Janji Rafli

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa
Lolos moderasi pada: 22 June 2016

H +7
Lebaran telah usai. Idul Fitri berhasil membuat keluarga besar Siswanto berkumpul kembali di rumah kakek. Sungkeman pun berhasil membawa air mata haru di antara mereka.

Kini, nenek, yang biasa dipanggil Mbah Yo, sudah kembali ke tempat asalnya di Sidoarjo. Mbah Yo dirawat anak bungsunya, Tante Evy, sedangkan kakek, yang biasa dipanggil Mbah Nang dirawat di Nganjuk oleh Tante Erna.

Rumah Sidoarjo sudah penuh oleh cucu-cucu Mbah yang bermain. Rencananya, besok lusa mereka akan berkunjung ke Blitar, tempat nenek buyut mereka tinggal. Mbah mempunyai lima belas cucu, tetapi yang akan berkunjung ke Blitar nanti hanya enam anak, karena yang lain masih berada di luar kota.

Saat ini Mbah Yo sedang memasak di dapur. Mbah ingin sekali membuat masakan yang spesial yang mengandung daging, tetapi, karena daging di tukang sayur habis, maka Mbah pun terpaksa hanya memasak sop sayur khasnya, perkedel dan tidak lupa dengan sambal terasinya.

Setelah selesai memasak, Mbah segera memanggil cucu-cucunya. Ega, Ghea, dan Erza, anak dari Tante Evy pun segera datang dan mengambil jatah makanannya. Tak lama kemudian, Eriq, Yasmin, dan Rafli, anak dari Tante Erna menyusul mereka. Sebetulnya Tante Erna mempunyai lima anak, tetapi karena mobil yang membawa mereka untuk ke Sidoarjo dan Blitar tidak cukup, terpaksa Tante Erna dan kedua anaknya yang lain pun tinggal di Nganjuk.

Mbah pun mengajak Rafli, yang mengambil jatah terakhir, berbicara. “Maaf, yo, le(1), Mbah adanya cuma ini. Padahal Mbah pengen masak sek enak, kok yang ada cuma sop, sama perkedel. Kapan–kapan wae, yo, Mbah masak sek enak,” Rafli terdiam. Ia mengambil sendok dan garpu ke piringnya. “Maaf yo, le, sek penting mangan(2), yo,” Mbah nyengir menunjukkan gigi-giginya yang mulai ompong.

Tiba-tiba Rafli berlari ke kamar dengan membawa piringnya, tanpa mengucapkan apa-apa. Mbah sangat terkejut, apalagi setelah beliau mendengar sesenggukan dari kamar dimana Rafli berada. Apa ada yang salah dengan yang ia ucapkan?

Mbah tergopoh-gopoh menuju kamar Rafli dan mendapati Rafli yang sedang menangis sejadi-jadinya. Mbah yang melihat Rafli hanya mengambil sop sedikit dan satu buah perkedel itu mulai berpikir, apakah Rafli ingin mengambil perkedel yang lebih banyak tapi takut dimarahi? Karena, selama ini Mbah selalu menjatahi cucu-cucunya untuk mengambil satu ayam tiap orang.

“Kenopo, le? Kok nangis? Rapopo nek kowe pengen perkedel sek akeh(3), Mbah ora ngamuk,” Rafli tetap sesenggukan sambil memeluk guling. “Kenopo? Entekno wae rapopo, mengko Mbah iso nggawe maneh(4),” Mbah pun duduk di sebelah Rafli sambil mengelus-ngelus punggungnya yang bergetar.

Rafli yang sesenggukan menutupi mukanya dengan guling tersebut. “Iki lho, Mbah, wes enak banget! Iki panganan terenak sek akhir-akhir iki tak pangan, opo meneh(5) Mbah sek masak,”

Hati Mbah pun mencelos saat mendengar kata-kata itu. Ternyata Rafli sangat menghargai makanan. Makanan sesederhana perkedel! Sedangkan cucu-cucunya di Sidoarjo sangat pilih-pilih makanan. Ghea punya alergi dan Ega banyak nggak doyannya. Andai saja mereka tahu bahwa disana masih banyak orang yang ingin makan tetapi belum mampu.

“Aku wes seneng banget, Mbah, mangan panganan ngene. Opo maneh pas Pakde Didik ngajak ke restoran wingi(6), Mbah,” Mbah teringat. Kemarin anak sulungnya mengajak makan malam sekeluarga di restoran. Dan, Mbah baru menyadari, Rafli lah yang tersenyum paling lebar saat itu.

“Aku nak omah(7) lho ratau mangan panganan enak, Mbah. Ibu nak omah ratau masak. Paling cuma masak mi, tahu, tempe, nyeplok ndog, opo tuku nak njobo8. Ibuku ki mangan opo nak omah saiki, Mbah?” tangis Rafli semakin menjadi.

Air mata mulai menetes di pipi Mbah. Tak disangkanya, Rafli yang dahulu sangat bandel tetapi disaat seperti ini masih memikirkan ibunya. Tak disangkanya, Eriq yang mempunyai porsi makan seperti seorang kuli, mempunyai adik seperti Rafli yang menghargai makanan. Tak disangka, Rafli yang bergaya seperti orang bahagia, ternyata di lubuk hatinya, tersimpan luka.

“Oalah, le, le, uwes to(9). Mbah nek nak Nganjuk mengko bakal masakno ibumu sek enak-enak,” beliau segera memeluk Rafli.
“Mbah, aku mau telfon ibu, boleh?” pinta Rafli sambil menoleh ke Mbah.

Mbah pun segera menghapus air matanya. “Sebentar, yo, le, tak ambil hape Mbah dulu,” beliau meninggalkan Rafli dan bergegas mengambil hapenya. “Iki, le,” Mbah menyerahkan Rafli hapenya. “Tinggal pencet tombol ijo ne aja,”

Rafli menekan tombol hijau di hapenya, dan terdengar nada sambung.

“Assalamu’alaikum?” ia tersenyum saat mendengar suara ibunya.

“Ibu?”

“Iki …, Rafli?” terdengar nada bingung dari ibunya.

Tiba tiba Rafli mendengar bentakan di sebrang telepon. Ia sadar milik siapa suara itu.

Suara ayahnya.

Ayahnya, atau yang biasa dipanggil Om Fauzan, sudah menelantarkan ibu, Rafli, dan saudara-saudaranya. Ayah nganggur, dan telah melelang dua rumah lama mereka, sehingga mereka terpaksa tinggal di rumah Mbah Nang. Mereka hidup berkecukupan, malah bisa dibilang kekurangan. Ibu hanya mendapat uang dari penghasilan Mbah Nang yang tidak bisa dibilang banyak. Barang Rafli dan saudara-saudaranya sudah kumal. Yang paling parah, ada masalah serius antara ibu dan ayah, yang membuat rasa kekinya semakin bertambah.

“Ayah lagi disana, buk?” suaranya bergetar.

“Enggak, kok, le. Ngo-” tiba-tiba suara ibu terputus dan ia merintih.

“Iya, ayah disini! Kenapa?! Kami masih membicarakan masalah serius! Kamu telfon nanti saja lagi!” terdengar bentakan dari ayahnya, dan kemudian telepon diputus.

Rafli geram. Ia terkadang berpikir, sebenarnya, ayahnya menyayanginya atau tidak, sih? Tanpa disadari, air matanya mulai menetes lagi. Ia segera menutupi mulutnya dengan tangan, sebelum kebiasaan mengerang saat menangisnya muncul. Mbah yang melihat reaksi cucunya itu, sudah tahu, pasti ada yang salah. Menuruti instingnya sebagai nenek, beliau segera memeluk dan menenangkannya.

“Makanya le, belajar sek rajin, nurut karo wong tuo, ojo dolan wae, ben mengko(10) pas gede iso dadi wong sukses, koyo Pakde Didik,” Mbah menyebutkan nama anak kebanggaannya.

Pakde Didik sekarang menjadi direksi di sebuah bank. Sukses dan hidup berkecukupan, sering membantu adik-adiknya untuk melengkapi kebutuhannya. Bahkan beliau yang membayarkan sekolah Rafli dan Yasmin, sedangkan sekolah Eriq dibayarkan oleh Tante Endah dan Tante Evy.

“Iso tuku omah gede, makan enak, tuku mobil apik, mbangga’no wong tuo,” Mbah tersenyum. “tapi ojo lali karo uwong sek nak ngisor11, ojo lali ibadah,”
Rafli mengangguk-angguk. Pakde Didik memang selalu menyantuni orang-orang yang di bawah, tidak pernah sombong, dan bertakwa kepada Tuhan. Rafli ingin sekali kelak bisa menjadi seperti beliau.

Setelah Rafli selesai dengan tangisannya, ia memandang Mbah lekat-lekat. “Rafli pengen ibu bangga. Tapi aku ki bodoh, Mbah,”

Mbah menghembuskan nafas. Rafli memang selalu mendapat nilai 6 atau 7. Tapi ia kelas 7, masih ada waktu untuk memperbaiki nilai-nilainya. “Nggak ada orang yang bodoh, le, yang ada itu orang males. Semua orang itu pinter. Ada yang pinter karena sudah keturunan dan kelebihan, atau pinter karena rajin. Walau kamu nggak punya pinter karena keturunan atau kelebihan, kamu masih bisa jadi pinter karena rajin!” tutur Mbah.

Rafli nyengir. Antara menyadari apa yang Mbah ucapkan itu benar, atau menyadari betapa lucunya Mbah yang selalu bicara dengan bahasa Jawa, kali ini berbicara dengan bahasa Indonesia.

Meskipun takut akan mengecewakan mereka, namun ia sudah bertekad. Ia harus mengubah hidup keluarganya menjadi lebih baik lagi. “Rafli pengen membanggakan ibu! Rafli janji bakal rajin belajar!” Rafli mengikrarkan impian dan janji sederhananya.

Mbah manggut-manggut kemudian mengacungkan jari kelingkingnya.
Rafli tertawa. “Pinky swear,” ia pun mengaitkan jari kelingkingnya dengan Mbah.

“Sudah, ndang makan. Mbah keluar dulu, yo.” ujar Mbah lembut. Rafli mengangguk dan Mbah pun keluar, mengurus cucu-cucunya yang lain.

Baru kali ini Mbah membicarakan hal pribadi sedalam ini dengan cucunya dari Tante Erna. Mbah memang dekat dengan cucunya dari Tante Evy, tetapi beliau ingin dekat dengan semua cucu-cucunya. Namun karena beliau sudah dimakan umur, dan anak-anaknya sudah merantau, maka beliau terpaksa hanya dapat bertemu mereka minimal satu tahun sekali.

Dan meskipun selama ini Rafli tidak
jarang mendapat nilai dibawah KKM, namun entah kenapa kali ini beliau percaya sepenuhnya kepada Rafli.

Itulah kejadian di lebaran lima tahun yang lalu. Air mata menggenang di pelupukku setelah Ibu selesai memberitahu kami yang Mbah ceritakan padanya tiga tahun yang lalu. Adikku Nisa, ayahku atau yang biasa dipanggil Pakde Didik, dan Ibuku sendiri pun menitikkan air mata.

Jadi itu mengapa…

Empat tahun yang lalu saat lebaran, aku mendapati Rafli mulai berubah. Ia membaca buku saat sendirian. Aku mendengar bahwa Rafli diejek teman-temannya karena ia jadi sering belajar dan jarang ikut mereka bermain. ‘Lucu’ sekali teman-temannya itu.

Tiga tahun lalu, aku mendengar percakapan bahwa Tante Erna dan Om Fauzan cerai. Syukurlah, akhirnya mereka cerai juga. Meskipun aku hanyalah keponakan Tante Erna, dan tidak paham sepenuhnya apa yang telah mereka lalui, tetapi aku tahu bahwa beliau sangat tersiksa namun tetap kuat dalam menghadapi Om Fauzan. Lihat saja, tahun itu, Tante Erna dan anak-anaknya terlihat lebih gembira.

Dua tahun yang lalu Rafli menginjak kelas 10, atau SMA kelas 1. Ia mengambil jurusan IPS dan lulus SMP dengan NEM 31,05, nilai yang tidak buruk jika dibandingkan dengan NEM milik Eriq. Namun, kabar buruknya, Mbah sudah dijemput ajal. Kami semua menangis, sangat terpukul. Terutama ayah dan Rafli. Aku mendengar Rafli mengerang-erang “Aku janji, Mbah,” saat menangis di kuburan beliau. Saat itu aku tidak tahu apa maksudnya, tetapi sekarang aku mengerti.

Tahun lalu, Rafli semakin dewasa, taat, dan membanggakan. Ia juara 2 lomba catur tingkat kota. Tak heran, sih. Kami memang sering bermain catur saat lebaran, dan ia memang jago sekali.

Dan tahun ini, ia lulus dengan NEM yang memuaskan, menjadi juara umum di sekolahnya, dan masuk di universitas ternama dengan beasiswa. Tak hanya Tante Erna yang bangga, tapi kami semua bangga sekali. Aku yakin, Almarhum Mbah pasti juga sangat bangga terhadapnya.
Rafli, sepupuku sendiri, yang dulu di sekolah bergaya layaknya playboy. Rafli, yang dulu sering dihukum Tante Erna karena saking bandelnya. Rafli, yang jarang mendapat nilai memuaskan, namun sekarang ia tumbuh menjadi anak yang membanggakan.

Dan ternyata Mbah Yo lah motivasi dan saksi dibalik kesuksesan Rafli, yang dimulai dari hal sesederhana makanan! Aku merasa tertampar! Aku bahkan tidak lebih memuaskan dari tahun-tahun sebelumnya walaupun sudah mendengar beratus-ratus nasihat.

Ia menepati janjinya, janji yang tidak mudah ditepati. Ia sudah berusaha sangat keras. Aku yakin, cepat atau lambat, ia pasti akan mampu mengubah keadaan ekonomi keluarganya.

Aku mulai memetik pesan sederhana dari sini.

Siapa saja, bahkan orang terakhir yang kamu harapkan untuk berhasil, bisa
menggapai mimpinya jika ingin berusaha, tidak putus asa, dan terus berdoa. Jadi, jangan sia-sia kan waktumu! Berusahalah selagi kau bisa!

1 panggilan sayang untuk anak laki-laki
2 makan
3 yang banyak
4 habiskan saja nggak papa, nanti Mbah bisa bikin lagi
5 aku makan, apa lagi
6 kemarin
7 di rumah
8 ceplok telor, atau beli di luar
9 sudahlah
10 sama orang tua, jangan main terus, biar nanti
11 jangan lupa sama orang yang di bawah

Cerpen Karangan: Namira Ghinanafsi
Blog: http://namiraghinanafsi.blogspot.co.id
Pelajar bertipe INFJ.

Cerpen Janji Rafli merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bidadari Dalam Mimpi (Part 1)

Oleh:
“Astagfirullah”, aku terbangun secara tiba-tiba dari tidurku, “MasyaAllah”, “mimpi ini lagi”, batinku. Sudah lebih dari satu bulan ini aku terus mendapat mimpi aneh ini, yah walaupun tidak setiap hari,

Kepala Madrasah

Oleh:
Baru kali ini aku merasa betah dengan kepala Madrasahku. Namun bukan berarti kepala madrasahku yang dulu-dulu membosankan atau menjengkelkan ya, karena hakikatnya kepala madrasah pula seorang guru. Yang wajib

Cinta Tidak Buta

Oleh:
Aku bukanlah lelaki yang bisa dengan cepat mengingat suatu peristiwa. Namun entah kenapa aku sangat ingat sekali dengan peristiwa itu. Peristiwa dimana aku berjumpa dengan seorang gadis manis berkucir

Banggakah Kau Denganku Pak?

Oleh:
Ini bakatku, ini duniaku, tolong hargai aku! Beri aku kebebasan, beri aku kesempatan, agar aku bisa menjadi ‘AKU’. “Pak, benjing jam sedoso saged tindak dateng Gedung Maharani mboten? Alhamdulillah,

Rajutan Asa Mak Yus

Oleh:
Pagi ini suara ayam bersahutan, dengan diringi suara adzan yang damai. Yang selalu memberi semangat di tengah hawa dingin yang menusuk balung (tulang), karena memang hawa hari ini lebih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *