Tragedi Situgintung

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 26 December 2012

Langit sore merah melekat, menutup siang yang habis dengan cepat seakan-akan pertanda bahwa kiamat sudah dekat, matahari belum sepenuhnya terbenam saat Fatah masih duduk berdiam di atas atap lantai kedua masjid yang tersembunyi, bersila diatas sajadah coklatnya yang lusuh, di situ ia dapat melihat langit dengan bebas, melihat matahari terbit dan terbenam, melihat gunung selamet yang kadang kala tersembunyi dibalik awan tebal, melihat luasnya bendungan desa beserta gemerciknya di kejauhan sana, dan yang paling menakjubkan adalah mengamati desa Situgintung seluruhnya, apa-apa yang terjadi di desa ia bisa melihatnya, mendengarnya, merasakanya, bahkan ketika ada semut yang membawa potongan roti di ujung desa, ia tahu, ia mengerti, iapun memetik tasbihnya dan termenung, memuji tuhanya lalu teringat, ia harus segera turun untuk adzan maghrib.

Ramai keadaan di masjid, berbeda dengan sholat dhuhur, ashar, isya apalagi shubuh, sepertinya warga desa Situgintung hanya sempat kemasjid di waktu maghrib, salah satu kebahagiaan Fatah adalah ketika ia melihat masjid begitu ramai, makmur dan penuh sesak berjama’ah, maghrib dan sholat jum’at, ia bahagia menunggunya.

Sebuah deringan keras terdengar di salah satu sudut jama’ah, lalu seorang pemuda bangkit dari wiridnya, berjalan keluar masjid, menjauh, “Ya sayang?… ini mau kesitu… aa nggak lupa kok… i love you juga….”, katanya, lalu iapun pergi, diikuti jamaah lainya, meskipun wiridan belum selesai.

Beberapa hari kemudian.
Terdengar suara deru motor yang saling berlomba di sekitar masjid, dari atas Fatah dapat melihat sekumpulan geng motor dengan motor-motor ceper dan modifikasi yang aneh, banyak dari mereka membonceng pasanganya, yang tentunya ia masih haram, namun mereka bersorak-sorai bangga, seolah-olah meneriakkan “Hei, inilah kami para pemuda yang tak ketinggalan zaman!”, padahal mereka sendiri tidak tahu zaman yang mereka kejar, yaitu zaman akhir.

Semua itu belum cukup, sepertinya desa Situgintung sudah termakan arus modern dan kontemporer namun dekstruktif, sedikit demi sedikit mengunyah moral dan iman warganya, globalisasi memang berdampak baik namun bagi kalangan tertentu, sebagian yang lain secara tidak sadar hanyut di arus yang salah, tenggelam dalam keruh dan kegelapan.
Lalu saat malam masih sunyi, Fatah baru selesai dari sholat tahajjudnya, terdengar suara tembakan pistol yang melekit, menggema di dalam masjid yang gelap dan kosong, suara itu jauh namun terasa sangat dekat sumbernya,.
Esoknya warga begitu ramai lewat di depan masjid, membawa berbagai macam spanduk, clurit, pentungan, dan benda-benda lain yang tak logis kecuali jika mereka ingin berperang.

Fatah yang masih penasaran lalu menghentikan seorang warga, ”Permisi pak, ini ada kejadian apa, kok ramai begini?” tanyanya.
“Wah, kang mas belum tahu kalau kepala desa sedang di identifikasi karena korupsi, poligami dengan empat gadis, ketahuan berjudi dan menenggak miras?” jawabnya. “Dan semalam terjadi baku tembak, pak kepala desa mencoba kabur saat ingin di jadikan saksi”, tambahnya.
Fatah hanya menggeleng, berdecak, heran, lalu merasa sangat sedih dan ingin menangis, sayang ia tak pernah bisa menangis, hanya hatinyalah yang selalu bisa menangis.

Dan pagi ini, hujan turun deras, suara jatuhnya merata di sekitar masjid, sepertinya hari ini Fatah akan mendapat tugas besar, yaitu membuang sisa air di seluruh permukaan lantai dan mengepelnya.
Sorenya, hujan baru berhenti, Fatah merasa ia harus keluar untuk melihat keadaan desa sehabis hujan, basah dan sepi, dingin dan sunyi, apa mungkin warga takut dengan hujan? Ataukah mereka jijik jika hujan turun? Atau mereka terlalu sombongnya dengan bendungan Situgintung yang mereka miliki yang mengairi sawah, kebun, dan sungai-sungai yang semakin membuat indah desa ini sehingga mereka tidak butuh air hujan yang di turunkan oleh tuhan mereka?
Fatah tidak pernah tahu.
“Alangkah indahnya bendungan ini” ungkap Fatah dalam hati saat berjalan di pesisir bendungan yang terbuat dari beton, memandang jauh hingga seberang, airnya sangat banyak, pembendungnya terbuka sedikit, “Padahal sehabis hujan alangkah baiknya jika ia agak di buka lebih luas”,pikirnya.
Fatah lalu mencoba memutar pengatur bendungan.
“Mas! Jangan diputar!” seseorang berteriak dari pos tempat penjagaan bendungan, tak lain ia adalah petugas disitu.
Fatahpun terkaget, hingga tasbih yang ia genggam terjatuh ke dalam derasnya air di bendungan, berbunyi keras tasbih yang rontok saat menabrak besi pembendung. “Memangnya kenapa?” tanya Fatah.
“Sudah, turuti saja!” jawabnya lantang, lalu petugas itu kembali ke tempatnya.

Tak terasa waktu terasa begitu cepat.
Baru kali ini Fatah bangun agak siang, matahari membuat matanya silau, indahnya mentari pagi dari atas masjid tak membuat Fatah lega, ia malah menyesal, betapa shubuh yang singkat ia tinggalkan, “Kenapa aku tidak tidur dibawah saja, padahal mungkin seorang jamaah bisa membangunkanku”, pikirnya, sayang itu sudah terlambat.
Ada sesuatu yang aneh, Fatah merasa lain, dan ia terperanjat dan terkaget setengah mati, seolah-olah ia melihat neraka.

Tragedi Situgintung

Fatah berdiri dan melihat.
Desa yang ia kagumi keindahanya, hancur sudah seluruhnya bagaikan sawah basah yang baru dibajak, masih tersirat bekas-bekas aliran air yang besar dan luas, rumah-rumah seakan-akan saling mendorong berhimpitan serta hancur, pohon-pohon yang dulunya indah sekarang bergelimpangan berpadu lumpur, jalan-jalan beraspal tak ada bedanya dengan sungai yang dangkal, mobil, motor, ikut hanyut bersama lumpur yang deras, sesekali ia melihat manusia yang berteriak penuh tangis, berbadan lumpur, berpegangan dahan pohon, “Tolong, adakah yang mau menolong kami!!!” isaknya.
Fatah ikut menangis, baru kali ini matanya bisa menangis, sedangkan hatinya lebih keras tangisnya, sangat merasa iba.
Sayangnya Fatah kaku, ia tak bisa bergerak, walaupun sejatinya ia ingin turun dan membantu mereka, namun sepertinya ada yang memegang tangan, kaki, serta seluruh badanya.
“Tolong!!!” teriakan mereka semakin keras dan berpadu.
Lalu terlintas di dalam hati Fatah, entah siapa yang membisikan. “Apakah kamu berkuasa menolong mereka? Padahal tidak ada pertolongan kecuali pertolongan Allah pada hari ini, hingga hari kiamat”, lalu menghilang lagi, namun Fatah masih dapat mengingatnya dengan jelas.

Dari atas masjid ia dapat melihat, dari jarak yang jauh, bendungan itu terlihat jelas, beton tebal yang sudah bertahun-tahun menahan air kini telah jebol seperti terkena benturan yang besar, lepas begitu saja seperti sudah lapuk, air di dalamnya benar benar tumpah dan habis, menghabisi desa Situgintung yang menghabiskan hidupnya dengan globalisasi, mengahanyutkan seisi desa seperti seisi desa terhanyut dalam perkembangan zaman, sisanya hanya sedikit air di bendungan yang belum pecah, seperti iman dan moral warga yang sedikit, yang pecah dalam bermaksiat dan kerusakan.

Fatah bertasbih, “Subhanaka, ya Allah”.
Air bendungan seperti menjauh dari masjid, alurnya menyimpang dan terbelah saat menemui ujung masjid, terlihat dari sisa alur yang dibuatnya, dan ternyata, hanya masjid ini yang diselamatkan.
Fatah bersyukur sambil menangis, lalu bertasbih lagi, memuji tuhanya, “Subhanallah”.

Cerpen Karangan: Wawan Purnawan
Facebook: facebook.com/moch.wawan
Hanya ingin berbagi

Cerpen Tragedi Situgintung merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pohon Mangga Mbah Karto

Oleh:
Mbah Karto siapa yang tak kenal kakek ini di desa Mayasari. Demikian orang-orang di desa menyebutnya. Di usianya yang ke 85 tahun Beliau masih sehat dan semangat untuk beraktivitas

Kerudung Buat Sahabat

Oleh:
Aku dan Rina sudah bersahabat sejak kami duduk di bangku SMP dan sekarang kami sudah kuliah, kami sering menghabiskan waktu bersama, jalan bersama, ngerjain PR bersama, dihukum bersama, bahkan

Cerita Singkat Cintaku

Oleh:
Taukah kalian arti cinta? Beribu makna tentang cinta, ada yang bilang cinta itu indah, cinta itu buta, cinta itu segalanya, dan blablabla… semua orang mempunyai persepsi tersendiri tentang cinta.

Tekad

Oleh:
Kumainkan pena yang ada di tanganku. Sesekali aku membuka kamus, mencoba merangkai kata dalam bahasa inggris. “Kamu lagi buat apa?” tanya Ajun yang sedang duduk membelakangiku. “Lagi buat cerpen.”

Mushaf Untuk Aisyah

Oleh:
Gadis kecil… Ia duduk di sudut mesjid. Kedua tangannya terlihat sibuk dengan benda yang ada di depannya. Sedikit pun ia tak bergeming, ia tak menghiraukan kegaduhan yang ada di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *