U.S.A


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 26 May 2013

Caping siap, kaca mata hitam, sambal, nasi kucing, sandal jepit warna kuning semua siap!!!, gila, ini mau sekolah, apa sales keliling?, tapi nggak apalah, sebagai calon siswa yang teladan, baik hati, rajin menabung dan tidak sombong, aku harus melengkapi semua persyaratan buat MOS nanti pagi.

Madrasah Aliyah Bahrun Nafi’ Jogjakarta itulah namanya, sekolah swasta yang namanya sudah terkenal akan bakat-bakat anak didiknya yang bisa di acungi jempol. Aku pun tertarik ingin ngembangin hoby seni gambarku di sana. Aku yakin kalau ini adalah tinta emasku untuk menjadi seorang seniman hebat layaknya Leonardo Da Vinci, seorang seniman kelahiran 1452 asal Vinci Italia. Setidaknya kalau tidak kesampaian, bisa komikers lah, kalau tidak ya… jadi pelawak juga boleh… hehehe..

Sampai juga aku di sekolah, dalam hatiku komat-kamit kalau kayaknya aku memang bakal jadi siswa teladan di sini. Akulah spesies baru teladan baru yang pertama sampai di sini, karena sejauh mata memandang yang ada hanyalah panitia dan kakak senior. Namun, fikiranku tiba-tiba tertuju pada satu pandangan, dari kejauhan aku melihat sesosok wanita yang nampak anggun dengan kerudung merahnya, nampak aduhai dengan baju press-bodynya, dan nampak seksi dengan tai lalat di pipi kanannya sedang mengayunkan langkah mencoba mendekatiku.

Sepoi angin tiba-tiba berhembus melewati rongga-rongga hidungku yang penuh upil dan bunga-bunga cinta pun tiba-tiba bermekaran.
“Ya Rabb, apakah ini bidadari yang Engkau turunkan untuk mengisi dunia-Mu yang haus akan kesejukan ini? Cantiknya…” bisikku dalam hati..
“De’ de’ adek…” sapa Gadis berkerudung merah. Tapi aku hanya membalas sapanya dengan muka bengongku yang penuh dengan anakis.
“Hai, halo de’…” sapa Gadis berkrudung merah lagi.
“Oh ya mbak ada apa?, apa ada yang bias saya bantu” sahutku dalam keadaan setengah sadar.
“Ganteng-ganteng kok budek si De’ ” ucap si Gadis berkrudung merah dengan senyuman lesung pipinya yang sempat menghentikan denyut nadiku.
“Jujur perasaanku mulai dag dig dug, adrenalinku menurun, karena baru kali ini aku di sapa seorang gadis amboi nan asoi dengan sebutan ‘ganteng’ walaupun gue di anggap budek, tapi nggak apalah yang penting ganteng” fikirku.
“Adek anak baru ya?” tanya si Gadis berkrudung merah.
“Mmm…mm… i…i..iya mbak ” sahutku malu-malu kucing.
“Silahkan, adek langsung aja masuk, lihat-lihat dulu ke dalam” ujar Gadis berkrudung merah.
“Ia… mbak…” jawabku.

Langkah demi langkah kutapakan kakiku, sambil tengak-tengok kayak kambing beranak. Namun, bayangan wajah itu tersirat lagi, gadis berkerudung merah pemilik wajah dan paras yang indah. Dia memberi senyuman itu lagi dan dengan sepenuh hati aku balas lagi dengan senyuman kucing garongku.

Setibanya gue di lantai dua, perjalanan coba kuhentikan karena fikiran najisku “Aduh… Kenapa aku lupa nanyain nama gadis berkrudung merah tadi”. Namun, aku cukup terobati dengan penemuan dahsyatku. Yah, akhirnya tempat yang biasa aku tongkrongin sendirian, terlihat jelas di depanku. Tempat itu adalah tempat biasa orang membuang sisa-sisa rizkinya, mensucikan dari hadats kecil dan besar, tempat ngairin air-air seni, yang pasti setiap orang yang keluar dari situ perutnya akan merasa lega, plong, enjoy dan wajah yang full senyuman, tempat itu adalah WC.

Perjalanan kulanjutkan lagi, sejauh mata memandang yang terlihat hanya lorong-lorong kelas. Setibanya aku di lantai tiga, terlihat sesosok primata… eh, keliru maksudnya, sesosok makhluk pribumi kulit sawo setengah matang duduk di dekat tangga. Mulutnya yang seperti jampe-jampe kayak orang makan nasi baru keluar dari penanakan menandakan bahwa cita-citanya adalah dukun, kucoba mendekat, sepertinya dia juga anak baru di sini.
“Assalamualaikum…” sapa Gue dengan senyuman paling melas.
“Wa’alaikum salam, sugeng enjang mas… monggo-monggo pinarak” sahutnya dengan logat jawanya.
Sepertinya dia adalah anak pesantren karena dari buku yang dia bawa adalah nadloman Alfiyah, dan yang pasti dia juga orang jawa karena sudah bisa di lihat dari cara dan logat bahasanya yang Jowo tulen.
“Nggeh mas… maturnuhun…” sahutku dengan sok bisa bahasa jawa.
“Kenalin mas, nama saya Amar Bahroen, panggil saja Amar, kalau nama mas siapa? Mas orang sini?, Saya juga tinggal di dekat sini kok mas, di rumah PakDE saya ” tanyaku dengan gaya sok Cool.
“Nama saya Sutarlan mas… panggil saja Suta. Saya juga tinggal di dekat sini kok mas, tepatnya di pesantren Kyai Asy’ari, kebetulan saya di situ juga hidup sama Kakek saya, karena kakek saya adalah Pengasuh PonPesnya” jawabnya dengan malu-malu melas.
“Wah… Pinter banget bapaknya bikin nama ‘Sutarlan’ panggilannya Suta, nama jawa tapi panggilannya nyenggol-nyenggol kota,” ucapku dalam FIKTOR (fikiran kotor)ku.
“Wah kebetulan dong, kapan-kapan saya boleh maen-maen kan ke sana?” ucapku dengan rayuan maut.
“O… ya mas dengan senang hati” jawabnya. Dia agaknya khawatir kalau orang kayak aku berkunjung ke rumah kakeknya, bisa-bisa ludes semua makanan di rumah.

Pukul 07.30 tepat MOS di mulai, jantungku berdetak kencang, hati dag dig dug, darah mengalir sangat kencang, bulu kuduk tiba-tiba pada berdiri, bagian tubuh tiba-tiba pada kesemutan, kudis kurap di tubuh tiba-tiba mulai gatal, dan suasana tiba mulai histeris, karena denger-denger di sini kakak-kakak seniornya kalau menggojlok adik-adik agak kejam.

Saat MOS, aku seruangan dengan Suta dan kebetulan aku juga sebangku dengannya.
“Pagi adek-adek semua…” sapa gadis berkrudung merah yang tadi pagi. Huh, perasaanku lega banget karena ternyata yang kebagian jaga di kelasku adalah gadis berkerudung merah tadi pagi.
“Dia pasti nggak akan tega melakukan perbuatan yang sadis pada cowok seganteng gue” fikirku dalam hati. Aku bersyukur lagi setelah aku tahu nama gadis berkrudung merah tadi, namanya adalah Hawarulainy, panggilannya Mbak Ainy, yang kata Suta kalau dalam bahasa Arab artinya adalah Bidadari.
“Duch… namanya memang seperti wajahnya. Bibirnya yang seperti pisang ambon, hidungnya yang seperti apel, matanya seperti rembulan, alisnya yang seperti bulan sabit dan tubuhnya yang bagaikan biola spanyol, bisa membuat mata yang memendangnya akan melayang bagaikan kapas putih yang terhembus angin sepoi. Oh indahnya…” dalam otakku.

Namun, suasana kembali mencekam ketika seorang kakak senior yang wajahnya seperti Toro Margens, seorang presenter film HUKA-HUKA, maju ke depan kelas untuk memperkenalkan dirinya. Namanya Ramaos, ia memperkenalkan dirinya dengan logat ke batak-batakannya. Denger-denger, kakak ini adalah orang terkejam ketika ngerjain adek-adek juniornya, apalagi pada anak yang nggak PD. Perasaan yang tadi muncul lagi, adrenalinku tiba-tiba down, saat kak Ramaos menunjuk salah satu dari kita sekelas untuk maju ke depan memperkenalkan diri. Aku mulai lega saat salah satu anak dari kami sudah di tunjuk maju. Seorang anak dengan rambut belah tengah dan kelihatan cupu. Namun, nggak kusangka dia orangnya pemberani dan PD, terlihat dari gaya berjalannya yang tegas dan cara bicaranya so’ keren abis.
“Assalamualaikum… dan selamat pagi semua… nama saya Uky Arfen, cool kalau di panggil UKy, saya suka sekali dengan MTK dan Sains, saya lahir di Japara namun sekarang saya tinggal di Jogja, baru 1 bulan yang lalu dan bla..bla..bla..” sapanya penuh gairah.
“Mmm… Makasih ya Dek silahkan duduk kembali” ucap si gadis lesung pipi itu.
Tiba-tiba ada yang menepuk punggung belakangku, pikiranku hening, bulu kuduk mulai merinding, jantung berdebar kencang, telur-telur Ayam mulai menetas, apa hubungannya?, sorry just kidding… hehehe… Ketika kepala aku tengokin ke belakang, pikiranku terhenti, hati kecilku bertanya-tanya ”Ya Allah, Ya Rabb… jangan sampai Engkau mengirimkan malaikat Izrail, aku belum siap buat di takzir di Akhirat, hambaMu yang hina ini belum jadi anak yang shaleh dan belum merasakan nikmatnya menikah, janganlah Engkau cabut nyawa hambamu yang hina ini”, ternyata salah, yang menepuk punggung gue bukanlah malaikat Izrail, namun adiknya kak Ramaos.
“Nah… Sekarang kamu maju ke depan dan bawa semua barang-barang yang sudah kakak-kakak bawa” suruh kak Ramaos dengan logat bataknya.
“Iya kak” jawabku sambil berusaha agar tetap terlihat tegas dan PD.

Semua mata terpanah kepadaku “Ya… mungkin memeng bener kalau gue itu memang ganteng, walau agak budek. Tapi tak apalah, yang penting ganteng” fikirku sok Cool.
“Oke Guys, selamat pagi semua… Nama gue Amar Bahroen keren di panggil Amar dan blablabla…”, Namun semua percuma, setelah aku memperkenalkan diri dengan PD dan Cool. Aku malah di beri hukuman sama kak Ramaos karena gue lupa bawa kaca mata hitam dan keliru membawa nasi rantang malah jadi nasi kucing.
Namun aku nggak sendirian karena nasi rantang milik UKy dan Suta ku buang ke luar jendela. Mereka pun pusing tujuh keliling mencari nasi rantang mereka. Mata kak Ramaos mulai menguning, duch… Salah, maksudnya memerah, dan akhirnya kita bertiga di beri hukuman mengelilingi lapangan sepak bola sebanyak 40 kali sambil ngemut tujuh kerupuk sampai habis tanpa di kunyah.

Akhirnya rintangan tersebut dapat kita lewatin, namun semua berakhir mengenaskan. Dan karena Uky juga, yang punya ide untuk pura-pura sakit dan pingsan, kita bertiga di bawa ke UKS dan sehari semalam tidak mengikuti MOS. Akhirnya kita bisa pulang dengan tawa, karena telah berhasil mengibuli kak Ramaos.

Semenjak kejadian MOS kemarin, hubunganku dengan Uky dan Suta malah semakin akrab. Ideku untuk membuang rantang mereka, ternyata ada manfatnya juga. Setelah itu kita tuker-tukeran nomor HP, main-main ke rumah, sharing-sharing, bagi-bagi pengalaman, bikin humor bareng-bareng, dan lain-lain. Kebetulan juga kita satu kelas. Jadi, setiap hari kita selalu berangkat bareng.

Genap satu bulan lamanya sudah kita jadi sahabat. Suatu hari, saat kita lagi asyik-asyiknya nongkrong di rumah kakeknya Uky.
“Ta, Ky, gimana kalau kita membuat sebuah geng, yang berisikan kita bertiga?, namun geng ini beda dan lain dari yang lain. Kalau biasanya, geng itu kan terkesan kejam, seperti geng-geng motor. Namun, di sini kita akan buat geng yang cinta damai yang berakhlakul karimah, gimana? Setuju nggak?!!” tawarku dengan penuh semangat.
“Tapi apa nama geng kita?” tanya Suta.
“Gimana kalau CIPMUT (Cinta Perdamaian dan Imut), jangan CAPON (Bocah Polos dan Sopan)” usulku dan Uky bergantian.
“Ah… namanya pada nggak bermutu semua, emangnya ini nama geng kanak-kanak apa! Nah, gimana kalau namanya kita ambil huruf awal dari nama kita ‘U.S.A’, gimana!, keren kan? Dan ada artinya juga U.S.A (Urganisasi Santun dan berAkhlakul Karimah)” ucap Suta.
Begitulah sejarah dari nama U.S.A, dan kita berjanji akan mewujudkan geng yang cinta damai, santun, dan berakhlakul karimah, dan selalu menolong orang di setiap kesusahan semampu kita bertiga.
”Tit tit…tit tit” suara Handphoneku.
“Mar, ayo berangkat, kita sudah di depan rumah kamu” SMS dari Suta.
“Ok” balasku.
“Bu, aku pamit dulu mau berangkat ke sekolah, sudah di tunggu temen-temen di depan, Assalamu’alaikum… ” pamitku sambil berjalan ke luar dari rumah.
“Wa’alaikum salam… hati-hati di jalan..nak..” sahut Ibuku.

Saat dipertengahan jalan kita ngelihat seorang Nenek-nenek bertongkat, mau menyeberang jalan, namun nampaknya beliau tidak sanggup untuk berjalan cepat melewati zebra cross. Inilah waktunya U.S.A beraksi.
“Eh, lihat tuh ada nenek, kasihan dia tidak bisa nyeberang jalan” ucap Suta dengan belas kasihan. Tanpa bosa basi aku dan Suta langsung menggendong si Nenek, dan Uky yang mengambil alih tongkat nenek untuk mengalihkan jalan alur lalu lintas kendaraan.
“Terimakasih ya… Cu… Semoga jadi anak-anak yang Shaleh” tutur Nenek dengan senyuman terimakasih saat tiba di seberang jalan. Misi pun berhasil dengan sukses, perjalanan ke sekolah kita lanjutin.

Begitulah kami (U.S.A), di jalan, di kelas, rumah, tempat biasa nongkrong, selalu bercanda suka menolong, baik hati, dan tidak sombong… hehehe. Walaupun kita orangnya beda kesukaan, hobi, dan cita-cita, kita tetap selalu bersama. Misalnya Uky, dia itu orangnya agak culun soal penampilan, apalagi gaya rambutnya yang belah tengah. Namun, dari dari sisi culunnya itu, dia adalah pakarnya kalau soal MTK, Fisika, dan Sains. Dia orangnya juga teguh pada pendiriannya, kalau dia suka, pasti dia lakuin, satu lagi cita-citanya ingin jadi Dosen dan Ilmuan hebat.
Kalau cowok jawa tulen yang bercita-cita jadi kyai dan pemimpin negara yaitu Suta, orangnya itu agak lugu dan pendiem. Dia adalah sosok orang yang suka menolong, selalu membela yang lemah dan benar juga sayang pada sahabatnya lebih-lebih pada Ibunya. Kalau di tanya soal mengapa kamu cinta banget pada Ibumu, dia bakal jawab “Al jannatu tahta aqdamil Ummahat”. Dia suka banget sama pelajaran Bahasa Arab dan Nahwu Shorof, dan yang paling aku suka dari dia yaitu saat dia berbicara dengan Logat Bahasa Krama Halusnya yang dibarengi senyuman malu-malu kucingnya itu… hehehe.
Kalau aku itu orangnya cinta banget sama seni, lebih-lebih pada seni lukis. Kalau soal pelajaran, aku sukanya mata pelajaran Seni, Fiqih, dan Sastra. Dari tiga orang ini, aku adalah orang yang paling humoris dan kocak. Saat kita pada kesusahan mikir PR MTK ada Uky yang selalu bantuin, kalau lagi pusing soal bahasa Arab, Suta yang bakal bantu, kalau lagi kesusahan soal Sastra ada aku yang siap bantu. Itulah gunanya sahabat selalu mengisi kekurangan dan saling mensupport satu sama yang lain, yang pasti saling setia kawan.

“Hey, nanti kan ada pelajarannya pak Arwan, wach seru nich… apalagi sudah sampai Bab Nikah” ucap Uky sabil mringis saat di jalan.
“Wah… iya tuh pasti seru nih”sahutku dan Suta bersamaan.

Tetttt… bel tanda masuk berbunyi.
“Assalamualaikum anak-anak selamat pagi…” sapa pak Arwan (Guru Fiqih).
“Waalaikum salam pak…” jawab anak-anak sekelas serentak.
“Anak–anak, kali ini kita akan membahas tentang Bab Nikah” tutur pak Arwan.
“Iya… pak… ok, Asyek-Asyek, wah… seru nih…” sahut anak-anak ramai agak semerawut.
Pelajaran berlangsung dengan lancar, walau agak semerawut. Dan inilah yang Uky, aku, dan Suta tunggu-tunggu selesai pelajaran Pak Arwan, yaitu Ngalap Barokah. Menurut kyai kuno, memanfaatkan makanan atau minuman bekas Ulama’ atau kyai mengandung barokah.
“1…2…3… Seerrbuuuuuuu!!!” kata Suta, Gue, dan Uky serentak menggegerkan seantero jagad kelas seraya lari menuju pada sebuah gelas plastik minuman mineral yang masih berisi setengah air kebarokahan.
Plukk… “Aduch…” ucapku dan Uky kecewa karena tidak berhasil meneguk air barokah tersebut. Yah, untuk urusan yang menyangkut agama, Suta memang selalu terdepan.
“Uky, Suta… Gue punya ide lagi nih” ucapku seraya melambaikan tangan.
“Apaan Mar?” tanya Suta dan Uky.
“Tak ada rotan akar pun jadi, begini” ucap gue dengan mata mengincar sebuah kuntum rokok
“Maksud loe?” tanya Uky.
“Begini maksud gue… Kamu lihatkan tuh!, Pak Arwan baru saja membuang kuntum rok*k masih setengah, lumayan kalau di ambil, ya… itung-itung ngalap barokah lah…kan bisa bergantian ngisepnya” ucapku dengan wajah meyakinkan.
“Wah, itu kan bahaya, gimana nanti kalau ketahuan guru BK” ucap Suta agak ketakutan.
“Fhuuuuuu…” Asap rokok dari keluar dari kedua belah bibirku dan Uky.
“Ta, kamu mau nggak? Nih rokoknya, niat kita kan baik, ngalap barokah” ucap Uky.
Belum sampai ke tangan Suta, tiba-tiba ada yang nggak enak pada kuping bagian kananku dan kuping kiri Uky. Kata orang Jawa dulu kalau kuping bagian kanan refleks itu tandanya lagi di omongin sama orang yang di cintai. Namun firasatku lama kelamaan malah makin nggak enak, kuping yang sebelas dua belas sama tanduk ini malah terasa sangat sakit. Ku coba nengok ke belakang, ternyata prasangkaku bertolak belakang sama firasat soal pitutur orang Jawa dulu. Terlihat sosok paruh baya dengan wajah Histeris, dia adalah Pak Slamet seorang guru BK di sekolah yang sangat di segani oleh seantero Badak Jawa, eh, sorry… salah lagi… maksudnya … seantero masyarakat MA Bahrun Nafi’.
“Dasar anak-anak bandel, sekarang kalian bertiga cabutin rumput di halaman!!!” suruh Pak Slamet dengan senyum HUKA-HUKA.
“I…i… iya pak” jawab kami agak merinding. Inilah kesenangan U.S.A, susah senang selalu tanggung bersama, kalau kata Suta begini:
“Banyu kali mandeke neng segharo
yen di bendung amber dadi ciloko
Ati iki kadong tresno
Susah seneng aku lilo nerimo”.

Di pertengahan kami mencubuti rumput, inspirasi bulusku berkembang biak saat ku lihat beberapa ekor kambing yang kebetulan sedang mencari makan di padang rumput dekat sekolah.
“Ky, Ta, gue punya tebak-tebakan buat kalian berdua, kenapa kambing kalau sudah di mandiin beberapa kali tetap bau?” ucapku sambil mringis.
“Emang kodrat dari sananya kali. Ah, emang sudah dari lahirnya” jawab Suta dan Uky bergiliran.
“Masih salah…” jelasku.
“Trus apaan?” tanya Suta dan Uky penasaran.
“Begini jawabannya, ada beberapa orang dari berbagai penjuru sumber yang jawab:
menurut para Ulama’ Shalaf: kambing bau, walaupun sudah di mandiin beberapa kali mandi tetap bau, itu karena dulu, waktu zamannya Nabi Adam tidak pernah di ajari Bab Thaharah. Kemudian menurut Ilmuan Cina: haiya… itu ma.. karena kambing keteknya ada empat… Haiya. Ke tiga,
menurut Kak Seto Mulyadi: O… itu di karenakan Ibu dari si kambing tidak pernah mengajari mandi, jadi Ibu-ibu di rumah jangan di meniru, karena itu adalah Ibu yang tidak bertanggung jawab. Lalu menurut Ahli Psikolog: Mmm… jadi begini, itu dikarenakan sedari kecil, kambing itu tidak pernah mempunyai HAKAM (Hak Asasi Kambing) untuk punya KTP, STNK, SIM apalagi untuk mandi.” Jawabku sok gagah perwira.
“HaHaHa,” tawa Uky dan Suta terbahak-bahak.
“Nah, sekarang giliranku, Ikan-ikan apa yang bisa terbang dan makan rumput?” tanya Suta sambil senyum ala pisang Ambon.
“Ya nggak ada lah, mana ada?” jelas Uky bingung.
“I…kan burung sama kambing… hehehe…” jawab Suta.

Dua tahun lamanya sudah U.S.A berdiri, susah, senang, sedih kita lewati bersama. Namun, hari-hari penuh kekonyolan itu berubah semenjak Suta jatuh sakit dan berbaring di rumah sakit. Dia terkena penyakit Jantung yang serius. Sebelumnya, kami tidak pernah tahu kalau ia mengidam penyakit tersebut, dia selalu merahasiakan penyakit tersebut dari kami. Selain itu, beberapa minggu ini Uky tidak pernah masuk sekolah, menengok Suta di rumah sakit, apalagi SMS, Suta juga sering nanyain di mana keberadaan Uky, bahkan HPnya Uky pun nggak bisa dihubungin.

Kini, aku mencoba ke rumahnya Uky, namun hasilnya nihil. Kata Ibunya, Uky sudah seminggu tidak pulang, ibunya pun resah mencarinya. Hari-hari kulewati sendirian, barjalan, menyusuri lorong-lorong kota, main PS, futsal, semua serba sendiri, sepi rasanya.

Saat aku pulang dari sekolah, terlihat sesosok orang berwajah seperti Uky dengan baju robek-robek di pojok tempat biasa U.S.A dulu nongkrong. Aku coba menyamperi, ternyata dia benar-benar Uky. Aku seketika kaget ketika tahu bahwa Uky sedang dalam keadaan mabuk tidak sadar dengan menggenggam sebuah pil ******* (******). Aku langsung membawa dia pulang ke rumahku, lalu kupakaikan bajuku sebagai ganti bajunya yang tidak layak pakai lagi itu. Hingga akhirnya dia sadar dan bangun dari tempat tidur ketika sang mentari mulai menyembunyikan sinarnya.
“Hai, gimana kabar loe… udah lama nggak ketemu” sapaku akrab.
“Eh, ngapain gue ada di sini” tanya Uky dengan muka tak senang.
Bukannya dia menyapaku dengan baik, namun dia malah langsung pergi dari kamarku seraya mendorongku hingga jatuh. Aku mencoba mengejarnya, namun sayangnya saat itu di jalan, truck besar baru lewat. Ketika truck sudah lewat, tak ada lagi sosok Uky.

Beberapa hari kemudian, Suta keluar dari rumah sakit, dia sudah sembuh. Namun, kata dokter dia belum sepenuhnya sembuh. Paginya ku ajak Suta jalan-jalan sambil memberi tahu ke dia kalau kemarin aku bertemu dengan Uky. Saat kita di jalan, perjalanan kita terhenti karena Suta melihat sosok Uky dengan kedaan senyum-senyum sendiri dan menangis di jalanan. Kucoba panggil dia, namun dia malah mencoba lari dari kita, kita tetap terus mengejarnya hingga akhirnya pelarian Uky terhenti pada sebuah gang buntu. Aku langsung pegang tangan Uky, namun dia malah memberontak dan menonjok mukaku sambil mengajak berantem.
“Lo… ngapain sih ngejar-ngejar gue, loe nggak akan pernah bisa nyelesaiin masalah gue!!!” ujar Uky sambil menggenggam kayu.
“Woy! Loe ingat kan, kita itu U.S.A, kalau elo ada masalah, curhat sama kita. Bukan dengan butir pil ******* penghilang stress kayak gini. Kita boleh aja ngrokok, karena itu hal yang wajar buat cowok, tapi jangan sampai ngepil dan minum-minuman keras yang terlarang, loe masih ingat kan janji-janji kita waktu bikin nama buat U.S.A!!! ” teriak Suta piluh meneteskan air mata.
“Kamu ingat kan saat kita dulu, sekolah berangkat bareng, main-main, nongkrong, nolong nenek-nenek di jalan, ketangkep basah ngerokok, kamu ingat kan!!! Kita itu bukan Bajingan, bukan Mafia, tapi kita itu U.S.A” ucap gue sedu.
Pertikaian kita terhenti, Uky sadar, kalau ternyata ada sahabat-sahabatnya yang selalu mengharapkan kehadirannya. Akhirnya dia berbagi cerita padaku dan Suta, dia stress karena di tinggalkan cewek yang dia sayangi ke alam yang berbeda dan tak akan pernah ketemu lagi.

Hari-hari pun terasa indah lagi, kita sekarang menjalani hidup bersama-sama lagi dalam canda dan tawa. Sore itu kita di ajak Suta sekeluarga memancing di sebuah pemancingan yang bernama ‘Moro Seneng’, yang awalnya bertujuan untuk menghibur Suta yang baru ke luar dari rumah sakit dan juga untuk menghibur dan menghilangkan Stress Uky.
Canda tawa terdengar lagi dari kita bertiga dan keluarga Suta. Namun, kegembiraan itu terhenti, ketika tiba-tiba Suta jatuh terbaring di atas tanah, Kakeknya langsung membawanya ke rumah sakit terdekat.
Semua fikiran gelisah, berharap Tuhan masih memberi umur panjang buat Suta. Setelah lima jam menunggu kepastian keadaan Suta, akhirnya dokter ke luar dari ruangan pemeriksaan.
“Anda keluarga dari saudara Suta” tanya dokter.
”I, iya.. Dok, gimana keadaan cucu saya dok?” tanya kakek Suta.
“Maafkan kami, kami dari pihak Rumah sakit tidak berhasil menyelamatkan Saudara Suta” jawab dokter menyesal.
Susana berubah seketika, malam yang sunyi menambah suasana yang haru, air mata tak henti-henti menetes, hujan pun ikut menangis.
“Mar, kenapa semua ini terjadi padaku, yang pertama, aku kehilangan orang yang gue cintai, dan kini aku malah kehilangan sahabat baikku sendiri”. Ucap Uky sedih sambil memelukku.
Keesokan harinya, pukul 13.25 tepat, Suta di kemakamkan. Setelah itu, aku dan Uky pergi ke tempat kita biasa nongkrong sambil sharing-sharing dan tebak-tebakkan.
“Ta, walaupun kamu sudah tiada, U.S.A akan tetap berdiri tegak layaknya pondasi cakar ayam yang kokoh. Kita akan selalu mengingat saat-saat kita bercanda, tawa, saat MOS dulu, ketangkep basah nger*kok, tebak-tebakkan. Kamu nggak akan pernah tergantikan di U.S.A karena kamu adalah orang yang sangat spesial di U.S.A, dan kita akan selalu mengingat kenangan indah yang pernah kita lukis dulu. Karena kamu juga U.S.A ada, tenanglah kamu di alam sana because you are the best in my Hearth” ukirku dan Uky

Cerpen Karangan: Faisal Amri
Facebook: https://www.facebook.com/faisalamri.rasmuh
Sebenernya tu gue nggak hobi nulis, hobi gue tu nggambar, z…. tapi ntah knpa ni tangan pengen banget nulis dan lalu tercipta dech… ni cerpen
humbttt 3:)
dan ni cerpen berdasarkan secuplik pengalaman pribadi gue yang rangkum sedemikian rupa dan akhirnya jadi dech :P :D 3:) (Y)

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Gokil Cerpen Islami (Religi) Cerpen Persahabatan

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply