Semar Tresno (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Jawa, Cerpen Budaya
Lolos moderasi pada: 5 April 2017

Hingga suatu ketika saat Semar sedang berdoa, muncul cahaya keemasan menyilaukan mata dari kuncungnya, perlahan-lahan naik ke atas kemudian turun ke tanah membentuk wujud manusia yang gagah namun berwibawa. Nampak seperti pertapa namun juga nampak seperti pendekar. Semar terkaget-kaget, bagaimana kuncungnya bisa mengeluarkan manusia.
“Siapa panjenengan? Kenapa bisa muncul dari kuncungku?” tanya Semar penuh selidik.
“Aku? Aku ini dirimu, dirimu ini juga aku Ngger”.
“Maksud panjenengan?” Semar tetap tidak mengerti.
“Akulah Batara Ismaya ngger, kakekmu”.
Sungguh Semar tidak mengerti, bagaimana bisa kakeknya muncul dari kuncungnya? Lagipula kakeknya sudah mati ratusan warsa yang lalu dan tak mungkin Semar akan tau bagaimana rupa kakeknya.
“Batara Ismaya? Aku pernah mendengar nama itu”, Semar mencoba mengais-ngais ingatannya.
“Kenapa kau begitu ragu Ngger.. aku memang kakekmu, engkau adalah perwujudanku ngger di dunia ini, kau tau Ngger? Ajian mustika manik astagina itu adalah ajian pemberianku kepadamu Ngger,” Batara Ismaya mencoba meyakinkan Semar.
“Lantas, jikalau engkau kakekku, mengapa kau baru muncul sekarang?”, tanya Semar.
“Aku hidup di jiwamu Ngger.. aku juga dapat mendengarkan doamu kepada Tuhan beberapa warsa ini, aku terenyuh Ngger, mungkin ini salahku juga menitipkan ajian mustika manik astagina ini, tapi memang aku tak punya pilihan lain Ngger, maafkan kakekmu ini”, seakan diamini oleh alam, angin ikut berhenti di antara dua sosok ini.
“Untuk itu Ngger aku akan membantumu untuk menghilangkan ajian ini sebagai permintaan maafku untuk sehari saja, ingat Ngger hanya sehari saja”, lanjut Batara Ismaya.
Dengan perkataan itu tiba-tiba angin berhembus agak kencang, cahaya kekuningan yang menyilaukan mata itu, hilang secara perlahan dengan diterbangkannya angin, layaknya serbuk sari yang ditiup angin. Semar dengan keanehannya ternyata tak disangka tak dapat bicara apapun lagi seakan tak percaya apa yang dilihatnya. Begitu lama Semar termenung dan takpercaya, apakah itu nyata? Entahlah. Sampai termenungnya buyar dengan matahari yang beranjak dari ufuk timur menyinari mukanya bersamaan suara kuda yang meringkik di depan gerbang Panembahan.
Dilihat dari cara berbusana dan tunggangan kuda kencana yang ia tumpangi sudah dapat dipastikan ia seorang putri resi. Sungguh hal yang tidak biasanya seorang putri resi mendatangi Panembahan itu. Entah apa tujuannya, yang jelas penghuni Panembahan Sunyaruri terhipnotis dengan hadirnya putri resi itu.

“Siapa itu kang? Byek, cuantik kang!!” air liur Bagong tak sengaja menetes.
“Heh, air liurmu itu lo Gong,mbok biasa saja, kan sudah biasa ada orang penting yang datang ke Panembahan ini, kita kan Punakawan Gong!”, sahut Gareng.
“Tapi ini beda kang, dia layaknya bidadari yang turun dari kahyangan kang!” Bagong tetap pada pendiriannya.
“Sudah.. sudah Gong, sebaiknya kita sambut putri tersebut dan kita tanyai ada keperluan apa Gong”, Gareng menengahi dengan bijak.
“Tuan putri yang cantik, kalo hamba boleh tau, ada apa gerangan menghampiri Panembahan yang kurang bagus ini?” tanya Gareng sopan sembari menghampiri putri itu bersama Bagong.
“Kalo boleh tau juga siapa nama putri yang cantik ini, siapa gerangan namanya?” Bagong tak kalah ambil kesempatan.
Putri itu kemudian menjawab “Nama saya Dewi Sahyarsa putri dari Resi Abdiyarsa dari benua barat pewayangan. Saya tidak tau tuan mengapa saya ingin kemari, hanya hasrat yang mendorong saya kemari”.

Lama perbincangan dua punakawan itu dengan Dewi Sahyarsa, dibarengi Semar yang beranjak dari duduknya. Kali ini Semar tak lantas menuju depan pintu Panembahan, melainkan berjalan-jalan di taman melihat berbagai hewan yang saling memadu kasih berjuang untuk hidup. Berbagai macam bunga yang menari-nari seakan menyambut kedatangan si empu taman berkunjung sembari memamerkan kuncup-kuncup mekar daun bunganya. Lama Semar mengitari taman itu hingga tatapannya tertuju pada satu arah yang dapat menggetarkan jiwa, membuat badan seakan listrik mengalir dalam darahnya. Dia belum pernah merasakan hal yang semacam ini seumur hidupnya. Dia bertanya-tanya, hatinya gelisah tak menentu, bergejolak ingin menghampiri namun di sisi lain juga tak ingin menghampiri. Serba salah begitu posisi yang dialami Semar.
Apa yang dilihat Semar, adalah Dewi Sahyarsa, putri yang cantik nan jelita sungguh mempesonakan jiwa. Dengan mengumpulkan niat yang kuat akhirnya Semar memberanikan diri menghampiri putri itu.
“Ngger..!”, suaranya bergetar entah gugup atau faktor usia.
Seketika Gareng dan Bagong menoleh ke arah bapaknya.
“Ini lo pak, Dewi Sahyarsa putri Resi Abdiyarsa dari benua barat pewayangan, katanya ingin berkunjung kemari”, kata Gareng mencoba menjelaskan kepada bapaknya.
“Sembah sinuwun kulo, mohon maaf atas kelancangan yang saya buat ini datang tanpa permisi sebelumnya dan tanpa pemberitahuan”, lembut kata Dewi Sahyarsa.
Hening tiada jawaban apapun dari ketiga punakawan itu, kemudian Dewi Sahyarsa melanjutkan,
“Saya sudah banyak mendengar tentang panjenengan, tuan Semar” , Dewi Sahyarsa memuji Semar.
Merah merona wajah semar layaknya buah naga merekah matang mendengar perkataan Dewi Sahyarsa. Mungkin ini yang dirasakan anak muda yang sedang jatuh cinta untuk pertama kali.
“Be.. be… betul”, Semar gugup menjawab pertanyaan dari Dewi Sahyarsa, tanpa mengucapkan salam atau salam ke Dewi Sahyarsa, kemudian Semar meninggalkan begitu saja putri itu. Sontak membuat Gareng, Bagong dan Dewi Sahyarsa kebingungan. Gareng dan Bagong menilai ini mungkin keanehan baru yang ditunjukkan bapaknya. Gareng dan Bagong kemudian menyilahkan Dewi Sahyarsa masuk ke Panembahan untuk dijamu sebagai tamu kehormatan.

Di sisi lain Panembahan Sunyaruri, Semar merenung atas rasa aneh yang baru ia rasakan hari ini, ia juga merasa tidak bisa menghilangkan sosok Dewi Sahyarsa dari pikirannya. Ia mengingat, mengais-ais ingatan yang dialaminya sehari ini, lantas dia kemudian tersadar jika apa yang ia temui sebagai Batara Ismaya bukanlah sebuah mimpi belaka. Sehari yap Cuma sehari begitu kata Batara Ismaya, hal ini merupakan doa yang dikabulkan dari doa yang ia panjatkan selama beberapa warsa terakhir ini. Tanpa menunggu lama ia memanggil putra keduanya Petruk yang lebih bijak dalam menanggapi permasalahan. Di sisi lain Petruk juga sudah menikah.

“Wonten nopo bapak manggil kulo kemari?”, tanya Petruk lembut kepada bapaknya.
“Ngger.. kowe wes lihat Dewi Sahyarsa kemari Ngger?” , Semar bertanya tanpa basa-basi.
“Sampun pak, dia putri yang cantik jelita tapi hasratnya yang membawa kemari, wonten nopo to pak?” Petruk menjadi tambah penasaran.
“Truk, kowe kan penguasa Panembahan Sunyaruri ini, betul?”, tanya Semar.
“Kok bapak bertanya begitu? Wong panjenengan yang mendapuk kulo jadi ratu di Panembahan ini pak”, Petruk menjadi terheran-heran.
“Bagus Ngger.. bapak punya permintaan, bisa kau kabulkan Ngger?”.
“Akan saya usahakan sekuat dan semampu saya pak, apa permintaan bapak?” , Petruk berusaha meyakinkan bapaknya.
“Kowe kan sudah menikah Truk, tolong lamarkan Dewi Sahyarsa untuk jadi istriku Ngger!”, mantap Semar berkata.
Petruk sangat terkejut, bahkan lebih terkejut dari harga rokok yang naik. Petruk tak percaya dengan apa yang ia dengar sendiri, sehingga meminta bapaknya mengulangi perkataanya.
“Tolong lamarkan Dewi Sahyarsa jadi istriku ngger, aku ingin dia jadi istriku hari ini juga”, Semar mengulangi perkataannya.
Bukan main permintaan bapaknya kali ini, bahkan lebih mengerikan daripada anak yang minta sepeda motor kepada orang tuanya dengan bersenjatakan golok. La dalah, perkara ini lebih membingungkan daripada mengurusi satu negara yang korupsi. Semar sudah tua sedang Dewi Sahyarsa masih sangatlah muda, dua kontras laksana nilai tukar dolar terhadap rupiah.

Petruk memutar segala macam pikirannya, memutar segala macam skenario. Mondar-mandir bak orang gila karena ia tau tugas ini mahasulit yang hanya dilaksanakan satu hari ini juga. Akhirnya ia meminta bantuan dari Gareng dan Bagong. Keduanya pun tercekat dengan permintaan bapaknya yang mulai aneh-aneh. Akhirnya diputuskan sebuah ide, lamaran akan dilakukan hari ini juga saat penjamuan makan Dewi Sahyarsa.

Akhirnya telah tiba waktu penjamuan Dewi Sahyarsa. Nampak sang putri sangatlah anggun dan cantik untuk ukuran seorang putri dari Resi. Di seberang lain nampak Semar meskipun wajah, fisik dan perangainya aneh namun ia tak tampak seperti biasanya, ia tampak necis seperti pegawai MLM menjajakan bisnisnya.

Sebagai seorang ratu di Panembahan Sunyaruri, Petruk memulai pembicaran panjang lebar namun dengan tata bahasa yang tertata dan tidak carut marut, paling tidak lebih baik dari raja kerajaan Jokowow di seberang benua timur. Halus rapi tak meninggalkan celah untuk disanggah hingga sampai pada titik.
“Perjamuan ini Dewi Sahyarsa, selain untuk menyambut Dewi juga mempunyai tujuan lain, perkenankan saya mengutarakan hal ini dan Dewi kiranya jangan tersinggung”
Lanjut Petruk, “Bapak kami sudah seluruh hidupnya belum pernah merasakan cinta, dan baru hari ini beliau merasakan arti dan suasana rasa jatuh cinta, ya beliau jatuh cinta kepada Dewi Sahyarsa, dan berkenan Dewi menerima lamaran ini dan menjadi istri dari bapak saya”.
Sontak seisi Panembahan menjadi gemuruh, ada yang terkaget-kaget, ada yang menahan ketawa ada yang serius memperhatikan. Namun yang jelas air muka Dewi Sahyarsa berubah menjadi tidak seceria tadi, lebih kepada merasa malu karena seakan dipermalukan dan marah karena dia datang bukan untuk dilamar.
“Mohon maaf Ratu Panembahan Sunyaruri, Petruk. Saya datang kemari untuk berkunjung bukan untuk dipermainkan seperti ini”, kata Dewi Sahyarsa sembari meninggalkan ruang makan itu bersama para abdi nya.
Seakan berat bagi Semar mendengar hal itu, baru pertama jatuh cinta langsung lara hati tiada tara yang tak terhingga. Dalam pesakitan hati yang begitu Semar tetap memupuk rasa percaya diri, bahkan dikata berlebihan, dia meyakini kalo Dewi Sahyarsa mengatakan itu bukan untuk menolak tapi mungkin hanya terkejut saja. Kenaifan khas anak muda. Semar menyuruh Petruk untuk meyakinkan Dewi Sahyarsa untuk mau, Semar tidak mau tau lamarannya harus dapat diterima hari ini juga.

Entah memang bodoh atau dibodohi karena cinta, Semar menggunakan segala macam cara untuk mendapatkan cinta Dewi Sahyarsa. Dari mulai cara yang halus sampai mengancam Dewi Sahyarsa kurungan dalam Panemabahan Sunyaruri. Sungguh anak-anaknya belum pernah melihat perilaku yang ditunjukkan bapaknya ini. Lalu, Petruk menyadari sesuatu hal yang sangat penting, jika bapaknya sedang mengalami masa pubertas, hahaha pubertas yang terlambat. Akhirnya demi kebaikan semua pihak, dengan berat hati Petruk menyilahkan Dewi Sahyarsa untuk pulang, dan menghiraukan perintah dari bapaknya.

Sungguh Semar kala itu merasa sakit pesakitan hatinya, ditolak wanita yang disukainya, merasa dikhianati oleh anaknya sendiri. Malam sudah larut, Semar lebih memilih untuk berada di taman merasakan hatinya yang hancur lebur karena seorang wanita. Begini tidak enaknya rasa cinta itu, air mengalir dari matanya membasahi pipi keriput itu tak henti-hentinya. Hingga datang cahaya keemasan yang menyilaukan mata seperti kemarin datang di hadapan Semar.

“Nggerr..” , suara berat yang berwibawa memanggil Semar.
Semar tak menghiraukan panggilan itu, tetap dalam kesedihan yang berlarut-larut. Tiba-tiba terasa hangat di pundak Semar. Semar tersadar kemudian menengadah, rupanya itu kakeknya, Batara Ismaya menghampirinya kembali seperti malam kemarin.
“Sudahlah Ngger lupakan kesedihanmu itu, jatuh cinta memang tak selalu baik, engkau menginginkan jatuh cinta tapi sejatinya kau tak siap untuk itu, kodrat mu adalah menjadi seperti karunia yang diberikan Ngger. Jangan berlarut-larut dalam kesedihan”, lembut kata Batara Ismaya, dengan perkataan itu pula cahaya keemasan itu membumbung tinggi lalu melesap ke dalam kuncung Semar. Kesedihan yang begitu mendalam yang dirasakan Semar samar-samar menghilang bersamaan air mata yang mengering.

Ah, memang sungguh aneh Semar ini, takkan dapat dipahami oleh manusia, misteri kehidupan ada pada dirinya. Mungkin sudah begitu suratan takdirnya, dititipi misteri kehidupan oleh Sang Hyang. Semenjak itu, semar kembali seperti sedia kala, menjadi Punakawan yang dihormati dan disegani kawan maupun lawan serta dengan segala keanehannya.

Cerpen Karangan: Yovie Feria Pratama
Facebook: Yovie Feria Pratama

Cerpen Semar Tresno (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rahasia di Balik Rintik Hujan

Oleh:
Langit mendung sore itu. Gumpalan abu-abu gelap seperti sudah mewanti-wanti semua yang dinaunginya bahwa sebentar lagi ia akan menumpahkan bawaannya. Eros bukannya tidak menyadari itu semua. Ia tahu jelas.

Now I Know

Oleh:
“Ta, tunggu!” Teriak Meyla sambil berdiri di depan pintu kelas. Yang dipanggil tetap tidak menoleh dan berjalan dengan santai menuju depan gerbang sekolah. “Lolita!” Panggil Meyla sekali lagi. Akhirnya,

Bombaystics

Oleh:
Setelah UNAS sekolah kami mengadakan Study Tour ke Malang dalam rangka perpisahan kelas 6. Salah satu guru kami yang bernama Bu Ut menyuruh semua muridnya untuk membagi kelompok kamar

Dua Puluh Enam

Oleh:
Sebuah perahu terombang-ambing lembut di lautan Barat Indonesia. Aku duduk tepat di tengah lubang besar yang tercipta pada angka nol besar di sebuah tugu. Seorang nelayan di mataku memugar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *