” pekik Ustadz Roby. “J.. ja…d..i… Jadi!!!” pekik Dzulvia. Spontan, Dzulvia memeluk Ustadz Roby yang ternyata ayah kandungnya. “Yah! gimana ceritanya, kok aku dibuang, sih!” tanya Dzulvia. “Begini, dulu, pada umur 2 bulan, ada yang maksa kamu untuk diadopsi sama wanita dan pria tua, dia ancam ayah sama bundamu kalau tak mau ngasih kamu, nanti ia lapor polisi kalau kami mencuri kamu, Dzul!” jelas Ayah. “Hah! tapi, katanya Ayah dan bunda meninggal. Katanya mereka nenek kakekku,” cetus Dzulvia.

“Dzulvia, ayo kemasi barangmu! ada yang mau mengadopsi kamu,” perintah bunda Melza. “Dzul! kubantu, ya…,” ujar Alizah dengan lirih. Mereka memasukkan barangnya ke koper Dzulvia. Lalu Alizah mengantar Dzulvia sampai di depan pintu. “Loh! kamu Dwi Alizah Shepta, kan?” tanya Ayah Roby. “Iya, Ustadz! saya di sini karena orangtua saya sudah meninggal,” jelas Alizah. Ayah Roby menganggkat Alizah sebagai anaknya. “Makasih, Ustadz.. Eh… Ayah!” ujar Alizah. Dzulvia dan Alizah menjadi anak Ayah Roby dan Bunda Zania. Mereka hidup bahagia.

Cerpen Karangan: Alyaniza Nur Adelawina
Facebook: Alya Aniza

Cerita Ternyata Ayahku Adalah Wali Kelasku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kita Saling Sayang

Oleh:
“Bang difiiiin… keluarin nggak tikusnya!” teriak seorang gadis. Ia sekarang sedang terduduk lemas sembari memeluk kedua kakinya di pojokan kamar. Di dalam tasnya terdapat seekor tikus, salah satu hewan

Play In Timezone

Oleh:
Nita namanya. Nita adalah anak miskin yang tidak bisa membeli apa apa. Nita mempunyai impian yaitu main di timezone. Sejak lama Nita mengimpikan main ke sana. Ayah Nita bekerja

Ayah Bunda Tersenyumlah!

Oleh:
Hai, aku Kenny. Tepat tanggal 2 November kemarin, usia ku genap 7 tahun. Bagi sebagian orang, masa kecil digunakan untuk bermain bersama teman sebaya. Tapi tidak denganku. 3 tahun

Di Balik Sebuah Payung

Oleh:
Terik. Hari ini begitu panas, sampai-sampai cahaya matahari membuat kulitku hampir terbakar, jemuran pun sekejap kering. Bau asap-asap polusi menyergap masuk ke paru-paru membuat kotor udara. Ditambah suara bising

Sepucuk Tape Singkong Kado Ulang Tahunku

Oleh:
Tak terasa hari-hariku semakin bertambah usia dan bertambah dewasa. Semakin bertambahnya umur ini, diriku mulai terus belajar menjadi seseorang yang berguna dan bermanfaat untuk sesama, walau mungkin terasa berat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *