Wajah Putih

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 20 October 2016

Tangannya terus mengotak-ngatik pemantik murahan itu. Berkali-kali ia nyalakan apinya kemudian terus menatap apinya hingga jempolnya berhenti menekan. Bukan karena ia sak*u ingin mengisap rok*k, malah sudah setengah bungkus ia hisap. Bukan pula karena semilir yang menggigit. Tangan lainnya mencomot rok*k di bibirnya. Dia menengadah melihat asap yang menari-nari dan memudar kemudian. Hidup memang seperti asap rok*k pikirnya.

Ampas rok*knya berjatuhan di antara celana jeannya yang penuh lubang, memang sudah terlalu lama ampas itu menyangkut di ujungnya. Dia tidak puas, sebelum setiap napasnya mengepulkan asap ia tidak akan puas. Yang bisa ia lakukan hanya terus mengisap dan berharap bahwa asap mulai memasuki otaknya, menggerogoti sesal yang ada.

Akhirnya ia melempar pemantik yang bensinnya tersisa kurang dari setengah itu, seakan hilang ditelan gelap. Dia berdiri dan mengeratkan jaketnya. Bintang-bintang mulai hilang satu persatu, masjid-masjid mulai berkumandang pula satu-persatu. Kedua itu merupakan tanda baginya untuk pergi dari tempat itu.

Sebelum hendak berlari, dia bertatapan dengan seseorang. Lampu lima watt tidak menyinari wajah orang tersebut, tetapi lelaki itu tahu pasti, melihat dari pakaiannya yang seakan berkilau dan tanpa noda seperti baru beli pasti orang ini orang yang mulia. Ditambah lagi kulitnya tampak putih, tidak pucat bahkan ia tahu tidak ada satu lelaki pun di kampung itu yang seputih sosok di depannya.

“Mau kemana kau, nak?” Ucap pria bergamis itu.

Pria bergamis itu tampak menyidik dari rambutnya yang panjang tak terurus hingga sandalnya yang ia dapat pada suatu malam di bulan puasa ketika orang lain shalat sunnah. Melihat itu Arif mendengus dan meludah ke kiri. Sudah bosan ia ditatap akan penampilannya yang seperti itu

“Minggir, bukan urusan kau!” Kedua bahunya bergerak kasar saat dia berjalan mendekati pria itu.
Tetapi lelaki itu diam disana. Seakan ada sebuah batas yang begitu jelas di antara mereka, Arif tidak bisa mendorong pria itu hingga tersungkur, hanya untuk melangkah kaki saja sudah terasa berat.

“Kenapa cep tidak ambil wudhu dulu kemudian shalat malam?” Ucap lelaki itu sambil menunjuk tempat wudhu.

“Gak usah sok suci ngajak diriku! Yang wajib saja sudah tiga tahun aku tinggalkan, mana mungkin Allah menerima sunnahku!”

“Allah itu maha pengampun cep, setiap makhluk di muka bumi pasti menerima taubatnya kalau dia bersungguh-sungguh. Apa acep sedang dalam masalah, istikharahlah sampai acep merasa mantap. Kalau acep merasa punya kesalahan, minta maaflah. Pasti orang-orang mengerti.” Arif hanya melihat pakaian rombengnya dan mendecak lidah, sementara pria tua di seberangnya tetap disana memagarinya, diam walau masjid lain sudah mulai mengumandangkan doa yang arif tidak pernah dengar.

Akhirnya Arif berbalik menuju tempat wudhu. Air disana selalu terasa hangat dikala dunia menggigil, dan selalu terasa sejuk ketika sang matahari tepat di atas kepala. Entah wudhunya memang benar urutuannya, Arief tidak peduli, hanya beberapa detik saja ia beres bersuci. Dia kemudian memasuki masjid, si lelaki putih sudah mulai berkumandang di depan mic, sementara dirinya disambut sebuah sarung yang terlipat rapi di tengah.

Lebih dari sepuluh rakaat dilaksanakan lelaki itu. Sekali dia lakukan untuk meminta ampunan sekali untuk diberi petunjuk, walau hanya alfatihah yang ia baca setiap setelah takbiratul ikhram. Hukum mad, wakaf, dan nunnya tidak iagubris sama sekali. Yang penting bacaannya memang benar tempatnya pikirnya.

Di tengah shalat matanya selalu melirik setiap ada lelaki yang masuk, Mata mereka selalu saling menusuk, selalu terbersit penolakan di mata mereka. Hingga akhirnya lelaki-lelaki itu mengatupkan telapak tangannya ke si pria putih dan pria itu mengangguk kepala atau menggeleng, dia juga melihatnya. Lelaki itu mendengus di tengah shalatnya.

Masjid semakin terisi, walau hanya satu saf, ditambah beberapa wanita tua di belakang. Apa yang merasukinya, entahlah tetapi Arif ikut berbaris. Berkali-kali ia melirik atau menggaruk kepalanya yang tidak gatal ketika si pria tua membacakan bacaan yang tidak jelas baginya dan panjang pula.

Setelah salam ke dua arah. Lelaki itu yang paling pertama berdiri. Ia langsung melepaskan sarung. Tidak dilipat hanya dibiarkan tergeletak di tempatnya tadi. Tidak perlu salam, orang-orang itu pasti tidak sudi bersalaman. Sudah terlalu kotor tubuh dan namanya.

Dia langsung mengeluarkan sepuntung rok*k tapi ia banting rok*k itu bersamaan dengan bungkusnya ketika ia ke luar. Rasanya mulutnya sudah terlalu busuk sekarang. Dia kemudian berjalan. Pulang? Tidak sertifikat tanahnya sudah hilang. Temannya yang mengajaknya bertaruh pada kartu merenggut semuanya.

Rumahnya sudah begitu kosong ketika ia melewatinya. Entah apa yang bakal diperbuat ‘temannya’ itu ke rumahnya. Dia memukul pagarnya, bunyinya menggema sehingga tangannya yang tadi sembuh karena air wudhu merah kembali merah

“A Arif?” lelaki itu langsung menoleh. Dia tahu siapa yang sudi memanggilnya dengan begitu, dengan lembut seperti itu, bukan dengan kata b*ngsat atau nada sinis.

Wanita itu begitu putih seperti pria tadi, dia selalu tampak putih di hadapan Arif. Tubuhnya ditutupi dengan mukena, tercium sangat harumnya. Tidak kuasa dia menatap wajah itu, langsung dia alihkan ke tangannya yang merah. Terasa seperti terakhir mereka berjumpa.

“A Arif, mau pulang?”

“Mana mungkin aku pulang!” teriaknya, tidak peduli bila mengganggu para tetangga yang masih nyaman di ranjang mereka. “Tidakah kau lihat rumah di belakangku begitu melompong.”

“Ke rumah abah?” Tanya wanita itu sambil menunduk dan menggenggam ujung mukenanya.

“Kau gila! Tidur di rumah orang yang setiap hari memanggilku bangs*t. Tidur di rumah orang yang menikahkanku denganmu hanya karena aku satu-satunya lelaki seumuranmu yang tersisa, hanya karena aku yang sudi menerima seorang wanita penzinah yang sudah terbukti mandul!” Lelaki itu juga menunduk.

“Maaf!” jeritnya singkat dan lirih tetapi yang mendengar langsung mengangkat kepala dan mendekatinya. Langkahnya keras menyapu seluruh kerikil di antara mereka.

“Maaf? Buat apa hah?! Kau punya dosa apa kepadaku?!”
Mendengar itu, kedua tangan si lelaki memegang bahunya, dengan kasar dan semakin kasar. Tangan kanannya mengangkat sambil mengeraskan jarinya sekuat mungkin. Kedua mata wanita itu mengikuti gerakannya. Dan dari iris coklat itu dia melihat wajahnya yang legam. Sebulir air turun dari mata bening yang pupilnya bergetar itu.

Tangan kanannya melayang ke pipi si wanita. Tidak untuk menampar, tidak lagi. Dia menyapu alirannya dengan tangan kasarnya selembut mungkin. Alirannya semakin deras.

“Sudah sudah. Berhenti. Jangan pernah minta maaf kepadaku. Setidaknya ke orang sepertiku. Aku yang harusnya minta maaf”

Tangisannya semakin menjadi. Wanita itu tampak ingin berkata sesuatu, tapi hanya sedu yang dapat dengar si lelaki. Kini si lelaki melingkarkan tangannya ke si perempuan. Ini pertama kalinya ia memeluk seorang wanita yang muhrimnya semenjak mereka sah sebagai pasangan.

Warna jingga perlahan menerangi langit biru tua. Hamparan awal mulai menunjukan putihnya yang selalu mengingatkan si lelaki atas putihnya si istri. Burung-burung yang bertengger sudah tidak merasa kedinginan dan mulai bersiul. Lelaki itu terus mendekapnya hingga nafas mereka berdua berhenti mengepul.

“Ha-Habis saya senang” Lelaki itu mendekatkan telinganya ke mulut si perempuan. “Ketika melihat Aa shalat disana, dua puluh rakaat saya hitung. Saya senang, saya ingin menangis,” Lelaki itu terkesiap mendengarnya, sambil mengerutkan kening dan mengingat saf di belakangnya tadi. “Karena Aa, saya harus shalat shubuh lagi. Pasti tadi shalat saya gak khusyuk, dari tadi hanya melihat ke Aa bukannya nunduk.”

Kini Lelaki dengan pakaian berantakan itu mengusap kepala si istri. Matanya hangat dengan segurat senyum di wajah..

“Abah juga senang.” Lanjutnya sendu. Lelaki itu berhenti mengusap kepala istrinya.

“K-Kenapa?!”

“Abahlah yang tadi menyuruh aa shalat. Masa aa gak ingat? Saya tadi di belakang abah melihat punggungnya. Abah tidak kepikiran kalau aa diam di teras masjid. Tadinya abah baru mau ngomong ke Aa seusai shalat soalnya abah tahu kalau ngomong langsung, aa pasti marah”

“Maaf.”

“Iya abah mau minta maaf ke aa. Abah tahu abah sudah banyak salah. Sudah banyak ngehina dan mukul ke aa.” Perempuan itu menautkan jemarinya ke jemari si laki-laki.

“Bangs*t!” lelaki itu menghentakan kaki. “Kenapa orang kaya kalian malah minta maaf. Seharusnya akulah! Sudah berapa kali tubuhmu kupukul, sudah berapa kali aku caci kalian. Berapa kali pula aku khianat ke kalian berdua, uang yang harusnya dipakai bayar air atau listrik aku pakai j*di.”

“Abah layak mencaci diriku, tidak ada yang melarangnya. Begitu pula dengan kau, Fitri.” Lanjutnya

“Tidak apa, a”

“Maaf. Aku minta maaf. Aku taubat. Sumpah aku ingin minta maaf. Aku ingin mulai lagi sebagai imam, sungguh aku ingin”

“Kalau begitu aa pulang, jelasin ke abah pasti abah mengerti. Abah juga sudah mau minta maaf, kan?” Ujar wanita itu.

Ketika wanita itu hendak melanjutkan, lelaki itu melepas pelukannya. Tanpa berkata apa-apa dia meninggalkan wanita itu. Kembali ke arah sebelumnya. Wanita itu bergeming, tidak bisa berbalik, sekuat tenaga ia berkata. “Aa mau kemana? Jangan kabur, a! siapa yang mau jadi imam Fitri kelak, a?”

Lelaki itu menepuk pundak Fitri dan berkata dengan hangat “Aa gak bakalan kabur lagi, aa janji. Ayo ke masjid, tadi juga shalat aa gak bener, kok.” Perempuan itu kembali menangis, melihat wajah lelaki di hadapannya yang begitu putih.

Cerpen Karangan: Muhammad FIki Rizki
Blog: fiksifiki.blogspot.co.id
Facebook: Muhammad Fiki

Cerpen Wajah Putih merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hidup dan Matiku Adalah KehendakNya

Oleh:
“Dik, ayo makan. Ini Kakak suapin…” Suara lembutnya membuatku tersadar dari lamunanku. Aku tak menghiraukannya. “Ayo makan. Nanti kamu sakit.” Bujuknya. Aku menggelengkan kepalaku. “Untuk apa, Kak. Itu percuma.

Ukhty Sahabat Surgaku

Oleh:
Aku mempunyai teman dekat yang aku anggap sebagai sahabatku, namanya maulidia. Sebelum aku mengenal sahabatku ini, banyak sekali informasi informasi jelek yang kudapat mengenainya, aku bukan tipe orang yang

Sebesar Biji Zarah

Oleh:
Waktu menunjukkan bahwa senja segera tiba. Di ruangan sederhana, terlihat jelas barang-barang berserakan, sudah, sangat tidak beraturan. Menggambarkan sang pemilik ruangan, persis. Belum terlalu gelap saat itu, biasan cahaya

Raja Judi Yang Tobat

Oleh:
Pada suatu hari, ada seorang pria bernama mustakim. Dia adalah salah satu raja judi sekaligus miliarder di indonesia. Setiap malam dia pergi ke tempat judi, dia selalu menang dalam

Ingin Kembali

Oleh:
Sekali lagi ku melihat sekeliling pondok ini. Entah mengapa, rasanya aku ingin sekali lekas meninggalkannya. Aku tidak tahu mengapa mereka bisa berbuat seperti ini. Membuat mentalku yang besar menjadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *