Tersadar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 14 January 2016

Aku Karin, seorang wanita yang hidup tanpa penuh arti dan terus menjalani hidup yang tak pernah terasa hangat. Kumandang adzan telah terdengar, dengan lesu aku mengangkat tubuh ini untuk segera membersihkan diri dan bersiap melangkahkan kaki ke sekolah. Aku kelas 3 SMK dan pengambil jurusan pertanian yang sebenarnya tak pernah ingin aku jalani.

“bangun… bangun ini tuh sudah pagi dan kalian masih bermalas-malasan? kalian itu perempuan harusnya bisa bangun lebih awal dan beres-beres..” Omel seorang wanita berusia 40 tahunan, dan dia adalah ibuku, seorang wanita yang harus rela dimadu dan mengasuh anak-anak tiri yang membencinya. Setiap mendengar omelannya di pagi hari aku selalu mengucap sumpah, “aku lebih baik jadi perawan tua daripada harus hidup seperti Ibuku..”

Dengan rasa kantuk yang masih berat ku genggam sapu yang tersimpan di pojok dapur dan mulai membersihkan seisi rumahku yang sebenarnya tak pernah terlihat rapi. Saat langkah kaki ini melewati kamarku terlihat dua gadis yang usianya beda beberapa tahun di bawahku masih tertidur dengan begitu lelapnya. Aku pun merasa dalam hati ingin rasanya ku banting sapu yang ku genggam ini ke arah mereka, “hufh…..” ku buang napasku agar melegakan hati yang sudah mengembung dan ku urungkan niat.

Selesai sapu dan ngepel aku mandi dan sibuklah semua penghuni bersiap-siap melakukan aktivitas mereka, satu persatu pergi tersisalah aku, adik kandungku dan ibuku. Selesai sarapan aku berniat mengambil tasku yang masih tersimpan di kamar, betapa kesalnya aku melihat kamar yang nampak seperti gudang. Dan rasa kesal itu sekarang berubah jadi air mata, sambil menangis aku pun membereskan semuanya dan setelahnya aku berusaha sekuat mungkin agar tak ada air mata yang jatuh di depan ibuku dan adikku.

“Ibu aku berangkat dulu ya assalamualaikum.” setelah mencium tangan ibuku aku pun pergi ke sekolah bersama adikku.

Tibalah aku di kelas aku meletakkan tasku di meja paling depan dan ketiga sahabatku mulai menghampiri. “lesu banget sih Rin?” tanya Mira salah satu sahabatku. “masa sih? perasaan kamu aja kali, aku fit kok, fit banget malah.” ucapku berusaha menutupi kekesalanku saat di rumah dan mereka percaya.

Bel pun berbunyi tanda pelajaran pun akan segera dimulai, semua murid tergesa-gesa menempati bangku mereka masing-masing dan sahabat-sahabatku duduk di belakang dan di sebelahku. Hari itu aku sadar kalau Mira, Santi, dan Vina mencuri pandang kepadaku tapi aku berpura-pura tidak sadar.

Waktunya pulang sekolah, saat itu aku benar-benar malas untuk pulang apalagi mengingat aku pasti bertemu dengan saudara-saudara tiriku. Berat langkah ini untuk berjalan ke arah rumah tapi walaupun begitu aku tahu akhirnya pasti akan terhenti di rumah. “Assalamualaikum, aku pulang.” tak ada satu pun yang menjawab, tiba-tiba terdengar suara pecahan gelas dari dapur aku pun langsung menghampiri asal suara dan ternyata adik tiriku yang memecahkannya saat aku melihat itu ia langsung tergesa-gesa untuk membereskannya mungkin takut terlihat oleh ibu pikirku.

Baru saja aku berpikiran seperti itu tiba-tiba, “kamu memecahkan gelas lagi, astagfilullah Farid mau berapa banyak lagi gelas yang kamu pecahkan? kenapa sih kamu selalu ceroboh?” ucap ibuku yang masih mengenakan mukena sepertinya ia baru selesai salat. Farid membereskan pecahan gelasnya dan langsung berlalu tanpa menghiraukan omelan ibu.

Kejadian itu pun berlalu begitu saja sebenarnya kejadian seperti tadi sudah sering aku lihat dan ibu selalu bereaksi sama, begitu juga dengan Farid. Malam itu Ayah kebetulan sedang di rumah semuanya berkumpul di ruang tengah dan Fani adik tiri perempuanku yang paling sering bikin aku kesal sedang membuatkan kopi untuk ayah dan selesai membuatkan kopi dia berbincang-bincang keras dengan ayah meminta ini meminta itu seakan-akan ruangan itu hanya milik dia, entah ia sengaja atau tidak kopi yang dia suguhkan untuk ayah tersenggol oleh kakinya hingga isinya tertumpah seluruhnya ke bajuku karena aku berada tepat di sebelah kopi. Aku pun memandang bajuku yang penuh tumpahan kopi sembari menarik napas yang dalam agar emosi tertahan.

Ibu yang melihatnya sontak memarahi kecerobohannya ditambah dia sama sekali tidak meminta maaf, dan ayah yang mungkin tersinggung dengan ucapan ibu langsung balik menyalahkan aku. “sudah bu cukup! Fani kan tidak sengaja, lagian itu salah Karin ngapain dia duduk di situ dari tadi Ayah udah suruh dia untuk pindah, Karin sekarang kamu bereskan semuanya dan ganti pakaian kamu.” bentak ayah.

Aku tersentak mendengar ucapan ayah dan seperti biasa bila ayah sudah menyentak tak ada satu pun suara yang berani melawan begitu pun denganku. Aku langsung menuruti perintah ayah dan segera berganti pakaian ke kamar sembari menahan air mata yang bila aku berkedip akan tertumpah semua.

Sambil berganti pakaian aku menangis sejadi-jadinya tanpa suara, rasanya begitu sesak sekujur tubuhku pun terasa keram, aku tak menghiraukan adik-adik tiriku yang mengetuk pintu untuk masuk. Mungkin ada sekitar 3 jam aku di kamar, dan saat itu aku sudah mulai bisa menenangkan diri tapi tetap tak ku bukakan pintu kamar. “biarlah mereka tidur di ruang tengah malam ini lagian mereka sudah membuatku dibentak Ayah malam ini.” pikirku.

Aku pun tertidur dan memimpikan kejadian tadi saat ayah memarahiku. Di tengah-tengah mimpi terdengar suara pintu yang diketuk dengan begitu keras dan membuatku terbangun. “kalau kamu masih belum mau membukanya ayah dobrak pintu ini.” suara ayahku terdengar keras dia marah besar dan aku sudah tahu apa yang menjadi alasannya dengan rasa takut ku bukakan pintu perlahan tapi ayah langsung mendorongnya, aku yang berada di balik pintu sontak ikut terdorong hingga kepalaku membentur dinding cukup keras.

Dan seakan tidak mempedulikanku yang kesakitan ayah menatap dengan mata tajam dan menyuruh adik tiriku segera masuk ke kamar, mereka pun segera menurut dan langsung mengambil tempat untuk tidur dan ayah langsung kembali ke kamarnya. Saat itu aku terduduk lemas di tempat yang sama saat kepalaku terbentur tembok aku memijit-mijit bekas benturan yang tampak benjol besar dan kepalaku mulai terasa pusing, rasanya benar-benar menyakitkan bukan hanya kepala tapi hati yang jauh lebih terluka.

Sampai akhirnya aku kehilangan kendaliku, ku langkahkan kaki menuju dapur, ku ambil sebuah pisau di tempat sendok, walaupun awalnya sempat ragu tapi ku bulatkan tekadku dan aku mengarahkanya ke pergelangangan tanganku, lapisan kulit pertama pun mulai teriris hingga akhirnya terdengar suara benda yang jatuh membuatku menghentikan sementara apa yang sedang aku lakukan dan aku berjalan ke arah suara tadi ternyata yang terjatuh adalah sebuah Al-Quran yang biasa aku baca entah ini kebetulan atau petunjuk dari Allah karena setelahnya aku mulai kembali sepenuhnya pada kesadaranku.

Ku tatap pisau yang masih tergenggam erat di tanganku yang sudah terdapat bercak darah karena berhasil melukai lapisan epidermis kulitku begitu juga pergelangan tanganku yang terus mengeluarkan darah. Aku pun menjatuhkan diri di depan Al-Quran yang terjatuh bersamaan dengan terlepasnya pisau tadi, ku ucapkan berulang-ulang, “astagfirullahhalazim.” air mataku terus ke luar aku menyadari betapa bodohnya berpikir untuk mati hanya karena masalah tadi.

Ku bersihkan tanganku dan membalut lukanya dengan kain segera ku ambil wudu dan aku salat serta memohon ampun kepada-Nya atas apa yang sudah terlintas di pikiranku. Setelah kejadian itu sedikit demi sedikit ku mulai menerima kemalangan yang menimpa keluargaku ini, hingga akhirnya aku terbiasa dengan keberadaan saudara tiriku. Dan aku pun mencoba memahami mereka walau sulit karena egoku yang tak mengizinkannya untuk mengalah pada mereka.

Sampailah pada hari dimana keadaan ekonomi keluargaku ini mulai membaik, kita sekeluarga pun pindah ke tempat yang lebih layak. Dan pada saat itu aku juga mulai memahami segala kecerobohan, kebodohan, sifat menyebalkan yang mereka tunjukkan selama ini bukan karena mereka anak yang nakal atau tidak punya sopan santun tetapi mungkin karena mereka merindukan ibu mereka yang berada jauh dari kami. Dan terdapat sedikit rasa iri karena aku yang selalu mendapat perhatian dari ibuku. Dan dimulai saat ini ku harap tak ada lagi perselisihan antara kami karena kami adalah “KELUARGA.”

Cerpen Karangan: KF
Blog: kifafadilah.blogspot.com

Cerpen Tersadar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelajaran Untuk Kakak

Oleh:
Ketukan air rintikan hujan yang jatuh dari atap rumah berbunyi layaknya alunan musik yang indah di pagi itu membuat Dika susah untuk bangun dari tidurnya. Lembutnya hawa dingin pun

Merindukan Keharmonisan Itu Kembali

Oleh:
Kebahagiaan adalah saat dimana kita dapat berkumpul dengan keluarga inti kita, ada Ayah, Ibu, Kakak dan Adik kita, dan dihiasi dengan cinta serta kasih sayang di dalamnya. Ya, itulah

Pamungkas

Oleh:
Lastri baru saja melahirkan bayi laki-lakinya yang sehat dan normal. Ini adalah anaknya yang keempat. Tak banyak pancaran kebahagiaan di wajahnya. Tarno, suaminya, tahu kalau Lastri kurang bahagia. Dan

Berbeda Sendiri

Oleh:
Namaku Alya Najla, panggil saja aku Jena, aku sekolah di SMA Negeri 3 Cilegon, aku masih kelas 1 SMA walaupun sekolah di negeri yang pergaulannya sangat bebas tetapi aku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *