Ujian Keimanan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 March 2016

Zaman semakin canggih. Handphone salah satunya, kalau enggak bawa handphone itu hampa katanya. Semua anak sekolah pun ke sekolah tak lupa membawa benda yang mudah digenggam dan disimpan di saku baju atau celananya tersebut. Sampai kalau tertinggal, mereka pun rela untuk melangkahkan kaki mengambil handphone genggam yang tertinggal itu. Ya begitulah. Namun tidak dengan perempuan berjilbab putih dengan tas ransel berwarna hitam hijau yang sedang berjalan menaiki anak tangga satu per satu. Tepat di lantai 3 ia mencari-cari kelas yang akan ia huni selama seminggu, ruangan dengan angka kesukaan 8.

Ya, selama seminggu ke depan aku harus menjawab soal ulangan pilihan ganda yang berisi 50 butir tersebut. Ulangan hari pertama dibuka dengan mata pelajaran Matematika. Biasanya kalau ulangan matematika hanya 40 soal. Jujur saja, aku paling tidak jago masalah hitung menghitung. Aku selalu menanya kepada guru saat mata pelajaran berlangsung. Sisanya aku selalu bolak-balik menanyai kepada Thoha, sang juara matematika. Sambil menunggu pengawas datang. Ada yang sibuk menghafal rumus matematika. Ada yang malah cari alternatif yaitu memfoto dan menyimpan di handphone-nya. Ada pula yang malah katanya mendapat kisi-kisi, lalu jeprat-jepret di fotonya lagi.

“Fat, mau kisi-kisi matematika gak?” ucap Fani salah satu temanku. Yang tiba-tiba muncul dan duduk di sampingku.
“Iya, atau kamu mau foto-foto rumus matematika?” Belum sempat aku menjawab disusul pertanyaan dari temanku, ya Devi. “Oh, enggak usah,” jawabku singkat.
“Toh belum ada pengawas, bukan? Jadi aman lah,” ucap Devi.
“Kata siapa, di samping kanan kiriku ada pengawas yang siap mencatat perbuatanku. Meski aku tahu, mungkin orang lain tak akan mengetahui. Tapi, ada 2 pengawas di kanan-kiri. Juga terlebih ada Allah yang Maha Mengetahui,”
“Kenapa kita jadi diceramahin gini hehe. Ya udah kalau enggak mau,”

“Emang kamu bisa nanti ngerjain matematika? Yang lain aja pada foto kisi-kisi dan rumus matematika. Kamu bener enggak mau ikutan nih?” Susul Fani.
“Iya benar. Tak masalah. Masih ada remedial kalau nilai aku jelek, bukan?” Jawab Fatim dengan sebuah senyuman.
“Saat Ujian itu bukan hanya ujian materi, tapi kita juga diuji keimanan. Apakah kita akan jujur atau berbuat curang yaitu mencontek. Dan lebih baik nilai kecil hasil sendiri. Daripada bagus hasil nyontek. Makanya kita harus semangat belajar. Biar terhindar dari mencontek.” Lanjut Fatim.
“Ya udah kamu belajar aja deh. Aku sih enggak usah belajar kan udah ada contekan. Ya enggak?” Ucap Fani melirik teman yang di sampingnya, Devi

Aku hanya tersenyum. Jam pun telah menunjukkan waktu mulainya ulangan. Langkah kaki pengawas membuat seisi ruangan buru-buru untuk menuju tempat duduknya masing-masing. Pak Joko muncul dari balik pintu membawa soal-soal yang akan kami kerjakan hari ini. Saat ulangan berlangsung, mereka celingak-celinguk mendapati soal yang tak seperti kisi-kisi yang mereka dapatkan. Berharap dari langit turun jawaban soal, katanya.

Aku tetap mengerjakan soal matematik itu, ya aku mengerjakan sendiri. Urusan nilai belakangan lah. Aku berdoa dalam hati agar Allah menjaga aku dari perbuatan curang. Biarlah mereka mencontek. Belum tentu jawaban mereka benar, bukan? Dan saat pengumuman nilai. Ternyata aku satu-satunya siswi yang lulus mendapat nilai matematika 9. Masyaa Allah. Sang Maha Mengetahui memang Adil. Bahkan nilai sang juara matematika Thoha pun nilainya di bawahku. Aku akan tetap jujur, meskipun aku mendapat nilai jelek sekali pun.

Cerpen Karangan: Aulia Azizah
Facebook: Aulia Azizah

Cerpen Ujian Keimanan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sweet Girl and Cool Senior

Oleh:
Seorang gadis manis bertubuh tinggi semampai dengan kulit kuning langsat dan rambut sebahu bernama Avira Adelia sedang asyik berjalan dengan gembira menuju sekolahnya. Salah satu sekolah favorit di kota

The Light

Oleh:
– Cahaya negeri ini adalah kita – “Peringatan HUT RI yang ke-70 tahun ini kenapa begitu sepi? Tidak meriah seperti tahun lalu.” “Pada sibuk mungkin.” “Sibuk? Tapi setiap tanggal

Ngobrol Santai Sambil Makan Somay

Oleh:
Di siang hari, ada 2 remaja yang entah sedang kelaparan atau mungkin yang lagi galau gak ketulungan. “Siang-siang gini ngobrolin tentang percintaan? Helooo… Udah mah kepanasan ditambah liat mantan

Santri Bel

Oleh:
Setelah liburan panjang selesai, santri santri itu mulai kembali ke pondok untuk melanjutkan menimba ilmu, namanya juga habis libur panjang santri santri pun masih terbawa kebiasaan rumah dari mulai

Hujanku Matahariku

Oleh:
Satu, dua, kuhitung tetes demi tetes air dari langit yang mulai berjatuhan.. Lama, semakin lama, semakin banyak, hingga kusadari bahwa sebenarnya aku tidak bisa menghitung banyaknya air yang turun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *